
“Ti-tidak, Pangeran. Maafkan saya. Si-silakan berendam.” Ang terbata-bata, tak mampu menentang atau pun memprotes pada Lynx.
Tahu dan sadar betul bahwa yang dihadapannya saat ini adalah seorang pangeran yang harus dirinya hormati, jadi mana mungkin Ang akan protes semena-mena.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Lynx mulai melepaskan celananya. Tidak masalah membiarkan tubuhnya terekspos. Toh sebelumnya Ang sudah pernah melihatnya. Karena Lynx adalah rubah sebagai pengunjung terbanyak di mata air kehidupan ini.
Ketika tubuh yang sudah dipenuhi bulu oranye itu mulai memasuki air. Perlahan-lahan sosok Lynx mulai tenggelam, hingga tak lagi nampak. Hazel melihatnya dari luar batas mata air.
Cukup lama menunggu, Lynx tak kunjung muncul ke permukaan. Membuat suasana canggung antara dirinya Ang sangat kentara terasa. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya saling melirik sesekali.
Ang yang tak tahu harus berpikir seperti apa mengenai Hazel, hanya bisa berspekulasi tentang Lynx. Menduga kalau selama ini Lynx pergi ke dunia manusia dan berkelana di sana sampai akhirnya bertemu dengan Hazel dan menjadikannya sebagai kekasih.
Terkaan lain muncul dalam benak Ang, ia merasa ini akan menjadi berita besar di Kerajaan jika tahu Lynx kembali dalam keadaan hidup sambil menggandeng seorang manusia. Karena selama kepergian Lynx, Raja sudah menganggap kalau putranya mati.
Bagaimana ini? Ang tidak bisa membayangkan seheboh apa nanti keadaan para rubah di dalam istana.
Byurrr!
Setelah cukup lama berendam dalam mata air kehidupan yang dapat membantunya untuk memulihkan diri, Lynx muncul ke permukaan. Seluruh tubuhnya bersih dari bulu-bulu, kembali seperti semula.
Ia mengibas-ngibaskan rambut oranye gelapnya, cipratan dari air yang dingin itu mengenai permukaan kulit Hazel. Menyugar rambutnya sambil memejamkan mata, Lynx menguarkan aura ketampanan yang kuat.
Hazel sampai tidak berkedip memandangi punggung kekasihnya itu, kekar dan terlihat begitu kokoh. Saat mata mereka bertemu, Hazel tersenyum tanpa sadar. Senang karena kekasihnya masih bisa diselamatkan dari kutukan.
“Ayo ikut berendam bersamaku,” ajak Lynx, tangannya mengulur pada Hazel.
“Apa aku perlu melepaskan pakaianku juga?” tanya Hazel, mulai menerima uluran tangan itu.
“Tidak perlu. Hanya aku yang boleh melihat tubuhmu,” balasnya dengan nada posesif, bibirnya pun menyeringai sesaat.
Ang membuang muka ke sembarang arah, bersiul sebentar seolah-olah tidak mendengarnya. Ingin rasanya menghilang dari sini, atau ia rela dianggap angin yang tak terlihat oleh mereka. Karena tak mau jadi penghalang bagi dua orang yang tengah kasmaran itu.
Saat kaki tanpa alas itu masuk ke dalam air secara perlahan-lahan, Hazel merasakan sesuatu tumbuh dari bawah kakinya. Awalnya ia sedikit terkejut, tapi melalui air jernih itu dirinya dapat melihat kalau yang muncul ke permukaan adalah tanaman merambat.
Hal tersebut lantas membuat pikirannya bertanya-tanya. Bukan hanya sekali, tapi setiap Hazel melangkah tanaman itu akan tumbuh. Secara sederhananya, tanaman itu tumbuh tepat dimana kaki Hazel berpijak.
Tanaman merambat semakin muncul ke permukaan, bahkan setinggi paha dan mengelilingi tubuh Hazel. Kelopak bunga yang menguncup, kemudian terbuka dan menguarkan aroma khas yang pekat. Semuanya melongo, menyaksikan fenomena ini.
“Jangan-jangan...” Lynx yang sepertinya paham apa maksud dari semua ini seketika mulai berspekulasi.
“Di-dia hamil!” Ang menyambung ucapan Lynx yang terhenti, membuat atmosfer di sini semakin menegang.
Benar, tidak salah lagi. Semua itu terjadi karena respon natural dari alam untuk menyambut janin yang terkandung di tubuh siapa pun.
“Hamil?” Hazel sedikit kaget, tubuhnya mendadak lemas. Hingga tak dapat menyeimbangkan dan ambruk begitu saja.
