
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Hingga belasan detik berlalu, Lynx tetap bergeming di tempatnya. Tidak ada tanda-tanda pria itu akan menjawab pertanyaan Hazel. Mungkin masih belum menemukan jawaban yang cocok, atau karena sulit merangkai kata agar Hazel nantinya mudah mengerti.
Entahlah, tapi Hazel sudah muak menunggu. Ia tahu sepertinya memang Lynx enggan ditanyai hal seperti itu. Hazel mencoba memaklumi dan memutuskan untuk menutup pembicaraan tak berarti ini.
“Tak perlu dijawab. Aku bertanya karena mendengar obrolan orang-orang mengenai cerita dongeng yang beredar. Secara kebetulan atau tidak, mereka menganggap kau adalah wujud nyata dari kaum negeri dongeng tersebut,” ungkap Hazel.
Hembusan nafas Lynx keluarkan. Tidak tahu dirinya harus merasa senang atau merasa ini sebuah ancaman. Menyadari kalau sepertinya kehadirannya di dunia manusia sudah terendus.
“... Pulanglah sebelum matahari terbenam,” tambah Hazel sebelum menggerakkan kedua kakinya untuk melenggang pergi.
Setengah tubuh Lynx berbalik. “Kau mau kemana?”
“Bukan urusanmu. Jadi jangan ikuti aku kalau kau tidak mau ditangkap sebab membuat rusuh dengan wujud rubahmu nanti,” ketus Hazel, menaikan tudung jubah miliknya lalu pergi menembus lautan manusia di depannya.
Hilang. Tak terlihat lagi. Sosok Hazel sudah menyatu dengan para manusia yang sibuk berlalu lalang. Lynx tak mungkin bisa mengejarnya lagi. Kalau pun memaksa untuk mengejar, yang ada gadis itu akan marah.
“Mari berpikir tenang, Lynx. Kau cukup menyembunyikan identitasmu sampai waktu yang sebenarnya tiba,” monolognya pada diri sendiri.
Di sela langkah kaki lebarnya, Lynx secara terus menerus mengusap wajahnya. Berusaha meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja, tapi tetap saja kekhawatiran terus menyelimuti.
“Aku pikir dongeng tentang negeriku beredar di kalangan anak kecil saja, tapi ternyata para orang dewasa pun masih mempercayainya. Apa aku salah memilih tempat untuk melarikan diri?” Lynx kembali menghela nafas gundah.
***
“Aku memilih kain berwarna hijau tua ini, Nyonya,” putus Hazel setelah memilah dan memilih beberapa kain untuk dirinya beli.
“Dengan ukuran dan bahan ini, harganya cukup mahal. Apa kau yakin?”
Hazel tahu kalau dirinya sedang diremehkan di sini. Wajar saja, pakaian lusuh yang dikenakan Hazel pasti membuat siapa pun meragukannya.
__ADS_1
“Tentu. Beri aku kain dengan bahan seperti ini lagi, aku ingin warna cokelat tua.” Hazel dengan sengaja memperlihatkan isi dompetnya, ada banyak uang di sana.
Sang penjual sempat melongo, dengan cepat ia bergegas mengambil kain-kain di belakang untuk diberikan pada Hazel. Membiarkan gadis itu memilihnya sendiri.
Setelah menyelesaikan transaksi dengan penjual itu, uang Hazel cukup terkuras banyak. Tapi tak apa, setidaknya Hazel bisa menepati janjinya yang akan membuatkan pakaian untuk Lynx.
Sisa uang miliknya dipakai untuk mampir ke toko buku bekas, berinisiatif membeli buku dongeng yang dirinya inginkan. Sesampainya di tempat kumpulan buku yang sudah lumayan usang, Hazel dibingungkan dengan dua pilihan.
“Antara buku ini dan itu, mana yang paling benar? Karena dongeng ini ada dua versi. Pasti isinya pun berbeda dengan sudut pandang sang penulis yang berbeda pula,” tanya Hazel dengan raut bingung.
“Hei, gadis muda. Itu hanya dongeng, jelas ada beberapa versi. Bukan sejarah yang tertulis secara runtut dengan fakta dan kebenarannya. Dongeng untuk anak kecil, dan itu tidak ada dunia nyata,” sahut seorang pria yang menjual buku-buku bekas itu.
Hazel bergumam dalam hati, “Tch, dia bisa menganggap itu hanya sebatas dongeng. Tapi bagiku ini lebih dari sekedar dongeng, karena aku harus mencari tahu kebenarannya untuk menjawab rasa penasaranku tentang Lynx.”
“Aku beli dua buku ini.” Hazel mengeluarkan dua lembar uang dari dalam dompet, lalu memilih pergi. Mengabaikan sang penjual yang sibuk menatapnya dengan tatapan aneh.
***
“Dia tinggal sendirian, sebatang kara tanpa siapa pun yang menemani. Kemana orang tuanya pergi? Aku bahkan tidak tahu apa pun tentangnya. Ingin bertanya, tapi aku tahu kalau dia orangnya tidak suka diusik tentang hal pribadi.”
