
Rintik-rintik hujan yang turun sudah berubah menjadi deras, mencipta genangan pada tanah yang berlubang, menguarkan aroma petrikor yang khas. Membuat rasa malas dalam kondisi seperti ini semakin terasa.
Tapi bagaimana pun juga keadannya, Lynx dan Hazel harus tetap pergi ke tempat bekerja. Sudah ditolongi oleh Marrie, mereka tidak mungkin bermalas-malasan.
“Anu ... Bisakah kau sedikit mundur? Tubuh besarmu membuatku tidak nyaman jika kau terus menempel seperti itu,” cicit Hazel sedikit gelisah, pasalnya pria di belakangnya itu tidak memberi jarak sedikit pun.
“Kalau aku menjauh, kau akan kebasahan. Bertahanlah, kita akan segera sampai,” balas Lynx, ia sibuk mengurung tubuh Hazel dengan jubah besarnya.
Karena mereka tidak memiliki payung, jadi hanya dengan cara ini mereka bisa menembus derasnya hujan. Hazel berjalan hanya mengandalkan penglihatan melalui celah jubah yang terbuka sedikit.
“Bukankah kau sendiri sudah kebasahan sejak tadi?” tanya Hazel sedikit menanggahkan kepala, beberapa tetesan air melalui ujung rambut gondrong pria itu jatuh pada dahi dan pipinya.
Lynx yang fokus melihat ke jalanan, lantas menjawab dengan menambahkan senyum, “Tidak apa-apa. Ini hanya air hujan. Aku sudah biasa seperti ini. Berkelana di bawah derasnya air hujan, tidak akan membuatku mati.”
“Kau menganggapku lemah?”
“Bukan seperti itu,” sanggah Lynx, sedikit heran kenapa Hazel sulit peka dalam situasi ini. Padahal dirinya ingin bersikap layaknya pria gentle. Karena mana mungkin dirinya membiarkan gadis itu kebasahan tanpa melakukan apa pun.
“Apa aku salah berusaha dengan cara seperti ini?” tanya Lynx kemudian.
Mendengar pertanyaan itu, membuat Hazel langsung terdiam. Ia jadi teringat percakapan beberapa saat yang lalu. Ya, Hazel akhirnya mengerti. Bahwa di sini, Lynx nyatanya tidak ingin menyerah, dia bertaruh untuk sebuah keberuntungan yang hanya sebesar butiran debu.
“Tidak. Lakukan saja apa maumu.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Hazel. Terlalu jahat jika dirinya kembali mematahkan harapan pria tersebut.
Ketika tubuh mereka saling menempel, punggung bertemu bawah dada. Hazel tetap bisa merasakan kalau jantung Lynx berdegup-degup. Dinginnya hawa dari air hujan yang menusuk, tidak Hazel rasakan karena diberi pelindungan oleh pria bertubuh besar itu.
Di sepanjang jalan yang lumayan sepi tanpa hilir mudik dari manusia-manusia yang sibuk dengan hiruk pikuk kehidupan, tidak ada obrolan yang terselip di antara mereka. Hanya fokus berjalan, menatap ke depan, tapi pikiran mereka ada pada tempat yang sama.
Perihal perasaan yang tak menentu, juga tentang harapan yang menyalahi norma dunia, ya mereka tentang memikirkan itu. Ketidakpastian yang membentang dalam sekat di antara keduanya, tidak mengikis sedikit pun perasaan yang memaksa tetap tumbuh.
“Kau langsung masuk ke dalam, Hazel. Aku akan melepas pakaianku di belakang. Bertanya pada Nyonya Marrie, siapa tahu dia memiliki pakaian ganti,” kata Lynx setelah sampai di kedai.
Hazel mengangguk kecil. Tanpa menoleh dan berkata sesuatu, kakinya segera masuk ke dalam. Memilih fokus pada apa yang harus dirinya kerjakan hari ini. Namun pikirannya sedikit teralihkan, karena di rumah dirinya masih belum menyelesaikan pakaian yang akan dirinya jahit.
Berpindah pada Lynx, pria itu masuk melalui pintu belakang. Langsung bertemu dengan Marrie. Kebetulan wanita paruh baya itu sedang mengontrol bagian belakang, otomatis ia melihat keberadaan Lynx.
