Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 68 - Porak-Poranda.


__ADS_3

Masih dalam pengejaran, posisi Lynx saat ini belum diketahui. Semua alat pengintai untuk merekam kejadian, sudah dirusak total secara beruntun oleh Lynx. Hingga anak panah yang tersisa bisa dihitung oleh jari.


Tersesat dalam lorong gelap buntu tanpa menemukan celah untuk bisa kabur, Lynx sedikit panik. Tak mungkin berjalan ke belakang kembali, mereka yang tengah berpencar pasti akan menemukannya dengan mudah.


Lampu dalam lorong yang memang sudah redup, mendadak berkedip-kedip. Membuat suasana berubah menjadi mencekam. Kepala Lynx celingak-celinguk gelisah, tubuhnya yang sudah banjir dengan keringat perlahan mundur. Menyentuh dinding, tak mampu bergerak ke mana-mana.


Sementara kupingnya nampak bergerak-gerak, menangkap suara derap langkah kaki yang berjalan mendekat. Cepat atau lambat, jika Lynx tak segera melakukan sesuatu untuk bersembunyi, pasti mereka akan menangkapnya.


Berderap ke sudut lorong, lampu yang berkerlap-kerlip kini sudah padam total. Lynx menahan nafas sejenak, kakinya merasakan pijakan aneh. Berbeda dengan apa yang ia pijak sebelumya. Permukaannya tidak sejajar, seperti menginjak bidang lebih tinggi.


Untuk mengecek, Lynx berjongkok. Meraba-raba permukaan tersebut. Sampai akhirnya ia menyadari sesuatu. Lantai yang ia pijaki saat ini sepertinya terhubung dengan ruangan yang ada di bawah. Seingat Lynx, dirinya masih berada di lantai satu. Itu berarti ruangan di bawah berada di dalam tanah.


Membuka secara paksa lantai yang membuat permukaan tampak berbeda, dugaan Lynx ternyata benar. Setelah dibuka, ia melihat ada sebuah tangga yang bisa mengantarkannya ke dalam ruangan gelap di bawah sana. Dalam posisi terpojok seperti ini, mau tidak mau Lynx harus turun ke bawah untuk bersembunyi.


Sebelum para penjaga itu menemukannya, Lynx dengan buru-buru masuk ke dalam. Menutup kembali bongkahan lantai tersebut agar tidak ketahuan. Dan yang tersisa saat ini adalah kegelapan yang mengelilinginya.


Gelap, semua pandangannya menghitam. Entah ruangan apa sebenarnya yang sedang Lynx pijaki saat ini. Hawanya terasa panas, sebab tidak ada udara dan begitu lembab. Bau debu tercium kuat, bisa ditebak ini adalah ruangan yang tak pernah dibersihkan. Bahkan mungkin sudah lama tak terjamah lagi.


“Uhuk, uhuk!” Lynx menekan dadanya, mencoba bertahan dalam situasi di sini. Menanggah ke atas, ia mendengar langkah kaki yang melewati penutup tangga.


“Mereka tak mungkin memeriksaku sampai ke sini, 'kan?” batin Lynx bersuara, tangannya mulai menggapai-gapai angin, mencari pegangan untuk berjalan.


Dinding yang ia sentuh, tebal dengan debu. Lynx berjalan hanya mengandalkan insting sambil terus meraba-raba dinding. Semakin jauh ia berjalan, indera penciumannya menangkap aroma sesuatu. Yang mana itu tidak asing baginya.


Hidungnya mengerut, semakin tajam baunya. Memicing sebentar, dalam kegelapan yang mengelilingi, Lynx merasa tidak sendirian. Ada seseorang yang lain tengah bernafas, namun tidak beraroma seperti seorang siluman.


Kembali berjalan, Lynx ingin mencari tahu dimana keberadaan seseorang tersebut menggunakan aroma yang dirinya hirup. Sekitar lebih dari sepuluh langkah maju ke depan, Lynx dibuat terperanjat kaget ketika sesuatu di bawah sana menyentuh sebelah kakinya.


“Lepaskan kakiku! Dan tunjukkan wujudmu!” Lynx mencoba menarik kakinya dari cengkraman tangan yang sudah menahannya di bawah sana. Alih-alih dilepas, yang terjadi malah semakin kuat mencengkram.


“K-kau ... Siluman rubah?”


Deg!


Lynx tertegun. Suara ringkih barusan membuatnya mematung. Bagaimana dia tahu? Apa mungkin dia juga bisa mencium aroma seperti Lynx?


“Siapa kau?” Lynx mengulur tangan ke depan, dalam kegelapan yang menutup pandangan ia bisa merasakan sesuatu yang dingin di depan sana, ia menyentuh bilah-bilah besi yang dibentuk semacam jeruji untuk mengurung.


Di detik berikutnya, suara rantai yang beradu dengan lantai terdengar. Seseorang yang belum diketahui rupanya itu sepertinya sedang menyeret tubuhnya agar lebih dekat ke arah jeruji. Cengkramannya pada kaki Lynx pun semakin kuat.


