
“Baik-baik di rumah, Hazel. Aku sudah izin pada Nyonya Marrie. Aku juga sudah bilang padanya untuk jangan terlalu keras padamu. Ketika sudah pulang kerja, kau harus hati-hati. Ada banyak orang jahat yang mengincarmu.”
Lynx mengucapkan itu ketika sudah selesai bersiap dan lekas akan pergi dari rumah. Di depan rumah, mereka berhadapan. Melakukan salam perpisahan sambil mengatakan beberapa hal sebelum benar-benar meninggalkan rumah.
Menarik nafas dalam-dalam, Lynx kembali melanjutkan ucapannya, “Bersabarlah, Hazel. Sampai waktunya tiba, kita akan sama-sama pergi dari desa ini. Setidaknya sampai hutang kita pada Nyonya Marrie benar-benar lunas, baru kita bisa kabur dari sini dengan tenang.”
Hazel mengangguk paham, bibir tipisnya mengukir senyuman sedih. Dari lubuk hati yang paling dalam, ada ketidakrelaan yang hadir. Tapi belum bisa melebihi rasa gengsi yang lebih dulu mengungguli diri.
“Maaf sudah menyusahkanmu selama ini. Maaf juga telah membuat hidupmu penuh kebisingan karena tingkahku yang menjengkelkan. Kalau boleh jujur, aku sangat senang bertemu denganmu. Karenamu, aku mengerti bahwa jatuh cinta sangat menyenangkan juga sangat menyakitkan,” ucap Lynx kembali.
Perlahan tubuh jangkungnya mundur, semakin merentangkan jarak antara dirinya dengan gadis itu. Hingga ketika tubuhnya sudah tak lagi menghadap pada Hazel dan sibuk menatap ke depan untuk memapah diri, saat itu Hazel meneteskan air matanya.
Melalui perkataan Lynx tadi, entah kenapa Hazel menganggap kalau ini adalah salam perpisahan tanpa ada pertemuan kembali. Membangkitkan rasa penyesalan karena sudah memupuk gengsi dan ego yang membutakan perasaannya sendiri.
“Maaf,” lirih Hazel dengan kepala menunduk, tangannya memeluk diri sambil terisak-isak.
Sedikit mengangkat pandangan, di depan sana sosok Lynx sudah benar-benar menghilang. Beriringan dengan senja yang melenyap dan disusul dengan langit yang mulai menggelap.
Dia pergi tanpa membawa apa-apa selain pakaian yang melekat pada tubuhnya. Hazel ingin mempersiapkan pakaian dan beberapa makanan untuknya, namun Lynx menolak tegas. Membuat Hazel bertambah khawatir karena masih membingungkan suatu hal.
Tentang tujuan Lynx yang ingin menetap kemana selama berpergian, juga alasan dari balik inginnya yang mendadak pergi seperti ini. Tapi ada satu pertanyaan yang sempat terbesit dalam pikiran Hazel hingga memunculkan praduga lain.
Dari kedai makanan tua yang beberapa jam sebelumnya mereka kunjungi, tepatnya saat membahas bulan purnama dengan sinar biru yang terang, saat itulah perbedaan sikap Lynx sangat kentara terlihat.
Hazel kembali bertanya-tanya, apa mungkin alasan Lynx yang meminta waktu untuk menyendiri karena alasan bulan purnama itu? Bisa saja ada suatu hal yang terjadi saat bulan purnama langka itu sudah muncul.
“Masih banyak misteri tentang dirinya yang belum aku ketahui. Ini sangat menyiksa. Andai aku dengan mudah dapat mencari informasi tentang makhluk seperti Lynx, mungkin aku tidak perlu bingung seperti ini. Atau setidaknya Lynx mau mengatakan alasan sebenarnya, tapi ... Ah, sudahlah.”
Hazel berjalan memasuki rumah, menutup pintu rapat-rapat. Menyalakan obor di setiap sudut ruangan untuk memberi penerangan. Ada perasaan aneh yang ia rasakan saat melihat rumah tua yang biasa ditempati.
Ruangan yang kosong, sepi dan hening seolah terasa berbeda sekarang. Ketiadaan Lynx di sini membuat Hazel merasa kacau. Biasanya setiap malam dirinya mendengar suara rubah yang mengaum lucu, tapi sekarang tidak ada suara selain angin dingin yang berhembus.
Hazel merosotkan tubuhnya ke lantai, punggungnya menempel pada dinding kayu yang dingin. Lalu menekuk kaki agar bisa memeluk diri. Menempelkan dagu pada atas lutut seraya memejamkan mata.