Melihat kalau sekujur tubuh Lynx basah kuyup, ia tampak khawatir. Buru-buru Marrie menghampiri setelah membawa kain kecil untuk diberikan padanya.
“Kenapa bisa sebasah ini? Kau tidak menggunakan payung saat pergi ke sini?” tanya Marrie sambil membantu Lynx untuk mengeringkan rambut.
Lynx menunjukkan senyum polosnya, tangannya menggaruk tengkuk. “Aku tidak punya payung, Nyonya.”
“Bagaimana kau bisa tidak memiliki payung?” Raut cemas belum hilang dari kerutan di wajahnya. “Ah, lupakan. Lebih baik kau segera mengganti pakaian. Aku memiliki beberapa setel pakaian untukmu. Mungkin akan cocok.”
“Ikuti aku.” Marrie sudah berbalik, memandu jalan. Memasuki ruangan khusus ganti baju. Tempatnya lumayan sepi dan sedikit berdebu.
Mungkin sebelumnya tidak pernah ada yang menggunakan ruangan ini. Dengan segera wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari. Sepasang pakaian lengkap ia tunjukan pada Lynx.
“Bagaimana dengan pakaian ini? Apa kau mau memakainya? Ini memang pakaian tua, tapi kurasa ini akan cocok di tubuhmu.”
Tanpa berpikir lama, Lynx mengangguk setuju. “Aku akan memakainya. Terima kasih, Nyonya.”
Marrie menurunkan pandangannya, menatap pakaian yang berada dalam dekapannya. Jemari tangannya yang sudah keriput bermain di atas pakain tersebut. Mengelusnya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
“Sudah lama aku menyimpan ini. Baju ini adalah peninggalan mendiang suamiku. Belum pernah aku menyerahkannya pada siapa pun. Tapi padamu, aku tidak perlu berpikir dua kali. Bukan karena alasan tertentu, aku hanya ingin sedikit bernostalgia ketika aku melihat pakaian ini dikenakan oleh seseorang.”
Lynx terdiam sebentar, ikut melihat pakaian itu. Memang dari modelnya saja itu terlihat sangat tua. Mungkin sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tapi meski begitu, pakaiannya tetap terlihat bagus.
Karena sebenarnya itu bukan pakaian biasa. Pakaian rapih ala seragam prajurit yang lengkap dengan lencana-lencananya. Bisa dibayangkan jika itu ada pada tubuh Lynx, mungkin akan terlihat sangat gagah.
“Sekali lagi, Terima kasih, Nyonya. Karena telah mau meminjamkan pakaian ini padaku.”
“Ya, tidak masalah. Kau boleh berganti pakaian sekarang. Setelah itu datang ke belakang. Ada yang ingin aku lakukan,” pesan Marrie seraya berlalu pergi.
Sementara Lynx, ia tampak kebingungan. Ekspresinya itu seolah menggambarkan banyak tanda tanya yang membutuhkan jawaban.
“Apa yang akan dia lakukan, ya?” gumamnya sembari mengetuk-ngetuk dahi.
***
Sekitar setengah jam sudah berlalu. Namun ternyata hujan yang sejak pagi buta turun, sampai saat ini tak kunjung turun. Membuat kedai tidak seramai hari-hari kemarin.
Para pelanggan yang datang hanya segelintir orang, bisa dihitung menggunakan jari. Tapi Marrie tidak khawatir atau kecewa, dia menerima bagaimana keadaan semestinya tanpa banyak menuntut.
Lynx yang sebelumya sibuk berduaan dengan Marrie, kini sedang berjalan menuju ruang makan pelanggan seraya membawa dua porsi mie kuah melalui nampan dengan hati-hati.
Hazel yang sedang berkutat dengan aktifitasnya membersihkan lantai dari cipratan hujan, masih belum menyadari kehadiran Lynx yang semakin mendekat padanya.
Sedangkan orang-orang yang mulanya sedang sibuk menikmati hidangan, kini mulai fokus pada sosok Lynx. Entah terpanah akan ketampanannya, atau mungkin karena sesuatu yang tampak baru dari pria itu.
