Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 62 - Pengorbanan.


__ADS_3

“Tunggu. Rasanya aku tidak asing dengan pria itu.” Raja Barney menunjuk pria berambut gondrong dengan perawakan tinggi, yang ia maksud adalah Jack.


“Pria itu bernama Jack, orang kepercayaan di Kerajaan Foxion, Paduka. Sedikit yang kudengar, menurut mereka dia orang yang cukup berpengaruh. Selain sebagai adik dari istri pertama Raja Arandelle, dia juga mempunyai kemampuan yang lebih unggul dari kebanyakan siluman rubah lain,” balas sang pengawal sambil memainkan layar tablet yang canggih, membaca informasi yang tertera.


Raja Barney mengerutkan kening. “Kau tidak salah? Dia siluman rubah dengan kemampuan yang lebih unggul? Seingatku, dia masih kecil ketika Peperangan pertama dilakukan. Tapi aku tidak menyangka setelah dewasa dia mempunyai julukan seperti itu.”


“Aku tidak percaya kalau diakui memiliki kemampuan yang lebih tinggi. Dari auranya, dia terlihat lebih lemah dibandingkan dengan Lynx. Dilihat dari teknik sihir yang digunakannya, dia memang hebat. Tapi aku berani bertaruh umurnya tidak akan panjang.”


Pengawal yang berdiri di samping Raja Barney menggulir layar tablet, kemudian menjawab lagi, “Dia banyak membantu para keturunan siluman rubah untuk mengolah kemampuan sihir. Dan yang kudengar, hubungan antara dirinya dengan Pangeran Lynx sangatlah dekat.”


Pria dengan mahkota tinggi itu mengusap dagu, memusatkan pandangannya pada bola sihir untuk menonton peperangan kembali. “Aku percaya dengan itu. Lihat saja bagaimana mereka berdua saling bekerja sama.”


Saat melihat betapa erat dan chemistry antara keduanya begitu lekat, sebuah ide terlintas dalam benak kepala sang Raja. Dia menduga bahwa keberadaan Jack dalam perang ini mau pun dalam kehidupan sehari-hari Lynx pasti sangatlah berarti.


“Aku ingin mereka dipisahkan,” pinta Raja Barney sambil mengulas senyum licik. “Meski keduanya harus mati, tapi aku ingin salah satu dari mereka mati terlebih dahulu. Akan lebih baik anak muda itu yang mati, karena itu akan memudahkan kita menuju kemenangan.”


Sang pengawal mengangguk patuh. “Baik, Paduka Raja. Kami akan mengirim sinyal pada tim pasukan tentang perubahan rencana.”


“Gunakan semua alat dan senjata apa saja, keluarkan semuanya. Aku hanya ingin mereka mati dengan cepat. Tapi aku juga tidak mau moment dimana aku bisa melihat wajah menyedihkan dari salah satu mereka saat merasa kehilangan terlewat begitu saja,” sahut Raja, kian memperjelas apa maunya.


“Baik, Paduka Raja.”


Masih ingat ratusan abad yang lalu saat Kerajaan Maggie melakukan pembataian ke seluruh Kerajaan lain hanya untuk memperluas wilayah dan diakui kehebatannya? Merampas tanpa belas kasih, saat itu mereka benar-benar gila.


Dampak paling parah adalah pada Kerajaan Foxion. Beberapa siluman rubah yang memiliki kemampuan tingkat tinggi, yang mampu menguasai seluruh elemen yang ada di bumi, diculik secara paksa oleh Kerajaan Maggie.


Dan masih ingat tentang betapa bencinya Kerajaan Foxion pada manusia? Sampai-sampai segala larangan dan peraturan yang menyangkut dengan manusia ditetapkan secara paten tanpa bisa diganggu gugat.


Itu semua ada hubungannya dengan masa peperangan saat dulu. Dimana Atlas, pria dengan ras manusia murni menginjakkan kaki ke negeri mereka. Kerajaan yang pertama kali ia datangi adalah Kerajaan Foxion.


