
Berlari menembus kegelapan, Lynx menuntun Hazel memasuki hutan. Sebelum berhasil kabur dari desa, para warga sempat berbondong-bondong mengacungkan tombak ke arah Lynx.
Mereka tak mau melepaskan mahluk seperti Lynx pergi begitu saja. Tapi untungnya, dengan cekatan ia bisa melesat pergi sebelum semua orang-orang itu menyakitinya.
Berlari tersuruk-suruk melewati ilalang di hutan
yang tinggi dan rimbun, Hazel berkali-kali hampir terjatuh. Ia tak sanggup lagi mengikuti langkah kaki Lynx yang begitu lebar dan cepat, pergelangan lengannya pun sudah terlalu sakit jika terus digenggam.
Bruk.
Kali ini gadis itu benar-benar terjatuh, sebelah kakinya tersandung akar pohon yang besar dan menonjol. Lynx buru-buru membantu kekasihnya itu. Melihat kalau wajah Hazel begitu pucat.
“Kau baik-baik saja, Hazel? Perlukah kita istirahat sebentar?” tanya Lynx seraya memeriksa luka di kaki Hazel.
Tapi Hazel menolak, kepalanya menggeleng. “Tidak apa, kita lanjutkan saja. Aku tidak mau membuang-buang waktu. Takut kalau tubuhmu tidak bisa kembali seperti sedia kala.”
Percuma membujuk, pastinya Hazel tetap kukuh. Jadi Lynx berinisiatif melakukan sesuatu yang lain. Tubuhnya berbalik, membelakangi kekasihnya itu dengan posisi berjongkok.
“Naik ke punggungku. Mengajakmu berlari cukup memakan waktu. Kecepatan berjalan kita berbeda. Jadi biarkan aku menggendongmu,” perintahnya, Lynx sudah mengambil ancang-ancang dengan posisinya itu.
“Kau yakin? Meski aku ringan, tetap saja jika terlalu lama kau akan pegal juga.” Hazel sedikit ragu.
“Tidak masalah. Aku kuat. Jadi jangan dipikirkan.”
Diberitahu seperti itu, akhirnya Hazel menempelkan tubuhnya pada punggung pria itu. Mulai kembali perjalanan yang sempat tertunda. Hazel dapat merasakan kuku-kuku tajam milik Lynx yang sedikit menusuk.
“Semoga saja kita bisa menemukan sungai di sini. Aku ingin berendam sebentar. Ingin membersihkan diri. Dan juga ingin memberimu minum. Kulihat kau pucat sekali, Hazel. Aku takut kau kenapa-kenapa,” ungkapnya.
“Jangan pikirkan aku, Lynx. Aku baik-baik saja. Sekarang fokus pada tubuhmu. Kira-kira kapan kita akan sampai ke duniamu? Apakah masih jauh?” Hazel mengalihkan pembicaraan, tidak mau menambah beban pikiran Lynx.
Biarkan saja rasa mual dan lemas yang membuat pikirannya tak fokus ia tahan sebisanya. Hazel sadar diri, sudah terlalu sering dirinya merepotkan pria itu. Sudah tidak bisa dihitung seberapa banyak Lynx menyelamatkannya.
Jangan sampai karena dirinya mengeluh, itu akan memperhambat proses yang sedang dilakukan Lynx. Mungkin Hazel tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika Lynx kehilangan kesempatan untuk menghindari kutukan.
“Mungkin besok lusa. Cukup jauh, semoga saja kita sampai tepat waktu. Kau bisa tidur selama di perjalanan. Aku akan membangunkanmu ketika sampai di sungai,” balas Lynx.
“Baiklah.”
Dalam hutan yang gelap gulita, terdengar suara burung hantu yang hinggap di beberapa dahan pohon. Membuat suasana semakin mencekam. Lynx celingukan, mencoba mengingat-ngingat jalan.
Saat mendengar dengkuran halus di bahu kanannya, ia melirik. Melihat kalau ternyata Hazel sudah terlelap. Hatinya sedikit tenang. Setidaknya kekasihnya itu bisa tidur dalam situasi seperti ini.
Ketika berjalan tanpa ditemani obrolan apa pun, pikiran Lynx berkelana ke mana-mana. Mulai memikirkan bagaimana respon ayahnya saat tahu dirinya membawa seorang gadis manusia sambil memperkenalkan sebagai kekasihnya.
