Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 28 - Wujud Yang Berbeda.


__ADS_3

Mencoba berpikir secara cepat untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang sudah ada di depan mata, Hazel hanya terpikir satu cara. Selain kabur sebisa dirinya, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.


Lalu usaha melarikan diri seperti apa yang terlintas dalam pikiran Hazel?


Dengan secepat kilat, juga sekuat tenaga yang tersisa, Hazel merentangkan kedua tangan sambil sedikit dihentakan. Berhasil menyentuh, bahkan memberi efek yang lumayan besar pada dua pria di belakang tubuhnya.


Tak sampai di situ, karena tak mau membuang-buang waktu, satu detik yang berharga Hazel gunakan untuk menginjak masing-masing kaki pria yang masih belum diketahui macam apa rupa mereka.


Hingga ringisan terdengar nyaring, barulah Hazel membungkukkan tubuhnya untuk masuk ke dalam celah di antara tubuh kedua pria yang masih mengaduh kesakitan. Sekilas Hazel melihat bagaimana perawakan dua orang pria yang dimaksud pengancam sebelumnya.


Yang satu tambun dengan perut buncitnya dan satu lagi terlihat tinggi dengan tubuh besarnya. Masing-masing terlihat menyeramkan, tapi sepertinya ekspektasi Hazel terlalu tinggi. Tenaga mereka dan kefokusan dari dua orang itu sangatlah lemah. Dikecoh sebentar saja sudah kelabakan.


Membuat si pengancam yang terlihat terkejut karena Hazel berhasil kabur langsung membulatkan mulut dengan kedua mata yang melotot sempurna. Tak lama sebuah umpatan yang memekakan telinga terdengar begitu lantang.


“Dasar bodoh! Kenapa kalian mengeluh hanya karena diberi pukulan kecil oleh gadis itu? Lemah, tidak berguna! Percuma aku membayar kalian untuk melakukan ini!” ujarnya marah pada dua orang bawaannya.


“Ma-maafkan kami, Bos.” Salah satu dari mereka berbicara, terlihat merasa bersalah.


“Jangan hanya meminta maaf, cepat kejar dia! Aku tidak mau dia lolos lagi kali ini. Sebelum dia tertangkap, jangan harap hidup kalian bisa tenang. Kepala kalian yang akan menjadi jaminannya,” suruhnya dengan sarkas, wajahnya memerah karena marah.


“Ba-baik, Bos!” seru mereka kompak.


Karena sudah kehilangan kepercayaan, ia memutuskan untuk ikut mengejar Hazel. Masih tidak bisa dipercaya gadis itu bisa lolos dengan mudahnya. Padahal belum ada lima menit.


“Sudah seharusnya aku tidak terlalu meremehkan gadis sialan itu. Sejak awal aku sepatutnya menggunakan cara keji. Tidak peduli sekali pun aku harus menculiknya secara paksa dan tidak manusiawi,” gumamnya di sela-sela langkah kaki cepatnya.


Sementara Hazel, dirinya masih berusaha berlari. Pendengarannya samar-samar menangkap suara langkah kaki dan teriakan beberapa orang yang mengejarnya di belakang sana.


Tak peduli banyak peluh yang sudah mengucur membasahi tubuh, yang ada dalam otak Hazel hanyalah melarikan diri dari kejaran orang-orang itu. Hazel tidak bisa membayangkan jika dirinya bisa berhasil tertangkap, entah perlakuan menjijikkan dan sesadis apa yang akan pria itu lakukan.


Lelah. Nafasnya mulai tersengal-sengal.


Tapi Hazel tidak boleh berhenti. Sampai akhirnya Hazel berada di jalanan yang mulai ramai. Tempat yang sebelumnya sudah dirinya lewati. Percuma berteriak meminta tolong, Hazel tahu orang-orang yang sibuk dengan kebahagiaannya masing-masing tidak akan mau repot mengurusi masalah orang lain.


“Kau pikir bisa melarikan diri? Kali ini aku akan mengikat tubuhmu, dan akan dipastikan kau tidak akan lari ke mana-mana lagi. Jadi menyerahlah!”


Kecaman yang melengking itu tidak Hazel hiraukan. Ia hanya fokus berlari. Orang-orang berlalu lalang di sisi jalanan mulai mengamati, mungkin bertanya-tanya kenapa ada gadis yang berlarian ketakutan di tengah-tengah malam kebahagian.


Buntu.


Ya, Hazel yang sejak tadi hanya fokus berlari akhirnya menghentikan kedua kakinya yang gemetaran lemas. Bukan karena menyerah dan dengan suka rela menyerahkan diri pada mereka.


