
“Aku mendengar suara tangisan bayi. Suaranya menggema, aku seperti ditarik dari dalam ruangan yang gelap. Semakin jelas suara tangisan itu. Hingga aku membuka mata, baru aku dapat merasakan semuanya. Melihat bayi yang telah aku lahirkan tepat di atas dadaku,” ungkap Hazel yang mulai dikerubungi oleh orang-orang.
Bayi laki-laki yang sudah dibalut oleh kain tersebut kini telah ada dalam gendongan Hazel. Tangisannya sudah mereda seiring Hazel memberi tepukan lembut di punggung kecilnya. Dibantu oleh yang lain, Hazel disarankan untuk langsung menyusuinya.
Putri Ren memberi secangkir minuman dari mata air kehidupan yang dicampur dengan ramuan yang sudah ia racik pada Hazel. “Syukurlah, aku sempat khawatir. Panik berlebihan karena sebelumnya kau tidak lagi bernafas. Aku pikir kau...”
Hazel tersenyum kemudian menyahuti ucapan Putri Ren, “Aku baru saja bertemu Lynx.”Bola matanya bergulir ke samping, pelipisnya ia garuk-garuk menggunakan telunjuk. “Mungkin ini aneh. Tapi aku benar-benar bertemu dengannya. Dia memintaku untuk kembali. Dia membantuku untuk bisa ada di sini kembali. Aku tahu, anak kami masih membutuhkanku.”
Aluka yang sedari tadi terus mepet pada tubuh Hazel untuk menggelayuti, sekarang mendusel-dusel lengan untuk menarik perhatian. “Apa pun yang terjadi sebelumnya, beruntung kau masih bernafas Hazel. Aku takut, benar-benar takut karena kupikir aku tidak bisa menjagamu. Tolong jangan tinggalkan aku lagi.”
Setelah meneguk minuman yang diberikan Putri Ren, Hazel menatap Aluka. Sebelah tangannya yang menganggur ia pakai untuk mengusap-usap kepala gadis tersebut. “Jika pun aku harus pergi tanpa kembali, itu bukan salahmu. Kau sudah banyak membantuku selama ini, Aluka. Kau gadis yang baik. Lynx pasti bangga padamu.”
Aluka tersenyum senang saat mendengarnya. “Lalu, apa yang kau lakukan saat bertemu Kak Lynx? Aku sangat penasaran!”
Belum sempat Hazel menjawab, Putri Ren sudah lebih dulu menyeret Aluka untuk sedikit menjauh dari Hazel. “Untuk sekarang, cukup sampai di sini. Dia baru saja sadarkan diri. Biarkan dia istirahat. Lagi pula sebentar lagi matahari terbit. Kau juga perlu istirahat. Aku akan yang berjaga.”
Aluka mengerucutkan bibirnya, lalu mendesis pelan, “Baiklah. Aku akan naik ke permukaan. Ngomong-ngomong, aku agak sedikit lapar.”
“Naiklah. Ada makanan yang bisa kau makan,” suruh Putri Ren.
Sementara itu, Hazel sedikit terkekeh ketika melihat tingkah Aluka. Putri Ren menyuruhnya untuk fokus saja menyusui dan beristirahat. Duduk sambil menggendong bayi, Hazel tak jemu memandangi buah hati yang berhasil ia lahirkan. Bayi dengan kulit masih merah itu sangat menggemaskan.
“Bukankah dia sangat mirip dengan Pangeran Lynx?” Putri Ren tertawa kecil.
__ADS_1
Hazel mengangguk sambil tersenyum. Sepiring makanan ia terima dari Putri Ren.
“Mau ku suapi?”
Hazel menolak dengan gelengan kepala. “Terima kasih, tapi itu tidak perlu. Kau lakukan saja pekerjaan lain. Aku bisa makan sendiri sambil menyusui.”
“Baiklah. Aku akan naik. Saat fajar muncul nanti, para pasukan dari arah barat mungkin akan datang ke sini. Aku akan mempersiapkan makanan untuk mereka,” ujar Putri Ren sambil melangkah naik ke atas permukaan.
Sedikit bersenandung, Hazel menitikan air mata bahagia. Ada kerinduan yang tersirat dari air mata yang jatuh melintasi pipinya. Teringat Lynx, seharusnya pria itu ada di sini. Menemaninya, melontarkan kata-kata manis saat menyambut kelahiran bayi kecil mereka.
“Ah, kau sangat mirip dengan Ayahmu. Bagian mana yang mirip denganku? Rasanya tidak adil. Aku yang mengandung, aku yang menahan rasa sakit selama berbulan-bulan, ditambah perjuangan saat melahirkanmu begitu sulit. Tapi tak apa, melihatmu terlahir tanpa cacat itu lebih dari cukup,” bisik Hazel, hidung mancungnya ia sentuhkan pada hidung kecil bayinya.
Saat langit yang gelap mulai berubah menjadi terang, matahari mulai naik ke atas cakrawala, sinarnya menyorot ke arah Hazel. Sedikit hangat dan menenangkan. Dan di saat yang bersamaan pula, kedua mata bayi yang semula tertutup rapat kini pelan-pelan bergerak untuk terbuka.
