
“Ya, aku takut karena hal itu. Seperti yang kau tahu, sebelumnya kita pernah membicarakan hal ini, bukan? Tentang menjaga jarak dan batasan, agar seiring berjalannya waktu kita tak berubah. Tetap seperti ini, atau setidaknya tidak akan ada yang tersakiti,” ujar Hazel setelah beberapa menit yang lalu terdiam dalam pikiran yang membelenggu.
Tarikan nafas yang begitu kasar jelas terdengar. Lynx mengerti jika ini terlalu cepat, namun dirinya juga tak bisa terus menahannya. Setiap jengkal jarak yang membentang antara dirinya dengan gadis itu, seolah ada belati yang menghunus dadanya.
Sangat sakit. Lynx memprediksi mungkin rasa sakitnya melebihi dari sakit atas penolakan cinta. Setidaknya Lynx sudah mengungkapkan perasaannya. Dari pada terlambat untuk memberitahu, dan malah berujung penyesalan nantinya.
“Hazel, kau tidak ingat apa yang kita bahas kemarin? Kau mengatakan kalau bersama orang yang dicintai, lebih bahagia ketimbang memiliki seisi dunia ini,” ungkap Lynx, memandangi tubuh Hazel yang masih setia membelakanginya.
Terlihat kalau barusan gadis itu menganggukan kepalanya. “Itu benar.”
Lynx memantapkan hatinya sebelum berbicara, menahan nafas beberapa detik untuk menghilangkan rasa gugup yang melanda. Lalu matanya dengan fokus memandangi punggung Hazel di depan sana.
“Aku ... Mencintaimu, Hazel.” Nada bicaranya terdengar lantang, membuat Hazel yang mendengarnya langsung mematung di tempat karena kaget.
“Aku sudah jatuh hati padamu, Nona kecil,” tambahnya kian memperjelas.
Kali ini Hazel lantas membalikan tubuhnya, menatap Lynx tidak percaya. Mulutnya yang terasa kaku, ia paksakan untuk tertawa. Terdengar hampa dengan ekspresi bingungnya itu.
“Haha! Leluconmu tidak lucu, Lynx. Berhenti mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Aku akan melupakan apa yang sudah kau katakan, jadi lebih baik kita---”
“Tidak ada yang sedang melucu di sini. Juga, aku sedang tidak bercanda. Situasi sedang tegang seperti ini, kau anggap ini sebuah lelucon? Apa perasaanku kau anggap remeh?”
Hazel meneguk ludah susah payah saat melihat betapa seriusnya ekspresi yang dibuat pria berambut gondrong itu. Berusaha dicerna berapa kali pun, rasanya Hazel masih tidak percaya kalau Lynx akan mengungkapkan hal seperti itu.
“Lynx, kumohon. Bukan maksudku meremehkan apa yang barusan kau katakan. Tapi---”
“Tapi apa?” Lynx kembali memotong ucapan gadis itu, sehingga Hazel harus menghela nafas, ia terlihat pasrah.
__ADS_1
Sebelah tangan Lynx ditempelkan pada dada, lalu berjalan selangkah demi selangkah untuk lebih dekat pada Hazel. “Aku amat mengerti situasi kita seperti apa. Anggap saja aku egois, anggap saja aku tidak tahu diri. Karena mahluk sepertiku berani mencintai manusia sempurna sepertimu.”
Semakin terkikis jarak di antara keduanya, Hazel tidak punya pilihan selain berjalan mundur. Sampai-sampai tak sadar kalau punggungnya sudah menempel pada lemari kayu di belakang.
“Kau keliru, Lynx. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Aku hanyalah gadis biasa yang terpaksa hidup di atas penderitaan yang tak pernah aku inginkan. Lagi pula, kita baru kenal. Kau tidak bisa menilaiku begitu saja dan dengan mudahnya kau langsung menyimpulkan kalau hatimu memilihku untuk dicintai.”
Lynx tidak peduli apa yang dikatakan Hazel, dentuman dalam dadanya semakin terasa ketika menatap lekat manik kecoklatan milik gadis di depannya. Keindahan tak berdasar, ia temui di sana. Sehingga dirinya tidak menemukan kata jemu saat ingin menatapnya.
“Jatuh hati padamu semudah mengedipkan mata. Dan serupa mata yang tak perlu diperintah untuk berkedip, hatiku pun tak perlu perintah pada siapa akan berlabuh. Dalam lubuk hati yang paling terdalam, hanya namamu yang terukir di sana, Hazel.”
Meski sudah mendengar kata-kata gombalan yang dilontarkan pria itu, tetap saja Hazel tidak bisa menerimanya dengan mudah. Terlebih, sepertinya hanya Lynx saja yang merasakan perasaan itu.
