
“La-lain kali lebih hati-hati, Pangeran. Uhuk...”
Bruk!
Lynx melihat salah satu pasukannya mengorbankan nyawanya hanya untuk melindungi, pedang panjang berwarna merah menyala itu menghunus sampai muncul keluar dari perut. Jeroan dalam menyembur bersamaan dengan darah amis. Tentu saja dia akan mati dengan segera.
Alydrus tersenyum jahat. “Kau selamat lagi. Sialan, tampaknya kita memang harus bertarung. Jadi, ayo mari kita buktikan siapa yang terkuat!”
Lynx meneguk ludah, menyingkirkan seluruh persoalan yang ada dalam pikiran. Bukan saatnya untuk menyesali ketidakfokusannya hingga membuat satu nyawa melayang, yang harus dirinya lakukan sekarang adalah menumbangkan Alydrus agar dirinya bisa menembus pertahanan Kerajaan Maggie.
Dia tidak langsung mengacungkan pedang, Lynx menghindar dan menangkis serangan beberapa kali. Mulai kebingungan, harus apa dan bagaimana melakukannya. Ini tidak seperti dirinya bertarung untuk pertama kalinya, tapi Lynx terlihat gugup.
Suasana yang riuh, teriakan dan rintihan dari semua orang yang saling berburu nyawa berhambur menjadi satu ke udara, menggema terbawa angin yang menghembus. Masih pagi yang gelap, tapi hawa panas terasa membakar seluruh tubuh.
Lynx menggunakan punggung-punggung beberapa dari mereka yang berada di belakang tubuhnya sebagai pijakan, melompat untuk memberi serangan dari atas kepada Alydrus. Menajamkan penglihatan, mengayunkan pedang setelah mendapat bidikan yang tepat, sebelah kakinya memanjang ke depan.
Mendarat sempurna di atas dada Alydrus yang perkasa, namun sayangnya pedang yang Lynx ayunkan tak mampu menyentuh kulit lawannya tersebut. Sehingga saat ini posisi Alydrus setengah kayang, pedang di tangannya menahan usaha Lynx yang akan menusuknya.
Sementara Lynx segera turun dari sana, berpikir menggunakan cara lain. Sorot matanya bergulir cepat untuk memeriksa keadaan sekitar, beberapa pasukan miliknya mulai berjatuhan. Tersisa beberapa gelintir saja.
Apa ini waktu yang tepat untuk meminta bantuan dari pasukan yang lain?
“Ada apa, Bung? Kemana matamu melihat? Lawanmu ada di sini! Sudah mau menyerah? Lihat, setelah semua pasukanmu rata dengan tanah, kau juga akan bernasib sama dengan mereka di tanganku!” ujar Alydrus meremehkan.
Di luar dugaan, Jexie, kuda hitam yang bersama Lynx sebelumnya mendadak muncul setelah terhambat oleh beberapa siluman yang mencoba melukai. Dia datang sambil berlari dari arah belakang, ingin menubruk Alydrus yang masih menyombongkan diri.
Berhasil menggulingkan tubuh Alydrus ke tanah, Lynx memberi acungan jempol pada Jexie. Benar, sudah seharusnya ia bekerja sama dengan kuda miliknya. Berhubung serigala yang semula bersama Alydrus sedang tidak ada, ini bisa dijadikan kesempatan.
Mengepakkan sayap, Lynx sudah duduk di atas punggung kuda tersebut. Jika melawan di tanah cukup sulit, Lynx akan melakukannya dari atas sini. Mengayunkan pedang sesuai dengan kemana arah terbang kuda yang ditungganginya.
“Pastikan agar kau tidak turun dariku lagi, Pangeran. Terlalu berbahaya jika kau melawan mereka sendirian,” bisik Jexie khawatir.