Tapi Hazel tidak bisa lari ke mana-mana lagi. Jalan di depannya adalah hutan belantara yang tidak mungkin bisa dimasuki oleh manusia. Hutan tak terjamah yang pastinya dipenuhi oleh binatang buas sangat menakutkan di malam hari.


Pikirannya semakin runyam. Sementara suara orang-orang yang mengejarnya kian mendekat. Hazel lagi-lagi tidak diberi pilihan. Untuk kesekian kalinya dengan terpaksa Hazel harus mengambil sebuah pilihan yang tiada duanya.


Sambil mengepalkan kedua tangan yang kini sudah menempel di depan dada, juga kedua mata yang terpejam sebentar, Hazel bergumam untuk meneguhkan hatinya yang sempat ragu.

__ADS_1


“Lebih baik aku mati dimakan oleh hewan buas dari pada harus tertangkap oleh orang-orang biadab itu!” Ya, Hazel berhasil meyakinkan diri.


Ia kembali berlari masuk ke dalam hutan gelap yang hanya disinari oleh bulan biru di atas sana. Cahaya biru terang yang cantik menelusup ke celah-celah pepohonan yang rimbun. Sedikit memberi penerangan di dalam hutan itu.


“Sial. Tidak ada jalan lagi! Apa mungkin gadis itu nekat masuk ke dalam hutan itu?” Salah satu dari dua pria yang mengejar Hazel tadi bertanya.


Temannya menyahuti, “Apa kita perlu ikut bertaruh nyawa ikut masuk ke dalam hanya untuk mengejar gadis itu? Oh ayolah, jangan gila.”


Tapi tiba-tiba suara lain ikut masuk ke dalam obrolan mereka, membuat keduanya meneguk ludah secara bersamaan.


“Kalian pikir siapa yang berhak memutuskan? Cepat masuk dan kejar dia! Kalian tidak lupa dengan ancamanku sebelumnya kan? Masuk atau aku penggal kepala kalian?”


Mereka menengok dengan tubuh yang gemetar. Lalu mengangguk patah-patah. Dengan posisi yang terpojok ini, mereka mau tak mau harus menuruti perintah tuannya.


“Aku juga akan ikut masuk. Mengawasi kalian dari belakang,” tambahnya sambil menyalakan sebuah obor yang sebelumnya sudah ia curi dari orang tak dikenal.


Di dalam hutan yang gelap dengan sedikit penerangan, banyak binatang malam yang bersuara saling bersahutan. Juga ada kunang-kunang dengan perpaduan warna kuning dan hijau, menyala terang begitu cantik.


Hazel mulanya tidak takut sama sekali saat berjalan melewati jalanan yang licin dan hampir terpeleset beberapa kali, juga tersandung akar pohon hingga sendal yang digunakannya putus. Membuatnya harus berjalan tanpa alas kaki.


Ia semakin menyatu dengan alam yang terlihat mengerikan di malam hari. Entah ada apa di dalam semak-semak yang tampak bergoyang secara tiba-tiba tanpa ada angin yang menyapu. Pikiran Hazel jadi menduga-duga, meluncurkan rasa takut yang berlebih.


Glek.


Tidak bisa dihitung sudah berapa kali gadis dengan penampilan yang kacau itu meneguk ludah sambil celingukan ke kanan dan kiri, memastikan kalau dirinya aman dari jangkauan binatang buas yang kapan saja bisa menerkamnya.


“Hei, apa kau sudah melihat keberadaan gadis itu?”


Menyusut keringat dingin yang sudah memenuhi pelipis dan pipi, Hazel merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Dalam ketakutan yang mendera, Hazel dipaksa memutar otak untuk mencari jalan keluar.


Harus sembunyi dimana?


Apakah masih ada waktu yang tersisa sampai akhirnya mereka semua menyerah dan pergi dengan tangan kosong?


Atau pada akhirnya Hazel berhasil mereka tangkap dan dibawa secara paksa?


Banyak pertanyaan yang bergulir dalam pikiran gadis berambut gelombang berwarna oranye itu. Semakin dipikirkan, otaknya semakin sulit dipakai untuk berpikir secara positif dan rasional.


Hutan belantara yang terlihat luas, ternyata Hazel merasakannya seperti seukuran kamar di rumahnya. Bagaimana bisa orang-orang itu bisa tahu kemana dirinya pergi?


“Perhatikan baik-baik. Amati jejak kakinya, ikuti saja dan jangan sampai keliru,” interupsi sang pengutus pada dua orang suruhannya.


Ternyata Hazel tanpa sadar dan tidak terpikirkan sama sekali kalau jejak kakinya dipakai acuan bagi orang-orang itu untuk membuntuti. Pantas saja mereka begitu mudah mengekori.


