Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 45 - Dukungan.


__ADS_3

“Wah, lumayan banyak. Semoga cukup untuk makan Hazel sampai beberapa hari ke depan,” gumam Lynx dengan sumringah, kedua tangannya penuh dengan buah-buahan segar.


Begitu pun juga dengan baju yang ia gunakan sebagai tempat menaruh sisa-sisa buah-buahan yang tak bisa dipegang. Dia berjalan sambil bersenandung riang, rasa lelahnya terbayarkan karena bisa mendapatkan buah-buahan tersebut.


Ia berkelana jauh ke perbatasan Kerajaan Foxion dengan Kerajaan seberang, karena persediaan buah-buahan di penduduk tak cukup. Lama berkeliaran hanya untuk mencari buah-buahan, membuat seluruh tubuhnya banjir keringat.


Kusam di wajahnya yang bercampur peluh terlihat mengkilat. Bau matahari semerbak menguar dari badannya. Para penjaga gerbang, atau pun saudara-saudaranya yang tak sengaja berpas-pasan dengannya sengaja Lynx abaikan.


Pikirannya sudah difokuskan pada Hazel, ingin sekali segera menyerahkan semua buah yang ia dapatkan pada kekasihnya itu. Namun saat sampai ke kamar, Hazel ternyata tak ada.


Celingukan ke berbagai tempat, Lynx menangkap sosok Aluka yang tengah berjalan sendirian. Adik bungsunya itu sedang berjalan tergesa, entah akan pergi kemana.


Berteriak dari lantai atas, Lynx berusaha memanggilnya, “Hei, Aluka! Lihat ke sini!” Tangannya melambai-lambai, gadis di bawah sana sudah menatapnya.


“Kak Lynx sudah kembali. Banyak sekali buah-buahan yang kau bawa!” seru Aluka, ikut senang.


“Ya, lumayan. Tapi dimana Hazel? Bukankah dia kutitipkan padamu? Di kamar tidak ada siapa pun,” tanyanya langsung pada intinya.


Dengan santai Aluka menjawab, “Dia ada di taman belakang. Mengobrol bersama Putri Ren.”


Mendengar nama ‘Ren’ dada Lynx langsung berkecamuk, merasakan ada gejolak aneh yang tak bisa artikan. Tapi yang pasti, Lynx tidak menyukai Putri Ren. Entahlah, ia selalu merasa waspada sehingga terus menjaga jarak dengannya.


“Aish, kenapa kau membiarkan mereka berduaan?”


Wajah polosnya terlihat bingung, ditambah matanya mengerjap cepat. “Memangnya apa yang salah?” Aluka tak paham apa yang Lynx pikirkan, karena menurutnya wajar-wajar saja jika mereka berduaan.


Toh, bagi Aluka, Putri Ren bukanlah wanita jahat. Meski simbol ular kerap diartikan dengan suatu hal yang tak baik, tapi sejauh ini Kerajaan Oxra tidak pernah berseteru dengan pihak mana pun. Justru mereka ingin bergabung untuk membalaskan dendam terhadap Kerajaan Maggie.


Berusaha untuk bersikap tenang, Lynx mengendalikan perasaan aneh yang membuat situasi hatinya naik turun. Dari pada memperdebatkan suatu hal yang tak bisa Aluka pahami, lebih baik dirinya segera pergi menemui mereka.


Lynx segera menuruni tangga secepat yang dirinya bisa. Berbelok menuju ruang belakang, mengabaikan Aluka yang masih mematung di tempat dengan raut bingung.


Buah-buahan yang berada di dalam baju Lynx berhamburan satu per satu, tapi pria dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya tersebut terlihat tidak peduli. Dia hanya fokus berjalan cepat, ingin menemui Hazel dan memastikannya tetap baik-baik saja.


Sesampainya di ruang belakang yang menghubungkannya pada taman, Lynx lantas membuka pintu yang sudah berkarat itu dengan beringas. Langsung menampilkan hamparan rumput hijau yang luas.


Matanya bergulir cepat, mencari-cari dimana keberadaan kekasihnya. Pada pohon besar dengan dedaunannya yang lebat, mereka ada di sana. Manik Lynx menyipit, menjelikan pandangannya, mengamati gerak-gerik Putri Ren yang tampak mencurigakan.


Saat tahu wanita dengan ular yang melingkar di lehernya itu menyodorkan sebuah botol kecil pada Hazel, disitulah pikiran buruk Lynx tak bisa dikendalikan lagi.


Seluruh buah-buahan yang berada di kedua tangannya, Lynx jatuhkan begitu saja. Berlari secepat kilat menuju ke arah mereka, takut kalau Putri Ren akan mencelakai kekasihnya.