“Belum ada sejam, tapi kenapa aku merasa kesepian? Padahal sedari awal aku sudah akrab dengan rasa sepi. Tidak ada yang menemani dan terbiasa melakukan semua hal sendiri. Belum lama mengenal Lynx, tapi kenapa setelah dia pergi aku malah merasa seperti ini?”
Memang aneh, dan kadang tidak masuk akal jika dipikir-pikir. Tapi begitulah cara cinta masuk dan menyelinap pada hati seseorang. Sekali pun hati tersebut penuh lara, atau sekeras batu, cinta dapat menaklukannya.
***
__ADS_1
Hari-hari berlalu dengan cepat, tapi bagi Hazel yang merasakannya waktu sangat berjalan lamban. Pergi dan pulang bekerja Hazel lakukan secara berulang selama lebih dari tiga hari ini.
Tapi tetap saja sebisa apa pun Hazel menyibukkan diri, pikiran tentang Lynx selalu hinggap dalam benaknya. Memori singkat yang tak ingin dikenang, malah berputar spontan dalam ingatan. Seolah seperti serial drama yang menunjukkan scene flashback.
Bahkan tanpa sadar Hazel sering menghitung hari, menerka-nerka kapan pria itu akan kembali. Entah dimana kakinya berpijak, matanya begitu lincah berpencar ke semua tempat untuk melihat apakah ada Lynx di sana atau tidak.
Namun sayangnya, Lynx tidak pernah ditemukan di mana pun. Ibarat sudah ditelan bumi, begitulah keadannya. Percuma mencari ke mana-mana, Hazel sudah pasrah.
“Ayolah, fokus!” Hazel menepuk-nepuk pipinya sendiri, mulai lelah karena sulit mengontrol isi pikirannya yang selalu melambung ke mana-mana.
Sore ini, ketika pekerjaannya sudah selesai dan tengah berjalan menuju rumah, Hazel melihat ke tanah kosong yang sekarang sedang sibuk didatangi banyak orang. Sebagian dari mereka begitu gesit memasang banyak stan untuk sebuah acara.
“Wah, para pedagang sudah berbondong-bondong mengambil lapak untuk tempat jualan mereka. Sepertinya ramalan malam ini yang mengatakan kalau bulan purnama biru akan muncul akan benar-benar terjadi,” ujar seorang gadis yang kebetulan melintas didekat Hazel.
“Benar. Kita harus datang untuk bersenang-senang. Pasti ada banyak para pemuda yang masih melajang, setidaknya aku harus mendapatkan satu di antara mereka,” sahut temannya.
Hazel yang mendengar obrolan mereka hanya bisa mengulum senyum sambil menggerakkan kembali langkah kaki, mencoba mengubur dalam-dalam impian yang tak mungkin bisa dirinya wujudkan. Toh, untuk saat ini Hazel tidak punya minat untuk tertarik pada laki-laki lain.
Di hatinya sudah memantapkan satu nama, meski belum sanggup untuk Hazel akui. Seperti ada namun tak dianggap. Tapi tetap bisa dirasakan. Bukan masalah gengsi kali ini, tapi lebih ke sadar diri.
Tapi tetap saja sudah tertampar berkali-kali oleh kenyataan, Hazel belum bisa menerimanya. Andai saja jika dunia merestui, mungkin Hazel tak akan bimbang untuk langsung mengutarakan isi hatinya.
“Hazel!”
Suara seseorang yang memanggilnya berulang kali membuat Hazel kembali menghentikan langkah. Saat menengok ke belakang, ternyata itu adalah Marrie. Wanita pemilik kedai tempat dirinya bekerja.
Kenapa wanita paruh baya itu memaksakan diri untuk belari-lari sampai teronggok-onggok hanya untuk menyusul Hazel?
“Nyonya? Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan?” Hazel sudah berpikir negatif, karena tak biasanya ia sampai disusul seperti ini.
Tapi saat melihat Marrie menggelengkan kepalanya, Hazel sedikit lega. “Bukan, Hazel. Tapi ini tentang malam nanti. Karena bulan purnama langka akan muncul, maukah kau datang ke kedai untuk kembali bekerja?”
“Tenang, aku akan membayarmu lebih tinggi dari upah harian biasa. Bagaimana? Walau Edgard tak ada, tapi ternyata pelanggan tetap berdatangan,” sambungnya untuk terus membujuk.
Hazel berpikir sebentar. Sebenarnya tubuhnya sedikit lelah, tapi ia tergiur dengan bujuk rayu yang ditawarkan wanita tua itu. Diiming-imingi upah harian yang lebih besar, Hazel jadi berpikir dua kali.
