Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chap 77 - Kemenangan Ada di Tangan Siapa?


__ADS_3

Berlaga tuli, Raja Barney mengabaikan semua ucapan Lynx. Seluruh sindiran yang membuat harga dirinya terlihat rendah tak ia hiraukan. Ia masih sibuk mencari pedang yang ia pikir bisa menyelamatkan nyawanya yang sudah ada diujung tanduk.


Tapi sayangnya, usahanya harus berujung sia-sia. Karena ketika pedang yang tertimbun didalam reruntuhan mulai mulai muncul, bukan sebab berhasil diambil Raja Barney. Melainkan ada energi sihir yang membuat pedang tersebut keluar dan bergerak menghampiri Lynx.


Masih ingat? Tentang pedang Lynx yang mampu kembali layaknya sebuah boomerang, dan karena alasan itulah Lynx tidak merasa khawatir ketika pedangnya akan direbut oleh orang lain. Karena dirinya tahu, sejauh atau sengaja disembunyikan di tempat yang sulit diketahui sekali pun, pedang istimewa itu akan kembali padanya.


“Aku sedang mengajakmu bicara, dasar bodoh. Kenapa kau hanya diam? Kau sudah kehabisan kata-kata?” sarkas Lynx penuh penekanan, jarak antara tubuhnya dengan Raja Barney hanya tersisa beberapa centi saja.


Karena tubuh Raja Barney saat ini masih membungkuk, ia tidak beradu pandang dengan Lynx. Rahangnya ia rapatkan, kedua tangannya yang kotor oleh debu sudah dikepalkan. Dalam hati ia melontarkan sumpah serapah, memaki Lynx habis-habisan dan berharap bahwa dirinya bisa menghilang dari situasi ini.


Saat mendengar suara pedang yang ditarik keluar dari dalam tempatnya, Raja Barney reflek melotot. Bola matanya tampak akan loncat dari tempatnya saking terkejutnya. Benda tajam dan mengkilap itu ia yakini sudah ada tepat di depan wajahnya saat ini.


Lynx dengan santai mengarahkan pedang tersebut, ujungnya yang lancip siap mengenai nadi leher Raja Barney. Melakukan ancang-ancang sekaligus memberi gertakan agar pria itu semakin diselimuti rasa takut. Sebab melihat perubahan mental Raja Barney yang sekarang tampak menciut menjadi kesenangan tersendiri bagi Lynx.


“Jika kau terus diam tanpa mau berkata atau melakukan apapun, mari kita akhiri ini dengan cepat,” ujar Lynx kemudian. Pedang di tangannya semakin dekat ia arahkan pada leher Raja Barney, tersisa beberapa centi lagi untuk bisa menembus dan membelah urat kehidupan.


“Kau tahu? Tabiat burukmu yang selalu mencuri apa yang menjadi milik orang lain ternyata tak berubah. Mau sekuat apapun kemampuan yang dimilikimu untuk merebut pedang ini, maka akhirnya akan sia-sia. Dan untuk mengakhiri zaman penuh penderitaan yang kau ciptakan, hanya dengan cara mengirimmu ke neraka,” papar Lynx tegas dan tanpa ekspresi.


Sebenarnya Raja Barney bisa saja menggunakan kekuatannya untuk melawan Lynx, tapi ia merasa musuhnya tersebut tidak akan mudah dibuat lengah. Sehingga Raja Barney tidak memiliki waktu untuk bersiap-siap, selain itu tongkat sihirnya tidak berada dalam genggaman.


Bisa dikatakan Raja Barney cukup ceroboh, dirinya tak pernah menduga akan ada di posisi ini. Sehingga ia tidak punya persiapan apapun. Padahal sejak awal ia tahu, bahwa Lynx memiliki kemampuan yang tak boleh diremehkan.


Entah lupa atau memang tak mengira bahwa kemampuan Lynx bisa berefek begitu besar, Raja Barney hanya berpikir semua ini akan berakhir dengan mudah tanpa perlu repot-repot mengotori tangannya. Dan ternyata sekarang ia malah kerepotan sendiri.


Jauh sebelum peperangan kedua ini terjadi, kerajaan Maggie yang berada di bawah kendali Raja Barney belum bisa menyamai kekuatan sihir yang dimiliki oleh Kerajaan Foxion. Meskipun banyak para rubah inti yang mewarisi kekuatan paling besar bahkan bisa menguasai beberapa elemen di bumi sudah mereka culik, tetap saja penelitian yang dilakukan belum berhasil sempurna.


Atlas yang lebih unggul di bidang teknologi, tentu saja dimanfaatkan kemampuannya untuk membuat bangsa Anjing lebih maju dengan segala alat peperangan yang canggih. Bahkan semua istana mereka sengaja dibangun ulang agar terlihat lebih futuristik. Sehingga semua yang bersangkutan dengan Kerajaan Maggie bagaikan datang dari masa depan.


