Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 25 - Gelang Pasangan.


__ADS_3

Hazel mengangguk yakin. “Ya, aku sangat ingin melarikan diri. Tapi...” Saat menjeda ucapan, mimiknya tiba-tiba berubah drastis, bola mata melirik turun. “Aku sudah terlalu banyak menghindar dari semua masalah yang ada di dalam hidupku. Semakin aku menghindar, aku hanya diberi ketenangan sesaat saja.”


Lynx amat paham posisi Hazel saat ini. Memang sangat sulit mengambil keputusan atau memikirkan jalan keluar untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Untuk gadis muda yang hidup sebatang kara seperti Hazel, ini sangat menyiksa.


“Bagaimana kita mengobrol sambil mengisi perut? Sejak tadi pagi, kita belum memakan apa pun. Aku sempat melihat ada kedai makanan didekat sini. Tepatnya di ujung lorong ini,” ajak Lynx, mencoba untuk mengalihkan sebentar kesedihan gadis itu.


Karena tak punya pilihan lain, Hazel mengangguk meng-iakan saja. Membiarkan lengannya digenggam pria itu untuk dituntun. Tubuh Lynx yang memang besar dan tinggi, menghabiskan jarak antar tembok lorong ini.


Jadi Hazel yang berjalan di belakangnya, hanya bisa melihat punggung Lynx saja. Tidak bisa melihat barang setitik cahaya yang ada di depan sana. Tapi anehnya, Hazel tidak merasa takut sama sekali.


Seolah ada perlindungan yang dirinya rasakan melalui genggaman tangan Lynx, jemari kecilnya yang sempat terasa dingin kini sudah terbungkus kehangatan dari jemari tebal dan panjang milik pria jangkung itu.


“Kau tahu?” Lynx menoleh sesaat, melihat Hazel yang tampaknya fokus memandangi genggaman tangan. “Aku sempat sakit perut saat makan mie yang diberikan Nyonya Marrie. Mungkin karena belum terbiasa,” kekehnya kemudian.


Hazel ikut tertawa untuk menghilangkan raut kaku dan mengisi kekosongan di situasi ini. “Haha, benarkah? Kalau begitu, jangan makan mie lagi. Karena memang itu bukan makanan yang seharusnya kau makan. Lain kali jangan terlalu memaksakan diri.”


Lynx menggeleng pelan sambil melebarkan senyuman. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku yakin kalau aku akan baik-baik saja.”


“... Selagi aku berada di sampingmu,” sambungnya dengan nada yang terlampau lirih dan pelan, mungkin Hazel tak akan mendengarnya.


“Bukan mengkhawatirkan, aku hanya menyarankan,” koreksi Hazel, dirinya terlalu sulit mengakui.


Senyuman di bibir Lynx perlahan memudar, sampai di detik ini dirinya masih belum mendapat jawaban yang diinginkan. Hazel masih diam di tempat, sementara perasaan yang sudah lama tumbuh semakin menjalar ke mana-mana.


“Apa tempatnya masih jauh?” Hazel bertanya sambil berjinjit-jinjit, tapi tetap saja tidak bisa melihat ada apa di depan sana.


“Sebentar lagi, kau sudah lapar sekali, ya? Tenang, sepertinya kedai itu menjual aneka makanan yang lumayan banyak. Dan kelihatannya sangat menggugah selera,” jawab Lynx meminta kesabaran.


Hazel hanya angguk-angguk saja. Meski dalam hati sebenarnya ia sedang bertanya-tanya. Karena selama dirinya tinggal di desa ini, Hazel tidak pernah tahu bahwa di ujung lorong ini ada sebuah kedai makanan.


Setelah beberapa saat berjalan dalam lorong gelap yang lembab, akhirnya mereka sampai juga. Ternyata lorong yang barusan mereka lewati adalah jalan tikus atau bisa dibilang jalan pintas. Sebab saat sudah tiba di kedai yang Lynx maksud, ternyata letaknya dekat dengan jalanan besar.


“Ayo kita masuk ke sana.” Lynx sedikit mempercepat langkah, masih setia menggenggam lengan Hazel.


Tubuh kecil Hazel sedikit terseok saat dibawa berlari oleh pria bertubuh atletis itu. Duduk di salah satu bangku, mereka berhadapan. Tidak ada pelanggan lain selain mereka berdua di sana.


Tampaknya, kedai yang mereka datangi ini adalah kedai tua yang jarang didatangi pembeli. Tidak ada pegawai yang langsung mendatangi untuk mencatat pesanan, yang datang hanya seorang wanita tua renta dengan kedua mata yang sudah rapat berkeriput.


“Tumben sekali ada yang datang. Kalian dari mana? Hebat kalian bisa menemukan kedai terpencil milikku,” ujarnya dengan nada yang sedikit gemetaran karena faktor usia.


