Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 48 - Ritual Pengorbanan Diri (2)


__ADS_3

Ketika menuju tengah malam, Lynx yang sudah menyetujui kesepakatan untuk melakukan ritual pengorbanan diri, langsung memapah diri ke taman belakang sendirian.


Suasana istana yang hening, sedikit gelap karena sebagian lampu-lampu sudah dimatikan. Temaram lampu taman menjadi penerangan yang bisa Lynx andalkan. Celingukan sebentar, Lynx tidak melihat siapa pun. Terkecuali para penjaga, itu pun mereka tak menyadari kehadiran Lynx.


Sebelumnya, Lynx memastikan kalau Hazel sudah tidur dengan nyaman. Ia melarikan diri dari kamar, meninggalkan kekasihnya seorang diri. Mungkin saat terbangun besok pagi, Hazel akan terkejut mendapati Lynx yang sudah kehilangan satu matanya.


“Jadi kau belum memberitahukan hal ini pada Hazel?” tanya Jack setelah mendengar pengakuan Lynx yang terdengar ambigu.


Sambil menahan senyum, Lynx mengangguk. “Dia sedang hamil. Aku tidak mau membebaninya dengan hal yang tak seharusnya dia pikirkan. Biarkan saja, ini sudah menjadi keputusanku. Mengorbankan satu mata, tak akan membuatku mati.”


Jack tersenyum sedih, sebenarnya ia tak sanggup jika harus melakukan ini. Untuk sosok sempurna seperti Lynx, rasanya terlalu jahat jika harus merusak keindahan yang sudah dititipkan pada sosoknya itu. Terlebih, warna mata Lynx sangat langka.


“Itu benar. Tapi kau akan cacat seumur hidupmu. Bukan seperti Pangeran San yang kehilangan fungsi dari matanya karena terluka, tapi kau benar-benar kehilangan bola matamu,” jelas Jack memberitahu.


Tapi karena dirinya sudah teguh dengan pendirian dan sudah bulat akan keputusannya, jadi Lynx tetap tidak akan mundur ketika ritual yang akan dijalani sudah ada di depan mata.


“Tidak apa. Aku yakin, cinta Hazel padaku tidak akan berkurang hanya karena aku hanya memiliki satu mata,” jawab Lynx sambil terkekeh.


“Baiklah kalau itu maumu. Aku sungguh kagum dengan kelapangan hatimu, tindakanmu ini patut diapresiasi.” Jack menepuk-nepuk singkat kepala Lynx, dalam wujud rubah ia terlihat sebesar ukuran serigala.


Sedangkan Jack, karena dirinya memiliki kemampuan sihir di atas rata-rata dari rubah yang lain, jadi untuk malam ini ia tidak berganti wujud menjadi rubah. Melainkan menjadi manusia seutuhnya. Di sekeliling tubuhnya dapat dirasakan ada sebuah energi aneh.


“Ayo masuk. Kita akan melakukannya di dalam.” Jack memandu, berjalan di depan, membukakan pintu untuk Lynx.


Pintu tersebut kembali ditutup rapat-rapat. Di dalam ruangan yang sempit dan dipenuhi oleh senjata-senjata tajam, hanya diterangi oleh lampu cempor yang dipasang di sudut-sudut ruangan.


Jack sudah merapihkan ruangan, menggeser setiap rak ke sisi-sisi tembok. Sehingga sebuah meja berukuran sedang bisa diletakkan di tengah-tengah ruangan. Ia menyuruh Lynx untuk berbaring di atas meja itu.


Beberapa kendi kecil yang berisi berbagai macam cairan dengan warna yang berbeda pula sudah Jack siapkan. Ia taruh didekat meja, memudahkannya untuk mengambil cairan tersebut.


“Tenang. Jangan takut. Melalui bantuan sihir, ini tidak akan terasa sakit. Cukup buka matamu, dan mulai berpikir tentang masa depan Kerajaan Foxion. Anggap dirimu pahlawan, bayangkan kau mampu memberantas mereka yang jahat menggunakan kemampuanmu sendiri.”


Jack mulai mensugesti Lynx, mencoba membawanya ke dalam alam bawah sadar. Perlahan-lahan, Lynx mulai terpengaruh. Meski kedua mata Lynx terbuka, tapi tatapannya terlihat kosong.


Rubah yang terbaring di atas meja itu sudah tak sadarkan diri. Tidak lagi bisa mendengar mantra komat-kamit yang dilontarkan Jack. Lynx sepenuhnya berada dalam dunia bawah sadarnya, mengkhayal menjadi MC yang membawa kedamaian untuk Kerajaan Foxion.

__ADS_1


Sihir yang dikendalikan Jack, mampu menggerakkan benda-benda di sekeliling. Saking kuatnya sihir yang dikeluarkannya, tanpa sadar ia menggetarkan atmosfer ruangan.


Lebih dari itu, dalam ritual yang dijalani penuh menggunakan sihir, tanpa disangka-sangka suara semacam ledakan terdengar sangat kencang. Membuat semua senjata yang tersusun rapih di rak, kini sudah berjatuhan ke sembarang arah.


Sudah berkeringat dingin, Jack sedikit tak yakin mampu menuntaskan ritual yang cukup menguras tenaganya. Akibat suara kencang tadi, telinga Jack pun terasa pengang. Jemari tangannya yang bergerak-gerak mengendalikan energi sihir, mulai terasa kram.


“Ayo, ayo, ayo. Sedikit lagi!” Jack berteriak dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.


