
Hazel mendengus pasrah. Ia tidak bisa memaksa Lynx untuk tetap tinggal di rumah. Melihat tatapan matanya yang berbinar melas, Hazel akhirnya membiarkan pria itu mengekorinya untuk bekerja.
Tapi sebelum mereka keluar rumah, Hazel memastikan penampilan Lynx harus benar-benar tertutup. Sudut bibir pria tersebut yang terluka, sudah Hazel tutup dengan plaster. Juga luka-luka di tubuh Lynx sudah Hazel tutupi dengan menyuruhnya memakai jubah besar.
Jubah yang digunakan Lynx adalah milik peninggalan sang kakek, Hazel tidak menggunakannya sebab ukurannya terlalu besar. Namun ternyata sangat pas di tubuh Lynx. Sehingga tangan pria berambut gondrong itu berhasil tertutupi.
“Ingat, jangan mengacau. Kalau sampai hari ini kau membuat masalah, aku benar-benar tidak akan memaafkanmu. Jadi anggap saja hidup dan matimu sedang dipertaruhkan hari ini,” kata Hazel memperingati, mata cokelatnya menyipit tajam padanya.
Lynx mengangguk bak anak kecil. Pandangannya mengedar, melihat ke sekeliling. Banyak manusia yang hilir mudik, membawa macam-macam barang. Di siang hari yang panas seperti ini pun masih banyak orang yang berkeliaran.
Mereka berdua sudah memasuki kawasan desa tempat dimana perdagangan kecil berjajar rapih. Mungkin semacam pasar atau bazar. Banyak sekali pernak-pernik cantik, juga makanan lezat yang menggugah selera.
Tapi Hazel segera menyadarkan dirinya agar tidak terlena dengan memikirkan hal yang tak mungkin bisa dirinya beli. Karena niat awal ia datang ke sini untuk mencari pekerjaan. Entah sebagai pelayan di sebuah kedai makanan atau mungkin menjadi buruh bersih-bersih.
Satu per satu tempat pedagang yang mengampar mereka datangi, tapi tidak ada satu pun yang mau memberi Hazel pekerjaan. Berpindah ke tempat lain, Hazel tertarik untuk bekerja di sebuah kedai makanan, namun kedai tersebut terlihat sepi.
Entah diterima atau tidak, tapi Hazel akan mencobanya. Namun ternyata...
“Maaf, para pegawai di sini sudah penuh. Aku tidak mungkin membayar para pegawai lagi, para pelanggan di sini pun tidak banyak,” tolak wanita paruh baya yang menjadi pemilik kedai tersebut.
Hazel tersenyum mengerti. “Baik, terima kasih, Nyonya.”
Lynx yang sedari tadi berdiri di samping Hazel, hanya menunduk, tidak membiarkan tudung jubahnya turun dari kepala. Sebisa mungkin menutupi wajahnya agar tidak terlihat oleh orang lain.
Tapi sepertinya ia ketahuan. Karena wanita paruh baya yang barusan menolak Hazel tengah menelik-nelik penampilannya yang cukup mencurigakan. Karena di siang bolong seperti ini, rasanya sangat aneh jika ada orang yang bernampilan seperti itu.
Wanita dengan rambut yang sudah memutih itu melihat bola mata Lynx yang indah, dirinya menyadari kalau seseorang dengan manik berwarna langka itu bukan dari daerah sini. Atau bahkan tidak ada manusia yang memiliki mata indah seperti itu.
__ADS_1
Ia jadi teringat akan sesuatu.
“Hei, tunggu.” Kakinya berjalan cepat untuk menyusul langkah Lynx yang sudah menjauh.
Yang dipanggil Lynx, tapi Hazel ikut menoleh juga. Karena dirinya sempat menduga kalau wanita tua itu berubah pikiran.
Namun dugaan Hazel langsung terpatahkan ketika wanita tersebut malah menarik lengan Lynx, sedikit berjinjit untuk menurunkan tudung jubahnya. Sehingga wajah rupawan Lynx terpampang jelas di bawah sinar mentari yang terik.
Hazel yang melihatnya langsung membelalakan mata, mulutnya terbuka, nyaris berteriak. Tapi tertahan karena melihat apa yang selanjutnya wanita itu lakukan.
“Oh, Tuhan! Kenapa wajah setampan dirimu malah kau sembunyikan? Lihatlah, meski kau terluka, tapi aura ketampananmu benar-benar kuat! Matamu yang indah sangat cocok dengan struktur wajahmu yang tegas,” pujinya sambil sesekali memainkan pipi Lynx untuk dicubit gemas.
Hazel mencoba menyudahi tingkah wanita tua itu, menurunkan tangan keriput itu dari wajah Lynx dengan sedikit kasar. “Maaf, Nyonya. Dia temanku, bukankah tidak sopan menyentuh wajah seseorang dengan cara seperti itu?”
