
Satu minggu sudah berlalu, selama seminggu ini Lynx sibuk berlatih sendiri tanpa bantuan Jack. Sesekali Lynx masuk ke dalam kelompok pasukan yang akan ikut berperang untuk memberi arahan dan sedikit pelatihan.
Karena Kerajaan Foxion melakukan aliansi dengan beberapa Kerajaan lainnya, termasuk Kerajaan Oxra, jadi di lapangan latihan tidak hanya dipenuhi oleh pasukan siluman rubah.
Banyak dari mereka datang dengan ciri khas tersendiri. Ada beberapa kuda yang bisa berbicara dikirim langsung oleh pemimpin Kerajaan Eve untuk menambah pasukan sekaligus bisa digunakan sebagai alat transportasi bagi Lynx nantinya.
Kuda yang mereka kirimkan bukan kuda sembarangan. Karena ukurannya dua kali lebih besar dari kuda biasa. Kuda itu pun memiliki sayap yang lebar, dan tentunya tampang mereka sangatlah seram.
Banyak yang mengatakan kalau kuda itu datang dari neraka. Sudah melalui pelatihan keras dan kasar sehingga bisa dipercaya untuk membantu peperangan. Fisiknya yang besar dan kuat, membuat Lynx mau menggunakan kuda itu untuk membawanya dalam meraih kemenangan.
“Jexie, apa kau mendapat kesulitan selama berada di sini?” tanya Lynx sembari mengusap kepala kuda berwarna hitam legam itu.
Kepalanya berayun pelan. “Tidak. Aku cukup senang. Dan merasa bangga karena bisa menjadi tungganganmu nantinya, Pangeran Lynx.”
Lynx tersenyum. Pandangannya menyebar ke seluruh anggota tubuh kuda di sampingnya. Bulu hitam yang mengkilap itu sungguh lembut, namun dibagian sayap yang tertekuk terasa kasar karena permukaan tulang di sayap tersebut tidak rata.
“Tolong satu kali lagi untuk hari ini. Aku akan terus mengasah kemampuanku,” pinta Lynx sebelum menaiki kuda bernama Jexie itu.
Sedikit membungkukkan tubuh dan kepala, Jexie menjawab dengan senang hati, “Tentu, Pangeranku. Silakan.”
Lynx sudah mencangklong quiver di punggungnya, berisi satu lusin anak panah. Busur pun sudah ada di tangannya. Perlengkapan sudah siap dan terpasang di tubuhnya.
Dengan segera ia menaiki kuda itu, duduk dengan nyaman. Jexie mengatur nafas terlebih dahulu sebelum berlari dengan kecepatan stabil nantinya. Di beberapa sudut tempat sudah dipasangi papan dart tempat dimana Lynx harus mendaratkan anak panah secara tepat ke sana.
Ketika Jexie mulai berlarian membawa Lynx dalam tunggangannya, pria dengan sebelah penutup mata itu mulai menarik busur, mencari bidikan yang tepat menggunakan satu mata. Agak susah memang, tapi ini bukan percobaan pertama bagi Lynx.
Hebat bukan main, panah-panah yang melesat itu berhasil mengenai titik sempurna di papan dart hanya dengan tiga kali putaran. Karena masih tersisa anak panah, Lynx berinisiatif untuk memanah dahan-dahan pohon yang terlihat sudah lapuk. Sehingga dahan di pohon itu pun berjatuhan.
“Nice! Kerja bagus, Jexie!” Lynx tersenyum bangga sambil mengelus lepala kuda itu.
“Kau lebih hebat, Pangeranku. Kemampuanmu jauh lebih meningkat dari hari-hari kemarin,” balas Jexie memuji kembali.
Lynx menuruni kuda itu sambil tertawa pelan. “Tapi aku masih harus berlatih. Aku belum bisa memanah di saat kau membawaku terbang. Mungkin aku perlu beberapa apel untuk dijadikan objek memanahku nanti.”
“Aku dengan senang hati akan terus menjadi tungganganmu, Pangeranku.” Jexie menunduk penuh hormat, menekuk sebelah kakinya.
Di saat keduanya sibuk mengobrol berduaan di taman belakang sambil terus berlatih, tanpa Lynx tahu diam-diam ada yang mengintip untuk menonton aktivitasnya. Dia berjongkok didekat pagar, sedikit menyembulkan kepala agar bisa melihat.
Karena hari mulai beranjak siang, Lynx akan istirahat sebentar. Sekaligus ingin menemui kekasihnya, memastikan kalau Hazel sudah bangun dan sarapan. Oleh karenanya ia berpamitan dengan Jexie sebelum pergi.
“Aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan makanan untukmu, Jexie. Jadi tunggulah di sini. Sore nanti kita akan berlatih bersama lagi.”
“Baik, Pangeranku.”
Melihat sebentar ke arah gudang penyimpanan senjata, Lynx sedikit khawatir bagaimana keadaan Jack. Selama seminggu ini, tidak ada tanda-tanda Jack akan keluar dari sana. Pun Lynx tidak mendengar suara sesuatu dari dalam gudang tersebut.
Selepas Lynx benar-benar pergi dari taman belakang tanpa mencurigai sesuatu karena sejak tadi diamati oleh seseorang, yang bersembunyi pun hendak pergi juga.
Tapi...