Plop!


Bola mata milik Lynx yang indah itu mulai menggelinding dari tempat asalnya, keluar begitu saja seolah tanpa perlawanan. Dan kelopak mata yang kosong itu sudah tertutup.


Segera Jack ambil bola mata itu, ia genggam menggunakan sihirnya. Sangat terang, warna kebiruan itu membuat Jack terkesima. Tak mau terlena lebih lama, ia buru-buru memasukan bola mata itu ke dalam kendi kecil kosong yang sudah dilapisi oleh kain.


“Semoga perjuanganmu tidak sia-sia,” gumam Jack sambil memfokuskan pandangannya pada Lynx, ia mengusap wajahnya agar sebelah matanya ikut tertutup.


***


BOOM!


Tapi ia tidak merasakan apa-apa di sampingnya, saat dilihat ternyata Lynx memang tidak ada. Ia jadi kebingungan sendiri, mulai bertanya-tanya kemana perginya kekasihnya itu.


“Apa mungkin dia pergi berlatih lagi? Tapi itu tidak mungkin, ini waktunya dia untuk beristirahat,” ujarnya dengan nada pelan, terlihat gelisah.


Menuruni ranjang dengan hati-hati, menapaki lantai yang dingin menuju pintu, berniat untuk mencari keberadaan Lynx. Baru beberapa langkah ia keluar dari kamar, Hazel melihat suasana istana tampak riuh karena dipenuhi oleh rubah-rubah yang mengaum berisik.


Mungkin karena suara ledakan tadi, semua pun jadi terbangun. Mereka juga bertanya-tanya sambil mencari sumber dimana suara ledakan itu. Takut kalau ada serangan dadakan dari musuh yang memang sudah mengibarkan bendera perang sejak lama.


Saat akan menuruni tangga untuk berbaur dengan mereka, niat Hazel urung saat ada suara yang memanggil namanya. Membuatnya reflek langsung menengok untuk beradu pandang dengannya.


“Aluka?” Hazel menyipitkan matanya, melihat rubah kecil yang berjalan sedikit sempoyongan di bawah lorong yang remang-remang.


“Kau mau kemana? Jangan turun. Kalau kau takut, akan kutemani. Ayo kembali masuk ke kamar,” ajak Aluka, sengaja mencegah Hazel karena sebenarnya ia tahu apa yang akan dilakukannya.


“Tapi ... Bagaimana dengan Lynx? Dia tiba-tiba menghilang, padahal kami tidur berdua sebelumnya. Dia belum pernah seperti ini. Tidak mungkin juga dia berlatih di tengah malam. Aku akan memarahi Tuan Jack jika sampai dia membuat Lynx berlatih terlalu keras,” cerocos Hazel dengan satu tarikan nafas.

__ADS_1


Aluka terkekeh. “Kau itu terlalu khawatir, Hazel. Besok pagi kau akan melihatnya. Jadi sekarang kembali tidur, dan percayalah kalau Kak Lynx akan baik-baik saja. Dia hanya sibuk mengemban tanggung jawab untuk negeri ini.”


Hazel memasang wajah murung. Rasanya tidak adil, semakin hari waktunya bersama Lynx semakin menipis. Bahkan pernah selama beberapa hari tak bertatap muka. Tapi bagaimana pun juga ini adalah resiko yang harus Hazel terima sedari awal.


***


Sinar mentari mulai menyingsing ke atas cakrawala, mengganti langit gelap dengan cahaya terang benderang yang menyinari seisi bumi. Rubah yang masih terbaring di atas meja, perlahan tubuhnya bertransformasi menjadi manusia.


Jack yang terjaga di sepanjang malam, langsung menaruhkan satu setel pakaian di atas tubuh Lynx yang polos telanjang. Lalu menunggunya sampai membuka mata.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Akhirnya mata kanan Lynx mengerjap-ngerjap, beradaptasi dengan rangsangan cahaya di sekitar. Dahinya mengerut, tubuhnya mulai bangkit untuk duduk. Lalu menatap Jack di sampingnya yang tampak kelelahan.


“Bagaimana dengan matamu?”


Ditanya seperti itu, Lynx dengan segera menyentuh mata kirinya yang memang terasa aneh. Serasa ada yang hilang dari sana. Saat disentuh, itu memang kosong. Tapi tidak terasa sakit atau apa pun, seperti mati rasa.


“Sejauh ini tidak ada yang kurasakan. Hanya saja aku belum terbiasa dengan caraku melihat,” ungkap Lynx apa adanya.


Jack mengambil sesuatu untuk diserahkan pada Lynx. “Pakai ini untuk menutupi mata kirimu. Lalu kembalilah ke istana, temui kekasihmu. Jelaskan juga pada yang lain tentang kejadian semalam, aku yakin mereka pasti mendengar suara semacam ledakan dari sini.”


“Lalu Ibu akan tetap di sini?”


Dahi Lynx diberi sentilan oleh Jack, membuatnya mengaduh pelan.


“Berhenti memanggilku Ibu. Aku ini laki-laki yang menjadi pamanmu.”


“Kenapa kau baru protes sekarang?” desis Lynx seraya memberi tatapan sinis.


“Sudahlah, dari pada itu kau harus segera kembali. Aku tidak akan keluar dari sini sebelum aku menyelesaikan apa yang akan kubuat. Jadi sementara itu, jangan pernah kau temui aku dan beritahu juga pada yang lain untuk tidak ke sini,” alih Jack memperingati.

__ADS_1


***


__ADS_2