Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 58 - Hari Peperangan Sudah Tiba.


__ADS_3

Keesokan harinya, tepat sebelum matahari terbit, langit masih gelap dengan bintang yang bertebaran, Lynx sudah mengatur formasi pasukan yang akan ikut turun ke medan perang.


Walau kondisi tubuhnya masih belum membaik sepenuhnya, Lynx memaksakan diri untuk tetap mengemban tanggung jawabnya. Tanpa mengeluh dan merasa kesakitan dengan luka di lengannya, Lynx begitu semangat pergi ke sana kemari untuk mengurus semuanya.


Dari seluruh siluman yang ikut bergabung, Lynx membaginya ke dalam sepuluh kelompok pasukan. Yang mana dari sepuluh kelompok pasukan tersebut, hanya dua pasukan saja yang akan ikut dengannya.


Sementara sisanya akan menyerang dari lain arah. Lynx tentu saja dengan berani mengambil arah depan dan berhadapan langsung dengan para musuh yang diduga kekuatannya setara dengan dirinya.


Dari sepuluu pasukan tadi disisakan satu kelompok pasukan sebagai cadangan. Ditakutkan semua yang sudah turun ke lapangan tumbang tak bersisa, jadi Lynx masih mempunyai pasukan yang lain.


Dan diperkirakan perang ini tidak mungkin berlangsung dan berakhir dalam satu hari, Lynx juga memberi tugas pada pasukan medis —yang di pimpin oleh Ash, agar membawa persediaan makanan selain dari obat-obatan.


Karena tidak mungkin mereka semua bolak-balik ke istana untuk mengisi perut dan istirahat. Sebab Lynx tak mau membawa masalah dengan membuat celah bagi musuh mereka untuk masuk ke dalam istana.


“Burung kecil ini yang akan memantau keadaan di medan perang. Dia akan sering pulang dan pergi untuk memberi informasi terhadap apa yang terjadi di sana, jadi jangan sungkan untuk memberitahu atau meminta apa saja jika kau melihatnya, Lynx,” ujar Jack menjelaskan.


Burung dengan ukuran satu kepalan tangan orang dewasa itu terbang ke bahu Lynx, dia langsung menunjukkan apa yang dirinya bisa. Melalui bola matanya, burung tersebut memancarkan cahaya semacam hologram berwarna biru toska untuk menampilkan beberapa kejadian yang sudah dirinya lihat.


Lynx mengangguk paham. “Baik. Terima kasih, Jack. Jadi siapa nama burung cantik ini?”


“Dia tidak memiliki nama. Dengan kemampuan yang dimiliki, dia seperti dirancang untuk hal-hal seperti ini.”


Piw~


Piw~


Piw~


Bersiul pelan, ternyata suaranya tidak seindah warna dan corak yang dimilikinya. Tapi walau begitu, burung itu terlihat menggemaskan.


“Kalau begitu, aku harus bergabung dengan yang lainnya. Aku titip istana padamu. Tolong jaga semuanya. Biarkan—”


“Apa yang kamu katakan?” sela Jack dengan dahi yang bertaut. Tangannya berkacak pinggang. “Aku akan ikut berperang juga. Dengan sisa-sisa sihir yang aku punya, aku bisa membantu kalian.”


“Tapi bagaimana jika—”

__ADS_1


“Jangan terlalu khawatir, Lynx. Pangeran San dan Pangeran Sen ada di sini. Mereka aku tugaskan untuk menjaga istana dan melindungi yang lain. Selain itu, aku yakin dengan tudung sihir yang aku buat sulit bagi mereka untuk menembus istana,” potong Jack kembali.


“Tunggu!” Bukan, ini bukan Lynx yang menyahut. Nampaknya ada siluman lain yang ingin bergabung dalam pembicaraan ini.


Lynx dan Jack sama-sama menoleh ke sumber suara, dia datang mendekat dengan wajah seriusnya. Mereka berdua tidak menyadari kalau dia ada di sini untuk menguping.


“Aku sudah memutuskan untuk ikut. Aku memang tidak sepandai San, tapi aku bisa membantu kalian. Akan kugunakan seluruh kemampuanku untuk menghancurkan mereka,” paparnya dengan sungguh-sungguh.


“Tapi, Pangeran Sen...”


“Tidak apa-apa. San akan tetap di sini. Dia masih dalam penyembuhan. Tapi aku yakin dia mampu menangani semisal terjadi sesuatu,” jawab Sen untuk meyakinkan.


Lynx menghembuskan nafas kasar. Semuanya ingin ikut, entah kenapa ia merasa ini bukan hal yang bagus. Bukannya ia merasa lebih hebat dari mereka sehingga tak membutuhkan bantuan, hanya saja Lynx tidak yakin dengan cara ini.


Melihat sebelah lengan Jack yang diperban untuk menyembunyikan luka yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu, Lynx menduga pria itu sedang menyembunyikan sesuatu. Tanpa mengatakan apa-apa, Jack berlaga seolah tidak ada yang terjadi.


Puk.


Jack menyentuh bahu Lynx, membuat maniknya jadi bertatapan. “Jangan khawatir. Ayo kita lakukan ini bersama-sama. Aku menduga perang ini akan terjadi paling lama lima hari atau seminggu, dan paling cepat hanya tiga hari. Kita bisa pulang jika terjadi sesuatu di istana.”


