Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 43 - Meminta Kesempatan.


__ADS_3

Mengintip sedikit melalui celah pintu dari ruangan lain, Hazel diberitahu oleh Aluka kalau ternyata pagi ini Putri Ren dari Kerajaan Oxra datang. Akhirnya Hazel bisa melihat bagaimana rupa wanita yang sempat akan dijodohkan dengan Lynx.


“Eh? Ular yang melingkar di lehernya itu ular asli? Rasanya geli sekaligus menakutkan. Lidah ularnya menjulur-julur,” ucap Hazel, bahunya bergidik merinding.


Aluka tertawa. “Tenang. Itu tidak berbahaya. Karena Putri Ren itu sudah seperti pawangnya, atau bagian dari ular itu sendiri.”


Hazel tersenyum tipis. Ia jadi menyadari betapa cantiknya Ren. Cara berjalannya yang anggun, suaranya yang lembut, serta kecantikan wajahnya yang seolah unreal itu membuatnya kehilangan percaya diri.


“Ada apa, Hazel? Kau akan bergabung dengan mereka. Sebelum Raja datang, lebih baik kau diam di sini dulu,” tegur Aluka karena melihat Hazel melamun tiba-tiba.


“Sepertinya aku tidak akan bergabung dengan mereka.” Hazel tampak lesu, merasa tidak pantas jika bergabung dengan mereka di sana.


“Lho, ada apa? Bukankah sebelumnya sangat bersemangat? Kau sudah aku dandani dengan cantik begini, bagaimana bisa kau tidak ingin menunjukkannya pada mereka,” keluhnya, tubuhnya berpindah untuk berhadapan dengan Hazel.


Hazel menghembuskan nafas, kepalanya tertekuk ke bawah. Aluka sepertinya paham apa yang membuat Hazel jadi seperti ini. Sebagai sesama perempuan, meski dengan jenis yang berbeda, Aluka seolah bisa membaca pikiran Hazel hanya dengan melihat gelagatnya.


“Sebelum bertemu denganmu, Kak Lynx sudah lebih dulu bertemu dengan Putri Ren. Tapi pada akhirnya dia memilihmu, lalu kenapa kau malah seperti ini? Semua perempuan cantik dengan caranya sendiri, tidak bisa dipandang oleh satu sisi saja.”


Aluka menyentuh pipi Hazel, membuat tatapan wanita itu kembali tertuju padanya. “Jangan khawatir. Perlihatkan dirimu yang percaya diri pada semua orang. Tidak usah takut untuk berekspresi dan mengeluarkan pikiranmu, selagi ada Kak Lynx, dia akan selalu ada dipihakmu.”


Meski tahu gadis itu lebih muda darinya, tapi Hazel merasa ucapan yang dikeluarkannya berhasil membangkitkan semangat yang sempat layu. Benar apa yang dikata Lynx, bahwa Aluka berbeda dengan si kembar.


***


Semua anggota keluarga Kerajaan sudah berkumpul di ruang makan. Meja panjang lengkap dengan kursi yang berjejer sudah hampir terisi semua. Beberapa hidangan sudah ditaruh secara rapih oleh beberapa pelayan.


Di saat semua orang memakai pakaian rapih untuk mencerminkan dirinya sebagai seseorang yang terpandang, Lynx dengan santai memakai pakaian lusuh, sudah seperti penduduk yang tinggal di bawah tanah.


“Ini hari terakhirmu bukan? Kenapa pakaianmu begitu? Semua makanan yang dihidangkan pagi ini adalah kesukaanmu. Sebagai Raja sekaligus ayah yang baik untuk anaknya, aku membantumu untuk menciptakan hari yang indah sebelum kau benar-benar pergi dari dunia ini,” komentar Raja Arandelle pada putra sulungnya.


Lynx berdecih. “Aku tidak akan mengambil pilihan yang kau berikan.”


Jack berdeham, mencoba membuat situasi di sini lebih kondusif. Tidak ingin pagi ini sudah diisi keributan. Terlebih, Putri Ren sedang berkunjung ke sini. Tidak pantas rasanya jika sampai berdebat di depannya.


“Kenapa tidak dibahas nanti? Sekarang kita akan sarapan bersama. Tidak baik banyak bicara ketika sedang makan. Setelah acara sarapan selesai, baru kita bahas kembali permasalahan yang belum tuntas. Tentunya tidak dihadapan Putri Ren,” papar Jack.