Atlas adalah seorang profesor sekaligus seorang pencipta alat hebat, selain itu dia adalah seorang time travel (perjalanan waktu) dan dia datang dari masa depan. Dimana teknologi sudah sangat canggih. Dia kembali ke masa lalu untuk menyelesaikan suatu misi.


Namun ia malah terdampar di negeri dongeng yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Melihat manusia bisa bertransformasi menjadi seekor hewan membuatnya tak percaya. Tapi di satu titik dia cukup tertarik, sehingga Atlas memutuskan untuk tinggal lebih lama di Kerajaan Foxion.


Selain pelayanan mereka yang baik dan ramah, Atlas mengakui ilmu sihir yang dikuasai penduduk Kerajaan Foxion sangatlah luar biasa. Saat itu kedekatan antara manusia dan siluman semakin dekat dan mereka saling mempercayai satu sama lain.


Tapi sayangnya, ketika peperangan terjadi, entah kenapa Atlas malah berpihak pada siluman anjing. Mungkin karena diancam, atau mereka membuat tuduhan yang membuat Atlas dibenci oleh penduduk Kerajaan Foxion, akhirnya Atlas berada dipihak siluman anjing (secara terpaksa).


Menculik siluman rubah yang memiliki kemampuan tingkat tinggi, Atlas dipaksa oleh siluman anjing untuk melakukan penelitian pada siluman rubah tersebut. Mengambil beberapa sample dari otak-otak mereka untuk diteliti sampai akhirnya siluman anjing dapat menguasai sihir yang dimiliki Kerajaan Foxion.

__ADS_1


Selain diperbudak untuk melakukan hal-hal keji seperti itu, Atlas juga diperintah untuk membuat beberapa alat canggih yang bisa digunakan dalam peperangan. Alat yang tak terkalahkan, yang bisa dipadu padankan dengan sihir sehingga kekuatannya tiada tanding.


Namun karena manusia tak sama dengan siluman, Atlas menua lebih cepat dibanding dengan mereka. Oleh karenanya, penelitian belum selesai sampai tuntas dan banyak alat-alat terbengkalai yang belum bisa digunakan.


Dan akhir dari kehidupan Atlas sangatlah miris. Dia dikurung di tempat kecil yang dingin. Tubuhnya begitu kering, hanya tersisa tulang dan kulit saja. Rambut panjangnya memutih sempurna. Parahnya lagi, dia pikun. Sehingga benar-benar tak bisa diandalkan kembali. Itu pun dia bisa hidup sampai saat ini karena bantuan sihir.


Tapi meski sosok Atlas tak lagi terlihat, juga tak lagi menunjukkan diri lagi di depan para kumpulan siluman rubah, Atlas tetaplah dipandang buruk. Mereka semua menyimpan dendam setelah dikhianati. Bukan hanya pada Atlas, tapi pada seluruh manusia. Siapa pun itu.


***


Matahari kian naik ke atas cakrawala, membuat panasnya terasa begitu terik. Semuanya mandi keringat, kulit mereka terbakar dan terlihat mengkilap, namun usaha untuk saling melumpuhkan satu sama lain tak gentar.


Tim medis yang dipimpin oleh Ash, sudah turun ke medan perang untuk membantu menyelamatkan mereka yang masih bisa diselamatkan. Beberapa tandu dari bambu yang dibuat sedemikian rupa mereka gunakan untuk membopong tubuh-tubuh pasukan yang terluka.


Sebagian dari mereka mati secara mengenaskan, sebagian lagi terluka cukup parah, sisanya yang masih bisa untuk berperang tidak begitu banyak. Sudah dipastikan pasukan yang berdiri di garda paling depan mengambil banyak jumlah nyawa yang tak terselamatkan.


Akibat kekacauan yang terjadi, kobaran api membesar dimana-mana berdampingan dengan banyak mayat yang bergelimpangan, sebagian sihir kuat yang berpadu padan dengan angin yang berhembus berusaha dihalau oleh Jack.


