
“Jadi bagaimana kau akan menjelaskan semua itu padaku, hm?” Jack masih menunggu, melihat lawan bicaranya yang saat ini tampak gusar sambil menggigiti bibir.
Lynx membalikan tubuhnya, membelakangi Jack sambil mengusap wajahnya. “Kau tahu, kan? Kalau aku tidak melakukannya, aku akan benar-benar dihukum gantung oleh Ayahku. Bukan hanya itu, Hazel pun akan ikut dihukum.”
“Lalu, tujuanmu melakukan itu hanya untuk melarikan diri?” Jack menyimpulkan.
“Bukan,” sanggah Lynx cepat, tidak mau disalah pahami. “Tentu saja bukan hanya itu tujuanku. Aku akan menyerahkan seluruh tenaga bahkan nyawaku untuk membuat keadaan berbalik, demi meraih kemenangan dan membawa perdamaian di negeri ini.”
Jack melipat tangan, jemarinya memijit batang hidung. Merasakan pening yang bergumul di dahi. Jika hanya mengatakannya saja memang mudah, tapi dirinya yakin kenyataannya tak akan semudah itu.
“Kenapa kau begitu yakin? Hanya mengandalkan tenagamu, memangnya kau pikir akan berhasil? Kerajaan Maggie lebih unggul dari kita. Dia bahkan mengambil separuh kekuatan sihir kita, mereka punya banyak kemampuan, juga banyak pasukan. Sedangkan kita, bagaimana?”
Lynx berdecak sebal, kupingnya terasa panas jika mendengar ocehan itu. “Itu berarti kau tidak percaya kan padaku?”
“Bukan percaya atau tidak masalah yang kubahas di sini. Kau ini selalu saja sembrono, mengambil keputusan tanpa memikirkannya lebih dulu. Resiko yang kau ambil kali ini sangat berbahaya. Kau berani mempertaruhkan nyawamu, tapi apa itu akan menjamin bahwa kita akan menang?”
Tubuh Lynx kembali berbalik pada Jack, ia menunjukkan wajah merah padamnya. Terlihat kalau Lynx sedang menahan emosi. Disudutkan oleh Jack, membuatnya tidak terima.
Ia tahu dan mengerti kalau pria yang ada dihadapannya saat ini amat berjasa dalam hidupnya, tapi rasanya kali ini Lynx sulit mengendalikan diri untuk tidak melawan.
“Lalu aku harus bagaimana? Diam saja di saat peperangan sudah menunggu? Kau lihat sendiri kan? Ayahku mau pun saudara-saudaraku, mereka semua hanya membahas tahta, keturunan, tidak sekali pun memikirkan tentang perang yang akan terjadi!” teriak Lynx, kakinya perlahan maju, sementara Jack terus mundur.
“Setidaknya aku berusaha dari sekarang, dari pada hanya diam lalu menyesal. Aku tahu kau khawatir, tapi aku ini sudah menjadi pria dewasa yang siap mengemban tanggung jawab. Kalau kau tidak mau dibebani oleh masalah ini, biar aku yang berjuang sendiri memikirkan caranya!” putus Lynx, menutup ucapannya dengan tegas.
Tak mau menunggu jawaban apa-apa, Lynx memutuskan untuk pergi. Tapi belum ada lima langkah melaju, Jack bersuara dan menghentikan langkahnya dengan reflek.
“Bagaimana dengan Hazel? Kalau kau mati dalam peperangan, pada akhirnya kau tetap akan berpisah dengannya. Meninggalkan kesedihan dan mungkin saja itu membuatnya frustasi. Ingat, di dunia ini yang berani menjadi pelindungnya hanya dirimu,” tanya Jack, masih mencoba untuk berpikir realistis.
Lynx menoleh tanpa membalikan tubuh, sorot matanya penuh dengan keyakinan, “Aku tetap tidak akan menyesal. Meski terlihat lemah, Hazel adalah wanita tangguh. Dia pasti mengerti, bisa membesarkan anak kami dengan baik. Dia juga mulai disayangi oleh siluman-siluman yang baik.”
__ADS_1
Pasrah. Jack menyerah menghadapi kegigihan Lynx dalam menggenggam keputusan. Sedari dulu, memang Lynx selalu berpegang teguh pada apa yang dia yakini. Sia-sia jika Jack terus membujuknya.
“Aku ada dipihakmu. Ayo berjuang bersama.”
Kedua kaki panjang yang dibalut oleh celana lusuh tersebut kembali berhenti. Tapi tubuhnya masih belum berbalik. Amarah yang hinggap di dalam dirinya sudah luntur. Perlahan menaikan pandangan, menatap lurus ke depan.
Pendengarannya menangkap suara derap langkah kaki Jack yang datang mendekat. Tak lama, ubun-ubun kepalanya dipukul singkat oleh pria itu. Membuat Lynx meringis pelan sambil mengelusi kepalanya yang berdenyut.
Sambil berjalan melewati tubuh Lynx, Jack berbicara, “Jangan mengeluh. Aku akan bersikap keras dalam melatihmu. Kurangi waktu tidurmu, paling tidak sehari kau hanya bisa tidur selama tiga jam. Kali ini kau bukan hanya berlatih menggunakan kekuatan fisikmu. Aku punya ide lain.”