Atau lebih tepatnya, Hazel masih belum menyadari. Bahwa selama ini dirinya pernah diam-diam berdebar hanya karena sentuhannya, atau merasa salah tingkah terhadap perhatian Lynx yang sederhana.
Jika bukan cinta, lalu apa lagi?
“Kau bisa merasakannya, Hazel? Percayalah, hanya denganmu jantungku bisa berdetak sekencang ini,” kata Lynx seraya memejamkan mata, tak sadar kalau ekor dan telinga runcingnya sudah muncul.
Hazel yang memberanikan diri untuk mengangkat pandangan, melihat dengan nyata bagaimana pipi pria dihadapannya memerah. Ekor lebat berwarna oranye gelap itu bergerak senang, telinga runcingnya pun sesekali melambai lembut.
Tidak tahu parfum dari mana, tapi mendadak Hazel menghirup aroma yang sangat wangi. Seolah melintas dan menguar dihadapannya. Seperti bersumber dari Lynx yang menjulang di depannya.
Jemari lentiknya yang berada di atas dada pria itu pun mulai bergerak halus, meraba pelan untuk merasakan lebih lama bagaimana jantung di dalam sana memompa. Apa yang dikatakan Lynx benar, hanya disentuh rasa degupan itu begitu terasa.
Namun rasa senang saat mengetahui ternyata ada seseorang yang tulus mencintainya, mendadak layu. Berganti dengan rasa sedih setelah ditampar oleh kenyataan. Senyum di bibirnya pun sudah turun, terlihat datar dengan sorot mata sendunya.
“Lynx, jangan terlalu memaksakan keadaan.” Hazel berkata seraya menundukkan kepala, jemari tangannya pun perlahan ia tarik dari dada Lynx.
__ADS_1
“Hazel?”
Karena tak mau terlihat sedih, Hazel kembali mengangkat kepala untuk menatapnya. “Kau tahu? Aku pernah berkhayal ingin dinikahi oleh seorang pangeran yang bisa merubah hidupku. Tapi tidak dengan pangeran rubah sepertimu.”
Perkataannya menyakitkan untuk Lynx terima, terlebih Hazel mengucapkannya dengan senyuman lebar. Senyuman manis yang biasa Lynx kagumi, mendadak malah membuat guratan luka di hati.
“Bukan maksudku ingin mematahkan harapan atau perasaanmu. Tapi ... Kau tahu sendiri, Lynx. Kita tidaklah sama. Aku manusia, dan kau mahluk dari dunia lain. Kita berbeda dunia. Kau juga pernah berkata bukan? Perihal larangan dari klan-mu.”
“... Apakah mereka melarangmu untuk menjalin hubungan dengan manusia? Kalau iya, menurutku kau harus menuruti apa yang sudah tertulis dalam peraturan di duniamu,” imbuh Hazel.
Lynx tahu kalau jatuh cinta pada seorang manusia adalah sebuah kesalahan. Tapi hanya dari kesalahan itu dirinya bisa merasakan hidup yang sebenarnya.
Bertahun-tahun dirinya menjalani kehidupan yang tak menyenangkan, dalam sekejap berubah saat bertemu dengan Hazel. Jika kebahagiaan yang ia temukan hanya pada gadis itu, Lynx rela menukar seluruh keberuntungan di hidupnya hanya agar bisa hidup bersamanya.
Terlihat sekali jika pria itu sedang sedih, ekor dan telinganya menelungkup lesu. Hazel jadi tidak enak hati. Tapi kebenaran tetaplah harus ia katakan. Ia tidak mau jika pada akhirnya kebahagiaan sesaat malah membawa sengsara.
Puk, puk, puk.
Hazel mencoba untuk menghibur Lynx dengan memberinya sebuah tepukan lembut di ubun-ubun kepala. Sehingga manik indah itu mau menatapnya kembali.
“Ada yang bilang, jika sebuah ketidakmungkinan bisa dipatahkan dengan usaha yang besar. Jika memang kau sangat mencintaiku, kenapa kau tidak berjuang dan membuktikannya? Karena kenyataan bahwa hidup bersama dengan orang yang dicintai lebih bahagia, tidak akan pernah bisa ditentang lebih apa pun.”
Lynx tidak tahu apakah itu sebuah kesempatan untuknya atau memang sebuah kata-kata penenang saja. Tapi ia tidak akan menyia-nyiakannya.
Jika itu yang diinginkan oleh Hazel, maka dirinya akan membuktikannya. Bahwa cinta yang tumbuh di hati, bukan sekedar bualan semata yang tidak bermakna. Lynx akan menunjukkan, bahwa keberadaan cinta tidak bisa terhalang oleh apa pun.
Sekali pun, dunia tempat dirinya dan Hazel berasal sangatlah berbeda.
__ADS_1
***