__ADS_1
Lynx mengangguk tanpa menjawab. Dia memfokuskan pandangannya untuk terus menyerang Alydrus di bawah sana tanpa ampun. Hembusan dari kepakan sayap Jexie yang bergerak ke sana kemari membuat mereka yang sedang sibuk bertempur jadi sedikit terseok-seok.
Ketika serigala milik Alydrus datang untuk menyelamatkan tuannya, dia langsung melompat begitu saja ke arah Jexie, tepat di wajah seolah berusaha untuk mengaburkan pandangan. Di detik itu juga Jexie terbang dengan oleng.
Tanpa ragu, Lynx menancapkan pedang miliknya pada leher serigala berukuran besar tersebut. Sesuai harapan, serigala itu mati dan terjatuh. Luka gigitan dan cakaran yang diberikannya memberikan luka serius di wajah Jexie.
“Sialan! Kau curang, jika berani turun dari kuda itu dan lawan aku dengan benar! Dasar lemah!” umpat Alydrus tak terima.
Lynx tersenyum mengejek, “Mana sempat, aku akan membunuhmu sekarang juga!”
Pedang dengan pertama ungu di tangannya, Lynx lempar begitu saja secara asal ke bawah. Dipikir Alydrus, dirinya bisa menghindar. Tapi siapa yang akan menyangka pedang tersebut sudah mengunci Alydrus sebagai objeknya?
Percuma lari kemana pun, pedang itu tahu siapa yang harus mati. Berhimpit-himpitan ke dalam celah tubuh pasukan miliknya, menjadikan mereka sebagai tameng, tetap saja Alydrus tak bisa lepas dari kejaran pedang milik Lynx.
Benar-benar pemandangan yang menyenangkan untuk ditonton. Ketika pedang itu berhasil menembus jantung Alydrus dari belakang, tubuhnya langsung terjungkal ke tanah. Banyak pasukan yang turun ke medan perang, berusaha membantunya, dan salah seorang dari mereka mengincar pedang milik Lynx.
Berniat ingin mengambil pedang itu agar Lynx tak bisa bertarung lagi, tapi ternyata pedang tersebut tak bisa disentuh dengan mudah. Jika bukan pemiliknya, atau jika Lynx tidak merestuinya, maka siapa pun yang menyentuh pedang itu akan tersakiti dengan aliran listrik bertegangan tinggi.
“Hei, mengambil milik seseorang itu dilarang!” teriak Lynx dari atas, menggerakkan tangannya untuk mengambil pedang miliknya yang masih tertancap di tubuh Alydrus.
Bagai boomerang yang bisa kembali setelah dilemparkan, begitulah sistem sihir yang bisa Lynx kendalikan. Aneh, tapi jika mempercayainya apa pun bisa terjadi. Dipikir Lynx semuanya akan terasa sulit, tapi semuanya sudah berbeda sekarang.
“Ce-cepat, singkirkan dia. Aku punya firasat buruk tentangnya, ugh...” gumam Alydrus pada pasukannya di sela-sela rintihan sebelum matanya terpejam.
Lynx mengedarkan pandangan, melihat ke berbagai sisi. Memancarkan sinar dari mata pedangnya untuk memberi sinyal pada beberapa pasukan yang bersembunyi agar segera turun dan membantu yang lain.
Para pasukan dari masing-masing arah mata angin keluar dari gelapnya hutan, menyerbu secara serempak. Kemunculan mereka membuat seluruh pasukan dari Kerajaan Maggie kelabakan, tak menyangka kalau ternyata diam-diam lawannya menggunakan taktik ini.
Begitu aba-aba serang dikumandangkan oleh Lynx dengan penuh semangat, semuanya menyahut dengan kompak seraya mengacungkan senjata masing-masing. Sedang mereka yang bertugas menyerang menggunakan sihir, berdiri paling belakang dengan merapalkan mantra-mantra.
Sebagian sudah berbaur dengan pasukan musuh, saling memotong, menusuk, menyerang dengan senjata apa pun yang ada di tangan mereka. Jack berada dengan tim di belakang, memberi arahan sihir apa yang mesti digunakan.
