Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 47 - Ritual Pengorbanan Diri?


__ADS_3

Banyak bercerita tentang Lynx, Hazel mendengarkannya dengan sangat antusias. Satu per satu cerita yang tak pernah ia dengar langsung dari kekasihnya, hari ini ia mendengarnya dari mulut Jack.


Tidak ada kebohongan atau pun hal yang janggal dari cerita-cerita tersebut. Yang terjadi Hazel malah merasa kasihan pada hidup Lynx, tidak menyangka kalau kepahitan yang harus dijalaninya begitu berat.


Jack juga menceritakan soal luka di mata San, memang Lynx yang melukainya. Karena sejak dulu, kasih sayang yang diberikan Raja Arandelle pada anak-anaknya tidak pernah adil. Hanya Lynx saja yang dibedakan.


Mungkin jika hanya itu saja Lynx masih bisa terima, tapi yang menjadi masalah adalah perlakuan San yang tiap hari selalu saja mengesalkan. Tidak jarang dia menjahili, mengejek, bahkan melukai tanpa ampun.


Itu sebabnya Lynx tidak mau diam lagi, dia dengan kemampuan fisiknya yang lebih unggul dari rubah-rubah lain, tentunya dapat membuat San kelabakan. Cakaran tangannya menembus bola mata San, berdarah sampai membuatnya buta sebelah. Sampai sekarang San harus hidup dengan kecacatan di sebelah matanya.


Selain itu, berbicara tentang Ibu kandung Lynx, ternyata wanita yang melahirkannya bukan seperti apa yang pernah diceritakan oleh Lynx. Banyak yang mengatakan kalau Helen, Ibu kandung Lynx, adalah seorang pengkhianat.


Tapi Jack yang menjadi saksi bagaimana kejadian sebenarnya, menentang keras tuduhan tersebut. Tapi memangnya siapa Jack di Kerajaan Foxion? Sebagai adik kandung Helen, jika dia membela tanpa memiliki pendukung yang lain, Jack mana mungkin dipercaya.


“Apa Lynx tahu kalau Ibunya tidak bersalah?” tanya Hazel sambil melirik Jack.


“Tidak. Selama aku mengurusnya, dia tidak pernah mau mendengarkan cerita tentang Ibunya. Lagi pula Helen sudah lama tiada, jika aku mengatakan yang sebenarnya pun keadaan tidak akan berubah dan kakakku tidak akan hidup kembali,” balas Jack, terdengar lirih, tapi tetap memaksakan untuk tersenyum.


***


Hari demi hari berganti, bulan demi bulan berlalu, terhitung hampir tiga bulan lamanya Lynx terus berlatih dengan keras di taman belakang. Dia dididik extra oleh Jack, tidak kenal lelah dan ampun.


Hazel sudah terbiasa dengan aktifitasnya di istana. Tidak banyak yang ia lakukan, hanya sekedar berkeliling mengunjungi tempat dan ruangan yang ditunjukkan oleh Aluka. Dan karena itu mereka berdua semakin lengket saja.


“Aluka, kau sudah berjanji bukan? Hari ini kau mau mengajakku ke ruang bawah tanah, tempat yang ditinggali para penduduk Kerajaan Foxion,” kata Hazel, menagih janji gadis itu.


Aluka yang sedang bermalas-malasan di atas kasur, seketika langsung menoleh. “Memangnya kau sudah tidak mual-mual lagi? Di sana panas, sempit, dan juga mungkin kau tidak akan nyaman.”


Bibir Hazel tersenyum meyakinkan. “Tenang saja, di usia kandunganku yang menginjak tiga bulan ini, aku sudah mulai merasa baik-baik saja. Makan pun tidak selalu buah-buahan lagi. Ini berkat ramuan obat yang diberikan Putri Ren.” Tangannya mengusap perutnya yang mulai nampak menonjol.


Tubuh Aluka berubah posisi, duduk menghadap Hazel. “Syukurlah. Kalau begitu, ayo kita ke sana. Kau mau berpamitan dulu tidak pada Kak Lynx?”


