
Sebenarnya Hazel enggan menceritakan atau mengumbar kehidupan pribadinya pada orang lain. Berhubung dirinya cukup penasaran dengan asal-usul mahluk seperti Lynx, Hazel jadi tak punya pilihan lain untuk menerima kesepakatannya tersebut.
Masih teringat jelas dalam ingatan, perihal dongeng yang belum tuntas dirinya baca, Hazel mendapati sesuatu yang menurutnya sangat menarik untuk dibahas. Banyak spekulasi dalam pikiran yang membuatnya terus menduga-duga.
Banyak orang di luaran sana menganggap jika cerita seperti itu memang dongeng semata. Tapi Hazel yang tahu seperti apa keadaannya, sudah melihat juga secara nyata dengan mata telanjang, tentu saja hal tersebut semakin menambah rasa penasarannya untuk mencari tahu sampai ke akar-akarnya.
Matahari sebenarnya belum terbenam, langit juga masih berwarna jingga cerah. Tapi Hazel dan Lynx sudah sampai di rumah setelah seharian ini berkutat di kedai untuk meladangi pelanggan.
Tepat di belakang rumah, Hazel duduk di bangku panjang. Angin segar yang menggoyangkan daun di pepohonan, terdengar berderik damai. Rasa sejuk karena pori-pori kulit disapu lembut oleh angin, membuat Hazel memejamkan mata untuk menikmatinya.
Tanpa disadari, seorang pria sudah ikut duduk di sampingnya. Lynx ternyata ingin bergabung dengan Hazel setelah dari kejauhan hanya memandangi saja. Berpikir mungkin tak perlu menunggu malam untuk saling bertukar cerita.
“Hazel,” panggil Lynx dengan tubuh yang sudah menyamping, sebelah tangannya dipakai untuk bertopang dagu. Menatap tanpa jemu sosok gadis di sampingnya.
Gadis itu menyahut tanpa membuka matanya. “Ada apa?”
“Sejauh mana kau membaca dongeng itu?”
Di saat ini, barulah kelopak mata Hazel terbuka. Punggungnya pun ia tarik dari sandaran bangku, duduk tegap sambil memandangi Lynx dengan tatapan penuh makna.
“Kau mau membahasnya sekarang?”
Lynx mengangguk sebagai jawaban.
Jika itu kemauannya, maka Hazel hanya perlu mengatakan apa yang dirinya tahu. “Hanya sebatas ilmu sihir, dan peperangan yang mengakibatkan klan rubah nyaris punah. Juga mengenai liontin yang digunakan rubah untuk mengubah wujud menjadi manusia.”
Lynx merubah posisi duduknya, memfokuskan pandangannya ke depan. Tubuh tegapnya agak dibungkukan, menempelkan kedua sikut miliknya pada paha agar jemari tangannya dapat bertaut.
“Secara garis besar, dongeng itu memang benar. Kau ingat apa yang pernah aku katakan padamu, Hazel? Mengenai diriku yang tak memiliki kemampuan dalam mengolah ilmu sihir, di dalam duniaku aku ini disebut mahluk tak berguna atau cacat.”
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh pria itu, Hazel merasakan hatinya sedikit tertohok. Ditambah, ketika ia melihat netra sendu Lynx, Hazel dapat merasakan ada kesedihan yang tertanam di sana.
“Hal itu semakin diperjelas lagi dengan fakta bahwa ternyata aku terlahir dari rahim seorang wanita penghianat Kerajaan. Setelahnya, ibuku meninggal karena dihukum gantung, sebelum aku mengerti dan dapat mengingat bagaimana wajahnya.”
“Alasan kenapa aku masih hidup sampai sekarang, karena aku memiliki mata ini.” Lynx sudah menengok pada Hazel, sedikit melebarkan kedua matanya agar gadis itu dapat melihatnya dengan jelas.
__ADS_1
“Maksudmu karena warna matamu itu?” Hazel bertanya untuk memastikan.
Kepala Lynx mengangguk. “Benar. Warna mata langka ini hanya dimiliki oleh generasi terakhir. Dan aku yang mewarisi warna mata ini. Ayahku yang memang menjadi penerus tahta kepemimpinan Kerajaan, sudah menikah berkali-kali untuk menghasilkan keturunan yang memiliki warna mata sepertiku ini.”
