
“Apa yang bisa kau harapkan dari gudang tua itu? Aku yakin yang ada di sana hanya hewan pengerat. Mereka berdua tidak akan ada di sana. Ayo pergi ke tempat lain, masih banyak tempat masuk akal yang memungkinkan mereka untuk bersembunyi.”
Perkataan itu membuat seseorang yang hendak membuka pintu gudang jadi mengurungkan niatnya. Mereka tak memeriksa ke dalam, meyakini bahwa Hazel dan Aluka tak mungkin ada di dalam. Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak pada mereka berdua, jika tidak, saat ini pasti para penyusup itu sudah menemukan keduanya.
Helaan nafas lega Hazel keluarkan, sedikit melonggarkan pelukan, membiarkan Aluka kembali menangis. “Kita tunggu sebentar lagi. Sampai suara langkah kaki mereka tak terdengar.”
Aluka hanya mengangguk tanpa menjawab.
Sekitar lima menit berlalu, tidak ada suara apa pun lagi selain suara ledakan-ledakan dan suara reruntuhan yang dibubuhi jeritan meminta pertolongan, saling bersahutan. Kekacauan di Istana belum mereda. Tapi bagaimana pun juga Hazel dan Aluka tak bisa hanya diam tanpa melakukan apa pun.
“Kau tunggu sebentar di sini. Aku akan mengintip melalui celah di pintu,” kata Hazel sambil berjalan merangkak keluar dari bawah meja.
Aluka menunggu di tempat. Menghapusi air matanya, mulai menyadari bahwa saat ini bukan waktunya untuk bersedih. Teringat janjinya pada Lynx untuk terus menjaga Hazel dan bayi yang tengah dikandung.
Bergerak perlahan menyusul Hazel, kakinya berjinjit untuk mengintip. Memantau situasi yang masih tidak memungkinkan untuk keluar. Tapi dalam dada perasaan berderak, ingin memberontak untuk keluar dan melihat secara langsung apa yang terjadi.
Hazel menoleh, mengulurkan tangan pada Aluka. “Tidak mungkin aku meninggalkanmu di sini. Jadi ayo kita keluar bersama-sama. Usahakan untuk tidak tertangkap. Mungkin dengan kondisiku yang sedang hamil besar seperti ini akan menyulitkanmu, jadi jangan sungkan untuk terus berlari tanpa perlu menungguku.”
Aluka meraih lengan Hazel, tersenyum dengan mata yang sembab. “Apa yang kau katakan? Kita akan terus sama-sama. Aku tidak mungkin tega meninggalkanmu. Kita akan mencari Ibuku, lalu kembali bersembunyi di tempat yang lebih aman.”
Bibir Hazel melengkung tipis. “Baiklah.”
Sama-sama keluar dari dalam gudang, melihat lebih jelas permukaan halaman yang semula penuh dengan rumput-rumput hijau kini sudah hancur tak berupa. Terdapat lubang besar yang membuat lekukan dalam tanah, diduga akibat ledakan dari benda semacam granat yang sengaja dilempar sebelumnya.
Kehancuran tak berhenti sampai di sana. Bangunan Istana yang semula kokoh, indah dan menjulang tinggi, kini hampir rata dengan tanah. Bentuknya sudah tak karuan. Puing-puingnya berserakan di mana-mana. Banyak dinding-dinding Istana yang masih berdiri di atas pondasi, sudah retak dan hampir ambruk.
Entah apa yang dilakukan para penyusup hingga membuat kekacauan seperti ini. Tak tanggung-tanggung, Istana megah yang telah berdiri selama berabad-abad lamanya sekarang hampir runtuh dan tak menyisakan satu tiang pun.
Aluka melepas pegangan Hazel, dia berlari lebih dulu untuk sampai ke tempat dimana upacara pemakaman Jack dilakukan sebelumnya. Tepatnya di anak tangga samping pintu utama Istana. Meja beserta bunga-bunga yang berada di atasnya sudah penuh dengan butiran debu dari bangunan yang hancur. Tapi abu dari jasad Jack yang disimpan dalam kendi, tak lagi ada di sana.