Raja Arandelle tersenyum licik. “Memangnya kau pikir apa alasanku mengundang Putri Ren datang ke sini? Aku hanya ingin membuat Lynx mengerti, perempuan yang ia tolak lebih baik dari pada manusia rendahan itu.”


“Tutup mulutmu!” teriak Lynx, tidak suka jika ada orang yang membawa-bawa Hazel dalam pembicaraan ini.


“Tu-tunggu. Boleh aku ikut berbicara?” Ren mengacungkan tangan, melihat satu per satu wajah orang-orang yang duduk secara berhadapan di satu meja panjang.


“Aku tahu kalau Pangeran Lynx tidak menyetujui perjodohan, dan aku pun tidak memaksa. Kedatanganku ke sini hanya untuk menghormati permintaan Raja. Dan kalau tidak salah dengar, tadi Raja menyebut manusia? Memangnya ada manusia di sini?”


“Ada, aku manusia yang kau maksud.” Suara lain tiba-tiba menyahut, orangnya tidak ikut duduk dalam perkumpulan mereka. Dia datang dari arah pintu yang perlahan terbuka lebar, menampilkan seorang wanita cantik dengan gaun indahnya.


Atensi semua orang jadi teralihkan padanya. Terutama Lynx, ia seketika berdiri dari tempat duduk. Melihat kalau Hazel datang, ia tidak sendiri karena ditemani Aluka yang berjalan di belakang.


“Hazel?”

__ADS_1


Jack yang duduk di samping Lynx langsung menahan lengannya, memintanya untuk tetap diam di tempat tanpa perlu menghampirinya.


Karena itu pula Lynx jadi menatap Jack. “Bisa kau pindah tempat duduk? Aku ingin Hazel duduk di sampingku, kau bisa duduk di sebelahnya.”


Jack memiringkan kepala, sesaat ekor matanya melirik ke berbagai arah untuk melihat ekspresi orang-orang. Mereka tampak tenang, tapi bisa terbaca dengan jelas sorot mata mereka mengisyaratkan sesuatu.


Karena tak mau membantah dan pada akhirnya membuat keributan, Jack memilih untuk menggeser bokongnya untuk mengosongkan kursi yang saat ini di tempatinya.


“Kau lihat itu, Putri?” Raja Arandelle langsung bersuara, mengambil alih perhatian seluruh orang. Sehingga banyak pasang mata yang tertuju padanya.


“Anak sulungku sudah tergila-gila dengan manusia itu. Dia kabur ke dunia manusia hanya untuk membawa bencana. Rela melanggar aturan, bahkan berani menentang ayahnya sendiri,” tandasnya dengan lirikan mata yang tajam, fokus menghunus Lynx.


Tanpa mau mendengarkan, Lynx mengulurkan tangan pada kekasihnya agar berjalan ke arahnya. Membantu Hazel duduk di sampingnya dengan hati-hati. Sementara Aluka berada di samping Jack, duduk paling ujung.


Posisi duduk mereka satu baris memanjang diisi oleh Lynx, Hazel, Jack dan terakhir Aluka. Sementara di depan sana Lynx berhadapan dengan Ren, di sampingnya ada San dan Sen. Sedangkan Raja Arandelle berada di sebelah Ren dan Lynx, tepatnya di tengah-tengah barisan.


Ibunda atau Ratu mereka tidak datang, atau mungkin sengaja membiarkan Ayah dan anak itu menyelesaikan permasalahannya secara pribadi. Sejauh ini sosok mereka belum terlihat.


“Dan lebih parahnya lagi, dia bahkan sudah mencuci otak si bungsu, Aluka. Dia berani-beraninya membantu manusia itu. Memberinya pakaian bagus dan didandani seperti itu.” Raja Arandelle kembali menyinyir.


“Mau didandani seperti apa pun, tetap saja dia itu manusia rendahan. Kecantikannya tidak bisa mengalahi Putri Ren. Aku heran, kenapa Lynx bisa terpincut oleh wanita sepertinya?” tambahnya dengan tawaan meledek.


Habis sudah. Hazel dipermalukan habis-habisan oleh Raja Arandelle atau bisa dianggap calon mertuanya sendiri. Semua orang mendengar, seolah saat ini semua orang sedang menatapnya dengan tatapan jijik.


“Cukup!” geram Lynx, dia menggebrak meja.