“Tunggu! Aku mohon, jangan bunuh aku,” pinta Raja Barney, tak disangka tubuhnya langsung merosot begitu saja untuk sujud di bawah kaki Lynx.

__ADS_1


Sebelah alis Lynx terangkat, menatap Raja Barney sambil menahan tawa. “Kau rela merendahkan dirimu sendiri hanya untuk memelas? Aku bisa menjadi kejam tanpa ingin mengasihani, jadi yang kau lakukan saat ini akan sia-sia.”


Tapi Raja Barney tak menyerah begitu saja, ia bahkan memeluk kedua kaki Lynx. Ini memang memalukan, tapi hanya dengan begini satu-satunya cara yang dapat ia lakukan dalam kondisi ini. Pria dengan jubah kebanggaannya tersebut tak lagi merisaukan soal harga diri.


“Aku akan menawarimu sebuah kesepakatan. Tapi tolong jangan bunuh aku. Di sini, aku mengaku kalah. Aku sangat bersedia jika hubungan antara kita bisa berdamai. Dalam artian, aku rela membantu kalian. Ini semua salahku, jadi aku akan bertanggung jawab,” ungkap Raja Barney, dari suaranya yang bergetar dia pasti amat ketakutan.


Lynx menyeringai, ia tidak semudah itu untuk dibodohi. Kakinya yang digelayuti oleh Raja Barney, sengaja ia gerakkan secara kasar. Membuat tubuh pria di bawah sana nyaris terjungkal.


“Kau pikir aku akan mempercayai tawaran kosongmu itu?” Sudut bibirnya yang menyungging mengeluarkan kekehan kesal.


Kepala Raja Barney menanggah, tubuhnya perlahan bangkit dari posisi sujud. Ia duduk bersimpuh sambil memasang ekspresi menyayukan hati. “Sungguh, aku bisa membantu kalian. Kau tahu? Istana Kerajaan Foxion sudah hancur, anak buahku yang melakukannya. Keadaan di sana pasti porak-poranda. Hancur dan banyak yang tidak bisa diselamatkan.”


Kedua manik Lynx lantas membulat seketika. Satu nama seketika terlintas dalam pikiran, Hazel, ya Lynx mengkhawatirkan kekasihnya. Ia tidak tahu dengan kabar hancurnya istana, selama ini dirinya hanya fokus untuk menyelesaikan tugas di sini.


Kembali melanjutkan ucapannya, Raja Barney menahan nafas sesaat sambil menurunkan pandangan, “Lebih dari itu, aku yang hilang kendali sempat ingin menculik wanita yang diduga adalah istrimu. Wanita itu tengah mengandung. Dan—”


“Apa?! Kau sudah gila?!” Lynx dengan cepat menyela, ia buta dalam sekejap, membangkitkan emosi dalam diri hingga menyulut sampai ubun-ubun. “Kenapa kau menyeret Hazel dalam permasalahan ini? Dan apa yang telah kau lakukan padanya? Sumpah demi apapun, aku tidak akan pernah memaafkanmu!”


“Tidak, tunggu dulu. Itu baru rencana awalnya. Tapi sungguh, wanita itu tidak pernah berhasil dibawa ke sini. Bahkan aku belum pernah melihat apalagi sampai menyentuhnya,” terang Raja Barney dengan sungguh-sungguh, kedua telapak tangannya ia kepalkan di depan wajah, keringat dingin memenuhi seluruh pelipisnya.


Emosi Lynx yang sudah mencapai ubun-ubun sedikit teredam, tapi tetap saja jiwa ingin membalaskan dendamnya begitu menggebu-gebu. Tangannya sudah gatal ingin menebas kepala pria dihadapannya saat ini. Tapi ia tahan sebentar karena takut melewatkan sesuatu yang penting.


“Seperti yang sudah kau ketahui, aku yang akan bertanggung jawab semuanya. Bukankah seluruh anggota keluargamu, wanita yang tengah mengandung anakmu, juga para rakyat Kerajaan Foxion yang tersisa membutuhkan tempat tinggal yang layak? Setelah peperangan ini usai, banyak luka dan trauma yang perlu diobati, mereka semua perlu tempat yang nyaman,” jelas Raja Barney, Lynx tak langsung berkomentar.


“Aku dan para pasukan kerajaan Maggie, mampu dan bersedia untuk membantu. Aku baru sadar bahwa seharusnya sejak awal tidak perlu melakukan peperangan, karena kita bisa menyatukan kekuatan kita tanpa perlu berpikir ingin menguasai satu sama lain,” tambahnya, dalam hati menyimpan harapan agar Lynx mau berbelas kasih.