“Namun sayangnya, dari kelima istri yang sudah dinikahinya, tidak ada satu keturunan pun yang dapat mewarisi mata indah ini. Sehingga aku diputuskan untuk tetap menjalani kehidupan, meski pun aku sering diremehkan dan dianggap tidak berguna oleh orang-orang.”
Ada yang mengganjal dalam pikiran Hazel, sehingga ia melontarkan pertanyaan padanya. “Maaf menyela, tapi seberapa penting warna mata dalam Kerajaan yang kau tinggali?”
“Bagi mereka, warna mata ini adalah simbol penerus kepemimpinan Kerajaan Foxion. Yang mana pemimpin dipilih tidak melalui kriteria pada umumnya. Karena dulunya pemilik warna mata ini adalah orang yang sangat berpengaruh pada Kerajaan.”
“Tapi sepertinya kepemimpinan itu akan segera berakhir, mengingat aku ini tidak memiliki kemampuan apa pun selain menyembuhkan luka orang lain menggunakan air liur yang sering dianggap orang menjijikan.”
“Ayahku sudah sering sakit-sakitan. Sementara itu pertahanan Kerajaan juga semakin menurun. Selama setengah abad menyusun rencana untuk membalikan keadaan, ingin menghancurkan dan melumpuhkan Kerajaan Maggie, sepertinya bangsa kami akan kalah lagi.”
“Banyak penyihir dari klan kami yang sudah mulai menua, bahkan hampir mati. Yang tersisa hanya segelintir saja. Karena populasi juga semakin berkurang seiring berjalannya waktu, mungkin sebelum melakukan peperangan bangsa kami sudah lenyap lebih dulu dimakan peradaban.”
Lynx menjeda ucapannya untuk menanggahkan kepala, menatap langit jingga yang hampir menggelap. “Kau juga masih ingat pastinya tentang pertemuan pertama kita. Dimana saat itu aku terluka parah. Sebelum sampai ke dunia manusia, aku tak sengaja tersesat di wilayah tempat Kerajaan Maggie.”
Ia tertawa pelan, mengingat kebodohannya. “Seperti menyodorkan ikan pada kucing dengan cuma-cuma, seperti itulah aku saat datang ke sana. Aku nyaris mati jika tidak masuk ke dalam portal semacam cermin tembus pandang. Hingga akhirnya aku bisa tiba di sini dan bertemu denganmu.”
“Apa alasanmu kabur dari Kerajaan karena kau sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan mereka padamu?” Hazel mencoba menebak, karena Lynx belum memberitahu apa alasan sebenarnya.
Namun ternyata Lynx menggelengkan kepalanya, hingga Hazel mengerenyit sambil menerka ulang dalam benaknya.
“Lalu apa alasanmu?”
Alih-alih langsung menjawab, Lynx lebih dulu mengamati wajah Hazel. Kemudian ia meluncurkan sebuah pertanyaan, “Jika kau dipaksa menikahi seseorang yang tidak kau cintai, apa yang akan kau lakukan?”
Hazel tampak berpikir, ia menyentuh dagu dengan tatapan yang mengedar ke sembarang arah. “Eum, tentu saja kalau ada kesempatan sebisa mungkin aku akan menolak atau kabur. Karena jika tetap dipaksakan, maka aku tidak akan pernah bahagia. Karena katanya, bersama dengan seseorang yang dicintai akan lebih bahagia dari memiliki seluruh yang ada di dunia ini.”
Lynx menggelak tawa singkat. “Kau benar, Hazel. Aku kabur karena aku tidak mau dipaksa menikahi perempuan yang tidak aku cintai. Rasanya itu lebih berat dan menyakitkan ketimbang mendengar makian semua orang yang mengatakan kalau aku tidak berguna dan cacat sepanjang aku hidup.”
Gadis berambut panjang itu seketika terdiam. Pandangannya turun ke bawah. Pikirannya berkelana ke suatu tempat yang dirinya bayangkan ada Lynx di dalamnya. Masih tidak menyangka kalau ternyata pria di sampingnya ini adalah seorang pangeran yang kabur karena tidak mau dijodohkan.
Saat menoleh ke samping, wujud Lynx sudah berganti menjadi rubah. Dengan perubahan itu, lembayung senja yang setia menyinari pun sudah lenyap. Namun ada satu hal yang tidak berubah dan masih bisa Hazel lihat dengan jelas dari pria itu.
