
“Persetan dengan tahta, kekayaan atau apa pun itu. Aku melakukan ini murni karena aku ingin dihargai meski aku tak seperti dirimu yang selalu diagung-agungkan dan selalu memiliki tempat istimewa. Aku...”
Lynx menjeda sebentar ucapannya untuk menarik nafas secara perlahan, mendadak dadanya terasa sempit. “Aku ... Hanya ingin membantu Kerajaan Foxion kembali pada masa kejayaannya. Tidak ingin terus diperbudak kesengsaraan seperti ini. Setelah itu, terserah jika kau ingin menduduki sebagai pemimpin di negeri ini. Aku tidak peduli.”
Menanggahkan kepalanya sebentar, menghalau air mata yang nyaris jatuh. Entahlah, rasanya menyakitkan jika harus mengatakan apa yang sudah tertata rapih dalam pikirannya saat ini.
Lynx menggulir pandangan ke samping, tepat menatap sang ayah yang duduk dengan wajah tenang di sana. “Permintaanku hanya satu, tolong jangan ikut campur masalah percintaanku setelah kemenangan berhasil diraih olehku. Aku tidak menginginkan apa pun setelah itu, hanya saja tolong jangan usik kami lagi.”
Apa yang dikatakannya itu semata-mata untuk meminta keadilan terhadap kisah cintanya. Meski peraturan tertulis bahwa siluman rubah dan manusia tidak bisa bersama dan bahkan sangat tidak diperbolehkan, tapi Lynx menggunakan kesempatan ini untuk mematahkan peraturan tersebut.
Di saat percakapan satu arah tersebut masih berlangsung, mendadak Ibunda Ratu Emely turun tangan untuk menemui San yang menjerit-jerit kesakitan tanpa ada yang mau memperdulikan. Tidak datang ke tengah-tengah lapangan sendirian, wanita itu menarik Jack sambil menggerutu.
“Apa yang kau ocehkan?!” teriak Ibunda Ratu Emely begitu menyolot. “Berhenti membual! Apa kau tidak bisa melihat situasi yang ada? Putraku kesakitan setelah tongkat sihirnya kau patahkan!” semburnya sambil menubruk bahu Lynx.
Akibatnya, semua omongan Lynx sebelumnya jadi terabaikan. Seluruh atensi kini diambil habis oleh San yang terus mengaduh kesakitan. Jack sempat melihat sebentar ke arah Lynx yang terlihat jauh lebih terluka di sini.
“Tunggu, Yang Mulia,” tahan Jack, kakinya berhenti melangkah. “Pangeran San hanya perlu beristirahat. Aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku hanya akan memberinya tongkat sihir baru.”
Diberitahu seperti itu, tentu saja Ibunda Ratu Emely tidak setuju. Melihat San yang saat ini sudah berguling-guling di tanah, terlihat kalau rasa sakitnya sangat membuat putranya tersebut menderita.
“Apa yang kau bicarakan?! Jangan bilang kau lebih memilih untuk mengobati Lynx ketimbang putraku?! Dia hanya berdarah, luka yang paling fatal sesungguhnya adalah luka di dalam yang tak bisa terlihat!” geram sang Ratu seraya menarik kerah Jack.
Lynx mengulum senyum sambil menatap Jack. “Tak apa, obati saja dia. Aku bisa mengurus ini sendirian.” Lengan kirinya yang masih mengeluarkan cairan merah kental itu berusaha ditutupi menggunakan jemari tangan.
Hazel yang tak tahan melihat semua ini, memutuskan untuk menghampiri kekasihnya. “Aku akan membantumu. Ayo kita pergi dari sini.”
__ADS_1
Keadaan di lapangan tempat pertarungan dimana dilakukan masih riuh, Ibunda Ratu Emely tak berhenti mengamuk sebelum Jack mau melakukan sesuatu. Sementara Raja Arandelle memilih untuk pergi, malas menontoni ulah istrinya itu.
Aluka yang hendak mengekori kemana perginya Lynx dan Hazel, ditahan oleh Ibunda Ratu Keane — istri terakhir Raja Arandelle sekaligus ibu kandung Aluka.
“Jangan. Biarkan saja mereka berdua, kau tidak perlu ikut campur, Aluka.”
Bukan inginnya menahan putrinya yang merasa khawatir untuk memberi bantuan. Tapi Ibunda Ratu Keane merasa itu bukan ranah Aluka yang mesti diikut campuri.