Ia jatuh ke dalam air, membuat pakaiannya basah semua. Seketika ikan-ikan berbentuk aneh dengan ekor warna-warninya mengumpul dan mengerubungi tubuh Hazel. Seolah-olah ingin menjaga Hazel yang tengah mengandung.
__ADS_1
Lynx yang sebelumnya ikut shock, kini sudah berenang mendekati Hazel. Menyentuh bahu kekasihnya yang tampak gemetaran. Jujur, dari dalam lubuk hati yang terdalam dirinya sangat senang mengetahui kabar ini.
Tapi di sisi lain, Lynx menyadari kalau ini akan menjadi masalah besar. Meski pada awalnya ia berpikir kabar ini akan dijadikan senjata, tetap saja tidak akan ada yang tahu seperti apa jadinya nanti.
“Aku sudah menduganya, Pangeran. Karena manusia tidak akan bisa menembus portal untuk masuk ke dalam dunia ini. Alasan kekasihmu bisa melewatinya, mungkin karena ada darah dagingmu yang hidup rahimnya,” ungkap Ang menjelaskan.
Lynx memeluk Hazel, membawa tubuh kecil yang masih gemetaran itu untuk ditenangkan. Mengecup singkat puncak kepalanya, Lynx juga memberi usapan di punggung Hazel.
“Semuanya akan baik-baik saja, Hazel. Kita berdua akan merawatnya, kau jangan khawatir,” bisik Lynx lembut.
Hazel sedikit mendongak, bertemu dengan manik kebiruan Lynx yang tampak tulus penuh kejujuran. “Bukannya aku tidak senang. Hanya saja...”
Kepala Lynx langsung mengangguk paham. “Ya, Hazel. Aku yang akan mengurus ini. Sebentar lagi kita akan sampai di istana. Aku yang akan menjelaskannya pada mereka.”
“A-anu...” Ang menyela ucapan Lynx. “Sebelumnya saya minta maaf, Pangeran. Tapi semua penduduk di negeri ini sudah menganggap kalau Pangeran mati semenjak menghilangnya Pangeran selama ini.”
“Bahkan sebentar lagi pelantikan putra mahkota baru akan dilakukan. Pangeran San sudah bersedia untuk menjadi pengganti Raja yang mengatur dan memimpin negeri ini,” tambah Ang kian memperjelas.
Alis Lynx tampak menyatu. Guratan amarah muncul di dahinya. Gertakan di rahang pun semakin memperjelas ada amarah yang membuncah di dalam dirinya.
“San? Bukankah penerus tahta kepemimpinan Kerajaan ditentukan dari warna mata sepertiku? Hanya aku yang terakhir memiliki warna mata ini, kenapa Raja meminta San untuk mengambil posisi yang bahkan belum pernah aku rasakan?” protes Lynx.
Ang menggeleng lemah, kepalanya menunduk. Tak mampu beradu pandang dengan manik Lynx yang terlihat tak bersahabat. Baru kali ini ia melihat sisi Lynx yang marah begitu, karena biasanya ia dijuluki dengan IQ rendah dan pemilik ekspresi lugu juga konyol.
“Saya tidak tahu, Pangeran. Semua ini murni atas perintah Raja Arandelle. Beliau yang memutuskan segalanya, termasuk menganggap bahwa Pangeran Lynx sudah mati dan menyebarkan kabar itu ke seluruh penduduk negeri ini,” beber Ang apa adanya.
“Panggilkan aku satu mahluk yang bisa mengantarkanku ke istana dengan cepat,” perintah Lynx pada Ang.
“Baik, Pangeran.” Ang mulai bersiul beberapa kali, guna memanggil mahluk yang diinginkan Lynx tadi.
Sementara itu, Hazel yang sejak tadi hanya bisa diam dengan raut gelisah, saat ini wajahnya sedang dibasuh oleh jemari Lynx menggunakan mata air kehidupan tadi.
“Lynx,” panggil Hazel. “Ekspresimu membuatku takut,” sambungnya sedikit merintih.
Lynx menghembuskan nafas. Mengusap wajahnya sendiri. “Maafkan aku, Hazel. Sudah lama aku memendam semuanya. Tapi kali ini aku berpikir untuk meluapkan apa yang sudah aku tahan.”
Cup.
Bibirnya mendarat sebentar pada kening Hazel. Kemudian tersenyum untuk menenangkannya.
“Setelah sampai di istana nanti, kau akan mendapatkan baju ganti,” katanya sambil merangkul Hazel dan menuntunnya pada sebuah mahluk yang sudah menunggu sejak tadi.
Roc, adalah burung mitologi yang biasa dipakai sebagai kendaraan di dunia ini. Tubuhnya amat besar, menyerupai naga. Terlihat mengerikan dengan garis mata yang tajam.