Kepala Hazel menggeleng. “Sepertinya tidak perlu. Aku tidak mau menganggunya. Biarkan dia fokus berlatih.”


***

__ADS_1


Di siang hari yang sangat terik, panas mentari yang dapat membakar kulit, otomatis memunculkan buliran-buliran peluh yang secara terus menerus keluar membasahi semua permukaan tubuh. Tapi hal tersebut tak membuat Lynx gentar, semangatnya tetap membara.


Tubuhnya yang bertelanjang dada, menampakan semua otot-otot miliknya yang semakin terbentuk sempurna. Begitu kekar dan gagah sekali. Tubuhnya yang basah tampak mengkilap di bawah sinar matahari.


Pedang panjang yang berkilau itu terus ia kibas-kibaskan pada angin, di depan sana sudah disiapkan beberapa objek semacam dahan kayu cukup tebal yang berjajar rapih. Lynx dengan cekatan juga tepat sasaran, berhasil menebasnya satu per satu.


Nafasnya memburu, tangannya terasa kram karena terlalu lama menggerakan pedang. Berhenti sesaat untuk menormalkan pernafasan, ia dihampiri oleh Jack yang sejak tadi menonton dari sisi taman.


Pria tinggi itu memberikan sebotol air padanya, langsung ditengguk oleh Lynx hingga tandas tak bersisa. Kulit Lynx yang pada dasarnya putih mulus, sekarang tampak memerah dan mungkin akan menjadi lebih gelap.


“Sudah siap untuk menjalani ritual pengorbanan?” tanya Jack, membuat Lynx termenung beberapa saat.


Tapi pada akhirnya ia mengangguk juga. “Ya, aku sudah menyiapkan diri. Tapi bukankah harus dilakukan saat malam hari?”


“Itu benar. Aku hanya ingin memastikan, siapa tahu kau berubah pikiran.”


“Mana mungkin. Bagaimana pun juga, aku harus melakukanya. Tidak ada pilihan lain. Seperti yang sudah kau bilang padaku hari itu, hanya aku yang bisa menjadi kelinci percobaanmu,” timpal Lynx tanpa ragu.


Sebelumnya, Jack dan Lynx sudah membuat kesepakatan tentang ritual pengorbanan diri. Yang mana ritual tersebut memang baru pertama kali dilakukan oleh Jack, dan Lynx yang akan menjadi objeknya di sini.


“Lalu, bagian mata mana yang akan kau korbankan?” Jack kembali bertanya.


Bisa menebak untuk apa Jack meminta salah satu mata milik Lynx?


“Ayo ikut aku. Kita masuk ke gudang penyimpanan. Aku akan menunjukkan sesuatu padamu,” ajak Jack, ia berjalan cepat menuju tempat yang hanya bisa dimasuki oleh mereka berdua.


Di ruangan kecil yang terbuat oleh papan kayu tersebut ternyata dipenuhi oleh rak-rak yang diisi oleh beberapa pedang, panah, tombak, juga senjata-senjata peperangan lainnya. Semua senjata itu sudah pernah Lynx pakai untuk latihan.


Tiba-tiba saja Jack mengambil satu pedang dengan bilah yang tipis tapi cukup lebar, juga ujung pedang tersebut runcing seperti kail pancing. Pegangan pedang yang penuh ukiran-ukiran cantik, terdapat permata ungu di tengah-tengah ukiran.


“Itu pedang kesayanganmu bukan?” Lynx belum pernah menyentuh pedang itu. Selain tidak diberi izin, Lynx juga dapat merasakan ada energi aneh dari pedang tersebut.


Jack tersenyum sambil mengangguk. “Benar, tapi mulai sekarang aku akan memberikannya padamu.” Maniknya menyorot Lynx yang sedang terkejut sambil memasang ekspresi kebingungan.


“Ambil pedang ini, Lynx. Kau harus beradaptasi dengan pedang kesayanganku. Dan kau harus mulai berlatih dengan pedang ini. Tapi sebelum itu...”