San dan Sen yang sebelumnya tampak menikmati makanan secara khidmat sambil menyimak obrolan, kini mulai terganggu. Secara kompak mereka mendesis sembari memberi tatapan maut, seperti bersiap untuk menyolot juga.


“Bahkan kau menjadi pembangkang hanya untuk manusia itu?” celetuk San, tatapannya menajam.


“Diam! Aku tidak sedang berbicara denganmu,” tepis Lynx dengan wajah ketusnya.


Hazel berusaha meredakan emosi Lynx yang sudah menggebu-gebu. Menggenggam jemari panjang dan tebal itu, lalu membisikkan kata-kata penenang. Tapi sepertinya sudah terlanjur, Lynx bahkan tak mengalihkan pandangan pada Hazel.


“Mari aku perjelas.” Lynx membusungkan dada, menggerakan bola matanya untuk mengabsen satu per satu wajah orang-orang yang menatapnya saat ini.


Setelah menatap mereka, Lynx kembali mendaratkan pandangannya pada Raja Arandelle. “Aku akan mengajukan kesempatan. Aku tidak akan mengambil pilihan yang kau berikan, Ayah.”


“Lalu?” Raja Arandelle bertopang dagu, memaksakan diri untuk tetap mendengarkan ocehan si sulung.


“Aku mengerti tentang rencanamu yang ingin menjodohkanku dengan Putri Ren hanya karena ingin mendapatkan keturunan yang bisa menghasilkan warna mata sepertiku. Tapi coba dipikirkan kembali, apa itu yakin akan berhasil? Atau pada akhirnya hanya membuang-buang waktu?”


“Kudengar kau akan melantik San untuk menjadi penerusmu dan menjadi pemimpin di negeri ini. Lalu kenapa kau masih mengharap sebuah keturunan dariku? Kalau hanya ingin keturunan, Hazel, kekasihku itu saat ini tengah mengandung anakku.”


Tercengang. Mulut Raja Arandelle terbuka dengan memunculkan ekspresi shock. Bukan hanya Raja, tapi beberapa orang yang memang belum mengetahui kabar kehamilan Hazel ikut terkejut.


“Kenapa? Menurut Ash, sang penjaga mata air kehidupan, alasan kenapa Hazel bisa masuk ke dunia ini karena ada janin yang hidup di rahimnya,” sambung Lynx untuk menjawab rasa terkejut mereka.


Lynx menoleh pada Hazel, membalas genggaman dan memintanya untuk ikut berdiri.

__ADS_1


Mewakilkan kekasihnya yang sudah berkata panjang lebar sejak tadi, Hazel mendadak ingin berbicara juga, “Kami saling mencintai. Sudah berjanji untuk hidup bersama. Terlepas dari perbedaan kami, apa itu sebuah masalah yang perlu dibesar-besarkan?”


“Aku hanya manusia biasa. Tidak punya kuasa atas apa pun. Berbeda dengan kalian yang bisa mengendalikan sihir, atau kemampuan hebat lainnya. Jadi, kenapa kalian sangat membenci manusia? Aku bahkan bisa mati dengan mudah di tangan kalian, lalu kenapa kalian merasa seolah aku ini berbahaya?”


Raja Arandelle tertawa, disambung dengan mereka yang berpihak padanya untuk ikut tertawa juga. Tidak dengan Ren, Putri cantik dengan ular yang melingkari bahunya itu justru menyimak dengan baik gerak-gerik Hazel.


“Kau belum menceritakan padanya, Lynx?” tanya Raja Arandelle setelah tawanya menghilang.


Dengan tegas Lynx menanggapi, “Dia berbeda dengan manusia yang menjadi musuh kita. Jangan hanya karena satu orang, kau malah membuat yang lainnya terkena imbasnya juga. Jelas kalau Hazel tidak sama dengan manusia itu.”


Hazel kurang mengerti arah pembicaraan mereka, tapi sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi antara manusia dan siluman rubah hingga membuat keadaan jadi seperti ini. Memunculkan semacam trauma bagi siluman rubah terhadap manusia.


“Itu benar, Ayah. Hazel tidak seperti manusia yang menjadi musuh kita. Dia baik dan aku merasakan kalau tidak ada hal yang mengganjal atau pun perasaan negatif saat berada didekatnya,” sahut Aluka, memberi suara untuk berpihak pada sepasang kekasih tersebut.


Mendegar pernyataan itu, Sen lantas menanggapi, “Tch, kau itu masih kecil. Jangan terlalu mudah menilai seseorang. Manusia yang dulunya datang untuk menghancurkan kita, bukankah terlihat manis diawal? Dan pada akhirnya dia menjadi pengkhianat!”