Hazel tersenyum kikuk. “Kami tak sengaja menemukan kedai ini. Kebetulan kami sedang lapar, jadi memutuskan untuk mampir. Di sini ada menu apa saja?”

__ADS_1


Wanita yang sudah bungkuk itu mengangguk singkat. “Menu, ya? Tunggu sebentar.”


Tak lama dia datang kembali sembari membawa secarik kertas tebal yang sudah usang dengan warna kertas yang menguning. Bisa dipastikan kalau itu daftar menu yang sudah sangat lama.


Hazel jadi sedikit tak yakin kalau di kedai ini dirinya bisa mendapatkan makanan yang bisa sesuai selera. Meski pun uang yang dimilikinya hanya sedikit, tapi Hazel juga pilih-pilih makanan.


“Kalau begitu, aku ingin satu porsi kari dengan satu porsi udang mentah, kalau bisa tambahkan ikan-ikan yang digoreng sederhana atau mentah pun tak apa.” Hazel menyerahkan kembali buku menu itu.


Lynx yang sedari diam untuk menyimak, ekspresinya menggambarkan penuh tanda tanya. Untuk apa Hazel memesan makanan mentah? Terlebih itu makanan laut.


“Baik. Pesanan akan segera datang. Mohon ditunggu.” Tanpa ikut penasaran, wanita tua tersebut hendak langsung membalikan tubuh.


Tapi Hazel menahannya lebih dulu. “Eum, maaf Nyonya. Apa kau juga yang akan memasak pesanan kami barusan?”


“Tentu. Di sini tidak ada orang lain selain aku,” jawabnya sembari membubuhi senyuman teduh.


Mendengar jawaban tersebut, Hazel hanya bisa mengangguk ragu. Membiarkan wanita tua itu melakukan tugasnya. Ingin menyudahi rasa penasarannya dengan tempat dan orang yang tinggal di kedai ini.


Setelah orang tua itu benar-benar pergi dari hadapan, Hazel lantas bertanya dengan suara sepelan mungkin pada Lynx, “Hei, apa kau tak merasa ada yang aneh? Mana mungkin Nyonya itu melakukan semuanya sendirian?”


Lynx yang sebenarnya tak terlalu memusingkan, langsung menggedikan bahu singkat. “Di sini kita hanya pembeli. Untuk apa memikirkan itu? Seperti apa yang dia bilang sebelumnya, kalau kedai ini sudah lama tidak kedatangan pelanggan. Itu sebabnya dia mengerjakan semuanya sendirian.”


Ia merubah posisi, duduk dengan punggung yang sedikit mencondong dan tangan yang bertopang dagu, menatap gadis di depannya dengan mata yang menyipit. “Ketimbang itu, kenapa kau memesan makanan mentah? Apa sekarang selera makanmu berubah?”


Tapi tak disangka, Lynx yang langsung terbawa perasaan malah tak mengontrol ekor dan telinganya yang mendadak keluar. Bahkan sampai beberapa detik berlalu, dia malah asik menangkup pipi sambil senyum-senyum.


Hazel yang sudah panik, langsung menengok kanan kiri, takut ada orang yang melihat. Buru-buru beringsut dari tempat duduk dan tak berpikir panjang segera menutupi kepala Lynx.


Niatnya ingin menyembunyikan telinga runcing pria itu, dan ingin menutupi ekor lebat berwarna oranye yang sibuk bergoyang-goyang tanpa rasa bersalah, tapi yang terjadi malah seperti Hazel sedang memeluk Lynx.


“Dasar bodoh! Kenapa kau malah mengeluarkan ekor dan telingamu? Cepat hilangkan sebelum ada orang lain yang melihat!” rutuk Hazel, masih panik. Tak sadar kalau tubuh bagian dadanya menempel pada wajah Lynx.


“A-anu ... Aku sulit membuka mata. Tapi kenapa tekstur di depan wajahku terasa empuk dan hangat, ya?” cicit Lynx yang membuat Hazel melotot dan akhirnya menyadari seperti apa posisinya sekarang.


“Sialan,” desis Hazel sambil memundurkan tubuhnya secara perlahan, pipinya terlanjur memerah karena malu.


Hazel tidak tahu harus bersikap apa sekarang. Tapi melihat tampaknya Lynx tidak tahu dan tidak menyadari apa yang barusan terjadi, sepertinya Hazel aman. Lihat saja wajah polos yang lebih seperti orang bodoh itu, sulit dipercaya kalau Lynx akan merasa seperti pria normal pada umumnya kan?


“Ngomong-ngomong yang barusan itu benda apa?”


