Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 64 - Bunga Yang Gugur.


__ADS_3

Lynx duduk di tempat yang semula Putri Ren duduki. Tepat di samping tubuh Jack yang masih berbaring, mereka saling bertatapan. Jack menyentuh lehernya, mencari liontin yang terpasang untuk dilepaskan.


“Tolong pakai liontin ini,” ucapnya tiba-tiba, tentu hal ini membuat Lynx kebingungan hingga menimbulkan banyak pertanyaan.


“Eh? Ada apa? Kenapa kau mau memberikannya padaku? Liontin bagi siluman rubah seperti kita, bukankah itu sangat berharga?” cecar Lynx. Luka bakar yang tercetak jelas di tubuh Jack mengambil penuh atensinya, membuat perasaan khawatir menyelinap dalam diri yang gelisah.


Jack mengulas senyum hampa, wajah pucatnya membuatnya terlihat menyedihkan. “Karena aku ingin dikenang ketika aku telah tiada nanti. Hanya dengan liontin ini kau bisa mengingatku.”


Lynx membelalak saat mendengarnya, tidak mengerti kenapa mendadak Jack berkata seperti itu. “Jangan bicara begitu! Kau yang terkuat, kau tidak mungkin mati dengan mudah bukan? Itu hanya luka bakar yang bisa sembuh dalam beberapa hari. Kau tidak perlu ikut berperang lagi, serahkan saja semuanya padaku.”


Kekehan kecil muncul, Jack tidak sanggup untuk menghancurkan ekspektasi dalam kepala pria yang sudah dirinya rawat sedari kecil. Tapi bagaimana pun juga, inilah kenyataannya. Jack sudah bisa memprediksi hal ini akan terjadi, cepat atau lambat semuanya akan berakhir.


“Kau yang terkuat sekarang. Maaf terlambat memberitahumu, tapi hampir seluruh kekuatan sihir yang aku miliki sudah dipindahkan pada pedang milikmu. Resiko dari semua ini aku akan kehilangan semuanya, bahkan diriku sendiri,” terang Jack sebisa mungkin dengan tenang.


“Apa maksudnya dengan kehilangan dirimu sendiri?” Lynx bertanya karena masih terdengar ambigu.


Jack menarik nafas panjang sebelum menghentakkannya ke udara dengan pelan. “Pada intinya, aku hanya bisa membantumu sampai sini. Aku tidak tahu kapan pastinya, tapi aku sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang terus menggerogoti tubuh ini. Jadi aku rasa sebentar lagi—”


“Tidak,” potong Lynx. “Jangan bercanda di saat genting begini.” Bibirnya yang mendadak kaku ia paksakan untuk tersenyum. “Kau tahu, 'kan? Air liurku berguna untuk menyembuhkan orang lain.”


Tiba-tiba Lynx menjentikkan jarinya. “Benar! Ya, aku akan mengambil air dan akan mengobatimu dengan—”


Jack yang melihat Lynx hendak pergi, segera menahannya. Menarik ujung baju Lynx sampai saling menatap kembali. “Aku serius. Meski pun kau memberiku pengobatan dengan cara seperti itu, pada akhirnya akan sia-sia. Yang terjadi sekarang ini bukanlah luka biasa.”


Tubuh Lynx melemas. Dia kembali terduduk lesu. Rasa antusiasnya terpatahkan. Mulai berpikir bahwa semua ini bukanlah lelucon. Melihat pancaran mata Jack yang menunjukkan keseriusan, jantung Lynx bertalu tak karuan. Mendatangkan rasa takut yang merayap ke seluruh tubuh.


“... Ini memang sudah waktunya. Sejak awal, aku percaya bahwa kau dapat melakukannya lebih dari apa yang aku bisa. Kau adalah perwujudan yang paling sempurna. Aku mengakui itu,” sambung Jack setelah lenggang beberapa menit.


“Persetan dengan semua itu!” sungut Lynx, ia menepis lengan Jack yang berusaha menyentuhnya. “Apa arti semua ini jika tanpamu lagi? Sejak dulu, hanya kau yang peduli padaku. Bukan mereka atau orang lain, tapi dirimu. Dan sekarang, kau...”


