Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 72 - Dunia Lain.


__ADS_3

Bibir Aluka bergetar takut, menatap bayi kecil yang baru saja keluar dari celah kaki Hazel. “Di-dia tidak menangis. Hei, apa dia masih hidup?”


Buru-buru Putri Ren menghampiri, berjalan tergopoh-gopoh masuk ke dalam mata air. Hampir tergelincir sebab tak hati-hati, namun tanaman merambat yang muncul dari dalam air menahan tubuhnya.


Berdiri di samping Hazel, Putri Ren lebih dulu mengambil bayi kecil tersebut. Membawanya ke dalam gendongan. Sesekali ia menatap ke arah Hazel yang sudah terpejam. Wanita itu tak sadarkan diri.


Atau mungkin Hazel sudah...


Tidak. Putri Ren akan memastikan kalau Hazel baik-baik saja. Dia yakin Hazel pingsan karena kelelahan. Tapi bagaimana dengan bayi yang baru saja dilahirkannya? Mengapa tidak ada reaksi apa pun? Bahkan setetes air mata, atau pun sekecil suara tidak ada yang keluar.


Putri Ren mendekatkan telunjuknya pada lubang hidung si bayi. Merasakan deruan nafas yang hangat meski tipis-tipis. Dia hidup. Hanya saja kondisinya lemah dan tidak senormal bayi pada umumnya.


Setelahnya, Putri Ren meletakan telapak tangannya pada dada bayi tersebut. Debaran jantungnya bisa ia rasakan meski hanya getaran kecil. Benar-benar lemah. Baik Hazel atau pun bayi yang dilahirkannya, keduanya butuh pertolongan.


“Dia masih hidup. Bayi laki-laki yang dilahirkan Hazel cukup berbeda. Anehnya, berbarengan dengan bayi ini lahir fenomena bulan merah muncul. Kau tahu apa artinya ini semua, Aluka?” tanya Aluka, ia menimang-nimang bayi itu di dalam dekapannya.


Aluka menggeleng pelan, tidak yakin. “Entah kebetulan atau apa. Tapi dulu, menurut cerita yang kudengar, saat Kak Lynx lahir terjadi juga fenomena seperti ini.”


Putri Ren mengangguki. “Ya, aku tahu cerita itu. Aku yakin, bayi ini akan sehebat Ayahnya. Keturunan Lynx akan membuat sejarah baru. Perbedaan ras antar siluman dan manusia yang disatukan dalam satu keturunan pertama kalinya terjadi, tentu akan menjadi cerita gempar di masa yang akan mendatang. Mungkin di suatu saat nanti, sejarah akan ikut berubah. Kita tidak perlu lagi membenci para manusia.”


Aluka manggut-manggut setuju. Ia mencondongkan tubuhnya, ingin melihat lebih jelas keponakan barunya. Bayi kecil itu untuk pertama kalinya membuka mulut, tampak lucu meski tak bersuara.


“Matanya masih tertutup. Aku ingin sekali melihat seperti apa warna bola matanya. Apakah seperti Kak Lynx atau mungkin Hazel? Siapa Gen paling kuat yang dibawa oleh bayi ini? Ugh, aku sangat penasaran,” cerocos Aluka begitu antusias.


Putri Ren tertawa. “Bisa kau menggendongnya sebentar? Aku harus memeriksa keadaan Hazel. Temanku sudah meracik ramuan. Aku juga harus mencari pakaian untuk bayi ini. Angin malam sangat dingin, jika Hazel belum sadarkan diri bisa bahaya sebab bayi ini akan kedinginan. Dia juga pasti lapar.”


“Baiklah. Berikan padaku, aku akan menggendongnya.” Aluka merentangkan tangan, mengambil alih bayi kecil tersebut. Setelah berada dalam dekapan, ia menepuk lembut punggung si bayi.

__ADS_1


Teman dari Putri Ren yang membantu, datang sekonyong-konyong, ingin memberikan sesuatu padanya. Sebuah benda kecil yang dibungkus dedaunan ia berikan pada Putri Ren.


“Ini madu. Mungkin bisa diberikan pada bayi itu. Dia tidak menangis, itu sudah aneh. Dia seharusnya langsung disusui, tapi berhubung sang Ibu masih tidak sadarkan diri, beri saja dulu madu itu,” ucapnya memberitahu.


Putri Ren menerimanya sambil tersenyum. “Terima kasih. Tapi menurutku kondisi yang terjadi pada bayi Hazel tidak aneh. Dia hanya berbeda. Tapi aku yakin, dibalik kelahirannya ini akan membawa keberkahan pada negeri Foxion, juga negeri kita, yang sudah luluh lantak dibantai oleh musuh.”


Kembali fokus pada Hazel. Putri Ren menatap wajah teduh nan pucat tersebut dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Memegang urat nadi di tangan Hazel, merasakan kalau detaknya mulai melemah. Ada perasaan khawatir yang menyelinap dalam dada.


Bergeser sedikit untuk mendekat pada telinga Hazel, kemudian Putri Ren berbisik. “Kau sudah berhasil berjuang. Tapi ayo berjuang sekali lagi, Lynx ingin melihatmu setelah berhasil memenangkan peperangan nanti. Dan anakmu tentunya butuh sosok seorang Ibu. Aku tahu, kau wanita yang hebat, Hazel.”


