Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 40 - Pertentangan.


__ADS_3

Pukulan demi pukulan tidak terelakkan. Meski para prajurit sebelumnya sudah berbicara baik-baik tentang penolakan, Lynx tetap tidak bisa mengontrol emosinya.


Menghiraukan teriakan Hazel yang menyuruhnya untuk berhenti, Lynx justru semakin menggila. Dikenal sebagai rubah tangguh dengan kekuatan fisik yang di atas rata-rata, Lynx menumpas satu per satu para prajurit itu dengan tangan kosong.


Telapak tangan kirinya berdarah-darah, tertusuk ujung senjata yang menyerupai tombak panjang. Tapi Lynx tidak merasa kesakitan sama sekali. Dia malah terus melayangkan pukulan dan bogeman mentah pada mereka semua.


“Itu akibatnya kalau kalian berani menentangku!” Lynx meludah ke samping, mengusap wajahnya yang dipenuhi bercak darah menggunakan punggung tangan.


Sekitar sepuluh prajurit itu terduduk lesu di lantai, sebagian terkapar tak sadarkan diri. Mereka mengaduh kesakitan, sihir yang mereka gunakan untuk menghentikan amarah Lynx ternyata tidak mempan dan hanya berujung sia-sia.


“Alasan kami begitu kukuh menentangmu karena kau bukan lagi putra mahkota! Kau bahkan sudah dianggap mati oleh paduka Raja! Setelah kabur seperti pengecut, kenapa kau malah kembali untuk membuat keributan dengan membawa manusia?” teriak prajurit yang kondisinya tidak terlalu parah.


Lynx terdiam sesaat ketika mendengar hal itu. Dia menurunkan pandangan, nafasnya yang memburu berangsur-angsur turun. Dadanya tak lagi kembang kempis. Pikirannya membelenggu pada kenyataan yang berhasil menampar dirinya.


Suara langkah kaki yang berat mulai terdengar mendekat, membuat para prajurit yang masih sadarkan diri langsung mengambil posisi duduk sambil membungkukkan punggung untuk menyambut seseorang yang baru datang.


“Ada apa ini? Kenapa terjadi keributan di sini?”


Pupil mata Lynx membesar, dengan cepat pandangannya menghunus ke depan. Tak salah lagi, melalui suaranya saja Lynx sudah mengenali siapa orang itu.


“Ibu?” Lynx bergumam, tapi masih bisa didengar oleh sekitar.


Hazel yang mendengarnya sedikit bingung. Seseorang yang datang barusan adalah seorang pria tulen. Perawakannya benar-benar seperti pria dewasa, hanya saja rambutnya memang panjang seperti perempuan.


Selain itu, bukankah Lynx mengatakan kalau ibunya telah mati karena mendapat hukuman? Lalu kenapa pria itu disebut ibu olehnya?


“Selamat datang kembali, Lynx. Aku sudah menduga kalau kau tidak mungkin mati. Sekuat apa pun kau melarikan diri, kau pasti akan kembali karena tubuhmu masih membutuhkannya,” ujar pria yang dipanggil ibu tersebut.


Lynx mendengus kasar. “Maaf. Tapi aku kembali pun ada beberapa hal yang ingin kulakukan.”


Pakaiannya seperti bangsawan kelas atas, celana hitam yang rapih membalut kaki jenjangnya, baju dengan jubah panjang di belakangnya semakin membuatnya tampak berwibawa. Ia berjalan mendekat ke arah Hazel.


Karena tak mau pria itu menyakiti kekasihnya, Lynx langsung pasang badan. Dia merentangkan tangan di depan tubuh Hazel. Tak membiarkan pria itu mendekati.


“Tolong jangan sakiti dia. Perlu kau tahu, dia adalah kekasihku. Silakan caci dan maki aku jika kau mau, tapi aku tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkan atau melepaskan Hazel,” kata Lynx dengan gigih.


Pria berambut panjang itu tertawa tanpa suara, sebelah sudut bibirnya menyungging. Membuat ekspresi seperti tertarik dengan apa yang barusan dirinya dengar.