Mendadak hening.


Lynx tak sanggup melanjutkannya lagi. Dia membuang muka, menahan nafas untuk menghalau isak tangis yang akan mengisi kekosongan di sini.

__ADS_1


Perlu waktu beberapa menit untuk Lynx memahami apa yang dikatakan Jack. Tidak bisa dipercaya hal itu akan dirinya dengar. Tidak tahu juga kalau resiko yang Jack tanggung begitu besar. Jika tahu akan seperti ini keadaannya, Lynx tidak akan pernah menyetujui ritual hari itu.


“Kenapa?” Lynx menundukan kepalanya, kedua tangannya ia taruh di atas paha. Meremat pakaiannya dengan kencang, menahan nafasnya beberapa saat sampai paru-parunya terasa penuh.


“Kenapa kau melakukannya?!” jeritnya masih dengan kepala yang menunduk. “Kenapa kau rela mengorbankan diri dengan cara seperti ini? Kenapa kau menginginkan jalan menyedihkan begini? Setelah semua yang kau lakukan untukku, lalu dengan teganya kau mau meninggalkanku?”


Jack sangat paham jika Lynx bereaksi seperti itu. Salahnya sendiri karena terlambat memberitahu. Tapi inilah jalan satu-satunya yang bisa Jack lakukan. Sejak awal, ia bisa melihat potensi yang dimiliki Lynx.


“Maaf.” Dan pada akhirnya hanya kata itu yang bisa terucap dari mulutnya.


“Kenapa kau menaruh beban padaku? Kenapa kau begitu percaya kalau aku dapat melakukannya? Satu-satunya jawaban mengapa aku bisa di titik ini, itu karena dirimu, Bu! Aku bisa seperti ini karena bantuanmu,” berondong Lynx hanya dengan satu tarikan nafas, meluapkan kekesalannya.


Lagi-lagi Jack tersenyum, padahal hatinya sedang menangis saat ini. Tahu nyawanya sudah di ujung tanduk, siapa yang tidak sedih? Tapi Jack menutupinya, berusaha menunjukkan bahwa dirinya menerima takdir ini dengan baik.


“Dengarkan aku. Di dunia ini, jika kau menginginkan sesuatu yang baik seperti apa yang kau rencanakan, itu berarti kau harus siap kehilangan apa yang sudah ada dalam hidupmu.”


“... Karena dalam hidup harus selalu ada pengorbanan untuk sebuah perjuangan,” tutup Jack dengan lembut, berharap agar Lynx mau mengerti.


Tapi...


Jack hanya bisa memandangi punggung Lynx yang sekarang sudah menghilang dari pintu tenda, di saat bersamaan bulir bening keluar dari pelupuk mata. Ia baru bisa menangis sesenggukan di saat tidak ada siapa pun.


Tapi siapa yang tahu? Bahwa sebenarnya Putri Ren yang lancang diam-diam mendengarkan obrolan mereka dari samping tenda. Duduk merungkut sambil membungkam mulutnya untuk menahan isak tangis yang ingin menjerit-jerit.


Sampai akhirnya, Jack sadar akan hal itu. Dia mengetuk-ngetuk tenda, tepat dimana Putri Ren duduk. “Aku bisa mendengarmu. Mau duduk dan mengobrol sebentar denganku?”


Tanpa menjawab, Putri Ren lantas masuk. Sebelumnya ia sudah menyeka semua air matanya. Tapi setelah matanya bertemu dengan pria yang terbaring tak berdaya di sana, Putri Ren tak sanggup lagi untuk menahannya.


Sebelum duduk di samping Jack, ia bertanya, “Apa semua yang kau katakan itu benar?”


Jack yang paham kemana arah pembicaraannya pun seketika mengangguk.


“Apa tidak ada cara lain?”

