Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 51 - Masing-masing Dengan Kegelisahannya.


__ADS_3

Setelah menenangkan para pasukan yang sempat gundah dan putus asa, Jack memberi perintah pada mereka semua untuk berlatih di tempat yang aman. Untuk sementara waktu, sampai perang tiba nantinya, mereka semua dilarang berkeliaran di depan istana.


Pasukan sudah bubar dari hadapan, Jack memutuskan untuk kembali masuk ke dalam istana. Tubuhnya yang terasa amat letih, dibantu oleh Lynx untuk berjalan.


“Apa proses memindahkan sihir pada pedang dan membuatkan liontin baru untukku sudah selesai?” tanya Lynx di sela-sela perjalanan.


Jack mengangguk. “Sudah. Kita bisa memeriksanya sekarang di gudang. Tapi aku tidak yakin kau bisa mempelajarinya sampai benar-benar paham, mengingat Kerajaan Maggie sudah mengibarkan bendera perang pada kita.”


Lynx paham bagaimana situasinya. Begitu mendesak, sangat mepet dan semuanya terlalu tergesa-gesa. Dari semua usaha yang dilakukannya ini, tidak sedikit pun dibantu atau diberi dukungan oleh Raja Arandelle.


Mungkin berbeda dengan Kerajaan Maggie yang penuh dukungan dari Raja Barney. Mereka bahu membahu untuk menciptakan suasana antar pasukan yang adil dan penuh solidaritas. Seolah-olah memang Raja Barney turut berperan penting dalam perang ini.


“Tapi tenanglah, Lynx. Aku selalu percaya kau bisa menanganinya. Sekali pun aku berpikir itu mustahil, bukankah kau selalu berusaha kuat untuk mematahkan kemustahilan itu?” Jack tersenyum untuk menyemangati, tangannya dengan pelan merangkul bahu Lynx.


“Eum, sudah terlalu jauh jika aku menyerah sekarang. Aku tidak akan mundur. Apa pun keadaannya, aku akan maju!” seru Lynx begitu semangat.


Saat menaiki undakan tangga, kedua kaki Jack seperti mati rasa. Sudah tak bisa lagi berjalan sebagaimana mestinya. Sekarang Jack berdiri menggunakan lutut, ingin menggunakan sihir saja sudah tak mampu.


Bayangkan saja, selama seminggu penuh Jack sibuk berjibaku seorang diri di dalam gudang tanpa makanan atau pun minuman. Dan pastinya selama itu pula dia terus terjaga tanpa tidur sama sekali.


“Kau baik-baik saja? Apa perlu aku menggendongmu ke kamar? Kupikir kau harus istirahat, Bu.” Lynx menatap khawatir padanya, tubuhnya ikut membungkuk agar mensejajarkan tingginya dengan Jack.


Tampang Jack yang kian memucat, berusaha memaksakan untuk senyum. “Aku...”


“Biarkan aku yang merawat Jack!”


Tunggu, siapa yang menyahut untuk ikut masuk ke dalam pembicaraan?


Saat menanggahkan kepalanya. Manik Jack langsung beradu pandang dengan seorang perempuan cantik bergaun hijau di ambang pintu istana.


“Putri Ren?” gumamnya tanpa suara.


Lynx berdiri dengan benar ketika berhadapan dengan Putri Ren. “Mohon bantuannya!” Punggungnya ditekuk, membungkuk hormat.


Jack langsung melongo saat tahu Lynx mendadak melakukan itu. “Eh?”


Kembali menegakkan punggungnya, Lynx melanjutkan ucapannya. “Masih ada beberapa hal yang perlu aku urus. Akan sangat membantu jika kau mau merawat Ibuku. Tolong pastikan kalau dia sembuh dan bisa beraktivitas normal kembali.”


Putri Ren dengan senang hati menerima permohonan itu, karena memang inilah tujuannya. “Tentu, aku akan merawatnya dengan baik.”


Membantu Jack untuk berdiri dengan benar, Putri Ren tak segan menaruh lengan pria itu pada bahunya. “A-aku akan mengantarmu ke kamar,” katanya sedikit terbata-bata sebab gugup, pandangannya pun dialihkan ke sembarang arah.


“Tunggu dulu, Putri Ren.” Jack masih belum beranjak dari tempat berdiri. “Aku perlu memastikan kalau Lynx menggunakan pedang dan liontin barunya terlebih dahulu. Jika dibiarkan sendiri, aku takut kalau...”


Lynx segera menyahut, memotong ucapan Jack, “Aku akan melakukannya sendiri. Setelah kau sudah lebih baik, aku akan meminta bantuanmu untuk mengolah kemampuanku menggunakan pedang itu.”


Tak ada pilihan lain, ditentang bagaimana pun Jack tahu pastinya Lynx tetap tak akan mengizinkannya untuk menemani. Jadi dari pada membuang waktu untuk mengoceh di sini, Jack pasrah saja saat tubuhnya dituntun oleh Putri Ren.