__ADS_1


“Tunggu. Tunggu sebentar,” potong Lynx. “Kenapa tiba-tiba kau memberikannya padaku, Bu? Aku mana mungkin bisa menggunakan pedang itu. Hanya dilihat saja itu sudah sangat berat.”


“Kenapa tidak? Gunakan pedang ini untuk menebas Raja Barney, Lynx. Hanya kau yang bisa melakukannya, aku percaya padamu,” bujuk Jack, menatapnya dengan lekat tanpa berkedip, tangannya semakin menyodorkan pedang itu padanya.


“Ta-tapi...” Lynx jadi gugup. “Kau tahu kan, aku hanya bisa menggunakan tenagaku. Sedangkan Raja Barney dikelilingi sihir yang dapat melindunginya dari apa pun. Membuat mereka tunduk tanpa perlu menebas kepala Raja Barney, apa itu tidak cukup?”


Jack tertawa mendengarnya, sedangkan Lynx masih kebingungan.


“Kau ini lucu sekali. Bagaimana bisa kau membuat mereka tunduk, sementara Raja mereka masih hidup dan memberi perintah?”


Fakta tersebut langsung membungkam Lynx, ia tertegun sesaat dengan mulut yang terbuka sedikit. Kedua bola matanya bergulir cepat, memutus kontak mata dengan Jack.


Jack menyentuh bahu Lynx untuk menenangkan, akhirnya ia mau menatapnya lagi. “Itu memang terdengar mustahil untuk kau lakukan. Tapi sekarang sudah waktunya aku melakukan metode yang pernah kukatakan sebelumnya.”


“Sebagai pemegang tahta tertinggi dalam mengendalikan ilmu sihir, aku berusaha untuk memindahkan atau menyalurkan sebagian ilmu sihir pada pedang ini. Seperti menanamkannya agar bisa tetap kau gunakan.”


“... Aku tahu kau bukanlah rubah pengendali sihir, tapi melalui kemampuanmu dalam menggunakan pedang, sihir yang sudah tertanam pada pedang ini otomatis bisa kau pakai. Coba pikirkan apa maksudku.”


Mencerna penjelasan Jack dengan baik, pelan-pelan Lynx mengerti apa maksudnya. Ide brilian pria itu dapat dipahami oleh akal sehatnya. Secara tidak langsung, pedang adalah perantara bagi Lynx untuk bisa mengendalikan sihir.


“Aku mengerti sekarang.” Lynx angguk-angguk semangat, deretan gigi rapihnya terlihat.


“Bukan hanya memiliki kekuatan fisik, kau juga bisa mengendalikan sihir di pedang ini. Bukankah itu hebat?”


Lagi, Lynx mengangguk. “Itu memang terdengar hebat. Tapi bagaimana cara kau melakukannya?”


Jack mengulum senyum, kepalanya manggut-manggut pelan. Seperti masih tidak yakin dengan apa yang harus dilakukannya.


“Itu biar menjadi urusanku. Nanti, setelah pedang ini sudah benar-benar siap untuk kau gunakan, baru aku berikan padamu,” balas Jack seraya menaruh pedang di tangannya ke tempat asal.


“Dan mengapa aku meminta sebelah bola matamu sebagai syarat ritual pengorbanan diri nanti malam, sebenarnya itu untuk membuatkanmu liontin baru,” ungkap Jack kemudian.


Kening Lynx tampak berlipat, mendadak banyak pertanyaan yang bermunculan di dalam benaknya. “Liontin baru? Memangnya liontinku yang sekarang kenapa? Aku tidak merasa ada keanehan dari liontin ini.”


Jack lebih menghadapkan tubuhnya pada Lynx, pandangannya lurus pada liontin terang di leher pria itu. “Liontin yang akan kubuat untukmu berbeda dengan liontin yang sekarang kau pakai.”

__ADS_1


“... Dari bola matamu yang indah itu, aku yakin akan menghasilkan suatu kekuatan yang lebih besar. Membuatmu lebih kuat, melebihi dirimu yang sekarang. Peluang untuk meraih kemenangan bagi Kerajaan Foxion pasti akan besar,” sambung Jack, terlihat sangat percaya diri.


***


__ADS_2