Tahu kalau lawan bicaranya ada di bawah, Lynx memutuskan untuk berjongkok. Kembali mengulurkan tangan, jemari tangannya menyelinap di antara celah jeruji besi. Bertemu dengan tulang yang dibalut oleh kulit. Kerutan yang sudah mengendur pada kulit seseorang itu terasa dingin.

__ADS_1


“Kau manusia. Tidak salah lagi. Meski aromamu samar-samar. Tapi aku masih bisa menciumnya,” ujar Lynx begitu yakin.


“Dan kau siluman rubah. Lebih tepatnya keturunan Raja Arandelle, generasi terakhir yang memiliki warna mata langka. Meski hanya tersisa satu, mata indahmu terlihat terang dalam kegelapan di sini,” balasnya dengan suara serak.


“... Aku sudah menunggumu sejak lama. Aku tahu kau akan datang sebagai pahlawan untuk membalikkan keadaan,” sambungnya, semakin membuat Lynx bingung.


Andai saja jika ada lampu yang menerangi ruangan ini, Lynx pasti bisa melihat bagaimana wajah manusia yang menjadi lawan bicaranya. Mengesampingkan hal itu, Lynx berpikir sesuatu. Kejadian di masa lampau,  tentang cerita manusia yang menjadi pengkhianat bagi Kerajaan Foxion.


“Bagaimana kau bisa tahu tentangku?” tanya Lynx untuk menepis rasa penasaran.


Pria yang terkurung dalam jeruji itu tertawa pelan. “Aku bahkan tahu sejak kau masih menjadi bayi merah, Pangeran Lynx.”


Mungkinkah manusia yang dikatakan pengkhianat adalah pria dihadapannya ini? Tapi, setelah dipikir-pikir, tidak ada manusia yang dapat hidup selama itu.


***


Pemakaman Jack digelar dengan lancar. Dihadiri oleh anggota Kerajaan dan sebagian penduduk yang memang ikut mengungsi di istana. Untuk mengenang sosok Jack sebagai siluman yang telah berjasa dalam banyak hal untuk kemajuan Kerajaan, jenazah Jack dikremasi. Sehingga abu nya bisa disimpan di tempat yang istimewa.


Sebagai salam terakhir, mereka semua mengadakan upacara penghormatan. Lukisan sosok Jack di taruh di samping tempat abu dari jenazahnya sendiri, beberapa karangan bunga pun disusun mengelilingi. Satu per satu dari mereka maju ke depan, melakukan salam penghormatan.


Sementara Hazel, yang sudah lebih dulu melakukan upacara penghormatan, kini memilih menepi sebentar ke taman belakang Istana. Ia duduk di bawah pohon yang rindang, sedikit mencegah derai air mata yang terus mengalir.


Saat sedang sibuk menghapusi bulir air mata, Hazel tergemap sejenak ketika menyadari ada pergerakan dari dalam perutnya. Ia merasakan beberapa tendangan kecil yang dilakukan buah hatinya. Seolah peka dengan apa yang dirasakan sang ibu, bayi di dalamnya tidak ingin jika Hazel bersedih.


“Anakku sayang, Mommy tidak menangis, kok.” Hazel terkekeh lucu sambil mengusapi perut besarnya, jemari-jemari kecil yang masih sibuk menendang-nendang tercetak jelas begitu nampak pada pakaiannya.


Sampai akhirnya Aluka yang sebelumnya sibuk mencari-cari keberadaan Hazel, sekarang tengah berlarian ke arahnya dengan raut sumringah. Aluka takut kalau Hazel melakukan sesuatu yang buruk. Untuk menepati janjinya pada Lynx, Aluka harus menjaga Hazel bagaimana pun caranya.


“Hazel!”


“Aku sudah lelah mencarimu ke mana-mana, lain kali beritahu aku jika kau ingin pergi,” oceh Aluka sesaat setelah duduk berhadapan dengan Hazel.


Jemari Hazel mengusap keringat di dahi Aluka, kemudian tersenyum tipis, “Maaf sudah mengkhawatirkanmu. Aku sedang ingin menenangkan diri dari keramaian.”


“Kau masih memikirkan omongan Ayahku?”


Hazel menggeleng, tidak mau membuat cemas.


“Jangan bohong.” Kini giliran Aluka yang menyeka, bulir-bulir air mata yang tersisa di wajah Hazel sudah ia sapu bersih menggunakan ibu jari. “Kau tidak bisa mengelak ketika di sini masih menyisakan air mata kesedihan.”


“Maaf.” Hazel memegang punggung tangan Aluka yang masih menempel di pipi.

__ADS_1


Perhatian Aluka teralihkan oleh gelang unik yang melingkar di tangan Hazel. Ia baru sadar kalau gelang tersebut juga dipakai oleh Lynx. Hanya saja Aluka baru berpikir untuk mempertanyakan hal tersebut sekarang.