***


Hazel mematut di depan jendela kamar, merasa bosan dengan pemandangan yang tak pernah berubah. Hamparan rerumputan hijau dan pohon-pohon besar yang menari-nari tertiup angin. Jika sedang beruntung, Hazel bisa didatangi oleh beberapa burung kecil yang bernyanyi.

__ADS_1


Mengusapi perutnya yang terus membesar tanpa disadari, sedikit membuat hatinya tenang. Saat memikirkan bahwa peperangan akan segera terjadi, perasaan gusar mendadak datang dan menyerang pikirannya.


Apa Lynx akan baik-baik saja?


Bagaimana nasib Kerajaan Foxion?


Apakah akhir dari semua ini akan bahagia atau malah mengantarkan pada penderitaan yang lebih tragis?


Semua pertanyaan itu bersatu padu dalam benak yang tak pernah hening. Di satu sisi Hazel ingin egois, ingin sekali membawa kekasihnya itu pergi dan memulai kehidupan baru tanpa perlu menanggung semua beban di sini.


Tapi dipikir-pikir, itu bukanlah jalan keluar yang terbaik. Hazel harus bisa menghargai usaha dan niat tulus kekasihnya yang sudah mau berjuang sampai sejauh ini.


“Apa meraih kebahagiaan mutlak sesulit ini?” bisik Hazel sambil menahan nafas, garis bibirnya sulit untuk tersenyum.


“Hei, Hazel!”


Menoleh ke sumber suara, Hazel melihat Aluka yang sedang berdiri di celah pintu.


“Mau ke ruang bawah tanah lagi? Ada buah-buahan yang sudah penduduk ambil, mereka bilang itu untukmu,” ajak Aluka sambil berjalan menghampirinya.


Tanpa berpikir dulu, Hazel langsung mengangguk. “Eum, boleh.”


Aluka tahu saat ini pikiran Hazel sedang gundah, jadi sebisa mungkin dirinya mengalihkan pikiran Hazel dengan mengajaknya untuk melakukan beberapa kegiatan.


***


“Liontin ini ... Sangat indah!” puji Lynx dengan manik yang berbinar-binar, tidak menyangka kalau Jack dapat mengubah bola mata menjadi liontin terindah yang pernah dirinya lihat.


Tapi Lynx masih belum tahu apa istimewanya liontin tersebut. Selain warnanya yang begitu memikat, apa mungkin di dalamnya terdapat kekuatan yang luar biasa?


Beralih dari liontin, Lynx tertarik untuk melihat pedang yang sudah dimodifikasi oleh Jack. Bukannya ditaruh pada tempat yang semestinya, pedang itu malah direndam pada cairan hitam yang pekat. Namun ada serbuk-serbuk yang berkilauan jika dilihat dari dekat.


Lynx tidak tahu untuk apa tujuannya, tapi setelah pedang itu ia angkat, Lynx tidak melihat perbedaan apa pun. Masih terasa berat, bentuk dan warna serta permata yang warnanya ternyata mirip dengan liontin baru pun tetap sama.


Membawa pedang itu ke luar untuk mencari perbedaannya, Lynx mengayunkannya pada angin. Mencoba beberapa pergerakan, tapi tetap tidak mengeluarkan sihir apa pun.


“Bagaimana cara kerjanya?” Lynx masih kebingungan.


Jexie, kuda yang sudah siap menyerahkan nyawanya untuk Kerajaan Foxion itu tampaknya merasa tertarik dengan aktivitas Lynx.


“Pangeranku.” Jexie datang sambil menyapa dengan sopan. “Sihir itu bisa datang dari adanya kepercayaan. Kenapa Pangeran tidak coba menanamkan percaya dalam hati? Anggap kalau pedang itu adalah bagian dari dirimu. Maka pedang itu pasti akan menuntunmu.”


Mendengar saran dari Jexie, Lynx mengangguk semangat. Ia memberi usapan lembut pada kepala kuda itu sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu.


“Aku akan berusaha. Ada baiknya kau sedikit menjauh, takut kalau aku salah menebaskan pedang,” kata Lynx memperingati.


“Baik, Pangeranku.”


***


“Sejak kapan kau ada di sini, Putri Ren?” tanya Jack untuk mengisi kekosongan.

__ADS_1


Karena hampir lima menit berlalu, keduanya sama-sama saling diam tanpa berbicara sepatah kata pun. Putri Ren juga harus menahan dadanya yang terus berderak tak tahu kondisi, untungnya saja pipinya tak bersemu merah.


“Sekitar empat harian yang lalu. Aku datang ke sini sambil membawa pasukan yang siap untuk ikut bertempur.” Menurunkan pandangan, Putri Ren terlihat sedih. “Meski pada awalnya Ayahku tak menyetujuinya.”


Jack paham apa maksudnya. “Apa karena perjodohan yang akan berlangsung jadi batal? Aku mengerti, mungkin Raja Darrius merasa dipermainkan oleh Kerajaan Foxion. Aku jadi ikut merasa bersalah, karena sejak awal Raja kami yang meminta untuk mengadakan perjodohan dengan Putri dari Kerajaan Oxra.”