Dan bisa jadi karena kedua alasan itu.
Suara berat yang menyapa barusan, membuat lengan Hazel yang sibuk menggerakan kain jadi terhenti. Karena memang sudah hafal siapa pemilik suara itu, Hazel tidak berniat untuk menatap padanya.
“Apa yang kau bicarakan? Aku sedang bekerja. Kalau kau memang mau makan, silakan makan sendiri. Kau kan pegawai kesayangan Nyonya Marrie, dia pasti tidak mungkin memarahimu,” balas Hazel, kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Jangan bicara begitu, Hazel. Aku membawa dua porsi makanan untuk kita. Nyonya Marrie juga sudah memberi izin. Karena pelanggan hari ini tidak terlalu ramai, kita bisa sedikit santai,” rayu Lynx, ingin membuat gadis itu menoleh.
Berhubung hari sudah semakin siang, dan jam makan siang sudah hampir tiba, Hazel berpikir mungkin tak apa jika sebentar dirinya beristirahat dengan mengisi perutnya yang mulai keroncongan.
Perlahan, tubuhnya yang sedari tadi berjongkok untuk membersihkan lantai sudah berdiri tegap. Tubuh mungilnya berbalik ke belakang, dan di detik yang sama Hazel terlihat mematung dengan kedua mata yang terbuka lebar.
Merasa asing dengan penampilan Lynx yang menurutnya agak berlebihan untuk seorang pegawai yang tugasnya hanya menarik pelanggan. Bukan hanya pakaian yang dikenakannya saja yang berbeda, tapi potongan rambutnya juga.
“Baju siapa yang kau pakai? Dan kenapa kau memotong rambutmu?” tanya Hazel setelah seperkian detik terdiam dalam belenggu kagum.
Lynx menurunkan pandangan untuk memeriksa penampilannya sendiri. Lalu kembali menatap Hazel sambil melebarkan senyum kaku.
“Um, ini milik Nyonya Marrie. Dan juga, dia yang memotong rambutku. Dia bilang, kalau pria dewasa lebih pantas dengan potongan rambut seperti ini. Bagaimana menurutmu, Hazel?”
Hazel berdeham sebentar. Saat mengedarkan pandangan, dirinya merasa tidak nyaman. Karena banyak pasang mata yang menatap dirinya dengan berbagai tatapan.
Situasi mencekam dari sorot mata sinis dan aura menakutkan dari beberapa gadis yang sibuk menonton, membuat Hazel tidak tahan. Jadi Hazel sulit untuk bersikap seperti biasa karena merasa diawasi.
Lynx yang paham seperti apa situasinya, menaruh nampan yang berisi dua porsi mie pada meja didekatnya. Lalu menyentuh bahu Hazel, menuntunnya untuk duduk.
“Jangan pikirkan tatapan-tatapan itu. Bersikap saja seolah kita teman dekat. Kita hanya perlu makan, setelah itu kembali pada pekerjaan masing-masing,” ucap Lynx pada Hazel setengah berbisik.
__ADS_1
“Baik.” Hazel manut saja. Duduk dihadapan pria itu masih dengan kepala yang menunduk.
Marrie yang ternyata diam-diam mengawasi dari dekat pintu, berusaha untuk membuat suasana kembali kondusif. Mencairkan suasana tegang ini dengan mengalihkan perhatian para gadis yang tampak tak senang dengan pemandangan itu.
“Ada apa nona-nona? Apa kalian mau menambah porsi makan?” Marrie berjalan ke arah meja beberapa pelanggan, menatap satu per satu wajah mereka, hingga tatapan mereka fokus tertuju pada dirinya.
“Kalau sudah selesai, silakan pergi. Karena hujan hari ini semakin deras, sepertinya kedai kami akan tutup lebih cepat,” tambah Marrie, membuat mereka semua jadi fokus pada makanan masing-masing.
Lynx yang paham karena sudah dibantu oleh Marrie, langsung mengacungkan jempol pada wanita paruh baya tersebut. Meski kelihatannya Marrie tampak tidak peduli sebab sifat ketus dan omongan sarkasnya, tapi ternyata dia mulai perhatian pada mereka berdua.
