
Duduk di pojok ruangan, bersandar pada dinding kayu yang lembab, sesekali memeluk diri agar rasa dingin sedikit bisa teratasi. Ruangan yang hanya mengandalkan penerangan dari obor di beberapa sudut, menjadikan ruangan terlihat remang-remang.
Meski begitu, Lynx dan Hazel masih bisa bertatapan. Pria itu terombang-ambing dalam perasaan tak menentu. Merasakan gemuruh dalam dada seperti air yang beriak tak tenang. Tak bisa menepis perasaan tersebut di saat jarak antar tubuh hanya beberapa centi saja.
Berbanding terbalik dengan Lynx, Hazel yang dilanda kegugupan, tak sempat mengurusi debaran dalam dada yang memompa rasa panas di tubuhnya. Ketimbang merasakan perasaan tersebut, rasa cemas lebih dominan menggerayangi pikirannya.
“Mungkin hidupku tidak seburuk dirimu, Lynx. Tapi jika ditanya apakah aku pernah merasa dunia ini tidak adil, hampir setiap hari aku merutuki hal itu. Bagi orang lain, mungkin ayah adalah cinta pertama mereka. Tapi bagiku...”
“Tidak sama sekali. Ayahku lebih tepat disebut si brengsek yang tak tahu diri.” Hazel menekuk lututnya, memeluk kedua kakinya agar bisa menaruh dagunya di atas lutut.
“Sejak dulu, hubungan kedua orang tuaku tidak pernah harmonis. Lebih tepatnya saat ibuku menderita penyakit mematikan, karena semenjak itu sikap dan tingkah laku Ayahku berubah total. Dia terang-terangan berselingkuh di depan anak dan istrinya sendiri.”
“Dia tidak memedulikan ibuku yang tengah sakit parah. Jangankan peduli, berpikir untuk menggunakan hati nuraninya saja dia tidak pernah. Atau memang hatinya sudah membusuk, sampai-sampai tidak lagi memiliki perasaan pada keluarganya sendiri.”
“Di saat ibuku berjuang untuk sembuh, ayahku dengan tega membuatnya kehilangan semangat hidup. Tak jarang dia sering memukuli ibu hanya karena masalah sepele. Begitu pun padaku, masih tersimpan jelas dalam ingatan betapa sadisnya dia memberiku pukulan bertubi-tubi.”
Hazel menarik nafas panjang sebelum melanjutkan pembicaraan, merasakan dadanya yang terasa menusuk saat berusaha memompa oksigen. Entah karena angin malam, atau memang respon alami sebab teringat kenangan menyakitkan.
“Tak sampai di situ, sejak kecil sepertinya aku tidak pernah disayang olehnya. Dia terlihat sangat amat membenci anak perempuan. Pernah sekali aku mendengar dia yang mengutuk ibuku karena melahirkanku hanya karena aku ini seorang perempuan.”
Kepalanya bergerak pelan ke samping, menatap Lynx yang fokus menyimak ucapannya. “Kau tahu kenapa aku mengatakan kalau dia adalah pria paling brengsek, Lynx? Entah dia tidak ingat soal kekesalannya karena memiliki anak perempuan, atau memang hatinya yang sudah terlanjur busuk...”
“... Karena setelah beranjak dewasa, dia membuatku terjebak dalam masalah yang sudah dia perbuat sendiri. Aku dijadikan jaminan hutang olehnya. Dia yang memang sudah bakat menjadi penjudi dan hobi menghutang, sepertinya membutuhkan uang untuk membayar wanita murahan untuk tidur dengannya.”
__ADS_1
Tes.
Bukan cengeng, tapi inilah kenapa Hazel tidak mau bercerita tentang masalah hidupnya pada orang lain. Ia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh, menahan sudut matanya hingga penuh dengan genangan pun pada akhirnya akan jatuh juga.
Lynx yang tidak pernah menyela ucapan gadis itu, sejak tadi hanya diam tanpa sekali pun mengalihkan pandangannya dari Hazel. Sungguh, jika saat ini Lynx tidak terbatas oleh sekat yang dibuat Hazel, dan dirinya sedang dalam wujud manusia, Lynx tidak akan berpikir dua kali untuk membawa gadis itu pada pelukannya.
Ketakutan dan kegelisahan gadis itu begitu nampak jelas dari kedua tangan yang mengepal kuat, dan deraian air mata yang membelah kedua pipinya sudah turun semakin deras. Isak tangis yang merintih juga sudah terdengar.
“Saking bejat dan sifat bajingannya yang sudah melekat pada ayahku yang gila itu ... Ah, tunggu.” Hazel menghentikan ucapannya untuk menyusut air matanya. “... Sepertinya mulai detik ini aku tidak perlu menganggap pria gila itu sebagai ayahku. Karena seorang ayah tidak mungkin berniat untuk meniduri putrinya sendiri, kan?”