Putri Ren segera menggelengkan kepala agar tak membuat Jack khawatir. “Tapi sekarang keadaan sudah membaik. Semenjak aku mengatakan ...”


Mendadak gugup, Putri Ren menunduk sambil menggigit bibirnya. “... Aku mencintai pria lain, Ayahku mencoba untuk mengerti.”


Ada perasaan lega yang timbul dari dalam diri Jack, ia pun tersenyum. “Syukurlah. Aku berharap kau mendapat pasangan yang lebih baik, dan itu akan menjadi cinta sejatimu.”


“Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, pria yang kau cintai itu dari Kerajaan mana? Atau mungkin dari bangsamu sendiri?” tanya Jack kemudian, sedikit merasa penasaran.


“E-eh, itu...” Putri Ren sulit mengontrol perasaan yang menggebu dalam dada, bingung harus menjawab apa. Sehingga kepalanya terus tertunduk tanpa mampu menatap Jack.


Tidak mungkin bukan jika dirinya mengakui bahwa pria yang dicintainya adalah Jack sendiri?


Tak lama, suara tawa pun terdengar dari pria berwajah pucat itu. “Kau tidak perlu menjawab kalau kau tidak mau, Putri Ren. Aku tidak akan memaksa.” Matanya perlahan terpejam, punggungnya menempel pada sandaran ranjang.


Sambil memainkan jari jemari di atas paha, Putri Ren berusaha mengatakan sesuatu. “Dia bukan pria dari kalangan spesial yang memiliki posisi terpandang, terlebih usia kami terpaut cukup jauh. Tapi tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padanya.”


Jack angguk-angguk, matanya masih tertutup. “Itu adalah arti jatuh cinta sesungguhnya.”


Karena Putri Ren tidak tahan didesak rasa penasaran, jadi ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya. “Eum, kalau kau bagaimana, Jack?”


“Aku?” Kelopak mata pria itu perlahan terbuka, tapi tidak menoleh pada Putri Ren yang setia duduk di samping ranjangnya.


“Ya, umurmu sudah cukup matang untuk menikah dan memiliki keturunan. Apa kau diam-diam menyukai salah seorang gadis?” Mungkin agak lancang, tapi Putri Ren tidak mau kehilangan kesempatan.


Tidak langsung menjawab, Jack malah menggelak tawa. “Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Menikah dan memiliki keturunan, sepertinya tidak akan pernah terjadi dalam hidupku.”


“Eh? Ke-kenapa?” Putri Ren kelabakan, terkejut sampai matanya mengerjap berulang kali.


Bahu Jack menggedik bingung. “Tidak ada alasan. Aku hanya tidak ingin. Aku sudah pernah merasakan bagaimana mengasuh seorang anak. Itu sudah cukup. Terlebih, aku masih memiliki tanggung jawab pada negeri ini.”


“... Orang sepertiku, tidak layak memiliki kehidupan seperti itu. Menyebarkan dan mengembangkan ilmu sihir pada keturunan-keturunan siluman rubah yang lain, akan kutuntaskan tugas itu sampai aku tak lagi bernyawa,” tutup Jack dengan serius.


Masih agak terkejut, Putri Ren nekat menanyakan hal lain lagi pada Jack. “Apa itu berarti kau tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun?”


Kali ini Jack membentang senyuman yang menggambarkan kesenduan yang mendalam. “Dulu, dulu sekali. Aku pernah. Tapi sayangnya aku tidak seberani Lynx yang mampu memperjuangkan cintanya dengan begitu hebat.”


“Karena aku tidak cukup berani, aku kehilangan cinta pertamaku. Dia pergi dan tak pernah bisa aku temui lagi. Dunia kami terlalu berbeda, sampai aku berpikir rasanya tak mungkin bisa untuk bersama. Tapi melihat kegigihan Lynx saat ini dalam memperjuangkan cintanya, aku merasa telah kehilangan kesempatan saat dulu.”


Sakit. Rasanya nyeri yang menguar dalam dada membuat Putri Ren sulit untuk bernafas. Tapi dalam situasi ini, ia tak mungkin menunjukan hatinya yang terluka begitu kentara dihadapan Jack.


Layu sebelum mekar, mungkin itu akhir dari cinta dalam diam yang dilakukan oleh Putri Ren. Diam-diam menganggumi, jatuh cinta lalu harus kandas seperti ini. Belum sempat diutarakan, Putri Ren sudah merasa cintanya ditolak.


Jack tersenyum hampa saat mendaratkan pandangannya pada Putri Ren. “Kau tahu, Putri? Cinta seseorang bisa habis pada orang lama dan sisanya hanya untuk melanjutkan hidup, itu benar adanya.”


“... Aku tidak punya keinginan untuk jatuh cinta lagi. Bahkan pada lembaran baru dalam hidup aku menulis, sejatinya aku tak pernah merasakan jatuh cinta.”

__ADS_1


***


__ADS_2