Sebenarnya Lynx sudah bisa menebak, mungkin cacian dan hinaan akan terlontar dari mulutnya. Sorotan mata kecewa juga sudah bisa dibayangkan oleh Lynx. Tapi bagaimana pun juga, itu sudah menjadi resiko yang harus Lynx tanggung.
“Aku tidak akan menyesal. Jika mereka tidak menginginkan hubungan ini, aku akan pergi bersama Hazel. Tidak peduli jika memang pada akhirnya mereka memutus tali persaudaraan dan membuangku, otomatis aku akan menjadi rubah seutuhnya,” gumamnya tanpa suara, disusul dengan hembusan nafas gusar.
Kembali menatap Hazel yang tertidur, ada guratan keraguan yang terlihat dari ekspresi Lynx saat ini. “Tapi bagaimana dengannya? Apakah dia mau menerimaku seandainya aku tidak bisa berubah menjadi manusia?”
Benar, itu yang sekarang Lynx khawatirkan. Berpikir mungkin Hazel akan kecewa dan sulit menerima. Atau jika Hazel masih tetap mau menerima, kemungkinan baiknya mereka akan mencetak sejarah sebagai pasangan berbeda jenis.
Rubah dan manusia menjalin hubungan.
Aneh? Dari pada itu, mungkin orang-orang akan menganggap itu gila atau mungkin penderita kelainan jiwa. Karena bisa-bisanya ada manusia yang berhubungan dengan seekor hewan.
Lynx menggertakan rahang, pipinya terlihat berdenyut-denyut. Ia sedang berusaha menyingkirkan pikiran buruknya.
“Persetan dengan apa yang akan terjadi. Aku harus yakin kalau semuanya baik-baik saja. Aku pasti bisa mengatasi semua ini. Sebagaimana selama ini aku meyakinkan Hazel kalau semuanya akan berjalan lancar.”
***
__ADS_1
“Hazel, bangunlah. Ini sudah pagi.” Lynx menepuk-nepuk pipi kekasihnya dengan pelan, menunggunya sampai mau membuka mata.
Perlahan kelopak mata yang tertutup itu mulai terbuka, dahinya ikut mengerenyit. Mencoba menerima rangsangan cahaya yang masuk. Sayup-sayup Hazel juga mendengar suara gemericik air yang damai.
“Kita ada didekat sungai. Kau bisa mandi, tapi kita tidak memiliki pakaian ganti. Jadi pastikan kau melepaskan semua pakaianmu terlebih dahulu. Aku akan membuat sar---”
Bugh.
Hazel mendorong tubuh Lynx yang sedang menatapnya dari atas, membuat ucapan pria itu terhenti sebelum selesai. Ia langsung beringsut dari posisi berbaringnya. Buru-buru menggerakan kaki secepat kilat menuju tepian sungai.
Gadis itu mengeluarkan seluruh isi di perutnya, memuntahkan semuanya sampai mulutnya terasa pahit. Merasakan kepalanya berdenyut pusing, semakin terasa lemas di sekujur tubuh.
Meski sudah memuntahkannya, rasa mual belum juga hilang. Lynx yang melihatnya, semakin khawatir. Masih menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi.
Saat ini Lynx sudah di samping Hazel, mengelusi punggung kekasihnya itu dengan lembut. “Apa kau masih terbayang kejadian semalam?”
Mungkin saja Hazel tidak bisa melihat darah dan trauma menyaksikan pembunuhan sadis. Jadi Lynx memiliki anggapan seperti itu.
Mengubah posisi duduknya dengan benar, Hazel menyusut sisa-sisa muntahan di sudut bibirnya menggunakan tangan. “Mungkin, tapi aku muntah karena seperti ada dorongan sesuatu. Aku bahkan tidak mengingat kejadian semalam. Tubuhku bergerak sendiri ke sini, lalu memuntahkan semuanya tanpa bisa ditahan.”
Lynx mengetuk-ngetuk dahi, berpikir keras. “Apa mungkin kau masuk angin? Karena semalaman ini kau tidur dalam posisi tidak nyaman, ditambah angin malam sangatlah dingin.”
Itu cukup masuk akal, jadi Hazel mengangguk. Setuju dengan dugaan Lynx.
“Kalau begitu aku akan memgambil air untuk kau minum. Itu akan menghilangkan penyakit yang ada di tubuhmu,” ucap Lynx sambil memasukan tangannya ke dalam sungai yang mengalir.