San mengangguk sambil menjentikkan jari, setuju dengan saudara kembarnya. “Itu benar. Manusia itu sama seperti kita yang hidup berkelompok. Selayaknya Kerajaan Maggie, semuanya pasti memiliki pikiran yang sama. Ingin menghancurkan kita. Bedanya, manusia tidak melakukannya secara terang-terangan.”


Lynx kembali menanggapi, tidak mau pembahasan ini menjadi menjalar ke mana-mana. “Aku yang akan bertanggung jawab. Aku bisa menjamin kalau Hazel tidaklah seperti itu. Kalau sampai Hazel membuat bahaya terhadap negeri ini, aku akan rela dihukum, bahkan aku sanggup membunuh diriku sendiri semisal itu terjadi.”


Diam. Semuanya tidak ada yang menyela atau menyahut lagi. Sedang menimang janji yang Lynx katakan barusan.


“Kembali pada pembahasan awal, seperti yang sudah aku bilang, aku tidak akan mengambil pilihan apa pun yang sudah Ayah berikan. Tapi sebagai gantinya, tolong berikan aku kesempatan sekaligus kepercayaan untuk menjadi panglima perang saat melawan Kerajaan Barney nanti.”


Penjelasan Lynx tadi membuat semuanya mengerutkan dahi, begitu pun dengan Hazel. Mereka bertanya-tanya, apa yang membuat Lynx berpikir untuk melakukan hal membahayakan tersebut?


“Kau tidak salah bicara?” Raja Arandelle mencoba memastikan.


Lynx yang sudah teguh pendirian menganggukan kepalanya. “Tidak. Aku serius dengan ucapanku. Jadikan aku sebagai panglima perang. Mengingat kita belum punya persiapan yang matang, aku yang akan menghandle semua tugas.”


“Jangan berlagak sok penting dan sok berguna,” timpal San begitu menohok, membuat Lynx menatapnya dengan cepat.


“Kau pikir kau itu siapa? Apa yang bisa kau gunakan saat berperang nanti? Mengendalikan sihir saja kau tak mampu,” sindirnya dengan tawa mengejek.


Tapi Lynx tidak tersinggung. Dia kembali menjawab dengan lantang, “Tenagaku. Juga kekuatan fisikku. Bukankah itu sudah cukup menjelaskan? Ingat bagaimana aku melukai matamu sampai kau cacat begitu?”


Tahu kalau San merasa tersinggung, Sen segera menanggapi karena tak mau kalah. “Kalau fisikmu kuat tapi otakmu dangkal apa mungkin bisa membawa kemenangan? Ingat, jumlah pasukan kita jauh lebih sedikit dari mereka.”


“Wow, pedas sekali bicaramu. Tapi tidak apa-apa. Dengan bantuan Jack, orang yang sangat aku percayai, aku akan membuktikan kalau aku mampu membawa kemenangan untuk Kerajaan Foxion!” tekad Lynx dengan semangat yang membara.


Di sisi lain, Jack yang sejak tadi mencemili makanan secara diam-diam seketika merasa tersedak saat namanya disebut dalam pembicaraan.


“Eh? Kenapa aku?” Telunjuk Jack mengarah pada dirinya sendiri, merasa kebingungan.


“Baiklah. Lakukan apa yang kau mau. Tapi ingat, ini kesempatan terakhir untukmu. Kalau kau sampai gagal, bukan hanya dirimu yang hancur tapi seluruh penduduk di negeri ini juga. Jadi selamat memikul beban yang berat,” putus Raja Arandelle di tengah-tengah pembicaraan mereka.


Merasa tak terima karena Lynx mendapat posisi penting, San dan Sen langsung beranjak dari kursi. Ingin melakukan pemberontakan.


“Mana bisa begitu? Dia itu rubah bodoh, tidak berguna. Jangan diberi tanggung jawab untuk melakukan hal yang di luar kendalinya. Coba pikirkan lagi, Ayah,” sela San tidak terima.

__ADS_1


“Siapa yang tahu? Kita lihat saja nanti. Karena dia tidak berguna, itu sebabnya dia harus diberi tanggung jawab. Kita lihat kemampuannya sejauh mana,” balas Raja Arandelle sambil bangkit dari kursi, bersiap meninggalkan ruang makan.


***


__ADS_2