Setelah dibujuk dan diyakinkan, akhirnya Lynx pasrah saja. Mereka bertiga pun keluar beriringan menuju pekarangan istana. Di sana sudah banyak para pasukan yang berkumpul.


Dan Jack sudah mengoordinasikan semuanya dengan rancangan rencana yang disepakati bersama. Mereka semua sudah tahu dimana tempat masing-masing untuk bersembunyi sebelum menyerbu ketika diberi perintah.


Masing-masing pasukan terdapat satu pemimpin, yang mana pemimpin mereka lah yang akan mendapatkan perintah atau aba-aba dari Lynx nantinya. Dan Jack akan memimpin pasukan dari arah timur.


“Jadi aku akan bersama pasukan dari arah barat?” tanya Sen memastikan.


Jack langsung mengangguki. “Benar, Pangeran.”


“Baik. Aku akan bersama dengan pemimpin mereka. Aku akan ke sana untuk memberitahu yang lain soal ini,” ujarnya seraya melangkah pergi.


“Itu berarti aku akan menyerang ke arah utara, dimana pusat pemerintahan atau istana mereka berada, aku akan menyelinap masuk ke sana di saat ada kesempatan,” kata Lynx sambil melakukan perenggan ototnya.


“Tidak mudah mencari kesempatan. Untuk satu sampai dua hari ini, fokus saja membasmi para pasukan yang mereka miliki. Sampai habis tak bersisa, setelahnya kau akan bertemu dengan siluman anjing yang lebih kuat nantinya,” kata Jack memberitahu.

__ADS_1


“Baik, aku mengerti.”


Setelah delapan kelompok pasukan berbaris pada masing-masing tempat yang ditentukan, semuanya akan segera berangkat ke medan perang. Sedangkan tim medis dengan tim bahan pangan sudah lebih dulu sampai di sana, menyiapkan tenda dan mempersiapkan segalanya yang dibutuhkan nantinya.


“Lynx!”


“Tunggu sebentar!”


Yang dipanggil menoleh, melihat ke arah wanita berambut panjang yang tengah berlarian tergesa-gesa ke arahnya. Takut terjatuh, Lynx dengan sigap ikut berlari agar lebih dulu menghampirinya.


“Hei, tenang. Ada apa? Jangan berlari-lari. Kau sedang hamil, Hazel. Aku takut kau terjatuh dan sesuatu terjadi pada anak kita,” kata Lynx memperingati, tangannya menyentuh kedua bahu Hazel sambil memandanginya penuh kecemasan.


Hazel mengoptimalkan pernafasannya terlebih dahulu, netranya tidak sekali pun dialihkan untuk menatap hal lain, terus memandang Lynx tanpa kata dan jemu.


“Kau baik-baik saja?” Lynx menyentuh pipi Hazel, sedikit memajukan wajahnya untuk menatapnya lebih dekat. “Ada apa? Katakan saja sebelum aku pergi.”


Alih-alih menjawab untuk menghilangkan rasa khawatir kekasihnya, Hazel malah berjinjit untuk mendaratkan satu ciuman pada pipi kiri Lynx. Kemudian tertawa pelan sambil memeluknya.


“Semangat! Aku mendukungmu dari sini. Ketika kau ingin menyerah, ingat ada aku dan anakmu yang selalu menantimu untuk pulang,” bisik Hazel sembari mengeratkan pelukannya.


Lynx tersenyum, ikut memeluk. “Terima kasih. Aku akan melakukan yang terbaik.”


Pelukan mereka terjadi secara singkat, mengingat ini bukan waktunya untuk bermesra-mesraan. Dan matahari akan segera terbit. Jadi Lynx dengan segera kembali ke barisan.


Memakai baju panglima perang yang terbuat dari baja, tak lupa semua senjata yang ia gunakan nantinya pun ikut terpasang di tubuhnya. Lalu perlahan semuanya berjalan keluar dari gerbang istana, siap menaiki kendaraan masing-masing.


Jack melambaikan tangan ke arah Hazel dengan menunjukkan senyuman. Seolah meyakinkan padanya kalau semua akan baik-baik saja. Tak lama, ia ikut berjalan keluar setelah membuat tudung sihir transparan yang menutupi seluruh tempat istana.


Semua pasukan menaiki Roc, hewan mitologi yang ukurannya sangat besar dengan tampang yang menyeramkan. Sedangkan Lynx, ia menaiki kuda hitam bersayap bernama Jessie yang sudah dilatih untuk bekerja sama dengan baik.


Ketika kendaraan mereka mulai terbang ke udara, Hazel meneteskan air matanya sambil terus melambai-lambai menatap kepergian mereka dengan berat hati. Begitu juga dengan para penduduk, mereka bersorak untuk menyemangati.


Selain dari mereka, tidak ada anggota keluarga Kerajaan yang nampaknya ikut menyemangati. Entah apa yang membuat Raja tidak peduli, tapi sejujurnya dengan sikapnya yang begitu ia tak pantas disebut sebagai Raja.


Menyimpan kedua tangannya yang bertaut di depan dada, Hazel menunduk sambil menangis sesenggukan. Ia melangitkan doa bagi keselamatan mereka semua.

__ADS_1


“Aku hanya ingin dia kembali dengan selamat. Hiks...”


***


__ADS_2