Sedangkan Sen, yang tidak banyak omong sejak pertarungan dilakukan, tiba-tiba saja membubarkan kerumunan para siluman lain yang masih betah menonton padahal sang pemenang sudah diketahui.
Tak mau terlibat dalam urusan saudara kembarnya yang sudah bertekuk tak berdaya sambil meringis di sana, Sen mempunyai urusan lain yang ingin dirinya lakukan. Dalam pikirannya terlintas suatu hal yang seharusnya ia lakukan sejak dulu.
***
“Hei, aku yang terluka. Kenapa kamu yang menangis?” kekehnya pelan, jemari panjang Lynx menyentuh bulir-bulir bening yang membasahi kedua pipi kekasihnya.
“Bukankah itu terasa sakit? Hiks ... Kenapa kau tidak bereaksi apa pun?” tanya Hazel sambil sesenggukan, pandangannya terus menyoroti luka yang menganga lebar.
Lynx menarik lengan Hazel, mengecupnya lembut untuk mengambil perhatian. Terasa dingin dan sedikit bau amis dari darah yang menempel.
“Aku tidak apa-apa. Justru melihatmu menangis membuatku terluka. Jadi tolong berhenti menangis. Besok pagi luka ini akan mengering.” Ia melebarkan senyum untuk meyakinkannya.
“Jangan bercanda,” tukas Hazel. Karena sesenggukan, dadanya kembang kempis tak beraturan. “Luka sedalam itu tidak mungkin bisa sembuh dalam waktu cepat. Dan besok kau sudah harus ikut berperang, bagaimana ini? Aku takut kalau—”
“Jangan khawatir.” Lynx lebih menghadapkan tubuhnya ke arah Hazel, menggenggam kedua lengannya sambil memusatkan seluruh pandangannya pada kekasihnya tersebut.
__ADS_1
“Aku tidak akan mati dengan mudah. Aku kuat. Aku sudah belajar banyak hal dan mempelajari strategi untuk besok. Kemungkinan perang ini tidak akan terjadi hanya dalam satu hari saja. Jadi kau jangan ke mana-mana sendirian, ingat tipuan sihir mereka sangat dahsyat. Jadi tetap waspadalah,” pesannya.
Hazel mengangguk ragu. “Tapi, selama aku ada di dalam istana dan berada dalam perlindungan, bukankah itu akan aman-aman saja?”
Bahu Lynx menggedik tidak yakin. “Walau seperti itu, tetap saja tidak ada yang menjamin tentang hal itu. Karena kau sangat dekat dengan Aluka, tetaplah didekatnya.”
Lagi, Hazel kembali mengangguk. Dadanya yang semula terasa penuh dan sesak, kini perlahan terasa lega. Setidaknya Lynx memang terlihat baik-baik saja meski pun luka di tangannya begitu mengerikan.
Mereka berdua berada di samping istana, duduk didekat kolam berduaan. Di sini tidak ada siapa-siapa lagi. Para pelayan hanya datang mengantarkan beberapa obat alami dari tumbuhan yang berguna untuk menyembuhkan.
Di saat keheningan kembali terjadi, dua pasang manik yang sempat bersirobok untuk saling memandang, dikacaukan oleh seseorang yang tiba-tiba datang tanpa diminta. Bukan pelayan, bukan juga siluman yang tinggal di istana ini.
“Ma-maafkan aku!” Dia datang dengan penuh penyesalan, kepalanya menunduk saat menghadap pada Lynx.
Lynx memandangi seekor rubah berukuran kecil itu dengan tatapan tanda tanya. “Ash? Kau kenapa?”
Ingat? Ash si penjaga air mata kehidupan.
Berhubung Ash tidak terikat oleh sihir yang dibuat Jack sebelumnya, jadi wujudnya di malam hari tetap menjadi rubah. Entah apa maksud kedatangannya, Lynx tidak pernah merasa memanggilnya ke sini.
“Maaf karena telat datang untuk membantumu, Pangeran Lynx. Kedatanganku ke sini untuk membawakanmu air mata kehidupan. Mendengar bahwa dirimu terluka, aku langsung bergegas ke sini,” paparnya menjelaskan.
Sebelah alis Lynx terangkat naik. “Siapa yang memberitahumu?”
Ash tampak gelagapan saat ditanyai seperti itu. “Seseorang adalah seseorang. Tapi bukankah itu tidak penting sekarang? Kita akan memulai pengobatannya, Pangeran. Jika tidak segera diobati, luka di tanganmu yang teraliri sihir negatif akan membuatnya membusuk lebih cepat.”
__ADS_1
***