Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 13 - Jangan Jatuh Cinta?


__ADS_3

Hari sudah berganti. Disambut dengan kicauan burung yang hinggap di dahan pepohonan. Suaranya amat nyaring. Sinar mentari pun perlahan mulai menyingsing ke atas cakrawala.


Hazel yang masih terlelap di alam bawah sadar, disusul dengan kedua alisnya yang mulai bergerak-gerak. Dahinya pun mengerut, perlahan kelopak matanya yang tertutup mulai terbuka.


Hal pertama yang ia rasakan adalah seluruh tubuhnya yang pegal-pegal. Semalaman dirinya tidur dalam posisi duduk. Tapi ada satu yang membuatnya heran, tubuhnya yang tertutup selimut memunculkan tanda tanya dalam benak gadis itu.


“Seingatku, aku tidak pernah memakai selimut. Kalau pun aku tahu akan tidur, tidak mungkin aku tidur di sini. Jangan-jangan Lynx masuk ke dalam kamar dan melihat semua ini?” Hazel mulai menduga-duga.


Sebenarnya tak masalah jika pria itu melihatnya, hanya saja Hazel sempat ingin menyembunyikannya sampai jahitannya selesai. Tapi apa boleh buat, kalau Lynx sudah tahu maka dirinya tak perlu menutupinya lagi.


Beranjak dari kursi, Hazel melakukan peregangan sebentar pada tubuhnya. Hidung mancungnya berkerut-kerut, mendeteksi aroma masakan yang mampu membuat perutnya keroncongan.


“Apa mungkin dia sudah bangun sepagi ini untuk membuat sarapan?” Hazel kembali bergumam, kaki mulusnya perlahan berjalan keluar kamar. Ingin memeriksanya sendiri.


Setibanya di dapur, Hazel langsung memasang wajah cengo tanpa berkedip. Namun beberapa detik kemudian, mulutnya tak sanggup menahan tawa. Sehingga semburan tawaan pun pecah, menggema dalam ruangan hening dan membuat pria yang tengah berkutat dengan tungku api langsung menoleh.


“BWAHAHAHA!” Hazel tidak bisa membuat mulutnya berhenti dari terbahak-bahak, perutnya pun mulai terasa kram karena terlalu banyak tertawa. Sehingga sudut matanya mengeluarkan cairan.


Lynx yang ikut tertawa karena mendengar suara tawaan gadis itu, saat itu juga langsung bisa menduga hal apa yang terlihat lucu di sini.


Sebelum berbicara, Lynx membuat pose ala-ala wanita genit. Meliuk-liukan tubuh kekarnya agar menyerupai perempuan. Sesekali ia pun mengerlingkan mata pada Hazel.


“Apa kau tertawa karena aku mengenakan pakaian ini?” Lynx mengatakannya dengan suara yang menirukan perempuan pula, tapi tetap saja suaranya terdengar lucu sebab serak khasnya tidak bisa hilang.


Apa yang dikatakan Lynx mengenai pakaian yang dikenakannya, itu benar. Hazel dibuat tertawa hingga mulutnya kaku karena melihat postur tubuh Lynx yang sangat tak cocok menggunakan pakaian ala pelayan kerajaan.


Tahu seperti apa pakaian pelayan ala kerajaan? Semacam dress berwarna hitam putih seatas lutut. Seharusnya pakaian tersebut terlihat sexy untuk perempuan tulen. Berhubung Lynx yang memakainya, jadi terlihat menggelitik.


Tidak tahu Lynx mendapatkan pakaian itu dari mana, tapi yang jelas itu terlihat sangat menggelikan. Bayangkan saja, seorang pria dengan otot besar dan tubuh tingginya memakai pakaian seperti itu.


Tapi Hazel tidak bisa menampik bahwa bagian betis Lynx sangatlah mulus dan putih bersih. Tak ada bulu-bulu halus yang tumbuh di sana. Persis seperti perempuan. Hanya saja postur dan cara berjalan pria itu yang mengacaukan penampilannya.


“Ah, sial. Pagi-pagi begini aku sudah dibuat tertawa habis-habisan,” ucap Hazel sembari mengusap ujung matanya yang basah. “Lagi pula, kenapa kau memakai pakaian seperti itu?”

__ADS_1


Lynx menggaruk tengkuk sambil melebarkan cengirannya. “Memangnya ini bukan milikmu? Aku mendapatkannya di dalam lemari tua di sana. Hanya tersisa pakaian ini saja. Pakaian kemarin sudah aku cuci sendiri. Aku jemur di belakang rumah.”


Jemari Hazel menempel pada dagu, ekspresinya terlihat sedang berpikir keras. “Hm? Aku tidak pernah punya pakaian seperti itu. Mungkin milik seseorang yang pernah tinggal di sini. Tapi apa pun itu, kau sangat tidak cocok. Setelah kering nanti, lepaskan.”


“... Aku sedikit merinding melihat kau memakai pakaian di atas lutut seperti itu,” tambah Hazel sambil bergidik.


Lynx mengangguk patuh seraya hormat pada gadis itu. “Siap!”


