
Setelah menahan napas selama beberapa detik, Hazel menatap penuh dendam pada pria yang barusan dirinya tampar.
“Dengar ini, Tuan. Kau tidak berhak menuntut apa pun atas diriku. Terlepas sebanyak apa hutang si bajingan itu padamu, aku tidak peduli. Dan itu bukan urusanku! Dia bukan Ayahku, jadi kau tidak bisa memaksaku untuk membayar atau pun memintaku untuk menjual diri!”
Suara Hazel saat mengatakannya terdengar begitu lantang meski bibirnya mulai bergetar, susah payah menahan air mata yang sebentar lagi akan runtuh. Kepalan tangannya terlihat memutih, menunjukkan betapa kuatnya ia menahan amarah yang menggebu.
Kalau tidak ingat dirinya sedang menjadi pusat perhatian banyak orang, Hazel tak akan segan melakukan hal yang lebih dari ini. Mungkin bisa saja ia kembali menampar atau meludah tepat di wajah pria itu.
Sebab memaki-maki saja tidak cukup. Dendam dan amarah masih menggumpal dalam dada. Ingin dilampiaskan, tapi Hazel sadar diri. Kalau orang yang sedang ia hadapi ini bukanlah orang sembarangan.
Karena pria itu tak kunjung merespon apa pun, Hazel menggunakan kesempatan yang tak datang dua kali ini untuk kabur. Selagi orang-orang tidak lagi berjalan, Hazel bisa menyelinap di antara tubuh-tubuh mereka.
Satu.
Dua.
Dan pada hitungan ketiga, Hazel dengan gerakan secepat kilat sudah membalikan tubuhnya. Berlari masuk ke dalam celah tubuh orang-orang yang saling berhimpit. Keriuhan pun kembali terjadi di sini. Banyak orang yang terhuyung bahkan hampir tersungkur karena ulah Hazel.
“Hei, berhenti!”
“Mau kabur kemana kau!”
“Hazel, kubilang berhenti!”
Teriakan berulang kali yang dilontarkan pria tadi terdengar menggelegar, tapi tak digubris sekali pun oleh Hazel. Gadis dengan langkah kaki tersuruk-suruk saat menembus gerombolan manusia tersebut, tidak berniat menoleh ke belakang.
Meski nafasnya mulai tersengal-sengal, kedua kaki sudah terasa lemas, pun sudah banyak orang yang merutuki sebab Hazel terus menubruk tanpa melihat-lihat, ia tetap tidak akan menyerah. Berusaha sebisa mungkin agar tidak bertemu dengannya lagi.
Saat melihat di depan sana rombongan manusia tidak sepadat sebelumnya, Hazel merasa mendapatkan secercah cahaya untuk benar-benar bisa kabur. Suara pria yang mengejarnya pun mulai terdengar jauh, tapi Hazel yakin kalau orang itu tidak akan menyerah begitu saja.
Menyeka peluhnya sebentar sambil mengambil nafas banyak-banyak, Hazel bergumam susah payah, “Hah ... Hhahh ... Aku tidak punya waktu untuk istirahat. Aku harus segera kabur. Kemana pun, asalkan dia tidak bisa menangkapku.”
Kembali menggerakan kedua tungkai kaki, belum ada lima menit, ternyata pria yang mengincarnya tadi sekarang sudah menemukannya lagi. Tak berani menengok ke belakang, Hazel hanya fokus berlari sambil menatap ke depan.
Sampai ketika tubuhnya akan melewati sebuah lorong gelap di samping, mendadak ada yang menarik lengannya. Begitu kuat, sampai rasanya jantungnya berhenti berdetak beberapa saat.
Belum sempat melihat siapa yang menariknya barusan, tubuhnya sudah lebih dulu dipeluk dengan erat. Begitu menempel dengan seorang pria yang mengajaknya masuk ke dalam lorong ini. Mencoba menerka, Hazel rasa-rasanya tahu siapa yang sedang bersamanya saat ini.
“Syukurlah. Aku akhirnya bisa menemukanmu.”
__ADS_1
Tidak salah lagi, suara itu adalah milik Lynx. Kepalanya lantas mendongak untuk memeriksa, dan ternyata memang benar. Pria dengan rahang tegas itu pun sedang menatapnya, tak lama Lynx mengukirkan sebuah senyuman manis.
“Jangan banyak bergerak. Lorong ini kecil. Kau akan terluka jika memaksa bergerak,” ucap Lynx lagi.
Manik cokelat Hazel mengerjap-ngerjap, beberapa detik lalu ia hampir mempunyai niat kabur tanpa mengajak Lynx. Karena merasa pria rubah itu sudah hilang dari genggaman, dan mungkin akan berpisah melalui kejadian ini.
Tapi nyatanya, Lynx malah menyelamatkannya tanpa diduga-duga. Perasaan yang mengumpul dalam dada, sulit Hazel deskripsikan. Yang jelas, ada perasaan tenang dan gelora euforia yang menyelimuti saat menelik manik indah milik Lynx.
“Kenapa kau bisa ada di sini? Aku pikir kau---”
“Ssstt...” Lynx buru-buru menempelkan telunjuknya pada bibir gadis itu, tidak membiarkan Hazel berbicara karena pendengarannya menangkap suara sesuatu.
“Jangan berisik. Diam dulu,” titah Lynx kemudian, ia semakin membungkus tubuh Hazel menggunakan kedua tangan besarnya.
Dengan posisi ini, tidak ada jarak yang tercipta di antara tubuh mereka. Wajah Hazel sudah menempel pada dada Lynx, bisa mendengar jelas seberapa kencang dentuman jantung di dalam sana.