“Nah, Hazel. Sekarang kau bisa fokus makan. Nikmatilah dengan tenang, abaikan bisikan atau tatapan dari orang di sekitar kita. Mereka hanya iri,” kekeh Lynx.
“Ya, terima kasih.”
Lynx mengerutkan kening, karena sejak tadi Hazel tidak mau menatapnya sama sekali. Hanya fokus menunduk seolah-olah memang tidak mau beradu pandang.
Ia jadi khawatir, mungkinkah gadis itu tidak suka dengan perubahan penampilannya saat ini?
“Kau belum mengatakan apa-apa tentang penampilanku. Apa kau tidak menyukainya?”
Mulut penuh Hazel berhenti mengunyah, sekali mencuri pandang pada pria di depannya. Tak berlangsung lama, hanya sekitar tiga detik saja dirinya dapat memandangi Lynx.
“Apa itu penting untuk kujawab?”
Pesona yang Hazel akui dari Lynx adalah rambut gondrongnya yang berwarna oranye gelap dengan ujung sedikit menjungkit-jungkit, terlihat sedikit mengembang dan lembut. Dan ketika melihat pria itu sudah mengganti potongan rambut, Hazel agak sedikit terkejut.
Dalam artian, bukan dirinya tidak menyukai perubahannya itu. Karena jika bisa jujur, Lynx sudah mirip seperti pangeran Kerajaan dengan pesona yang lebih segar dan tetap terlihat tampan, persis seperti apa yang selama ini dirinya idam-idamkan.
“Aku ingin seluruh fokusmu tertuju padaku. Ingin kalau kau mulai menyukaiku. Tak apa jika semisal kau hanya menyukai fisikku, itu sudah membuatku senang. Mengetahui kalau kau tertarik padaku, mungkin aku bisa tersenyum sepanjang hari seperti orang gila,” ungkap Lynx tulus.
Hazel tertawa pelan. Helaian rambut yang menghalangi pandangannya ia sisipkan ke belakang telinga, lalu dengan sedikit malu dirinya kembali menatap Lynx.
“Apa yang lucu?”
“Tidak ada.” Kepala Hazel menggeleng pelan. “Lanjutkan saja makanmu. Karena saat ini fokusku hanya tertuju pada mie dengan aroma yang menggugah di depanku.”
“Sepertinya salah jika meminta pendapat pada orang cuek tapi malu-malu sepertimu,” celetuk Lynx sambil bersidekap di atas meja.
“... Tapi aku tidak akan menyerah, aku akan membuatmu duduk di singgasana sebagai Ratuku.”
“Uhuk!” Hazel tersedak ketika mendengar perkataan terakhir pria itu, matanya sedikit membelalak ketika menatapnya. “Hei, kenapa kau mulai terang-terangan seperti ini?”
Lynx menggedikan bahu sembari menahan senyum. “Kau sudah tahu tentang perasaanku. Untuk apa aku sembunyi-sembunyi lagi? Kau yang bilang sendiri tentang usaha yang bisa mematahkan ketidakmungkinan, jadi aku akan melakukannya.”
Bohong jika Hazel tidak terbawa perasaan. Tapi karena rasa gengsinya masih tinggi, ia memilih untuk tetap bersikap santai dan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
Di samping itu, ketika mereka asik menyantap makanan sambil diselingi obrolan dan canda tawa. Seseorang yang berdiri tak jauh di depan kedai dengan pakaian misteriusnya, sejak tadi mengamati gerak-gerik mereka berdua.
Dia adalah pria, bersembunyi dari balik pohon yang berhadapan langsung dengan kedai makanan. Sebenarnya yang dirinya incar untuk diamati adalah Hazel seorang, tapi perhatiannya terbagi dengan Lynx karena mendadak penasaran.
“Tch, bisa-bisanya dia tertawa seperti itu. Padahal belum lama ini dia sudah kubuat menangis. Waktumu tidak banyak, tapi tampaknya kau merasa tenang saja dalam menjalani hidup sampahmu itu,” desisnya sambil terus menatap tajam ke arah mereka berdua.
***
__ADS_1