Mulanya Hazel takut untuk menaiki mahluk tersebut, tapi setelah melihat kalau Lynx baik-baik saja setelah duduk di atas punggung burung itu, akhirnya secara terpaksa Hazel menaikinya.
“Di sini tidak ada kuda poni putih yang biasa kau baca di dunia dongeng, Hazel. Hanya ada mahluk mitologi yang menyeramkan seperti ini. Jangan terlalu berharap kalau di sini menyediakan sesuatu yang indah,” kata Lynx, sedikit menghancurkan ekspektasi Hazel.
__ADS_1
Terlepas dari tempatnya yang persis seperti dunia dongeng fantasi, ternyata dalamnya begitu mengerikan. Baru melihat kendaraan yang menggunakan mahluk mitologi seperti ini saja sudah membuat Hazel kalap, belum hal lain yang mungkin membuatnya sulit bernafas.
“Kami pergi dulu, Ang! Terima kasih atas bantuanmu. Dan juga burung ini akan kupinjam selama beberapa hari ke depan,” kata Lynx sedikit berteriak, tangannya melambai saat burung yang ia naiki mulai mengepak terbang.
“Silakan, Pangeran.” Ang ikut melambai, melihat Roc sebagai peliharaannya terbang membawa sepasang kekasih itu ke udara.
Tidak ada rumah-rumah semacam perdesaan yang Hazel lihat dari atas sini, hanya ada hamparan ladang hijau yang membentang luas. Di tengah-tengah hamparan ladang tersebut ada Kerajaan Foxion yang mulai terlihat.
“Kenapa tidak ada rumah-rumah penduduk di sini?” tanya Hazel penasaran.
“Ada, tapi letaknya berada di bawah tanah.”
“Di bawah tanah?” Hazel mengerutkan kening.
“Ya, karena populasi rubah di sini semakin sedikit dan untuk berjaga-jaga terhindar dari serangan mendadak, mereka membangun tempat tinggal di bawah tanah. Jadi yang terlihat dari atas sini hanya Istana saja,” jawab Lynx, pandangannya fokus ke depan.
Hazel manggut-manggut.
“Sebentar lagi kita akan mendarat,” ucapnya kemudian, Lynx menarik tangan Hazel untuk dilingkarkan pada pinggang. “Pegangan padaku yang kuat, Hazel.”
“Baik.” Hazel menempelkan tubuhnya pada punggung Lynx, jemarinya mencengkram erat di pinggang pria itu, lalu menutup mata karena takut dengan turunan yang tajam.
Tepat di depan gerbang istana, Roc berhenti. Mendarat secara sempurna. Lima detik pertama tidak ada keanehan yang terjadi, sampai akhirnya saat para prajurit yang menjaga gerbang mengendus bau yang tak semestinya ada di sini, mereka langsung menyerbu keluar gerbang.
“Ada manusia!”
“Bau manusia ada di sekitar sini!”
Semua dengan lantang dan heboh menyebut adanya keberadaan manusia. Pintu gerbang pun terbuka, sekitar lebih dari sepuluh prajurit mengacungkan senjata.
Namun ketika melihat Lynx menuruni burung mitologi dan membawa Hazel ke sampingnya, para prajurit itu saling tengok-menengok. Sesekali mengusap mata, merasa tak percaya dengan apa yang ada dihadapan mereka saat ini.
“Pangeran Lynx?” Salah satu dari mereka berbicara, berusaha memastikan.
“Beri aku jalan. Biarkan kekasihku ikut masuk juga. Aku harus menemui Ayahku sekarang juga,” titah Lynx tegas, rahangnya mengeras.
“Tidak bisa! Peraturan di sini tidak mengizinkan manusia masuk. Kalau Pangeran ingin masuk, singkirkan wanita itu. Biar kami yang mengurusnya. Tak sepantasnya manusia keji sepertinya ada di sini!” tentang salah satu dari mereka.
“Hah?” Lynx melototkan mata, dia menyunggingkan bibir. “Siapa kau berani-beraninya memerintahku? Sudah kubilang, dia ini kekasihku. Beri kami jalan, atau aku akan mematahkan leher kalian satu per satu.”
Hazel meneguk ludah, semakin merungkut dibalik tubuh besar Lynx. Tatapan dari semua prajurit itu mengarah padanya, amat menakutkan. Terlihat tak segan akan menusukan senjata itu padanya kapan pun.
“Lynx, sepertinya mereka tidak akan takut dengan ancamanmu,” bisik Hazel, satu helaan nafas berat ia keluarkan.
“Biarlah, lagi pula tanganku sudah gatal ingin mematahkan leher mereka.” Lynx terlihat sudah mengambil ancang-ancang, melakukan peregangan terlebih dahulu pada tubuhnya.
***
__ADS_1