Air jernih itu ia masukan ke dalam mulut, akan melakukan apa yang pernah dirinya lakukan. Hanya dengan cara ini Lynx bisa mengobati Hazel.
Tapi tampaknya Hazel menolak, saat tubuh Lynx datang mendekat sambil memajukan mulutnya, gadis itu malah berusaha mendorongnya menjauh.
“Kau tidak perlu melakukannya. Aku baru saja muntah, pasti---”
“Telan semuanya. Tunggu sebentar, kau pasti akan merasa baikan.”
Setelah menelannya, Hazel mengamati wajah Lynx dengan ekspresi menyelidik. “Kau tidak merasa jiik?”
Kening Lynx mengerut, bingung dengan pertanyaan barusan. “Jijik? Kenapa harus jijik? Kita sudah berbagi semuanya. Aku sudah tahu tentangmu, bahkan semua tempat tahi lalat di tubuhmu aku juga tahu. Jadi, untuk apa jijik?”
Hazel hanya terkekeh pelan untuk memberi tanggapan. Merasa beruntung bisa bersama pria yang dapat mengerti di segala situasi. Lebih dari itu, Lynx memang dapat diandalkan.
***
Di siang hari yang terik, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Memapah diri di sepanjang hutan yang rimbun dan lembab. Belum ada tanda-tanda terlihat ujung dari hutan ini.
Sebelumnya, Hazel mengadu kalau tubuhnya tidak bereaksi apa-apa setelah meminum air yang diberikan Lynx. Itu aneh bukan? Karena biasanya tidak pernah seperti ini.
Lynx jadi berpikir, apa mungkin kemampuan yang dimilikinya sudah hilang? Mengingat saat ini bukan hanya pada dada dan kaki saja bulu-bulu panjang mulai tumbuh, tapi di bagian wajah pun sudah mulai menumbuh.
Selain itu, liontin yang dipakai Lynx tidak bersinar lagi. Sudah padam total. Tidak menunjukkan sesuatu yang bersinar di sana, membuatnya terlihat seperti liontin biasa pada umumnya.
Entah sudah terlambat atau belum, tapi Lynx tidak mau menyerah sebelum tahu sendiri bagaimana keadaannya.
“Lynx, lebih baik turunkan aku. Biarkan aku jalan sendiri, kau pasti lelah. Keringatmu terus bercucuran. Selain itu, di punggungmu pun mulai ditumbuhi bulu-bulu. Bagaimana ini? Seluruh tubuhmu hampir berubah.” Hazel meracau, ia ketakutan.
Untuk menenangkan, Lynx mencoba untuk tetap santai. Tidak menunjukkan kegelisahan. “Tenang, Hazel. Kita akan segera sampai. Kau jangan khawatir, kita masih punya waktu.”
Mencoba berpikir positif di saat kepalanya terasa amat pusing, Hazel menyembunyikan wajahnya di belakang leher Lynx. Memejamkan matanya sebentar sambil berharap kalau energi tubuhnya bisa pulih kembali.
Hari menjelang sore, yang mereka lewati sejak tadi hanyalah hutan yang tak memiliki ujung. Hazel terus menerka-nerka, dimana letak portal menuju dunia tempat Lynx berasal?
Semakin dipikirkan, Hazel merasa kalau sejak tadi Lynx berjalan memutari tempat yang sama. Di sisi kanan dan kiri hanya pepohonan besar yang berjejer, tidak ada yang bisa dilihat selain warna hijau yang pekat.
__ADS_1
“Istirahatlah, Hazel. Antara malam atau pagi, mungkin kita akan sampai. Tubuhmu tidak kuat berjalan, jadi aku akan terus menggendongmu. Jangan khawatirkan aku, karena aku memiliki banyak tenaga,” ujarnya sambil mempercepat langkah.
“Eum, aku mencintaimu.” Itu balasan yang diutarakan Hazel secara tiba-tiba, dia sudah menempelkan dagunya pada pundak Lynx, matanya perlahan menutup.
Lynx tertawa, mendengarnya seperti mendapat semangat yang membuat rasa penatnya hilang begitu saja. “Aku juga, sangat mencintaimu.”
***
Sempat turun dari gendongan beberapa kali, Hazel kembali muntah-muntah. Padahal tidak ada makanan sama sekali yang masuk ke perutnya, tapi Hazel terus muntah.
Sudah disuguhi ikan segar yang Lynx tangkap dari sungai, tapi anehnya Hazel tidak menyukainya dan mengatakan tidak bisa memakan ikan lagi. Cukup susah mencari buah-buahan di hutan ini, jadi Lynx belum bisa memberikan makanan yang diinginkan kekasihnya itu.