“Berhenti!”

__ADS_1


“Menjauhlah dari kekasihku!”


Lynx berhasil berdiri di samping Hazel, segera merangkul tubuhnya untuk didekap, sedikit memberi jarak pada Putri Ren.


Hazel yang kebingungan segera menatapnya, meminta penjelasan. “Lynx? Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba berlarian ke sini?”


“Cairan apa yang mau kau berikan pada Hazel?” sembur Lynx tak sabaran, nafasnya yang memburu masih belum stabil. Mata tajamnya terus menatap Putri Ren tanpa berkedip.


“Oh, ini?” Putri Ren masih bersikap tenang, padahal dirinya sudah menduga kalau Lynx pasti akan curiga. “Tenang, ini hanya pereda mual bagi wanita hamil. Memang aku meraciknya sendiri, tapi aku berani jamin kalau itu aman untuk kekasihmu.”


“Bohong!” tukas Lynx, masih belum percaya.


Hazel yang merasa tidak enak hati atas tingkah Lynx yang sembrono dan langsung menyimpulkan begitu saja, buru-buru mencubit pinggang pria itu sampai mengeluarkan jeritan, pandangan mereka pun segera bertemu setelahnya.


“Apa yang kau lakukan? Sakit tahu!” keluh Lynx, tangannya turun dari pundak Hazel, berpindah untuk mengusapi pinggangnya yang masih berdenyut perih.


“Harusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau mendadak ke sini? Tiba-tiba saja curiga seperti itu pada Putri Ren. Dia baik, kami habis mengobrol panjang lebar. Jadi, lebih baik kau minta maaf. Sekarang!” paksa Hazel, sedikit mendorong tubuh Lynx agar lebih mendekat pada Putri Ren.


Sebagai pria gentle dan tidak mau dianggap buruk, Lynx harus melakukannya. Walau pada awalnya ia hanya ingin memastikan kalau Hazel baik-baik saja, tapi cara yang digunakannya salah.


“Ma-maafkan aku.” Lynx menyapu pandangan, tidak mau menatap manik hijau milik Putri Ren. “Aku hanya khawatir pada kekasihku. Setelah menolak perjodohan, aku takut kau akan marah dan menyimpan dendam, pada akhirnya kau malah melukai Hazel.”


Lynx mengeluarkan semua uneg-uneg dalam hatinya, segala pikiran buruk yang sempat mengganjal dalam benaknya ia jelaskan secara terang-terangan pada gadis yang sempat akan dijodohkan dengannya.


Putri Ren menanggapinya dengan tertawa, sebelah tangannya menutup mulut, matanya hilang tenggelam dalam senyuman manisnya. “Apa yang kau bicarakan?” Suara tawanya belum menghilang, sehingga ia tak dapat langsung menjelaskan.


“Sebelum aku pulang, sepertinya aku harus menjelaskan dengan benar padamu. Jujur, aku senang tidak jadi menikah denganmu. Jadi, terima kasih telah menolak perjodohan itu.”


Ada hembusan nafas lega yang terdengar dari mulut Lynx, cukup membuatnya tenang saat mendengar perkataan itu darinya.


“Ada laki-laki lain yang aku sukai. Dan aku sangat senang kalian jatuh cinta dan memutuskan untuk hidup bersama. Aku kagum dengan perjuangan kalian, pastinya tidak mudah bukan sampai ke titik ini? Di depan sana, masih banyak rintangan yang harus kalian hadapi.”


Putri Ren semakin mempertegas senyumnya, menahan nafas sebentar sambil berjalan maju pada sepasang kekasih yang berdiri dihadapannya. Menarik satu-satu lengan mereka, lalu ia eratkan, menyuruh keduanya untuk saling menggenggam. Sementara tangan Ren berada di atas kedua tangan mereka.


“Tenang saja, aku akan ada dipihak kalian. Sebisa mungkin aku akan membantu. Dan aku percaya, pria dengan keberanian tinggi seperti Lynx terbukti mampu mengambil resiko sebesar apa pun atau seberapa bahayanya itu untuk dirinya jika itu menyangkut dengan keselamatan kekasihnya.”


Kini pandangan Putri Ren lebih fokus pada Hazel, ada sesuatu yang tersirat dari pancaran matanya tersebut. “Sebagai wanita dari Lynx, kau harus terus menyemangatinya dan membuatnya percaya kalau semua masalah dapat dilalui dengan baik. Ingat, dia bukan hanya berjuang untukmu.”