Tidak tahu kenapa, tapi Hazel jadi ikut-ikutan merasa berdebar-debar. Bayangkan saja, dalam situasi sedekat ini, berbagi oksigen di tempat yang sempit dengan pria tampan, juga bisa merasakan secara langsung kehangatan tubuhnya, siapa yang tidak terbawa perasaan?
“Hazel!”
“Aku tahu kau ada di sekitar sini!”
“Kalau kau sudah kutangkap, akan kupastikan kau tidak akan pernah bisa kabur lagi!”
“Menyerahlah! Kau itu gadis miskin, mana mungkin bisa melunasi hutang ayahmu. Jadi lebih baik kau menyerahkan diri padaku. Akan kubuat kau bahagia tanpa merasakan kemiskinan lagi!”
“Cepat keluar!”
Ocehan itu tidak dihiraukan sama sekali. Lynx membuang muka ke samping, sedikit menyampingkan tubuhnya juga, ikut menggeserkan tubuh Hazel agar tidak terlihat oleh pria di luar sana.
Tanpa meminta persetujuan apa pun pada Hazel, Lynx mendadak membungkukan tubuh. Kedua tangannya pun sudah mendarat pada pipi dan leher Hazel. Kepalanya bergerak mendekat, lalu berusaha sebisa mungkin membuat pose seperti sedang berciuman jika dilihat dari belakang.
Mungkin apa yang terlintas dalam pikiran Lynx saat ini adalah sebuah ide gila, tapi jika tidak melakukannya mungkin saat ini mereka sudah ketahuan. Sebab pria di luar lorong sana terlihat sedang mencurigai mereka, bahkan beberapa kali mencoba menelik-nelik ke dalam lorong gelap tersebut.
“Tch, dasar para manusia sampah tidak tahu tempat!” umpatnya sambil berlalu pergi. Percaya kalau mereka berdua adalah orang asing yang tersulut hasrat.
Dan sepanjang Lynx melakoni aktingnya, Hazel hanya bisa melongo tanpa berkedip sekali pun. Pipinya memerah, karena berulang kali terkena hembusan nafas milik Lynx.
“Maaf, aku terpaksa melakukannya. Bibir kita tidak bersentuhan kan? Kita bisa pergi dari sini karena pria yang mencarimu sudah tidak ada,” ujar Lynx sambil merubah posisi, sedikit menjauhkan tubuh Hazel. Takut kalau gadis itu risih.
__ADS_1
Meski Lynx berusaha membuat jarak dengannya, tapi tangannya masih setia berada di belakang punggung Hazel. Tujuannya agar gadis itu tidak terluka karena bergesekan dengan dinding yang kasar. Lebih membiarkan punggung tangannya sendiri yang terluka.
“Eum, terima kasih.” Hazel memutus kontak mata, kepalanya menunduk.
Dalam hati dirinya bergumam, “Ternyata dia tidak sepolos apa yang aku pikirkan selama ini. Otaknya mungkin sering berpikir hal yang tak normal. Tapi yang tadi itu benar-benar luar biasa. Aku merasa berada di bawah kendali permainannya.”
“Hazel? Kau baik-baik saja?” Lynx mencoba mencondongkan wajahnya, karena Hazel tak kunjung menyahut panggilannya beberapa saat lalu.
“Eh? Y-yaa?” Hazel terperanjat kaget, berekspresi seperti orang kebingungan.
“Bagaimana?”
“Apa yang bagaimana?”
Lynx membuang nafas seraya menggelengkan kepala. Lalu menyentil pelan dahi gadis di depannya. “Aissh, kau tidak mendengarkan apa yang kukatakan tadi ya? Pikiranmu sedang ada di mana? Kau takut kalau aku benar-benar menciummu?”
“A-apa? Ti-tidak!” Hazel berdalih, wajahnya semakin memerah. Kenapa tiba-tiba Lynx membahas hal seperti itu?
“Tidak?” Lynx menyenderkan kepala pada dinding, sedikit menekuk lengannya yang panjang. Dan ekspresi yang terlukis di wajahnya itu menunjukkan penuh arti.
Hazel meneguk ludah. Aneh sekali, rasa gugupnya kian memuncak jika ditatap seperti itu.
“Apa yang tidak? Kau tidak takut kalau aku menciummu?” sambung Lynx sembari terkekeh.
Mendengarnya, Hazel lantas membulatkan mata. Ingin sekali menempeleng kepala pria yang berjarak hanya beberapa centi dengannya ini.
“Ish, jangan bicara sembarangan.”
“Haha, aku becanda. Kalau begitu, ayo kita pergi,” ajak Lynx untuk mengalihkan pembicaraan.
“Kemana?”
“Ke tempat dimana hanya ada aku, kau dan kebahagiaan yang tercipta.”
Lagi, Lynx kembali mengeluarkan jurus gombalannya. Walau pun sebenarnya hal itu memang keluar dari hati yang tulus. Tapi Hazel menanggapinya tidak serius. Menganggap kalau itu hanya gurauan saja.
“Jangan membuat pipimu seperti balon. Aku ini sensitif dengan hal yang imut-imut. Bisa saja aku menggigit pipimu nanti.”
Hazel memutar bola matanya cepat, menatap Lynx dengan serius. “Mau pergi atau tidak? Kalau tidak, biarkan aku pergi sendiri. Desa ini sudah mulai tak aman untuk aku tempati.”
__ADS_1
“Kau benar-benar ingin kabur dari sini?”
***