“Mau sarapan bersama? Aku sudah membuatkan sesuatu. Tadi pagi aku juga mencari buah di hutan. Ada apel dan buah berry. Kau bisa langsung memakannya. Semuanya sudah aku cuci sampai bersih,” sambungnya menawarkan.


Hazel bergerak ke arah meja makan. Melihat kalau memang di sana sudah disediakan banyak buah-buahan segar dalam keranjang besar. Disusun rapih dan terlihat cantik. Namun agak ambigu bagi Hazel.


Tahu kenapa Hazel berpikir ambigu setelah melihat buah-buah itu?


“Kenapa kau memetik buah di hutan?”


Bola mata Lynx yang indah bergulir cepat ke kanan dan kiri. “Eum, itu untukmu. Bukankah itu baik untuk kesehatan manusia sepertimu?”


Bagaikan bocah imut yang menggemaskan, Lynx menyimpan kedua tangan di belakang punggung. Sebelah kakinya menggerak-gerakan ujung jempolnya pada lantai, pandangannya pun turun. Tidak beradu tatap dengan gadis itu.


“Ka-karena itu istimewa. Lebih tepatnya itu hadiah untukmu. Aku tidak memiliki uang untuk membelikanmu barang mewah atau sesuatu yang kau sukai. Jadi aku berpikir untuk mencari buah segar disekitaran hutan sini,” ungkap Lynx malu-malu.


Tapi Hazel masih belum paham kemana maksud yang ditujukan pria itu. Sehingga guratan bingung di dahinya tidak kunjung hilang.


“Hadiah untukku? Kenapa tiba-tiba kau berniat memberikanku hadiah?”


“Maaf jika sudah lancang sebelumnya. Aku melihat apa yang kau lakukan tadi malam. Kau membuatkanku pakaian bukan? Padahal kau butuh tidur, tapi kau rela melakukannya hanya demi ak--”


“Jangan terlalu percaya diri,” potong Hazel cepat, membuat pandangan pria itu langsung menyorotnya.


“Aku melakukannya karena itu sudah menjadi tanggung jawab atas janjiku. Lagi pula, aku mendapatkan pekerjaan dan uang karena bantuanmu juga. Sudah seharusnya aku melakukan itu. Melihatmu yang kesusahan tanpa pakaian yang cocok, jadi apa salahnya jika aku membuatkanmu pakaian?”


Mendapat penjelasan seperti itu, entah kenapa Lynx sedikit kecewa. Bukan bermaksud bahwa dirinya tak senang, namun ekspektasi dirinya sejak awal bukan seperti itu yang dirinya mau.

__ADS_1


Dan melihat ekspresi Hazel yang berubah drastis ketika membahas obrolan ini, Lynx semakin yakin kalau di sini dirinya hanya jatuh cinta sendirian. Yah, sejak awal Lynx sudah mengetahui itu. Tapi tidak menyangka saat lebih menyadarinya, ternyata cukup menyakitkan.


Lynx tetap tersenyum, menyembunyikan perasaan kecewa atas harapan yang dirinya buat sendiri. “Apa pun itu, terima kasih. Aku juga memiliki hak di sini untuk memberimu hadiah. Karena kau sudah begitu baik padaku. Kau banyak menolongku, Hazel. Jadi biarkan aku membalas budi.”


Hazel tidak begitu mendengarkan apa yang dikatakan pria itu, mulutnya fokus mengunyah apel segar yang berada di tangannya. Namun baru beberapa kali ia mengunyah, ia merasakan sesuatu yang membuat mulutnya berhenti bergerak.


Lynx yang tidak tahu kenapa mendadak Hazel berhenti mengunyah, hanya bisa memasang ekspresi bingung. Di saat Hazel memberinya delikan sinis, Lynx semakin bertambah bingung.


“Ada apa?”


“Kau tidak benar-benar mencuci apel dan berry ini menggunakan sabun kan?” Ya, alasan Hazel berhenti mengunyah karena rasa sabun pada kulit apel itu sangat terasa kuat.


Dengan perasaan bersalah dan sedikit takut, Lynx menganggukan kepalanya perlahan. “Ma-maaf, tapi aku memang mencucinya dengan sabun.”


Hazel sudah menduganya, jadi dirinya hanya bisa memaksakan dirinya untuk tersenyum dan memilih untuk tidak mengomel di pagi hari hanya karena kebodohan pria itu.


“Hei, Lynx,” panggil Hazel dengan raut menahan kesal, tapi senyuman paksa masih terpasang di wajahnya. Dan sekarang nafsu makannya sudah hilang.


Lynx yang sudah menerka kalau gadis itu akan memarahinya, buru-buru membungkukkan punggungnya. “Maafkan aku!”


Tapi ternyata...


“Mari kita berjanji.” Di luar dugaan, karena Hazel mendadak malah mengalihkan pembicaraan.


“Eh?”


“... Untuk tidak saling jatuh cinta,” tambah Hazel, memperjelas apa maksudnya.


Detak jantung Lynx berhenti seperkian detik. Kenapa Hazel meminta hal itu secara tiba-tiba?


Lynx yang sudah menegapkan kembali tubuhnya, lantas bertanya dengan mimik datar. “Kenapa kau ingin membuat janji seperti itu?”


***

__ADS_1


__ADS_2