“Apel!”
“Itu ada apel!” seru Hazel lagi, telunjuknya mengarah ke atas. Pada pohon di depan sana yang terlihat dipenuhi oleh apel-apel merah.
“Kau mau apel itu, Hazel?”
Dengan semangat Hazel mengangguk. “Aku mau!”
“Baiklah, aku akan mengambilnya untukmu.” Lynx menurunkan tubuh Hazel pelan-pelan.
Ia dengan gesit memanjat pohon yang lumayan tinggi itu, menjatuhkan banyak apel ke bawah. Langsung dipungut oleh Hazel. Buah segar yang manis itu lantas dilahap olehnya.
Setelah cukup mengambil apel-apel itu, Lynx kembali turun. Rasanya senang sekali melihat Hazel memakan apel itu dengan lahap.
“Kau mau, Lynx?” Dua buah apel Hazel sodorkan padanya.
“Tidak. Kau habiskan saja semuanya. Aku lebih suka ikan mentah, haha,” balasnya.
Beberapa menit kemudian, setelah Hazel menghabiskan kurang lebih lima buah apel, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Lynx tak lupa mengantongi apel-apel itu untuk dibawa. Berjaga-jaga takut kalau Hazel ingin memakannya lagi.
“Kau tidak merasa lelah, Hazel? Kalau mau, aku bisa menggendongmu kembali,” tawar Lynx, matanya melirik pada Hazel yang sudah banjir keringat.
“Tidak. Aku sudah terlalu lama digendong. Lagi pula, tubuhku tidak lagi lemas. Setelah makan apel, aku merasa lebih baik,” tolaknya sembari tersenyum.
“Syukurlah.” Lynx cukup lega melihat Hazel semangat lagi, ia memberi usapan lembut di ubun-ubun kepala gadis itu.
Saat menjelang sore, sinar senja sudah menerangi seisi hutan yang sunyi, Lynx melebarkan matanya karena melihat sesuatu yang menjadi tujuannya. Di depan sana, jaraknya sekitar lima meter, Lynx menemukan portal tempat dimana ia keluar dari dunianya.
Lynx sangat yakin, firasatnya tidak mungkin salah. Setelah melewati portal tersebut, tak lama lagi Kerajaan Foxion akan terlihat. Otomatis tubuh Lynx akan kembali seperti semula lagi.
“Dimana? Aku tidak melihat apa pun.” Hazel menjelikan matanya, terlihat menyipit saat melihat tempat yang Lynx tunjuk-tunjuk dengan antusias.
“Itu memang tembus pandang. Tapi kau akan menyadarinya setelah melewati portal itu. Sini, aku tunjukan!” Lynx menggenggam lengan kekasihnya, menuntunnya ke sana dengan semangat.
Sudah senang, jantung berdegup kencang, dan sudah berandai-andai kalau Lynx bisa menunjukkan sebuah pemandangan indah pada kekasihnya sebentar lagi, tapi sayangnya semua harapan itu malah terpatahkan.
“Lynx! Aku tidak bisa menembusnya,” teriak Hazel, menyadari kalau lengannya terlepas dari genggaman pria itu.
Sementara Lynx sudah masuk duluan dalam portal tembus pandang tersebut. Sosoknya hilang. Hazel jadi celingukan bingung. Melihat kalau dirinya sendirian di hutan ini.
Mencoba kembali menyentuh portal tembus pandang itu, namun seperti ada yang menghalangi. Seperti ada dinding yang tak terlihat, menjadi sekat agar tubuhnya tidak bisa masuk ke dalam sana.
Tapi beberapa saat kemudian, kepala Lynx menyembul dari portal tersebut. Melihat bahwa Hazel masih ada di luar. Ia sendiri pun bingung, kenapa Hazel tidak bisa ikut menembus portal?
“Bagaimana ini? Padahal sudah sejauh ini. Tapi ternyata aku tidak bisa masuk ke sana,” resah Hazel, matanya mulai berkaca-kaca.
Lynx keluar dari portal itu, kembali mendekat pada Hazel. “Tenang dulu. Aku akan memikirkan caranya. Mungkin karena kau manusia, jadi tidak bisa memiliki akses untuk masuk. Tapi aku berjanji akan membawamu masuk ke sana, bagaimana pun caranya.”
***
__ADS_1