“Omong-omong, apakah ini gelang pasangan?”


Hazel mengangguk singkat. “Ya, bagaimana kau tahu?”


“Aku melihat Lynx juga memakainya. Dimana kau membelinya? Itu unik karena terbuat dari akar tumbuhan dan bunga-bunga kecil yang sudah kering sebagai hiasannya,” kata Aluka merasa tertarik, pandangannya tak lepas dari gelang itu.


Hazel tertawa, kembali mengingat moment di masa itu. Ketika dirinya masih hidup dalam kendali gengsi dan sukar untuk mengakui bahwa hatinya sudah jatuh pada Lynx.


“Ini sewaktu kami masih di dunia manusia, Lynx yang mengajakku makan di kedai. Dan aku yang membeli gelang ini. Konon katanya, gelang ini pembawa keberuntungan. Aku harap keberuntungan itu akan terus menyertai kami. Karena aku sadar, posisiku untuk bisa berbaur di dunia ini masih sulit,” balas Hazel, ikut menatap gelang miliknya.


“Dengan sama-sama saling memiliki, bukankah itu sebuah keberuntungan juga? Aku tahu di dunia ini tidak ada yang sempurna, tapi setelah melihat kalian berdua, aku percaya sempurna itu ada pada kalian. Dibalik kekurangan masing-masing, kalian saling melengkapi. Aku berharap kisah cintaku nanti sama seperti kalian,” timpal Aluka dengan kekehan lucunya.


Hazel memberi usapan lembut di puncak kepala Aluka. “Ya, aku akan berdoa untukmu.”


Ketika sedang asyik mengobrol, keduanya dikejutkan oleh suara sesuatu yang menggelegar dan beruntun, semacam senjata dengan peluru yang dilepaskan ke udara. Disusul oleh suara teriakan-teriakan yang bersahut-sahut dari dalam Istana. Seperti ada kehebohan yang terjadi.


“Apa itu?!” Aluka terperanjat, hendak kembali masuk ke Istana, tapi Hazel menahannya.


“Jangan masuk dulu. Aku tahu itu suara apa. Sepertinya ada penyusup yang masuk dan membombardir menggunakan senjata semacam pistol. Kita tidak boleh masuk, itu bahaya,” tahan Hazel yang paham situasinya.


“Penyusup? Itu tidak mungkin. Istana kita sudah dilindungi oleh tudung sihir yang dibuat Paman Jack. Tidak mungkin bisa ditembus oleh siluman yang bukan bagian dari Istana. Dan juga, apa itu pistol? Aku pikir seseorang di Istana tengah menggunakan sihir. Apa mungkin itu Ayahku?”


Beberapa detik setelah Aluka mengotot tidak percaya, tudung sihir yang melengkung sebagai pelindung hancur seketika. Sehingga teriknya matahari bisa mereka rasakan kembali. Langit cerah menerangi keadaan, menepis suasana menakutkan sebelumnya.


“Lihat? Tudung sihir yang kau maksud sudah hancur sekarang. Aku yakin, ada yang mencoba untuk mengacaukan keadaan Istana. Ada baiknya kita bersembunyi untuk sementara waktu,” ajak Hazel, ia sudah berdiri dan memegangi lengan Aluka untuk dituntun.


“Ka-kalau begitu, Ibuku... Ibuku ada di dalam, Hazel! Aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Dia dalam bahaya sekarang!” Aluka berontak, ingin pergi dan masuk ke dalam Istana.


Tapi usahanya tak direstui, bukan karena Hazel yang kukuh menahannya. Tapi karena sebuah benda kecil semacam granat tiba-tiba saja terlempar ke arah halaman yang mereka jajaki, hingga akhirnya menimbulkan ledakan yang luar biasa. Asap memenuhi penglihatan, api yang berkobar menghanguskan rumput dan pepohonan.


Hazel buru-buru menarik Aluka untuk masuk ke dalam gudang senjata milik Jack dan Lynx. Yang mana sebelumnya siapa pun tak diizinkan masuk. Tapi karena ini kondisi darurat, Hazel terpaksa menggunakannya untuk bersembunyi.


“Jangan bergerak dan bersuara. Kita diam dulu sebentar di sini sampai situasinya sedikit lebih aman,” kata Hazel, ia mengajak Aluka bersembunyi dibawah meja. Memeluknya dengan erat ketika gadis itu mulai menangis ketakutan.


Aluka menanggah menatap Hazel, sudah sesenggukan. “Bagaimana dengan Ibuku? Aku banyak mendengar teriakan sebelumnya, apa Ibuku baik-baik saja di dalam sana?”


Hazel mengangguk ragu. “Aku yakin dia baik-baik saja. Jadi jangan terlalu khawatir. Aku janji akan membawamu ke sana setelah keadaan membaik.”


***

__ADS_1


__ADS_2