Sementara itu, Hazel celingukan di belakang. Melihat banyak penduduk Kerajaan Foxion tertimpa reruntuhan bangunan Istana. Mulai dari setengah badan mereka terhimpit puing-puing bangunan, sebagian dari mereka bahkan sudah tak bernyawa. Teriakan meminta tolong pun saling berbalasan di mana-mana.
__ADS_1
Kaki Hazel gemetar, keringat dingin mulai merayap di wajahnya. Dalam sekejap mata bangunan Istana yang indah menjadi hancur dalam beberapa bagian. Perhatiannya teralihkan oleh suara tangis Aluka yang menjerit-jerit di depan sana, membuat Hazel langsung sigap menghampiri.
“Ibu!”
“Ibunda! Kumohon bertahanlah.”
Hazel melihat Aluka tengah berbicara dengan seseorang. Tangan kecilnya berusaha menggoyang-goyangkan tubuh seseorang yang menjadi lawan bicaranya. Di sana, wanita dengan mahkota di atas kepalanya sudah hampir sekarat.
Darah mengalir di kedua pelipis, hidung dan bibirnya pun ikut mengeluarkan cairan merah kental. Tatapan matanya begitu sayu, tapi tidak terlihat sedang menahan sakit sedikit pun. Padahal setengah tubuhnya tertimbun reruntuhan. Hazel yang kaget sekaligus khawatir pun langsung berlarian mendekat padanya.
“Huh...” Hazel menutup mulutnya sendiri, air mata ikut menemani rasa terkejutnya. “Tidak mungkin.” Tubuhnya sedikit membungkuk, berdiri di sebelah Aluka yang sudah meraung-raung.
“Hazel. Tolong bantu aku mengangkat bebatuan ini, hikss... Kita harus menyelamatkan Ibuku sebelum mereka datang dan menangkap kita semua,” pinta Aluka di tengah-tengah isak tangisnya.
Tapi lengan Aluka dan Hazel langsung ditahan oleh Ratu Keane, maniknya yang sayu menatap secara bergantian wajah mereka berdua. “Tidak perlu repot-repot menyelamatkanku. Sebaiknya kalian pergi sebelum tertangkap. Pergilah ke mata air, tinggallah di sana sampai keadaan membaik.”
Ratu Keane menyerahkan sesuatu yang sedari tadi ia dekap. Sebuah kendi yang berisi abu dari jasad Jack. “Dan bawalah ini. Lynx pasti akan sangat membutuhkan ini untuk mengobati rindunya pada Jack.”
Aluka menggeleng kuat-kuat, ia meremat lengan sang ibu dengan gemetar hebat. “Aku bisa membantu Ibu keluar dari sini. Jadi bertahanlah sedikit lagi. Kumohon, hiks...”
“Tidak. Waktu kalian tidak banyak.” Ratu Keane mengedarkan pandangan sesaat, lengannya ia angkat tinggi-tinggi saat tak sengaja melihat pria yang bertugas sebagai penjaga Kerajaan baru saja berhasil keluar dari timbunan bangunan.
Selagi menunggu pria berpakaian penjaga itu datang mendekat seraya menyeret sebelah kakinya yang berdarah-darah, Ratu Keane melanjutkan ucapannya, menatap sang putri tercinta, “Dengar ini, para siluman anjing sedang mengincar Hazel. Jadi pastikan kau menjaganya dengan baik. Untuk sekarang, membawanya pergi dari sini adalah cara yang paling aman.”
Sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis, ia menjawab, “Berjanjilah padaku, kita akan bertemu kembali. Aku akan ke sini untuk menemui Ibu. Sampai saat itu, tolong jaga diri Ibu baik-baik.”
Ratu Keane mengangguk, air mata yang ia tahan sedari tadi akhirnya berjatuhan juga. Hanya bisa memberi pelukan tak lebih dari satu menit, para penyusup yang semula berpencar kini mulai menunjukkan keberadaannya, membuat Ratu Keane terpaksa mendorong Aluka menjauh untuk dibawa pergi oleh penjaga yang sudah menunggu.