Diberitahu seperti itu, sang wanita tampak tak senang. “Hei, diamlah. Aku tidak berbicara denganmu. Pria yang kusentuh saja tidak banyak protes, kenapa malah kau yang repot?”
“Begini, Nyonya. Bagaimana kalau aku ikut bekerja di kedaimu? Bukan sebagai pelayan. Tapi sebagai penarik pelanggan. Kau bilang aku ini tampan, jadi kenapa kau tidak gunakan ketampananku sebagai keberuntungan di tempat usahamu?”
Benar, Lynx menggunakan momen ini sebagai kesempatan. Itulah sebabnya kenapa dirinya tidak langsung menepis atau pun membela Hazel secara terang-terangan.
Sedang Hazel yang mendengarnya, hanya bisa menatap Lynx dari belakang dengan kebingungan. Ia tidak tahu apa rencana pria itu, tapi jika memang Lynx akan bekerja di sana, maka Hazel bisa mencari pekerjaan di tempat lain.
Itu tandanya mereka akan berpisah. Dan Hazel berpikir kalau itu adalah jalan yang terbaik. Setidaknya ia tidak memiliki tanggung jawab semisal Lynx melakukan kesalahan.
Tanpa pikir panjang, wanita tua itu mengangguk setuju. “Itu ide yang bagus! Aku setuju denganmu. Aku yakin, akan banyak pelanggan yang datang ke sini karena tertarik dengan ketampananmu. Tenang, kalau penghasilan harianku berhasil melebihi hari-hari sebelumnya, maka aku akan membayarmu dua kali lipat!”
Lynx tersenyum puas. Tapi mendadak ia merasakan angin di belakangnya berhembus, pertanda kalau tubuh Hazel tak lagi ada di belakang punggungnya. Buru-buru dirinya menengok, mendapati kalau memang gadis itu akan pergi.
__ADS_1
Dengan cepat Lynx meraih lengan Hazel, membuat kedua manik mereka bersirobok. Hanya dengan kontak mata, Lynx bisa mengartikan kalau Hazel meminta ingin dilepaskan.
Namun Lynx tidak akan mewujudkannya, yang ada dirinya malah semakin menarik Hazel ke sisinya. Cengkraman tangannya berpindah ke pinggang gadis itu untuk direngkuh, membuat Hazel melotot kaget dengan apa yang dilakukan Lynx.
“Tapi aku punya satu permintaan, Nyonya.” Lynx kembali fokus berbicara dengan wanita di depannya.
“Permintaan? Apa itu?”
“Izinkan temanku ini ikut bekerja juga. Aku yakin dia tidak akan mengecewakanmu. Dia adalah gadis yang rajin dan pekerja keras. Dia akan banyak membantumu di saat para pelanggan datang berbondong-bondong ke kedaimu,” pinta Lynx dengan sopan.
Hazel kembali mendaratkan pandangannya pada Lynx. Ketimbang merasakan lengan besar yang menyalurkan kehangatan di pinggulnya, Hazel lebih merasakan jantungnya yang berdetak tak normal saat ini.
“Benar begitu, bukan?” Lynx menengok pada Hazel, otomatis mata mereka langsung bertemu.
Pipi pucat Hazel mencuatkan rona merah muda di sana. Rangsangan panas pun mulai naik merangkak naik, sehingga Hazel sulit menunjukkan reaksi normal. Yang bisa ia lakukan hanyalah berdeham singkat untuk menjawab pertanyaan Lynx, lalu pandangannya ia alihkan ke sembarang arah.
Wanita dengan rambut yang sudah beruban itu menggelengkan kepala singkat saat melihat tingkah dua remaja di depannya. “Huh, kalian ini. Jika kalian saling memandang dengan tatapan seperti itu, semua orang akan menganggap bahwa kalian sepasang kekasih.”
Mendengarnya, Hazel dengan cepat menurunkan tangan Lynx dari pinggangnya. Tubuhnya pun bergeser sedikit menjauh darinya, memberi jarak. Dan tindakannya ini untuk menepis pernyataan wanita tadi, sebab mulutnya yang mendadak membisu tak dapat melakukannya.
Lynx hanya terkekeh geli saat melihat eskpresi dan tingkah Hazel yang tampak malu-malu. Sorot matanya kemudian kembali berpindah, melihat ke depan.
“Jika kami sepasang kekasih pun, itu tidak akan merugikanmu Nyonya. Pekerjaan kami pun tidak akan terganggu. Jadi, jangan ragukan kami yang ingin bekerja di tempatmu,” lontar Lynx dengan tegas.
Tidak ada pilihan lain. Wanita itu akhirnya menyetujui penawaran yang diberikan Lynx tadi. Ia mengizinkan mereka berdua untuk bekerja di tempatnya.
“Aku akan memberi kalian kesempatan satu hari ini, jika kalian memang benar-benar menguntungkan, maka kalian bisa bekerja seterusnya di tempatku.”
__ADS_1
***