Jari telunjuknya bergerak, membuat tubuh besar Lynx menyingkir dari hadapan Hazel. Barusan ia menggunakan sihirnya, dengan begini Lynx tidak bisa membuat pertahanan apa-apa.


“Hei, apa yang kau lakukan?! Jangan berani kau sentuh dia!” Urat-urat di lehernya tampak menonjol, begitu kuatnya Lynx berteriak. Karena yang bisa ia gunakan hanya suara saja, sementara sekujur tubuhnya tidak bisa digerakan sama sekali.


Itu pasti ulah pria tersebut yang menggunakan sihir. Membuat Lynx frustasi sekarang. Kalau begini caranya, ia sulit untuk melindungi Hazel.


Beberapa kali Lynx teriak sekuat tenaga yang dimiliki untuk menghentikannya, pria itu tetap melangkah pada Hazel. Dan sekarang jarak antar wajah mereka berdua hanya tersisa beberapa centi lagi.


Ia menyentuh dagu gadis dengan pakaian lusuh di depannya. “Jadi namamu Hazel dan kau manusia?”


Hazel mengangguk saja.

__ADS_1


“Jadi, kenapa kau bisa menembus portal untuk bisa sampai ke sini?” tanya pria itu lagi.


“Karena aku menghamilinya!” Ini Lynx yang menjawab, dia menyahut begitu cepat.


“Diam. Aku tidak sedang berbicara denganmu,” kecamnya seraya memberi tatapan sadis. Telunjuknya kembali bergerak, kini dengan sihirnya ia membungkam mulut Lynx agar tak berbicara lagi.


Kembali bertatapan dengan Hazel, ekspresinya berubah drastis. Ia memasang senyuman manis. Tapi tetap saja di mata Hazel itu terlihat mengerikan.


“Jadi benar kau sedang hamil?” tanyanya memastikan, wajahnya sedikit didekatkan padanya, membuat tubuh Hazel terpaksa bergerak mundur.


Hazel mengangguk lagi. “Benar. Karena kami saling mencintai, berpikir untuk hidup bersama dan membangun keluarga kecil dengan memiliki seorang anak.” Tidak ada keraguan yang terpancar dari kedua maniknya saat mengatakan itu.


Entah sedang meledek atau sedang mengapresiasi, pria berambut panjang itu malah bertepuk tangan sambil geleng-geleng kepala. Dia bahkan tertawa seolah tidak percaya dengan jawaban Hazel.


“Kenapa? Apa kau pikir ini lucu? Dengan adanya aku di dunia ini, itu sudah menjadi bukti bahwa cinta milik kami tidak main-main. Sebelum bertindak sejauh ini, kami juga sudah memikirkan resikonya,” ketus Hazel, tidak terima dipandang remeh olehnya.


Lynx yang tidak bisa membuka mulutnya sedikit pun, hanya bisa berbicara melalui matanya yang bergulir ke sana kemari. Sesekali melotot sebagai pertanda sedang berontak pada pria itu.


“Tidak. Tidak. Jangan marah begitu. Sekarang kalian bisa membuktikan seberapa besar dan kuat cinta yang kalian miliki di depan paduka Raja. Karena semua keputusan ada di tangannya,” balasnya sambil membalikan tubuh.


Telunjuknya bergerak, berputar-putar untuk menghilangkan sihir pada tubuh Lynx. Membuatnya bisa kembali bergerak bebas dan bisa berbicara lagi.


“Jadi sekarang, ayo ikut aku untuk menemuinya,” ajaknya seraya berjalan lebih dulu.


Lynx berpindah ke sisi Hazel. Menatapnya sekilas sebelum akhirnya saling menggenggam tangan untuk menguatkan.


“Tenang, Hazel. Serahkan semuanya padaku. Biarkan aku yang menjelaskan dan berbicara sendiri pada ayahku,” katanya untuk menenangkan, kemudian berjalan berdampingan untuk memasuki kawasan istana.


