Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chap 53 - Mencoba Kemampuan Baru.


__ADS_3

Selama hampir seharian penuh, Lynx masih sibuk menelik-nelik kemampuan dari sebuah liontin yang dibuatkan Jack. Untuk pedang yang sudah dialiri sihir, Lynx mulai terampil menggunakannya.


Melalui pedang dengan permata ungu tersebut, Lynx bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Menurut Jexie, pedang tersebut bisa menangkis beberapa kekuatan sihir. Dan itu memang benar kenyataannya. Ia juga sempat membuktikannya.


“Hari akan berakhir, tapi aku belum juga mengganti liontin. Aku masih bingung, haruskah aku menggantinya sekarang?” Lynx asik bergumam, di telapak tangannya saat ini terdapat liontin baru miliknya.


Setelah menimang keputusan, Lynx akhirnya melepas liontin yang sudah bersamanya sejak dirinya lahir. Menggantinya dengan liontin baru, berharap kalau kekuatannya akan bertambah besar.


Dingin. Lehernya terasa dingin saat bersentuhan dengan besi dari liontin tersebut. Seperti ada energi yang bergerak untuk mengikat lehernya. Beberapa detik selanjutnya, seluruh tubuh Lynx terasa diisi oleh sesuatu.


Sulit untuk dideskripsikan, tapi dari ujung rambut sampai ujung kepala pria itu tampak bersinar. Terang sekali. Jexie yang melihatnya dari kejauhan pun jadi kebingungan sendiri dengan fenomena tersebut.


“A-apa yang terjadi pada tubuhku?” Lynx berdiri, terkesiap karena kaget. Memutar badannya, mengamati seluruh anggota tubuhnya tanpa berkedip.


Sementara liontin lama yang sudah dirinya lepas tak mengeluarkan cahaya lagi. Padam, redup, seperti tidak ada kekuatan dari dalam sana. Persis seperti liontin biasa tanpa dialiri sebuah sihir.


“Kau tidak akan kembali pada wujud rubahmu jika kau tidak menginginkannya,” celetuk seseorang dari arah belakang, suaranya terdengar familiar.


Tubuh Lynx berbalik, melihat Jack yang berjalan padanya. “Ibu?” Bibirnya tersenyum saat mengetahui pria itu terlihat lebih segar sekarang.


“Liontin itu amat spesial untukmu. Tidak ada duplikatnya, aku membuatnya khusus untukmu,” jelas Jack sambil terus berderap, kedua tangannya disimpan di belakang punggung.


Lynx mengerjap bingung. “Lalu apa maksudnya aku tidak akan kembali pada wujud rubahku?”


“Itu benar.” Jack sudah berdiri dihadapannya, memberi jarak sekitar dua langkah. “Perubahan wujudmu kini tidak terikat dengan waktu. Saat mata hari terbenam, kau masih bisa menjadi manusia.”


“Be-benarkah?!” Lynx berseru antusias, itu terdengar luar biasa.


Jack mengangguk. “Kau bisa berubah wujud kapanpun kau mau. Dengan menyentuh liontinnya sambil berbicara dalam hati, mengungkapkan apa keinginanmu, maka itu akan terjadi.”


Pandangan Jack berpindah ke samping, tepat pada bukit nan jauh di sana. Melihat kalau sang surya nyaris tenggelam membawa cahaya benderangnya.


“Lihat, kau tidak berubah menjadi rubah bukan? Matahari mulai tenggelam, tapi kau tetap menjadi manusia. Liontin itu membantumu memudahkan segalanya di medan perang nanti,” ungkap Jack terus menjelaskan.

__ADS_1


Lynx terkesima mendengar penjelasan tersebut, jemarinya menyentuh liontin di lehernya. Energi aneh yang mengalir masuk ke dalam sel-sel darahnya masih bisa dirasakan. Tapi entah kenapa, semakin lama itu terasa menyakitkan.


Bruk.


“Awh.” Lynx meringis setelah ambruk ke tanah, dadanya yang terasa nyeri ia cengkram menggunakan jari-jari tangan.


Jack yang melihatnya tidak kaget, karena sudah menduga hal ini akan terjadi. Ia berjongkok untuk membantu Lynx. “Tidak apa-apa. Energi dari liontin itu hanya ingin menyatu dengan tubuhmu. Memang terasa sakit, tapi tubuhmu yang kuat cukup menopang rasa sakitnya.”


Menyentuh pundak Lynx, Jack kembali berucap, “Selain dari kemampuanmu yang bisa mengatur perubahan wujud. Dalam wujud rubah, kau bisa membuat ukuran tubuhmu lebih besar lima kali lipat dari biasanya. Ya bisa dibilang itu sebesar Roc, burung mitologi yang menjadi alat transportasi di dunia ini.”


Lynx menggigit bibir bawahnya, rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuatnya sulit untuk berbuat banyak. Mulutnya berusaha bergerak untuk berbicara.


“A-a ...ku ingin mempraktikkannya sekarang...”


Dahi Jack mengerut. “Keadaan tubuhmu belum stabil, bukankah itu menyakitkan?”