“Hal pertama kali yang aku dengar dari mulutnya adalah tentang sebuah kesedihan dalam hidupnya. Bahkan dia berkata tidak ingin bertemu dengan pagi yang baru. Apa sesulit itu menjadi dirinya? Sungguh, aku rela menjadi telinga untuk mendengarkan semua keluh kesahnya.”
“... Andai aku adalah rubah yang tak pernah bisa menjadi manusia. Apa dia akan menceritakan kehidupannya padaku? Tak apa jika itu soal kesedihannya, aku hanya ingin dia lebih terbuka padaku.”
Setelah mengatakan itu, Lynx tertawa hampa sambil menatap langit-langit rumah. “Tunggu, memangnya aku siapa? Aku bahkan hanya dianggap mahluk pengganggu olehnya. Tidak sepatutnya aku menuntut ingin ini dan itu. Sudah dibiarkan tinggal di sini pun seharusnya aku bersyukur.”
Lembayung senja nyaris lenyap seiring matahari bergerak tenggelam, hampir tak terlihat lagi. Dan di saat bersamaan pintu utama rumah terbuka, menampilkan Hazel yang baru masuk.
Pandangan Hazel langsung tertuju pada sosok Lynx yang berada didekat jendela. Tubuh tegapnya kian menyusut, perlahan bertransformasi menjadi wujud rubah bersamaan dengan sinar mentari yang sudah mulai habis menyorotnya.
Ini pertama kali baginya melihat perubahan bentuk pria itu. Sangat menakjubkan. Hazel seolah masuk ke dunia sihir, melihat sendiri kalau hal-hal seperti itu dengan mata telanjang.
Wfoof!
Rubah berwarna oranye terang itu mengaum singkat. Tubuh kecilnya keluar dari pakaian miliknya yang berserakan di lantai. Lalu bergerak mendekati Hazel.
__ADS_1
Suara nyaringnya memecahkan lamunan Hazel. Dengan segera dirinya menggelengkan kepala, kembali berpikir bahwa dirinya ada di dunia manusia yang mustahil kalau sihir itu nyata adanya.
“Bagaimana dengan luka-lukamu? Kemarilah, biar aku periksa.” Hazel menaruh barang beliannya di atas sofa, tubuhnya sudah berjongkok menghadap Lynx.
Dengan telaten Hazel memeriksa perban yang masih terpasang di tubuh rubah itu. Melihat satu per satu luka tersebut, dan memastikan kalau ternyata semua luka itu tidak bertambah parah. Hanya perlu mengganti perban saja.
“Aku merasa kau lebih perhatian dan peduli di saat aku menjadi rubah,” celetuk Lynx, membuat Hazel bergerak mundur sambil melotot karena terkejut.
Bagaimana tidak terkejut, suara berat dan serak itu menghentikan detak jantung Hazel secara beberapa detik. Melihat kalau memang Lynx yang berbicara, rasanya Hazel masih belum bisa percaya.
Karena saat kemarin, pria itu tidak pernah bicara menggunakan bahasa manusia dalam wujud rubah. Sebab itulah Hazel berpikir kalau memang Lynx tidak bisa melakukannya.
“Kenapa?” Lynx memiringkan kepala, bingung.
“Ka-kau bisa berbicara?”
“Aku memiliki mulut, tentu saja aku bisa berbicara,” sahut Lynx dengan suara tawa khas rubah yang menggelikan.
“Bukan itu maksudku, bodoh. Kau berbicara menggunakan bahasa manusia.” Hazel memperbaiki posisi duduknya, sedikit lebih tenang karena tidak lagi terkejut.
“Aku ini manusia rubah. Tentu saja aku bisa menggunakan bahasa manusia. Apa yang salah?”
Hazel menepuk jidatnya pelan seraya menggeleng pelan. “Hah, sudahlah, lupakan saja.” Tubuhnya perlahan bangkit, berdiri untuk masuk ke dalam kamar. Membawa barang yang sudah ia beli ke sana.
“Kau mau meninggalkanku sendirian di sini?” Lynx memasang wajah sedih sebelum Hazel benar-benar menutup pintu kamar.
“Aku tidak mungkin membawa pria masuk ke dalam kamar. Diamlah di situ, aku akan mengganti pakaian. Kita akan makan malam setelah aku mengganti perbanmu nanti,” jawab Hazel dengan wajah tanpa ekspresi.
Tapi sukses membuat Lynx berjingkrak senang.
Belum ada lima menit Hazel berada di dalam kamar, ia terpaksa keluar kembali karena seseorang mengetuk pintu secara kasar. Lynx pun sesekali menggonggong didekat pintu kamar Hazel, mencoba memberitahu kalau ada seseorang di depan sana.
“Hei, Hazel! Aku tahu kau ada di dalam.”
“Cepat keluar sebelum aku yang menyeretmu secara paksa dari sana!” teriaknya lagi lebih keras, dari suaranya ini adalah seorang pria.
__ADS_1
***