Guna menyelamatkan pasukan yang masih setia untuk bertarung, Jack harus mengoptimalkan seluruh kemampuan serta tenaga yang tersisa untuk membantu menangkal segala bentuk sihir yang berusaha melumpuhkan tim pasukannya.


Karena tak mungkin mengandalkan dan memberi seluruh beban pada Lynx yang juga tengah sibuk menebas kepala-kepala para prajurit musuh, Jack harus berusaha sendirian. Karena hanya dirinya yang bisa, hanya dirinya yang mampu, dan hanya dirinya pula yang memiliki kemampuan seperti ini.


Mengingat tangan kirinya saat ini terluka cukup parah akibat dari ritual pemindahan sihir pada pedang Lynx hari itu, kondisi Jack mudah melemah. Dia tak sekuat dulu, karena sebagian sihir yang Jack miliki sudah dilimpahkan pada pedang tersebut.


“Jack, kau baik-baik saja?” Sen memegangi tubuh Jack yang gemetaran, matanya membulat shock saat melihat darah segar mengalir dari mulut pria itu.


“A-aku tidak apa-apa, aku hanya perlu bertahan sedikit lagi sampai sihir-sihir yang mereka sebarkan aku hempaskan kembali,” jawab Jack seraya menahan nyeri, membuat wajahnya memerah.


Mengambil posisi tegap, Jack memejamkan matanya. Dia berusaha untuk fokus kembali, mantra-mantra yang ia gumamkan begitu menggema dalam hati. Berharap bahwa dirinya mampu melakukannya.


Sementara Sen, ia yang mengambil alih sekarang. Memberi arahan pada semuanya untuk menyatukan kekuatan, berusaha membuat tudung sihir yang serupa dengan Jack saat itu. Tongkat sihir mereka mulai bergerak-gerak, bersamaan merapalkan mantra yang sama.


Karena dengan segenap hati mereka melakukannya, tudung sihir yang tak sempurna itu terbentuk. Setidaknya cukup untuk memberi pertahanan dari beberapa serangan yang terus dilayangkan musuh tanpa henti.


Jack membuka matanya, mengedarkan pandangan ke sekeliling, melihat tim di pasukannya bernafas dengan tersengal-sengal. Terutama Sen, dia terlihat begitu kewalahan.


“Kami tidak bisa melepaskan sihir ini, karena tudung sihir buatan kami tidak seperti yang kau buat. Ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Jadi, apa perlu kami menahannya sampai mereka berhenti melemparkan sihir-sihir sialan itu?” tanya Sen dengan tangan yang berusaha untuk mengangkat tongkat sihir dan membuat posisi seperti sedang menahan angin.


Jack menunduk sebentar, menatap lengan kirinya yang terbalut perban. Mencoba mengeluarkan sihir dari telapak tangan, namun ternyata sihirnya tak cukup kuat untuk membuat tudung sihir yang sempurna. Jika dirinya tidak segera mengambil keputusan, maka semua yang tersisa di sini bisa dalam bahaya.

__ADS_1


Sedangkan Sen dengan yang lainnya sudah kewalahan untuk menahan tudung sihir yang dibuat. Jack benar-benar bingung, merasa sangat tidak berguna untuk yang pertama kalinya. Walau sebenarnya masih ada sihir dalam dirinya yang bisa digunakan, tapi ia hanya bisa menggunakannya di situasi genting saja.


Merapatkan jari jemarinya, Jack bergumam dengan kesal, “Ayo pikirkan caranya. Kau tidak bisa diam dan menunggu sampai semuanya berakhir!” Ia merutuki dirinya sendiri.


“Jack?” Sen masih menunggu, kepalanya ia miringkan dengan tatapan bingung.


“Oh, tidak! Lihat itu!” Atensi semuanya beralih, termasuk Jack yang semula termenung sambil sibuk berpikir kini melihat ke arah yang sama dengan yang mereka lihat.