Dalam usaha melarikan diri, tubuh Hazel terseok-seok dalam gandengan pria yang menuntun jalan. Sementara Aluka yang terus meraung tak ingin menjauh dari sang ibu, hanya meronta dalam gendongan, minta diturunkan.
Karena jalanan yang mereka pijaki penuh dengan bebatuan besar, Hazel yang tak menggunakan alas kaki jadi terluka. Bebatuan dari pecahan puing-puing bangunan memiliki sisi-sisi yang tajam, pastinya telapak kaki Hazel saat ini lecet dan berdarah.
__ADS_1
“Jika kau mau, aku bisa menggendongmu juga,” tawar sang penjaga dengan sopan.
Hazel menggeleng, bibirnya menahan untuk tidak meringis. “Tidak apa-apa. Telat satu detik saja mereka yang dibelakang pasti langsung menangkapku.”
Di luar dugaan, para penyusup yang diduga hanya mengejar saja, tiba-tiba mulai melayangkan senjata jarak jauh. Bola-bola api hampir saja mengenai tubuh Hazel jika tidak langsung ditarik oleh penjaga yang cekatan di sampingnya. Tak memedulikan kakinya yang terluka, ia fokus menyelamatkan dua orang perempuan di sisi kanan dan kirinya.
Sebuah burung berukuran besar mulai terbang ke arah mereka, tepatnya ke arah Hazel untuk dibawa terbang. Burung tersebut bukanlah burung asli, lebih tepatnya sebuah tiruan yang dibuat oleh sihir. Bentuknya pun jadi menyerupai bayangan hitam yang pekat.
Hazel yang mulai kewalahan untuk menghindar, tak banyak kata pria di sampingnya langsung mengalungkan tangannya pada pinggang Hazel untuk direngkuh. Sedikit kaget, tapi ia tahu ini bukan berarti ada maksud tertentu.
“Maaf, tapi ini kondisi darurat. Aku akan membawamu melompati gerbang Istana. Jadi pastikan kau berpegangan padaku,” ucapnya langsung memberi penjelasan, kakinya mulai melakukan ancang-ancang.
Dalam hitungan ketiga, tubuhnya melompat ke udara. Saat burung yang masih mengincar Hazel hendak menyerobot, Roc yang menjadi kebanggaan Kerajaan Foxion langsung menghadang. Memerangi burung suruhan siluman anjing tadi, agar memudahkan mereka untuk kabur.
“Kita akan menggunakan Roc yang lain.” Sang penjaga sudah kembali mendarat, bersembunyi di samping gerbang Istana yang masih utuh. Memberi jeda pada Hazel yang nampaknya masih shock dengan kejadian tadi. Sedang Aluka, dia hanya sibuk menangis dalam gendongan tanpa mau berbicara.
“Aku yakin mereka datang ke sini dalam jumlah yang tak sedikit, jadi kita tak bisa berlama-lama di sini. Kita harus segera sampai ke mata air untuk bersembunyi,” kata pria tersebut sambil menormalkan pernafasan.
Hazel menunduk, perutnya mendadak merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya amat nyeri dan kram, bergumul dalam satu titik. Mulai menyebar ke belakang pinggang, dan membuatnya sulit menahan untuk tidak meringis.
Hampir saja tubuhnya terjatuh jika tidak ditahan oleh pria itu. Pertahanan tubuh Hazel mulai tidak stabil, wajahnya yang penuh dengan keringat dingin berubah menjadi pucat pasi. Nafasnya pun mulai ikut tidak beraturan.
Karena khawatir, sang penjaga pun bertanya, “Ada apa? Kau merasakan sesuatu?”
“Ini aneh. Rasanya sangat sakit. Perutku ... Akh,” keluh Hazel, kedua tangannya mulai mengusap-usap perutnya yang menjadi pusat rasa sakit.
Aluka yang semula tak peduli, jadi ikut penasaran apa yang terjadi pada Hazel. Matanya membulat sempurna ketika melihat sesuatu mengalir dari bawah pakaian yang dikenakan wanita itu.
“Darah! Ada darah yang mengalir!” pekiknya sambil menunjuk-nunjuk.
***
__ADS_1