Jleb.
Ya, itu terdengar miris sekali. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat merinding sebadan-badan.
Bruk.
Lynx sudah tak sanggup mendengarnya lagi, jadi ia sesegera mungkin datang pada Hazel dengan berdiri tepat di depannya. Menyundulkan kepalanya pada wajah gadis yang sedang menangis tersedu-sedu tersebut.
“Cukup, Hazel. Hentikan. Dan maafkan aku karena telah memaksamu untuk menceritakan semuanya. Pasti selama ini berat dan menyakitkan bukan?” Lynx berbicara sambil terus menggerakkan kepalanya pada wajah Hazel, lebih seperti sedang mengelusnya.
Berhubung Lynx sedang dalam bentuk rubah, jadi hanya inilah cara yang dapat ia lakukan untuk memenangkan Hazel. Tidak ada pelukan, tidak bisa juga menghapus air matanya, di posisi ini Lynx semakin menyadari betapa jauh peluang dirinya untuk menjadi seorang pria yang dibutuhkan Hazel.
“Kata sabar dan kalimat penenang mungkin sudah muak kau dengar. Aku hanya bisa mengatakan terima kasih padamu. Hei, Nona. Kau tahu? Tidak semua orang bisa sekuat dirimu. Keluhan yang sering kau keluarkan, rutukan pada Tuhan yang selalu kau ucapkan, bukan mengartikan bahwa dirimu kurang bersyukur dan lemah.”
__ADS_1
“Ingat perkataanku, Hazel. Jika kau perempuan lemah, kau tidak akan pernah ada di titik ini. Kau tidak mungkin bisa bertahan sejauh ini. Jadi, aku sangat bangga padamu. Apa pun yang lakukan, semua cara yang bisa kau gunakan, bahkan jika itu harus merendahkan dirimu di depan orang banyak...”
“Aku akan tetap bangga padamu. Jangan berpikir berapa banyak orang yang ada dipihakmu. Jika ada seratus orang yang setia di sampingmu, maka aku akan menjadi salah satu dari mereka. Dan jika hanya ada satu yang masih setia menemanimu bagaimana pun keadaannya, ingatlah itu hanya aku,” tutup Lynx, ucapannya benar-benar tulus dari hati.
Lynx tidak berpikir akan seperti apa Hazel mengartikan ucapannya barusan, atau akan bagaimana Hazel memahami maksudnya. Tapi yang jelas, apa yang dikatakannya bukan bualan semata.
Namun setelah seperkian detik berlalu, Hazel tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya bisa menangis. Kali ini air matanya dibiarkan begitu saja, tanpa berniat untuk menyekanya. Toh, bulu-bulu lembut milik Lynx sudah menyedot habis sebagian air matanya.
“Hazel.” Pria itu berbicara lagi, namun pandangannya sudah mendarat pada mata sembab gadis itu. “Peluk aku jika kau mau. Tuangkan kesedihanmu padaku. Tak apa, jangan sungkan. Kita adalah teman dekat bukan? Sudah tahu rahasia masing-masing.”
“... Bahkan kau sudah melihat diriku. Semuanya, tanpa celah sedikit pun. Aku tak keberatan menjadi pendengarmu. Tidak peduli jika yang kau keluarkan hanya umpatan atau keluhan tentang hidup yang tidak adil. Aku---”
Gyutt.
Hazel tanpa mengatakan apa pun, lantas menarik tubuh rubah itu ke dalam pelukannya. Tidak ada hal lain yang Hazel pikirkan selain untuk melegakan dadanya yang terasa sempit dan sesak. Juga tidak berpikir ulang bahwa rubah yang dipeluknya saat ini adalah pria yang sering membuatnya kesal.
Lynx yang sempat terdiam membeku beberapa detik tanpa mengedipkan mata, perlahan moncong rubahnya membuat seringaian penuh makna. Degup jantungnya semakin memburu di dalam sana. Tak peduli jika semisal Hazel bisa merasakan seberapa kencangnya jantung Lynx berdentum.
“Nona kecil, aku memang bisa menyembuhkan luka orang lain. Tapi tidak dengan luka di hati mereka. Jadi ... Berjanjilah untuk hidup lebih bahagia. Jika kau tidak menemukan bahagia di dalam hidup yang sedang dijalani, ayo kita ciptakan bersama-sama bahagia itu.”
Lynx membisikan perkataan lembut tersebut tepat di telinga Hazel. Tak tahu gadis itu mendengarnya atau tidak. Tapi perasaan euforia yang menggelora sudah memporak-porandakan isi hati Lynx, hingga sulit untuk menurunkan sudut bibirnya yang sedang tersenyum.
***
__ADS_1