“Pangeran Lynx akan terjatuh dari kudanya! Sayap milik Jexie hilang sebelah! Gawat, mereka pasti akan terjatuh dan diburu oleh siluman anjing yang sudah menunggu di bawah sana!” teriak salah satu dari pasukan untuk menjelaskan.


Ribuan bilah pedang yang tipis meluncur dari dalam senjata semacam meriam dengan ukuran sangat besar, benda canggih itu tentu saja milik Kerajaan Barney. Karena tak bisa menghindar secara maksimal, Jexie yang jadi korbannya.


Bahkan sekarang, senjata canggih lain keluar dari dalam gerbang Kerajaan mereka. Kendaraan semacam tank tempur tersebut menunjukkan diri ke lokasi peperangan, benda besar itu membuat tim dari pasukan Kerajaan Foxion tercengang saat melihatnya.


Wajar, benda seperti itu baru pertama kali mereka lihat. Saat ini tank tempur tersebut bersiap untuk meluncurkan ratusan peluru yang sudah disiapkan. Dan sialnya, tudung sihir yang diusahakan Sen dan yang lainnya hampir hilang. Otomatis saat benda itu mengeluarkan seluruh pelurunya, semua yang ada di sini akan mati.


Jack yang sudah tahu seperti apa situasinya, langsung mengambil langkah cepat. Tanpa memerdulikan rasa sakit yang membuat seluruh tubuhnya kaku dan nyaris mati rasa, dia bersiap untuk menyelamatkan Lynx dengan Jexie yang sedang terjun bebas sekarang ini.


Sebelum itu ia berpesan pada Sen dan semua pasukan yang bersamanya, “Lepaskan tudung sihir ini. Lalu lari secepat mungkin, ajak yang lain untuk berlindung. Aku akan menyelamatkan Lynx dan Jexie di atas sana.”


“Jack, tunggu! Tapi—”


“Aku percaya padamu!” balas Jack sambil berlari dan mulai menggunakan sihirnya untuk terbang.


Sen meneguk salivanya, merasa sedikit gugup. Ia melihat ke depan untuk mengecek keadaan, matanya mengamati benda besar dengan segala ancaman yang menakutkan tersebut nyaris meledakan senjatanya ke arah pasukan Kerajaan Foxion.


“Mundur! Semuanya mundur! Tinggalkan tempat ini untuk sementara!” Sen berteriak sekuat tenaga, membuat mereka yang mendengarnya langsung belarian ke sana kemari dengan riuh.


Sedangkan Jack, saat ini ia sudah terbang ke atas. Menarik tubuh Lynx ke dalam dekapan. Ternyata Lynx juga ikut terluka, sebanyak dua bilah pedang masih tertusuk di tangannya. Sementara Jexie yang sudah terbang terseok-seok sudah Jack dorong ke samping untuk diselamatkan lebih dulu.


“Bu? Kau—” Lynx melotot, matanya menatap ratusan peluru yang sebentar lagi akan mengarah padanya.


Karena cekatan, dan tak mau banyak berpikir, Jack mengeluarkan kekuatan sihirnya yang tersisa sangat sedikit untuk menahan serangan tersebut. Kepalanya menoleh ke belakang, sebelah tangannya ia rentangkan menghadap ratusan peluru tersebut, melakukan penghentian waktu.


Tapi sayangnya itu hanya berlangsung tiga detik saja. Jack benar-benar kehilangan banyak energi dan kekuatan, sehingga apa pun yang ia lakukan jadi kurang maksimal. Dalam waktu tiga detik, Jack berhasil terbang ke samping untuk menjatuhkan diri bersamaan dengan Lynx ke atas semak-semak.


Mereka sempat berguling di atas semak-semak tersebut. Sampai akhirnya Jack menindihi tubuh Lynx. Dia tak langsung bangkit, pandangannya mengabur dan lambat laun mulai tak sadarkan diri.


“Uhuk! Uhuk!” Darah kembali keluar dari mulutnya, begitu banyak sampai merembes ke dalam pakaian yang Lynx kenakan.

__ADS_1


“Ibu?”


***


__ADS_2