Sayangnya, setelah beberapa menit menunggu Hazel untuk sadarkan diri. Segala macam ramuan ia minumkan pada Hazel, berharap kalau wanita itu membuka matanya, tapi ternyata nafas yang keluar dari hidungnya tak lagi dirasakan Putri Ren.


Mengecek urat nadi di bagian tangan dan leher, detak yang sebelumnya melemah, mendadak sudah lenyap sekarang. Hazel mungkin tidak akan pernah bisa membuka matanya lagi. Tidak akan bisa melihat bayi yang sudah berhasil ia lahirkan.


“Ada apa? Kenapa dengan Hazel? Kenapa Putri Ren melamun dengan tatapan kosong? Jangan membuatku khawatir, katakan apa yang terjadi!” cecar Aluka tak sabaran, ia mulai merasakan firasat aneh.


“Tidak mungkin!” potong Aluka. “Kau bilang kalau dia masih bernafas. Dia masih baik-baik saja. Kau mungkin keliru, dia hanya lelah dan perlu istirahat sedikit lebih lama. Kita tunggu saja, aku yakin Hazel pasti akan membuka matanya lagi.”


Inginnya Putri Ren pun berharap seperti itu. Tapi semuanya terpatahkan ketika seluruh permukaan kulit Hazel mulai terasa dingin. Jadi, apa lagi yang bisa diharapkan? Sementara Hazel sendiri sudah tidak bernafas.


Lagi dan lagi, haruskah kali ini rasa pahit dari sebuah kehilangan kembali mereka rasakan?


***


Matanya mengerjap-ngerjap. Kelopak matanya mulai terbuka sempurna. Saat menerima rangsangan cahaya, ia menyipitkan matanya seraya menutupnya dengan telapak tangan. Melihat ke sekeliling, ia tidak tahu ada dimana.


Tiba-tiba saja terbangun di padang rumput yang terang benderang. Angin sepoi-sepoi datang menyapa pori-pori, menyejukkan suasana. Melihat ke sekeliling, tidak ada siapa pun. Hanya ada dirinya sendiri di sini.

__ADS_1


“Aku ada dimana?” Ia bergumam, mulai mendudukkan tubuhnya. Melihat kedua telapak tangannya, mendadak belakang kepalanya merasakan sakit yang membekas.


Sekilas ingatan sebelumnya terlintas dalam memori kepala. Bibirnya mulai tersenyum kecut. Pandangannya mulai mengabur, dadanya mendadak terasa sempit dan sesak. Bulir-bulir bening mulai membasahi kedua pipinya.


“Jadi ini akhir dari kehidupanku? Aku seharusnya masih berjuang. Masih harus memenuhi janji-janjiku untuk membawa Kerajaan Foxion pada sebuah kemenangan. Tapi sekarang aku malah...” Lynx tak dapat melanjutkan ucapannya, ia semakin menggugu dalam tangisan.


Lynx berpikir bahwa saat ini dirinya sudah mati. Ia berada di alam lain. Tidak dapat kembali ke dunianya. Atau mungkin sebenarnya ini hanya ilusi semata? Dan bisa saja Lynx sedang diantarkan pada tempat yang menjadi alam bawah sadarnya.


Menghapus seluruh air matanya yang tertinggal di permukaan wajahnya, setelahnya ia buru-buru bangkit, berdiri untuk menjelajah tempat yang masih belum ia ketahui ini. Mulai melangkah, menyusuri tempat indah namun tidak sekali pun ia melihat ada orang lain di sini.


“Aku tidak melihat siapa pun di sini. Tapi, kenapa aku mendengar suara seseorang yang sedang bernyanyi?” Lynx menajamkan pendengarannya, merasa familiar dengan suara nyanyian yang terdengar menggema namun cukup jauh.


Melewati semak-semak, hutan belantara, menyusuri hilir sungai, hingga akhirnya ia menemukan air terjun. Lynx yakin, suara nyanyian itu berasal dari balik air terjun di depannya ini. Suara nyanyian tersebut dialunkan dengan irama sendu, terdengar menyayat hati. Seolah sang penyanyi tengah merasakan kesedihan yang mendalam.


Berhasil menembus air terjun, Lynx terkagum-kagum dengan apa yang ia lihat. Pemandangan yang amat luar biasa. Air jernih sebatas lutut harus ia lewati untuk bisa sampai ke permukaan yang terdapat pohon besar, dan hanya pohon besar itu saja yang disinari mentari.


Punggung seseorang yang bernyanyi berada di balik pohon, mulai terlihat dalam pandangan Lynx. Dia adalah seorang wanita. Pemilik suara indah yang melantunkan irama merdu namun begitu pilu. Pakaian yang dikenakannya, mengingatkan Lynx pada seseorang.


“Ti-tidak mungkin. Jangan-jangan...” Lynx menutup mulutnya, dugaannya ternyata benar. Ternyata dia yang sedang bernyanyi tadi adalah Hazel, kekasih sekaligus belahan jiwanya.


“Hazel? Kenapa kau ada di sini? Dan perutmu ... Apa kau sudah melahirkan?” Lynx bergerak cepat, melangkah tergesa agar cepat sampai ke atas sana.


Wanita berambut oranye bergelombang itu menoleh, sudut matanya terlihat basah. Ada raut sedih yang tercipta di sana, namun sekarang telah bercampur dengan ekspresi terkejut saat beradu tatap dengan Lynx.


“Lynx?”


***

__ADS_1


__ADS_2