Lynx diam mengamati, bukan karena sedang menimang keputusan sebab mulai goyah. Tapi ia melihat ada sesuatu yang ganjal. Pandangannya begitu awas, sehingga jari jemari Raja Barney yang tampak bergerak-gerak yang sengaja disembunyikan dibalik jubah besar tersebut bisa Lynx lihat.


“Mengapa kita tidak menciptakan kedamaian? Toh, kami pun di sini sudah hancur. Bangunan megah yang kami miliki sudah tak berbentuk lagi. Banyak alat canggih yang tak bisa digunakan kembali. Tapi jika kita saling membantu, maka dalam waktu jangka panjang—”

__ADS_1


“Jangan lengah!” panggil seseorang, memutus ucapan Raja Barney yang belum sempat dituntaskan.


Suara tersebut berasal dari arah samping, baik Lynx maupun Raja Barney sama-sama menoleh untuk melihat. Dengan pakaian lusuh dan disertai cucuran peluh di sekujur tubuh hingga kulitnya nampak mengkilap, Sen berdiri disamping reruntuhan, dadanya kembang kempis.


“Dia sedang membual! Dia sedang mencari cara untuk membuat celah!” tutur Sen sedikit berteriak, pandangannya berpindah pada Raja Barney yang saat ini tengah menahan geram.


Lynx ikut menatap Raja Barney. Memang sejak melihat tingkat pria itu yang begitu aneh—entah apa yang dia lakukan dibalik jubahnya tersebut hingga kedua tangannya tak bisa diam. Kecurigaan Lynx ternyata benar, pastinya Raja Barney sudah berupaya melakukan sesuatu.


Tak mau menyesal karena terlalu lamban mengambil keputusan, Lynx dengan cekatan mengacungkan pedangnya dan langsung ia arahkan pada leher Raja Barney. Dalam hitungan detik, kepala pria dengan mahkota itu sudah lepas dari tubuhnya.


Kepalanya menggelinding, dan tubuh tanpa kepala tersebut sudah ambruk, reruntuhan yang menutupi lantai sudah dialiri darah yang bau amis. Darah dengan warna merah pekat tersebut menggenang, menguarkan asap hitam yang entah mengapa itu bisa terjadi.


“Sialan! Di dunia selanjutnya, aku akan membalas apa yang sudah kau lakukan! Aku tidak akan mengaku kalah, tidak ada dalam sejarah Kerajaan yang kupimpin bisa kalah!” teriak Raja Barney sesaat sebelum kepalanya mulai menghilang bagaikan partikel debu yang menguap ke udara.


Seiring dengan proses anggota tubuh Raja Barney yang melenyap, bangunan yang belum sepenuhnya hancur lebur mendadak meluruh serempak. Permukaan yang menjadi pijakan pun bergoyang bagaikan gempa bumi. Tanah pun retak, dan langit tiba-tiba menggelap.


Tak hanya itu, anehnya cat-cat dinding meluntur dan membuat semua gedung yang mulai retak tampak suram. Banyak asap-asap hitam kehijauan yang menguap ke udara, seolah sihir-sihir yang menyatu dalam bangunan mulai hilang.


Bukan hanya Lynx dan Sen yang berusaha melarikan diri dan menjauh dari lokasi Kerajaan Maggie, para prajurit ataupun penduduk yang menjadi bagian dari Kerajaan Maggie ikut berlarian. Tapi kejadian janggal sekaligus aneh kembali terjadi, semua yang sedang berlari berhamburan perlahan-lahan membeku di tempat.


Mereka semua bertransformasi menjadi patung, layaknya dikutuk atau mungkin sejak awal mereka semua bukanlah siluman biasa? Atau memang ini semua menyangkut perjanjian yang dilakukan oleh Raja Barney? Sehingga ketika dirinya mati, maka semua ikut lenyap.


Mengenai perjanjian apa yang dimaksud, semuanya masih misteri. Dan misteri itu akan menjadi bagian dalam sejarah, dimana kali ini peperangan dimenangkan oleh Kerajaan Foxion. Sementara Kerajaan Maggie hanya tinggal nama, bahkan mungkin keberadaannya hanya tinggal cerita.


Mengingat bangunan megah serta barang-barang peninggalan di dalam Kerajaan tersebut yang bisa menjadi bukti sudah nyaris menyatu dengan tanah, maka di masa depan yang akan mendatang semua itu tidak akan pernah lagi terlihat.


“Apa menurutmu begitu, Sen?” tanya Lynx setelah mendengar penjelasan dari saudaranya yang mengatakan bahwa ini semua sudah berakhir.


Sen mengangguk mantap di sela-sela langkah kakinya yang berjalan tergesa-gesa. “Benar. Kita menang, Lynx. Lihatlah, semuanya hancur. Raja Barney yang menjadi pengendali dari semuanya sudah kau bunuh. Maka kemenangan ada di tangan kita.”

__ADS_1


***


__ADS_2