Tangan Putri Ren berpindah, ia menyentuh perut Hazel yang masih rata. “Ada bayi kalian yang sedang dia perjuangkan juga. Lebih dari itu, takdir Kerajaan Foxion juga ada dalam genggamannya saat ini. Itu sangat sulit, aku tahu itu. Tapi karena dia adalah Lynx Darellyn, aku percaya dia pasti bisa melakukan yang terbaik.”


Hazel sempat menganga terkesima, perkataan Putri Ren barusan menembus relung jiwanya, membuat semangatnya yang sempat layu mendadak segar kembali layaknya bunga yang sudah disirami air.


Tanpa mengatakan apa-apa, Hazel langsung memeluknya dengan kuat. Tidak peduli ada ular yang melingkar di leher wanita itu. Mulutnya diam tak berbicara, tapi dalam hati ia terus mengulang-ulang kata terima kasih. Hazel kembali menyadari, ternyata masih ada orang baik di negeri ini.

__ADS_1


Lynx yang mengamati mereka berdua, hanya bisa tersenyum. Pandangannya tentang Putri Ren yang selama ini ia anggap sebagai wanita tak menyenangkan karena terlihat misterius seolah menyimpan tipu muslihat, detik ini semua itu terhempas begitu saja.


“Oii!”


“Kalian sedang apa di sana?”


Gema seseorang dari kejauhan membuat perhatian mereka teralihkan, sama-sama menoleh ke sumber suara. Melihat ada Jack yang tengah melambai-lambai di depan pintu pagar. Tak lama, pria berambut panjang itu datang mendekat.


Meski umur Jack sudah bisa dikatakan matang, tetap saja pesona dari ketampanannya itu tak bisa disanggah. Semua orang mengakui, Jack itu pria yang memiliki definisi tampan tapi cantik.


Tubuh tingginya yang ramping dibalut dengan shirt putih oversize yang sengaja dua kancing atasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan dada bidang dengan kulit putih mulusnya terekspos. Cardigan kecoklatan yang ia sampirkan di bahu terlihat menjuntai, sesekali tersibak angin yang berhembus.


Putri Ren yang melihatnya, tidak tahu kenapa malah mendadak menurunkan pandangan. Pipinya memerah, dalam hati ia terus merutuk karena blushing tak tahu tempat.


“Kenapa kau tahu kami ada di sini?” tanya Lynx setelah jaraknya dengan Jack sudah menipis.


“Itu mudah. Hanya mengikuti buah-buahan yang berceceran di lantai. Kau yang melakukannya kan?”


Lynx cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.


“Aku ke sini karena mendapat amanat dari pengawal yang mendampingi Putri Ren. Mereka memintamu untuk segera pulang, Raja mungkin mengkhawatirkanmu,” katanya memberitahu.


Putri Ren berdeham sebentar, bersikap normal kembali. “Baik, memang sudah waktunya aku untuk pulang. Bisakah kau mengantarkanku sampai ke depan?”


Jack lantas membungkukkan tubuhnya. “Tanpa mengurangi rasa hormat, bukannya saya ingin menolak permintaan Putri Ren. Tapi, ada hal yang ingin saya lakukan dengan Pangeran Lynx di sini.”


Hati kecilnya terasa dicubit, entahlah rasanya kecewa saja. Tapi demi menutupi semuanya dengan baik tanpa meninggalkan rasa curiga, Putri Ren melebarkan senyum untuk memaklumi.


“Biar aku saja yang mengantar Putri Ren sampai ke depan,” sahut Hazel sambil mengacungkan tangan, membuat Putri Ren langsung menatapnya. “Sekalian aku ingin mengambil beberapa buah yang sudah diambil oleh Lynx.”


“Ah, terima kasih banyak. Maaf sudah merepotkanmu,” balas Putri Ren.


“Tidak masalah. Ayo kita pergi dari sini,” ajak Hazel, mempersilakan Putri Ren untuk berjalan lebih dulu.


Setelah keduanya mulai berjalan menjauh, Jack segera mengutarakan apa saja hal yang ingin dirinya katakan mau pun lakukan dengan laki-laki yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri tersebut.


“Ehem,” deham Jack, mengambil alih perhatian Lynx yang sibuk memandangi punggung kedua wanita yang barusan pergi.


“Bisa kau jelaskan padaku tentang maksud rencanamu? Tapi sebelum itu, kenapa kau membawaku ke dalam situasi sulit yang bahkan belum kita rencanakan? Kau tahu kan resiko dari janjimu pada Raja?” cecar Jack, tangannya ditaruh di pinggang.


Jack persis seperti ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya yang nakal.


Lynx meneguk ludah. Matanya kelayapan melihat kemana-mana. Bagaimana caranya ia menjelaskannya pada Jack?

__ADS_1


“A-anu, itu...”


***


__ADS_2