Demi melunaskan hutang agar bisa cepat-cepat pergi dari desa ini, Hazel harus bisa menguatkan tubuhnya dari rasa lelah yang mendera.
Sambil melebarkan senyum, Hazel menjawab, “Tentu, Nyonya. Aku akan datang malam ini.”
__ADS_1
***
Malam pun tiba, dan sesuai ramalan yang mengatakan bahwa malam ini akan terjadi bulan purnama langka, maka itu benar-benar terjadi. Desa di malam hari yang biasanya sunyi, kini para penduduknya ramai-ramai keluar rumah untuk merayakan festival ini.
Walau Hazel tidak pernah merayakan festival seperti ini, berkat bekerja di kedai Marrie, ia jadi tahu seperti apa raut bahagia orang-orang yang merayakan festival bersama orang terkasih atau pun keluarga.
Saat menatap ke luar jendela untuk melihat langit malam yang cerah, Hazel terus menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Bulan dengan bentuk bulat sempurna dan sinar biru terangnya yang cantik sangat memanjakan mata siapa yang memandang.
Sampai dimana Hazel selesai melakukan pekerjaannya, bulan itu tetap berada di tempatnya. Semakin malam, maka sinar biru dari bulan itu terlihat semakin terang. Dan banyak orang-orang yang berlalu lalang hanya untuk mencicipi berbagai makanan yang dijual.
“Kerja bagus, Hazel. Ini upahmu untuk malam ini,” ujar Marrie seraya menyerahkan beberapa lembar uang.
Tapi Hazel menolaknya. “Tuliskan saja sebagai pembayaran hutangku padamu, Nyonya.”
“Apa kau yakin? Sebagian upahmu sudah kupotong. Ini sisa dari upahmu, lebih baik kau simpan untuk membeli sesuatu.”
Lagi, Hazel menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa, Nyonya. Aku tidak memiliki barang yang ingin dibeli.”
Karena tidak ada hal yang akan dibicarakan lagi, Hazel berpamitan untuk pulang. Ingin cepat-cepat membaringkan punggungnya yang sudah kaku seperti papan, rasanya amat pegal.
Di tengah-tengah perjalanan, Hazel berulang kali menjumpai orang-orang dengan wajah berseri dan tersenyum tanpa ada beban. Sedikit terbesit Hazel pun ingin berada di posisi seperti mereka.
“Oh, ayolah. Untuk apa iri dengan mereka?” Hazel bergumam sedih, memalingkan wajahnya dari tempat kerumunan di sana.
Saat memasuki jalanan sepi, Hazel merasakan sesuatu yang janggal. Sudah berkali-kali kepalanya menengok ke belakang karena mendengar suara langkah kaki yang seperti sedang membuntuti.
Tapi saat dilihat ternyata tidak ada siapa-siapa. Karena perasaannya semakin tidak enak, Hazel kian mempercepat langkah kakinya. Tapi tanpa diduga, seorang pria yang bersembunyi dibalik pohon tiba-tiba melompat ke hadapan Hazel.
Dia adalah pria yang tempo hari mengejar Hazel. Hanya dengan melihat wajahnya, Hazel langsung merasa kedua kakinya lemas. Dipikirannya saat ini sudah penuh dengan bisikan yang menyuruhnya untuk segera kabur.
“Aku sudah menunggu lama untuk ini. Kupastikan malam ini kau tidak akan bisa kabur lagi,” ucapnya dengan seringaian jahat diakhir ucapan.
“K-kau?!” Hazel pelan-pelan bergerak mundur saat pria itu kian maju padanya.
Tapi tubuhnya mendadak membeku di tempat saat punggungnya tak sengaja membentur sesuatu. Bukan pohon, karena Hazel tahu betul bahwa dirinya berada di jalanan. Terdengar sekali dibelakang telinganya saat ini ada suara deruan nafas seseorang.
Ralat, bukan seseorang tapi lebih dari seorang. Karena deruan nafas itu terasa di kanan dan kiri sisi tubuhnya. Hawa ketakutan kian memuncak mengerubungi pikiran Hazel, sampai-sampai ia tak sanggup untuk menengok ke belakang.
“Kubilang jangan harap kau bisa kabur. Karena kali ini aku tidak menangkap tikus liar sepertimu sendirian, ada banyak rekanku yang sudah seperti serigala kelaparan, mereka sangat tertarik padamu,” katanya sambil tertawa bak villain.
__ADS_1
Dalam posisi ini yang sudah terkepung dari berbagai sisi, apakah Hazel benar-benar akan jatuh ke dalam tangan pria jahat itu?
***