Dikatai seperti itu, Lynx merasa tidak berguna. Benar, sejak awal keberadaannya di dunia ini sama sekali tidak dibutuhkan. Sebagai siluman rubah yang tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan sihir, Lynx selalu dipandang rendah.


“Setidaknya aku bisa menentangnya. Percayakan saja padaku. Aku tidak akan membuatmu dan anak kita terluka. Kalau mereka nekat melukaimu, aku bisa menggunakan tenagaku untuk menghancurkan seisi istana dan kita akan kabur dari sini,” bisik Lynx, hanya itu yang bisa ia pikirkan.


Lenggang beberapa menit. Hazel hanya bisa memasrahkan semuanya pada Lynx. Mencoba percaya dan yakin kalau semuanya akan baik-baik saja meski pun tahu tidak akan berjalan lancar.


Hazel menyikut lengan kekasihnya, mendadak ia kepikiran sesuatu. “Ngomong-ngomong kenapa pria itu kau sebut Ibu? Bukankah dia bukan perempuan, pastinya dia bukan orang yang melahirkanmu.”


Benar, sejak tadi Hazel penasaran dengan hal itu.


Lynx tertawa singkat. “Memang benar dia tidak melahirkanku. Ceritanya panjang. Tapi secara sederhananya, dia satu-satunya siluman rubah yang menginginkan aku untuk tetap hidup. Bahkan dia rela bersujud di bawah kaki ayahku hanya agar aku tidak dibunuh.”


“... Dia merawatku, dia mengurusiku di saat ayahku sendiri tidak peduli denganku. Semua hal yang ada di dunia ini, aku pelajari melalui dia. Karena dulu aku terlanjur memanggilnya dengan sebutan Ibu, sampai sekarang aku sulit memanggilnya dengan nama lain,” tambahnya semakin memperjelas.


Hazel membulatkan mulut sembari manggut-manggut. Akhirnya ia mulai paham. Juga ada rasa tertarik ingin mengetahui pria itu lebih jauh lagi. Namun jika dilihat sekilas, hubungan Lynx dan pria itu tidak terlihat begitu dekat.


“Berhenti berbisik-bisik di belakangku. Percuma, karena aku bisa mendengarnya,” celetuk pria itu tanpa menoleh.


Lynx berdecak, matanya berputar malas. “Bukankah lebih baik membicarakannya langsung di depanmu?”


“Tch, dasar bocah nakal.”

__ADS_1


Disebut bocah olehnya, Lynx merasa tidak terima. Lantas ia menyahut dengan sinis, “Berhenti menyebutku bocah. Aku sudah bisa membuat anak dan sebentar lagi akan menjadi ayah.”


Pria itu hanya tertawa saja. Sedangkan Hazel langsung melotot sambil menyenggol kekasihnya itu. Perkataan seperti itu seharusnya tak perlu diperjelas.


Semakin dekat pada pintu utama istana, mereka harus menaiki beberapa undakan tangga untuk sampai ke sana. Hazel tak henti-hentinya berdecak kagum, mengamati betapa luas dan indahnya taman istana yang disertai air mancur besar di kanan dan kiri.


Ketika pintu utama istana terbuka dengan sendirinya, mereka berjalan di atas karpet merah yang sangat panjang. Ornamen-ornamen pada bangunan istana sangat asing bagi Hazel, ini pertama kali ia melihatnya secara langsung.


Seolah-olah Hazel sedang dilempar ke dunia di zaman modern. Tidak ada lagi artefak-artefak kuno yang biasanya dipanjang di rumah-rumah besar di desa. Segala yang ada di sini sangat cantik dan perabotnya terlihat canggih.


Tapi rasa kagumnya pada istana ini mendadak luntur saat dua orang pria dengan pakaian yang biasa dikenakan para bangsawan mulai muncul menuruni tangga. Mereka tampak sepantar dengan Lynx.


Dari ekspresi yang mereka buat, seperti tersirat rasa ketidaksukaan yang muncul. Cara mereka memandang Hazel tampak tidak sopan, begitu kentara sedang merendahkan.