Kepala Lynx menggeleng tegas. Tubuhnya mencoba untuk duduk dengan benar. “Tidak apa-apa, aku bisa menahannya! Waktu kita tidak banyak. Besok malam sebelum turun ke medan perang, aku akan bertarung dengan San. Aku tidak bisa menyia-nyiakan waktu yang tersisa.”


“Tidak bisa!” sergah Lynx. “Aku sudah menantangnya. Aku tidak mau menjadi keset yang terus dia injak-injak seenaknya. Aku juga sudah menyusun strategi perang. Kita tidak perlu memikirkannya lagi. Kau percayakan saja semuanya padaku.”


Mengingat bahwa Lynx adalah pria keras kepala, Jack merasa akan sia-sia jika harus berdebat dengannya. Melihat emosi dan ambisi yang membara dari sorot mata Lynx, Jack tidak bisa menahannya.


Tubuhnya berdiri, menatap Lynx yang masih bersimpuh di tanah. “Cepat bangun. Kita harus berlatih. Bagaimana dengan pedangmu? Kau bisa menggunakannya?”


Mata Lynx berbinar, senyumnya mengembang. Kepalanya mengangguk semangat. “Oke!”


Jack berbalik, berjalan lebih dulu. “Apa kau tahu kegunaan pedang itu?”


“Menangkis sihir?”


“Bukan itu saja. Aku yakin, Kerajaan Maggie pasti mengurung istananya dengan tudung sihir. Dan aku juga yakin sihir yang digunakannya tidak main-main,” papar Jack.


Lynx yang tertatih-tatih untuk mengekori lantas menyahut, “Tudung sihir?”

__ADS_1


“Ya. Semacam pelindung.” Jack menjentikkan dua jarinya, perlahan taman belakang istana yang mereka pijaki ditutupi semacam benda transparan yang mengunci sesuatu dari luar.


Jack menengok sebentar pada Lynx. “Seperti ini contohnya. Tudung ini juga akan kupakai untuk melindungi istana agar tidak bisa dijangkau oleh serangan sihir yang mendadak datang. Tapi kapasitasku semakin melemah, dan mungkin saja bisa ditembus dengan mudah oleh mereka.”


“Dan karena kau sudah kuberi pedang itu, seharusnya kau bisa menembus tudung sihir mereka. Kau bisa tetap masuk ke dalam istana untuk membunuh Raja mereka, ya meski pun kutahu itu mungkin tetap akan sulit.”


“... Sekarang untuk membuktikan bahwa kau mengerti bagaimana cara kerjanya, coba kau belah tudung sihir yang sudah kubuat ini. Hancurkan dengan pedang yang sudah kau pelajari,” tutup Jack seraya memberi perintah.


Lynx meneguk ludah. Pandangannya berkeliling, menatap tudung transparan berwarna abu-abu bagaikan kelambu yang mengunci seluruh taman belakang di sini. Menutup keindahan langit malam yang mulai dipenuhi bintang.


“Bagaimana kau bisa kan melakukannya?” Jack tersenyum untuk meyakinkan.


“Aku mungkin bisa.” Lynx tersenyum kikuk dengan mata yang bergulir gelisah. “Tapi bagaimana jika aku gagal?”


Jack mengangkat tangannya, telunjuknya mengarah pada Jexie yang terperangkap di luar tudung sendirian. Kuda itu berdiam diri didekat pohon yang tak terisolasi dalam tudung.


“Jexie terjebak di sana. Dia tidak bisa masuk ke dalam tudung atau pun berusaha keluar dari taman ini. Lebih dari sepuluh menit kau tidak menghancurkan tudung ini, maka energi jahat dari tudung yang berusaha melindungi kita akan keluar dan itu bisa menyakiti Jexie. Dalam jangka waktu yang lama, mungkin dia akan mati,” beber Jack dengan santai.


Tapi Lynx yang mendengarnya langsung melotot kaget. “Eh?! Kau gila, ya?! Kenapa waktunya begitu singkat? Kenapa pula Jexie tidak dibiarkan masuk ke dalam tudung ini?! Kau sengaja melakukannya?”


Jack tertawa, lalu fokus melihat ke depan. Ini memang bagian dari rencananya.


“Waktunya akan lebih singkat jika kau terus mengoceh seperti itu. Cepat angkat dan ayunkan pedangmu untuk menghancurkan tudung ini.”


Lynx menggembungkan pipinya, sedikit kesal. Merasa kalau Jack terlalu menggampangkan hal ini. Memegangi dadanya yang mulai berangsur-angsur membaik, ia menarik nafasnya dalam-dalam. Matanya dipejamkan sebentar.


“Pangeranku! Ingat, sihir akan muncul jika kau menanamkan rasa percaya dalam hatimu!” teriak Jexie dari luar sana, berusaha membuat Lynx agar tidak panik.


“... Ingat, pedangmu adalah dirimu juga. Begitu pun dengan liontin yang sudah kau pakai. Mereka sudah bersatu dengan jiwamu. Percayakan pada mereka, maka mereka juga akan membantumu untuk mewujudkan apa yang akan kau lakukan!” tambah Jexie.


Jack mengangguk membenarkan. Cukup senang saat mengetahui hubungan Jexie dan Lynx baik dan sangat dekat. Mereka bisa menjadi rekan dengan chemistry yang kuat saat berperang nanti.


***

__ADS_1


__ADS_2