__ADS_1
Tak kalah set, pasukan dari Kerajaan Maggie juga masih punya perlawanan. Ketapel raksasa berisi bola yang dialiri sihir mereka pentalkan ke arah kerumunan pasukan dari Kerajaan Foxion.
Semua pasukan yang berada di garda paling depan, merapatkan barisan sambil mengangkat tameng masing-masing. Jack tidak menyadari hal itu, ia fokus menghadap ke arah pasukan yang dirinya pimpin. Jadi ia tak bisa membuat tudung sihir untuk menghalau serangan.
BOOM!
Bukan kekacauan yang terjadi ketika bola raksasa itu berhasil mendarat, yang terjadi adalah bola tersebut berpecah menjadi gelembung-gelembung kecil. Menempelkan sihir pada siapa pun yang mengenai gelembung tersebut.
“Jangan ada yang menyentuh gelembung itu, kalian semua minggir!” perintah dari Lynx, ia sibuk melayangkan ratusan anak panah untuk membunuh penghalang yang berdiri di jalannya.
Jack punya ide, ia memberi aba-aba pada semua pasukan di tim pengendali sihir. Sen, ia berada didekat Jack sedari tadi. Kehadirannya cukup membantu. Semuanya bersiap, mengumpulkan kekuatan, lalu sama-sama mengeluarkan sihir untuk menghembuskan semua gelembung itu menjauh.
Di lain tempat, tepatnya di dalam istana Kerajaan Maggie, Raja Barney duduk di atas singgasana sambil mengamati bola sihir miliknya untuk menonton peperangan yang terjadi. Di awal mulainya perang, dia tampak gelisah.
Kepalan tangannya menandakan bahwa ada emosi yang tertahan. Guratan dari urat yang muncul di kedua pelipisnya terlihat seperti ia sedang berpikir keras. Ada ekspektasi yang terpatahkan dalam isi kepala saat melihat pertunjukan dari peperangan ini tak sesuai.
“Bajingan! Kenapa dia mati dengan mudah?! Aku pikir hanya dengan mengirim dia saja sudah cukup untuk membuat Kerajaan Foxion kalah, tapi kenapa malah jadi seperti ini?!” Raja Barney mendumel, ingin sekali turun langsung ke medan perang.
“Dan siapa pemuda yang menaiki kuda itu? Dia punya pondasi kuat dalam formasi pasukan yang dipimpinnya. Aku belum pernah melihatnya, ini pertama kalinya aku melihat siluman rubah pemberani dan energik sepertinya,” tambahnya sambil melirik ke pengawal pribadi miliknya.
“Menurut informasi, dia adalah seorang Pangeran. Lynx namanya. Putra sulung dari Raja Arendelle. Dia memang sempat tak diakui dan selalu diremehkan, tapi entah kenapa sekarang dia ikut dalam perang ini,” jawabnya apa adanya.
Alis Raja Barney mengerut. “Orang bodoh mana yang tak mengakuinya bahkan berani meremehkan? Hanya dengan melihat sekali saja aku bisa melihat potensi yang dia miliki.”
“Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Aku tidak mau membuang-buang waktu. Kunci kemenangan dari perang ini adalah kematiannya. Jika dia mati, maka kita bisa menang dengan mudah. Pasukan yang bersamanya itu seperti sekumpulan lebah yang bergantung pada perintah.”
“Jadi lakukan apa saja untuk membuatnya mati. Cari tahu apa kelemahannya. Aku yakin sekuat atau sesempurna apa pun dia, pastinya dia memiliki kelemahan. Paling tidak dalam waktu tiga hari ini perang sudah usai, dengan begitu kita bisa segera mengambil wilayah mereka,” tutup Raja Barney.
“Baik, Paduka Raja. Saya akan memberitahukan ini pada semua tim yang bertugas.”
***
__ADS_1