__ADS_1
Tatapan sendu yang menguarkan aura kesedihan itu masih melekat, tidak lekang dari raut wajahnya. Binar matanya yang indah tidak menunjukkan kebahagiaan sama sekali. Baru kali ini Hazel melihat sisi lain dari pria itu.
Sebelum memberanikan diri untuk bertanya, Hazel membasahi bibirnya yang kering. Sedikit berdeham untuk menyiasati keheningan yang mendera.
“Apa yang membuatmu tidak mencintai wanita itu?”
Lynx tidak langsung menjawab, sehingga Hazel fokus memperhatikan bulu mata panjang pria itu yang mengibar-ngibar. Ia sempat terlena dengan kesempurnaan Lynx, padahal beberapa saat yang lalu ia mendengar sendiri kalau pria itu mengaku dirinya cacat.
Tapi Hazel seolah tidak menemukan letak cacat itu dimana. Untuk sosok dengan fisik nyaris sempurna seperti Lynx, rasanya terlalu tega jika mengatakannya cacat. Kalau mengatakan pria itu tidak berguna, Hazel mungkin akan mempertimbangkannya.
Mengingat memang Lynx terkadang ceroboh dan malah memperumit keadaan. Tapi dibalik itu semua, Lynx selalu berusaha bertanggung jawab terhadap kesalahannya. Juga punya cara lain untuk melakukan suatu hal yang benar. Tidak sekali Hazel terbantu olehnya.
Lynx menghirup nafas perlahan, perasaan merinding membuat bulu kuduknya terangkat. Kedua matanya pun terpejam beberapa saat, lalu mulai menjawab pertanyaan Hazel sebelumnya.
“Entahlah. Aku hanya tidak bisa memaksakan hatiku untuk jatuh padanya. Tidak ada kesan menarik yang membuatku ingin menyukainya. Selain itu, alasan kenapa aku harus menikahinya hanya karena perjanjian untuk merealisasikan suatu hal yang menurutku buang-buang waktu.”
“... Di samping itu pula, aku merasa kasihan pada perempuan yang harus menikah denganku. Seperti apa yang sudah aku bilang sebelumnya, aku yang memang tidak memiliki kemampuan istimewa pasti hanya akan membuatnya kesulitan dan membuat malu saja,” tambah Lynx dengan dibubuhi senyuman getir.
Dari apa yang sudah Lynx jelaskan barusan, Hazel lebih tertarik dengan pernyataannya yang mengatakan ‘perjodohan’ tersebut dilakukan untuk merealisasikan suatu hal. Hazel jadi kembali penasaran tentang hal yang dimaksud.
Tapi belum sempat Hazel berniat mengutarakan pertanyaan yang mengganjal dalam pikiran, Lynx dalam wujud rubah itu sudah menatapnya lebih dulu. Dan pria itu menyerobot kesempatan Hazel yang ingin berbicara.
“Sepertinya aku sudah banyak bercerita. Kini giliranmu, Hazel,” pinta Lynx, pancaran sedih di matanya sudah berganti dengan api semangat tentang rasa penasarannya mengenai gadis itu.
Hazel mencoba mengelak, masih belum siap jika harus bercerita. Matanya bergulir cepat, tanpa ada alasan ia memainkan rambut, seolah mengulur waktu.
“Bu-bukankah hari sudah berganti malam? Kenapa kita tidak masuk lebih dulu? Juga, sebenarnya aku masih memiliki banyak pertanyaan tentangmu. Aku---”
“Jangan banyak alasan,” tepis Lynx cepat. “Simpan saja pertanyaanmu untuk nanti. Kita masih memiliki banyak waktu untuk bersama. Seiringnya waktu berlalu, kau akan semakin tahu mengenai duniaku.”
Lynx menuruni bangku, masih menatap Hazel yang belum bergerak dari tempatnya. “Sekarang, ayo masuk ke dalam dan ceritakan semuanya. Tentangmu, secara runtut sampai aku mengerti kenapa sejauh ini kau bisa bertahan. Karena menurut dugaanku, takdir kita tak berbeda jauh.”
“... Jika kau pernah berpikir bahwa dunia ini tidak adil, maka kita memang sama.”
***
__ADS_1