“Ada apa ini? Bukankah wanita itu adalah manusia? Kenapa bisa dia ada di sini? Dan juga, kenapa orang yang sudah dianggap mati mendadak kembali pulang ke sini?” teriak seorang pria dengan codet di mata kirinya, wajahnya terlihat sangar.


Pria yang memandu jalan membungkuk padanya, memberi salam hormat. “Maaf, Pangeran San. Saya yang mengizinkannya masuk. Dia tidak berbahaya. Dia adalah kekasih dari Pangeran Lynx. Untuk saat ini mereka akan menemui paduka Raja.”


“Hah? Apa maksudnya itu? Kenapa kau malah mengizinkannya? Tidak bisa dibiarkan!” San semakin murka, dia menuruni sisa anak tangga dengan cepat, berderap ke arah mereka semua.


“Paduka Raja sedang sakit. Dia tidak bisa ditemui dalam waktu dekat ini.” Yang barusan berbicara adalah pria lain, yang masih berdiri di tangga, wajahnya santai dan tenang tapi tetap menunjukkan aura mematikan.


Lynx mengepalkan tangan. “Berisik! Aku sedang tidak berbicara dengan kalian semua. Aku juga adalah anaknya, darah dagingnya. Aku masih memiliki hak untuk melakukan sesuatu di sini.”


Jari jemari Lynx kian membungkus lengan Hazel, menggenggamnya erat. “Aku tidak akan mendengar komentar kalian mengenai kekasihku. Biar ini menjadi urusanku dan ayah saja. Selain dari status kekasihku adalah manusia, dia bukanlah seseorang yang berbahaya.”


Pria berambut panjang yang berdiri dua langkah di depan Lynx mencoba menengahi situasi. Tangannya menyentuh dada Lynx, menyuruhnya untuk tenang.


“Untuk saat ini, biarkan mereka beristirahat. Perjalanan panjang yang telah mereka lalui pasti membuat mereka lelah. Ada banyak kamar kosong yang bisa dipakai oleh mereka. Jadi saya mohon...”


“Halah! Omonganmu itu sudah basi, Jack,” potong San dengan nada tak suka. “Jika tentang si bodoh itu, kau selalu saja bersusah payah menuruni harga dirimu. Sekarang, setelah dia membuat kekacauan ke sini, kau masih mau membelanya juga? Aku tidak habis pikir.”


“... Tapi terserahlah, percuma berbicara dengan orang seperti kalian. Melelahkan dan buang-buang waktu. Aku percaya kalau ayah tidak akan tinggal diam dengan masalah ini. Siap-siap saja tidak ada ampun bagimu, Lynx,” sambungnya sambil melenggang pergi.


Pria berwajah dingin yang masih berdiri di tangga tertawa mengejek, pandangannya fokus menatap Hazel. “Dilihat dari mana pun, Ren lebih baik dari wanita itu. Manusia dengan bau menjijikan sepertinya bisa-bisanya kau jadikan kekasih. Lihat saja pakaiannya, begitu lusuh dan kotor. Mencerminkan sekali seperti apa dirinya.”


Deg.


Sakit sekali mendengar cacian itu. Dadanya terasa dicubit ribuan kali, membekas bahkan untuk bernafas saja terasa menyakitkan. Senyum kecut yang terukir di wajahnya tidak bisa menyamarkan luka di hatinya.


“Sialan! Tutup mulutmu Sen! Berani kau mengatakan itu lagi, aku akan---”


Grep.


Hazel menahan tubuh Lynx yang hendak menghampiri pria itu. “Tidak usah, Lynx. Berhenti membuat keributan di sini.”


Mata mereka bertemu. Lynx bisa melihat dari pancaran netra kekasihnya bahwa hatinya begitu terluka. Wajar saja, siapa pun yang dikatai seperti itu pasti akan sedih.


“Aku tidak apa-apa.” Hazel mengembangkan senyum, mencoba untuk tidak membuat Lynx khawatir.

__ADS_1


***


__ADS_2