Hazel melihatnya. Ia menjelikan penglihatan untuk mengamati moment tersebut. Senyum manisnya merekah di wajah cantik Hazel. Bulu mata lentik dari bayi laki-laki itu mulai mengibar-ngibar, membuat Hazel terpanah ketika melihatnya. Saat kelopak mata itu sudah terbuka sempurna, akhirnya Hazel bisa melihat seperti apa warna mata putra kecilnya.
Ingat? Lynx pernah melakukan ritual pengorbanan diri. Bola mata kirinya yang berwarna tanzanite ia korbankan. Sehingga sekarang ia kehilangan sebelah matanya. Tapi ternyata, tanpa diduga, bayi itu memiliki warna mata yang sama dengan bola mata Lynx yang sudah hilang.
“Apa dia sudah membuka matanya?” tanya Aluka dari kejauhan, mulutnya penuh dengan makanan yang tengah ia kunyah.
Hazel menatap Aluka, kemudian mengangguk. “Ya, kau mau melihatnya?”
“Tentu!” seru Aluka dengan mimik antusias. Langsung meninggalkan makanannya yang belum ia habiskan, berlari kembali untuk masuk ke dalam mata air.
__ADS_1
“Cantik! Warna bola matanya sangat cantik. Sama seperti Kak Lynx yang memiliki warna mata yang berbeda. Ah, aku jadi penasaran bagaimana reaksinya saat mengetahui bahwa anaknya mirip sekali dengannya,” tutur Aluka dengan senyuman gemasnya.
Saat asik mengobrol berduaan. Seperti apa yang sudah Putri katakan sebelumnya, para pasukan dari arah barat akan datang ke sini. Tidak banyak, hanya beberapa gelintir saja. Mereka yang datang sebelumnya sudah ditugaskan untuk memeriksa kawasan istana.
Sekitar sepuluh siluman rubah datang bergerombol, turun dari Roc yang mengantar. Dua di antaranya bukan pasukan. Semuanya terkejut ketika melihat Raja Arandelle dibopong oleh beberapa pasukan, ternyata sebelah kaki pria itu telah hilang sebagian. Perban yang dipakai untuk menutupi lukanya penuh dengan bercak darah yang dipastikan sangat bau amis.
Selain Raja Arandelle, Ratu Emely pun ada. Wanita dengan penampilan yang kacau itu sepertinya tidak memiliki luka serius. Hanya saja ada beberapa goresan luka di wajah, dan pakaian yang dikenakannya begitu lusuh dan kotor. Baik Raja Arandelle atau pun Ratu Emely, keduanya langsung diserahkan pada Putri Ren untuk segera diberi pertolongan.
Aluka yang hanya melihat kedatangan mereka berdua, tentu saja segera menghampiri. Meninggalkan Hazel sebentar. Jujur, Aluka memang kaget saat melihat kondisi Ayahnya yang sangat parah. Tapi lebih dari itu, ia hanya ingin melihat bagaimana kondisi ibu kandungnya, Ratu Keane.
“Dimana Ibuku? Dimana Ibunda Ratu Keane? Kenapa kalian tidak membawanya juga ke sini? Kenapa hanya Raja dan Ratu Emely saja? Kemana Ibuku? Kenapa kalian meninggalkannya sendirian di sana?!” cecar Aluka, pertanyaan bertubi-tubi itu ia lontarkan dengan tak sabaran.
Semua pasukan yang menghadapnya seketika terdiam. Tidak ada yang mampu menjawab. Dari raut wajah yang mereka tunjukkan, seharusnya jawaban yang diinginkan Aluka bukanlah kabar baik.
“Jawab! Kenapa kalian semua diam? Apa pertanyaanku terlalu sulit? Aku hanya ingin tahu bagaimana kabar Ibuku. Dan alasan kenapa kalian tidak ikut membawanya ke sini. Apa itu susah untuk kalian jawab?!” teriak Aluka, kesabarannya sudah menipis.
Situasi semakin genting. Keheningan yang tercipta membuat Aluka ingin memaki-maki semua yang ada di sekitarnya. Matanya pun sudah mulai berkaca-kaca, jika berkedip mungkin saja semua bulir bening itu berjatuhan.
Hingga akhirnya Ash, sang pemimpin pasukan yang bertanggung jawab keluar dari barisan untuk mendekat pada Aluka. “Maaf, tapi hanya ini yang bisa kami berikan padamu, Putri Aluka.” Sebuah sapu tangan yang sedikit kotor dan bercampur dengan darah yang sudah mengering ia berikan padanya.
Aluka langsung lemas seketika. Menerima sapu tangan tersebut dengan perasaan tidak percaya. Tanpa perlu membutuhkan jawaban apa-apa lagi, Aluka sudah paham apa yang mereka maksud. Sapu tangan itu adalah milik Ibunda Ratu Keane. Sapu tangan yang selalu dibawa ke mana-mana, tentu menjadi benda kesayangannya.
Dan sekarang...
__ADS_1
“Hanya itu yang bisa kami bawa. Kami mohon maaf sebesar-besarnya, tapi Ratu Keane memang tidak bisa diselamatkan. Kami menemukannya dalam keadaan tidak bernyawa. Tubuhnya yang tertindih bangunan besar tak mungkin kami bawa ke sini. Di tangannya hanya ada sapu tangan yang mungkin bisa meyakinkanmu bahwa Ratu Keane memang sudah tiada,” papar Ash apa adanya, penuh keterpaksaan saat mengungkap kebenaran yang menyakitkan.
***