“Astaga, aku lelah sekali. Haruskah aku istirahat sambil bersembunyi di semak-semak? Semoga saja mereka tidak tahu dimana keberadaanku,” lirih Hazel seraya menyandarkan punggungnya pada pohon besar yang tertutup oleh semak tinggi.


Belum ada beberapa menit lenggang, Hazel merasakan kenyamanan karena bisa beristirahat sejenak, jantungnya kembali berdetak tak normal tatkala pendengarannya menangkap suara orang-orang yang mengejarnya sudah berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


“A-apa? Tidak mungkin mereka bisa tahu aku melintasi tempat ini,” gumam Hazel dalam hati.


Sampai pada akhirnya Hazel tahu apa alasan mereka bisa mengetahui tempat yang sudah dirinya lewati secara spesifik. Di detik itu juga Hazel merutuki dirinya sendiri atas kebodohan yang tidak disadari.


“Jejak kakinya berhenti di sini. Apa mungkin dia bersembunyi didekat sini?” Pria tambun dengan perut yang maju itu mulai menerka.


“Ya, itu pasti. Dia ada didekat sini,” sahut yang lainnya.


“Cari dan periksa semua semak-semak yang ada di sini!” perintah itu ditujukan pada mereka berdua.


Hazel yang mendengarnya langsung memejamkan matanya dengan kuat, tubuhnya semakin merungkut dibalik semak-semak tinggi. Jika kabur pada saat ini, Hazel sudah kehabisan tenaga.


Dan saking takutnya, Hazel sulit untuk bernafas.


Tak terasa air matanya mengalir, meluncur melintasi kedua pipinya yang pucat. Isak tangis yang akan pecah sebisa mungkin dirinya tahan.


Tapi beberapa menit menyisakan ketegangan, sialnya dewi keberuntungan tidak berpihak padanya. Ya, Hazel tahu seumur hidupnya hanya kesialan yang melekat.


“Lihat! Aku menemukannya! Dia ada di sini!” teriakan nyaring itu membuat dua orang di sana yang masih mencari-cari langsung beranjak padanya dengan tergesa.


Berusaha mati-matian untuk melarikan diri, ternyata ujungnya ia tertangkap juga. Karena tak memiliki tenaga untuk bergerak lagi, Hazel akhirnya pasrah dengan apa yang akan terjadi. Tapi dalam pikirannya mendadak memunculkan satu nama.


Lynx.


Dalam kemustahilan ini, Hazel masih berharap pria itu akan datang menolongnya.


“Dasar tikus nakal, kau memang menyusahkan.”


Mereka berdua membantu Hazel berdiri. Begitu kuat memegangi kedua lengan agar tidak kabur atau membuat perlawanan. Tubuh Hazel yang sudah lemas, tak mampu melakukan apa-apa.


Pria yang sudah lama mengincar Hazel, menyeringai tajam sambil memandanginya. Lalu menyentuh dagu Hazel sambil diangkat tinggi. Menatap penuh kepuasan.


“Mulai saat ini, kau akan menjadi milikku sepenuhnya,” ucapnya pelan tapi terselip hasrat yang menyala-nyala.


“Ayo bawa dia. Pegang tangannya dengan kuat. Jangan hiraukan jika dia mengaduh kesakitan,” titahnya sambil berjalan mendahului.


Ketika beberapa orang itu mulai membawa Hazel pergi, berniat meninggalkan hutan yang tak terjamah, mendadak tanpa di sangka-sangka, sebuah serangan yang entah datang dari mana muncul begitu saja.


Bukan melalui benda atau sesuatu yang lain, melainkan seseorang yang datang menggunakan akar pohon menggelantung untuk terbang seperti tarzan. Menendang tengkuk mereka satu per satu sampai tubuh mereka tersungkur ke tanah yang kotor.


Hazel yang tidak tahu kenapa orang-orang yang membawanya mendadak terjatuh, langsung membalikan tubuhnya ke belakang. Hanya butuh satu detik Hazel membuat ekspresi terkejut saat melihat siapa pelaku yang menumbangkan orang-orang itu.


Tubuh kekarnya yang berotot, membentuk bidang-bidang sexy di dada dan perut sixpack-nya. Bak tarzan betulan, pria itu hanya menutupi bagian bawahnya menggunakan kain tipis yang melingkar di pinggang.


“Lynx?” panggil Hazel tidak percaya tanpa berkedip.


Bagaimana tidak percaya, di malam hari seperti ini pria itu tidak berwujud rubah. Selain itu, ada hal lain yang berbeda darinya. Kedua matanya yang berwarna aquamarine dan tanzanite sekarang sudah berubah menjadi merah gelap yang begitu mencolok, sangat menakutkan.

__ADS_1


“Kenapa kau ada di hutan ini?” Hazel kemudian bertanya, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.


***


__ADS_2