Lynx mengerutkan kening, mengamati punggung Jack yang sudah berdiri di depannya. “Kalau bukan hanya kekuatan fisik, itu berarti aku akan belajar mengendalikan sihir? Tapi bukankah itu sia-sia? Kita sudah mencobanya ribuan kali, bukan?”
Jack tertawa ringan. “Itu benar. Tapi dengan metode yang berbeda. Kalau kau tidak bisa, maka akan kupaksa. Karena hanya itu satu-satunya kemungkinan besar cara untuk bisa mengalahkan Kerajaan Maggie.”
“... Seperti yang kau tahu, kita sudah kalah dalam jumlah pasukan. Sekali pun bergabung dengan Kerajaan Oxra, tetap saja kita akan sulit menang. Itu sebabnya aku akan menggunakan metode yang baru. Bisa dikatakan kau adalah kelinci percobaan,” tuntasnya, sedikit ambigu untuk Lynx pahami.
Jack berbalik, menunjukkan senyum percaya diri. “Akan gagal jika tubuh yang akan diuji coba lemah. Tapi aku percaya kalau kau mampu melakukannya.”
***
Hari sebentar lagi akan menggelap, tapi Lynx belum juga kembali. Sejak siang tadi, Hazel belum berjumpa lagi dengannya. Sedikit khawatir, Hazel memutuskan untuk mengunjunginya ke taman belakang.
Aluka belum juga menemuinya lagi, Hazel jadi bosan jika harus terus berada di dalam kamar sendirian. Berjalan mengendap-endap, berusaha tenang meski ada beberapa siluman rubah yang tak sengaja menatapnya. Mereka adalah pelayan istana yang sibuk.
Sesampainya di taman belakang, Hazel melihat sendiri kalau Lynx sedang fokus berlatih dengan sebilah pedang yang diayun-ayunkan dengan tegas. Tapi, kemana Jack? Pria itu tidak ikut berlatih.
Celingukan sebentar, tampaknya kekasihnya itu tidak menyadari kedatangan Hazel.
“Halo?”
__ADS_1
Sial. Jantung Hazel hampir loncat dari tempatnya. Bariton berat yang mendadak muncul dari belakang tubuhnya membuat Hazel terkejut setengah mati.
Ketika menoleh, itu ternyata Jack. Dia melambaikan tangan sambil tertawa.
“Ah, maafkan aku. Tidak bermaksud untuk mengejutkanmu. Apa kedatanganmu ke sini untuk menemui Lynx?” tanya Jack seraya melangkah maju untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Hazel.
“Eum, ya. Apa dia masih belum boleh istirahat? Bukankah dia di sini sejak siang tadi?” Hazel bertanya balik, raut khawatirnya begitu jelas bisa dibaca oleh siapa pun.
Jack menggelengkan kepala. “Sayang sekali, Lynx milikmu harus sering-sering berlatih mulai sekarang. Maaf aku harus meminjam Lynx lebih lama. Kemungkinan besar dia tidak bisa ada di sisimu setiap saat.”
Memang ada rasa kecewa dalam hati Hazel saat mendengarnya, tapi ia menyadari kalau semua ini usaha Lynx untuk membuat keadaan berbalik. Dan semua usahanya pun menyangkut dirinya juga. Jadi Hazel tidak mau bersikap egois.
“Tidak apa-apa. Setidaknya aku tahu kalau dia aman di sini bersamamu. Aku hanya khawatir kalau dia dijahati oleh saudara-saudaranya atau pun Ayahnya sendiri,” balas Hazel sambil tersenyum canggung.
Jack tertawa mendengarnya, membuat atmosfer tegang di sini langsung hilang. “Dia bukan anak kecil. Kau tidak perlu terlalu khawatir. Cukup percayakan saja padanya, dia akan baik-baik saja.”
Hazel mengangguk paham. “Baik.”
Melihat Lynx begitu lihai dalam memainkan pedangnya, Hazel jadi kagum. Baru pertama kali melihat sisi kekasihnya yang seperti itu. Tubuh berototnya sudah basah oleh keringat, sedikit gelap karena hampir seharian terus berdiri di bawah sinar matahari.
“Sejak kapan Lynx bisa menggunakan pedang?” tanya Hazel penasaran.
“Sedari kecil, aku yang melatihnya. Dia memang lemah bahkan tidak punya sedikit pun bakat untuk mengendalikan sihir. Tapi dia mudah mempelajari hal baru. Bukan hanya menggunakan pedang, memanah sambil berkuda atau pun bela diri.”
“... Dia bahkan pernah membunuh hanya dengan melayangkan satu pukulan. Semakin dewasa, dia semakin hebat. Tidak sia-sia aku memohon di bawah kaki Raja hanya untuk membiarkannya hidup,” sambung Jack, tatapan kagumnya terus tertuju pada Lynx.
Melirik pada Hazel, Jack kembali berbicara, “Mau kuceritakan beberapa kisah tentang Lynx di masa lalu?”
***
__ADS_1