__ADS_1


Kepala Jack menggeleng lemah. “Tidak ada. Aku tidak bisa bertahan lama dengan tubuh yang sudah seperti ini. Luka bakarnya akan terus menjalar ke seluruh tubuhku. Aku hanya akan menunggu sampai dimana aku tak lagi bisa bernafas.”


Tangisan yang dikeluarkan Putri Ren semakin mengalir deras. Dia menyeret kedua kakinya yang lemas ke arah Jack, duduk bersimpuh di sampingnya sambil tersedu sedan. Merutuki apa yang barusan dirinya dengar.


“Apa kau akan mati tanpa tahu bahwa aku sudah lama mencintaimu?” Putri Ren mengatakannya, berpikir bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya.


Tidak peduli dengan respon atau jawaban apa yang akan diterimanya nanti. Atau bahkan jika harus ditolak untuk yang kedua kalinya. Putri Ren hanya ingin Jack tahu, bahwa selama ini dirinya mencintainya dalam diam.


“Aku tahu.” Jack memejamkan matanya, bibirnya membuat lengkungan sendu. “Terima kasih sudah mencintaiku.”


Gadis yang masih dibanjiri air mata itu mengangkat kepala, berpikir mungkin ini sebuah penolakan. “Meski aku tahu kau tak mencintaiku dan kau tak pernah menatapku sebagai perempuan yang layak untuk dicintai. Aku akan tetap mencintaimu, Jack.”


Jack menggelengkan kepala, dia kembali membuka mata. Menatap penuh kehangatan gadis di sampingnya. Perlahan tangannya yang gemetaran menyentuh pipi Putri Ren yang basah karena air mata.


“Siapa yang tidak jatuh cinta pada Putri cantik dan baik hati seperti dirimu? Aku senang saat mengetahui kau mencintai pria biasa yang jauh dari kata sempurna sepertiku. Jika aku bisa bertahan sedikit lebih lama, aku ingin bersamamu untuk mencintaimu secara utuh,” balas Jack sambil tersenyum.


Putri Ren berhenti menangis sejenak, bibir bawahnya ia gigit, tangannya menyeka air matanya. Kemudian tertawa pelan, “Bahkan jika itu adalah sebuah kebohongan, aku tetap merasa senang.”


Lengan Jack bergerak turun, menyentuh jemari Putri Ren yang terasa hangat. Sedikit merematnya untuk memberinya kekuatan. “Aku serius. Jika aku terlahir kembali nanti, aku pasti akan menemukanmu lebih dulu. Aku juga yang akan berkata mencintaimu lebih dulu.”


“Be-benarkah?” Kedua manik Putri Ren berbinar.


Untuk meyakinkan, Jack mengangguk. “Tentu. Jadi, mari kita bertemu lagi nanti. Entah di kehidupan yang mana, aku akan terus menunggumu. Tak peduli seberapa lama, seberapa jauh, atau pun seberapa sulit, aku pasti akan mencari dan mendapatkanmu kembali.”


“... Bahkan jika aku mendapat peran sebagai orang miskin sedangkan kau adalah seorang gadis dari keluarga terpandang, aku tak akan ragu untuk memperjuangkanmu. Aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi.”


Mendengarnya, Putri Ren semakin terisak. Air matanya meleleh, terus membasahi kedua pipinya yang sudah banjir. Ia berpikir dirinya akan kembali ditolak, tapi di luar dugaan Jack akan mengatakan hal manis seperti itu.


“Aku senang mendengarnya.” Putri Ren tersenyum bahagia, ikut menggenggam tangan Jack.


Tak lama seusai mengatakannya, Jack menutup mata. Putri Ren dapat merasakan jemari Jack yang semakin dingin. Padahal sebelumnya pria itu mengalami demam yang sangat tinggi. Tapi sekarang, tubuhnya mulai kaku bersamaan dengan kulitnya yang kian memucat.


“Aku percaya kalian semua dapat membawa kemenangan untuk Kerajaan Foxion. Tolong semangati Lynx. Beritahu padanya, bahwa aku beruntung pernah membesarkannya,” pinta Jack dengan suara serak, terdengar amat pelan dan pilu.

__ADS_1


***


__ADS_2