“Bukan apa-apa. Seharusnya kau lebih bisa mengontrol diri. Kenapa kau dengan santainya mengeluarkan ekor dan telingamu? Bagaimana kalau di sini ramai orang? Kau pasti sudah jadi bahan incaran mereka,” sungut Hazel, sengaja ia melebih-lebihkan agar Lynx tidak penasaran dengan kejadian sebelumnya.

__ADS_1


“Maaf,” lirihnya sambil menekuk wajah. “Aku terlampau senang. Aku tidak menyangka kau akan seperhatian itu padaku.”


“Jangan terlalu berlebihan, aku hanya mencoba membalas kebaikanmu. Mungkin sekarang kau aman karena tidak ada orang lain yang dapat mencurigaimu. Tapi lain kali, kau mungkin sulit aku selamatkan.”


“Iya. Sekali lagi terima kasih.” Lynx masih belum mengangkat pandangan.


Hazel yang mulai merasa gerah karena masih terbayang-bayang dengan kejadian tadi, memilih untuk melihat-lihat sebentar sambil menunggu makanan yang di pesannya datang.


“Aku tidak akan pergi. Aku hanya ingin melihat pernak-pernik yang dijual di sini,” kata Hazel lebih dulu karena melihat Lynx yang sudah mengambil ancang-ancang ingin berdiri dari kursi.


Tepat di depan jejeran bangku-bangku yang kosong, ada satu meja yang dipenuhi oleh keranjang-keranjang yang berisi macam-macam pernak-pernik dan perhiasan. Mulai dari cincin, kalung, gelang dan banyak jenis lainnya.


Saat menyentuh sebuah gelang pasangan yang terbuat dari akar tumbuhan yang awet, juga diselipi bunga-bunga kering yang masih tercium wanginya, Hazel jadi tertarik. Sebelum menemukan kedai ini, Hazel memang ingin membeli gelang namun yang bisa diukirkan sebuah nama.


Tapi setelah melihat gelang yang memang tersisa dua di sini, seolah gelang itu diperuntukkan untuk pasangan, Hazel jadi berpikir sesuatu. Bagaimana jika ia membelikannya untuk Lynx juga?


Belum ada lima detik pertanyaan itu hinggap dalam benaknya, Hazel buru-buru menggelengkan kepala. Berusaha menepisnya jauh-jauh. Hebat jika orang dengan gengsi tinggi seperti Hazel mau memakai gelang yang sama dengan pria itu.


Secanggung apa nanti Hazel saat memberikan gelang itu? Atau semerah apa pipi Hazel ketika menahan malu untuk memberikannya pada Lynx?


Ah, mungkin itu akan seperti bencana jika terus dibayangkan.


“Kau tertarik dengan gelang itu?”


Pertanyaan barusan membuat Hazel terperanjat di tempat, jantungnya seperti akan lompat. Memandang ke sumber suara, ternyata yang berbicara barusan adalah wanita tua pemilik kedai ini.


“Aku akan memberikan diskon jika kau membeli dua gelang itu. Kau tahu? Itu gelang langka, jarang sekali orang yang menjual. Meski desain gelang itu sangat sederhana dan tidak terlalu mencolok, digadang-gadang orang yang memakai gelang itu akan mendapat keberuntungan,” ujarnya lagi, entah mungkin ini hanya taktiknya untuk membujuk pembeli.


“Yattaa!” Lynx yang entah sejak kapan ada di belakang tubuh Hazel, mendadak menyentuh kedua bahu sambil memajukan wajah, kembali membuat gadis itu terkejut.


“Ayo kita beli gelang ini, Hazel! Bukankah itu lucu? Aku akan sangat senang jika kita memakai gelang yang sama,” bujuk Lynx sambil berjingjrak-jingkrak riang. Sangat berisik.


Hazel yang merasa tertolong karena tak perlu menurunkan gengsi, menyadari ini adalah sebuah kesempatan. Tapi untuk menyembunyikan perasaan senang, ia sebisa mungkin mempertahankan ekspresi ketusnya.


“Berhenti meloncat-loncat dan berteriak seperti anak kecil. Ingat, aku membeli ini karena kebetulan aku suka dengan gelangnya dan harganya sedang diskon.”


Hazel jadi pandai berbohong untuk menutupi perasaan. Tapi sampai kapan Hazel akan terus menampik kenyataan yang sebenarnya? Bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada laki-laki yang bukan manusia.


Sebelum waktu membuatnya menyesal, mungkin Hazel tidak akan pernah menyadari kalau Lynx tidak akan bisa selamanya berada di sisinya untuk menutupi kekosongan juga rasa kesepian yang kerap mendera.


Karena bisa saja sewaktu-waktu Lynx menghilang dan meninggalkan penyesalan dalam hidup Hazel. Yah, itu hanya kemungkinan terburuk.

__ADS_1


***


__ADS_2