“Dari pada terus bersembunyi, kenapa tidak meminta izin untuk bergabung? Pangeran San juga bisa berlatih di sini kalau mau,” celetuk Jexie yang memang sudah menyadari kehadirannya.
__ADS_1
Dia tidak tahu apa tujuan sebenarnya San melakukan ini. Diam-diam menonton dengan raut kesal, bergemelutuk komat-kamit sendirian, seolah memancarkan dendam melalui tatapan matanya itu.
San yang hendak pergi pun jadi mengurungkan niatnya. Kepalang ketahuan, jadi San tidak mau menyembunyikan diri lagi. Setidaknya pada kuda yang amat patuh pada Lynx.
“Mana sudi aku menunjukan diri untuk berlatih di depan musuhku sendiri? Lagi pula, dengan kemampuan sihir yang aku miliki, jelas aku lebih unggul dari si bodoh itu,” sahut San dengan sarkas.
“Musuh? Bukankah kalian bersaudara?” Jexie tampak kebingungan.
Sebuah tawaan paksa keluar dari mulutnya, San berjalan ke arah Jexie dengan tatapan misterius. “Saudara? Aku tidak pernah menganggap dia saudara. Terlebih setelah dia mengibarkan bendera perang padaku, aku semakin semangat untuk membuatnya hancur.”
“... Sekarang kuberi kau pilihan, mau ikut bersamaku atau terus mematuhi si bodoh itu?”
Pertanyaan aneh, Jexie tidak mengerti apa yang dimaksud San. Dari kabar yang beredar, Jexie sedikit tahu kalau mereka berdua memang tidak memiliki hubungan yang baik.
Tapi apa memang hubungan keduanya seburuk ini?
“Maaf, Pangeran San. Aku tidak mengerti apa---”
“Jawab saja!” sergah San memotong pembicaraan.
Kalau memang begitu, Jexie tentu akan menjawabnya tanpa ragu, “Sesuai perintah dari pemimpin Kerajaan Eve, aku harus mengabdikan tubuh dan nyawaku untuk membantu Pangeran Lynx. Dia adalah Pangeranku, aku mempercayai kedamaian dan kemenangan bisa dia raih untuk seluruh negeri ini.”
“Sialan!” San tidak terima. Dia tidak mau siapa pun berada dipihak Lynx, tidak mau kalau Lynx yang sangat dirinya benci diakui kemampuannya oleh siluman mau pun ras lain.
Karena sudah gelap mata, dalam benak San terlintas satu ide buruk tanpa pikir panjang. Dipikirannya saat ini ; siapa pun yang berada dipihak Lynx, maka itu akan menjadi musuhnya.
Sebuah benda tajam semacam jarum sebesar telunjuk orang dewasa ia keluarkan dari balik jubah merahnya, itu adalah alat pengendali sihir miliknya. Jika San sudah mengeluarkannya, itu berarti dia bisa melakukan apa saja tanpa sadar.
“Pertama-tama, sebelah sayapmu harus aku patahkan.”
Deg.
Jexie sedikit terkejut, tubuhnya berjalan mundur sedikit demi sedikit. Tidak percaya kalau San akan tega melakukannya.
“Kurasa ini akan menjadi hal yang menyenangkan. Jika Lynx kehilangan sebelah matanya, kau akan kehilangan sebelah sayapmu. Bukankah itu menjadi bentuk kesetiaanmu padanya? Haha!”
Sambil mengukir senyum penuh amarah, matanya menyala nyalang, pikirannya sudah membentuk bayangan apa yang akan dilakukannya. Saat mulutnya siap untuk melontarkan kalimat sihir, sebuah kilatan cahaya berwarna biru yang menyilaukan mata membuat waktu berhenti sebentar.
Pintu gudang penyimpanan senjata terbuka, barusan adalah sihir yang dilakukan Jack untuk menghentikan niat busuk San. Dengan langkah santai dengan sedikit lunglai, Jack menghampiri mereka.
Dua jari ia tekankan pada leher San, di detik itu juga waktu kembali berjalan kembali. Namun San langsung tak sadarkan diri, tubuhnya terjatuh dan segera ditahan oleh Jack.
“Dasar nakal. Kau sangat berbahaya sekali,” desis Jack sambil membawa San ke dalam gendongan, posisinya seperti sedang memikul karung beras.
Melihat Jexie yang seperti dilanda rasa trauma, Jack menempelkan telapak tangannya pada ubun-ubun kepala kuda itu. Memberi energi untuk menenangkannya.
“Aku tidak akan menghilangkan ingatanmu tentang kejadian ini. Biar saja kau menyadari kalau di Kerajaan ini memiliki siluman seperti Pangeran San, itu berarti kau harus lebih berhati-hati dan perlu extra melindungi Lynx. Ingatlah, kalau di Kerajaan sendiri pun selalu ada musuh.”
Jexie mengatur pernafasan, mulai merasa tenang. Berpikir kalau jika tidak ditolong oleh Jack, mungkin dirinya akan cacat seumur hidup. Tak bisa lagi mengabdikan dirinya untuk membantu peperangan.
***
__ADS_1
“Pangeran Lynx!”
“Pangeran Lynx!”
“Tolong kemarilah, Pangeran Lynx!”
Suara bising dari panggilan beberapa siluman rubah yang terus berseru di bawah sana, membuat Lynx harus menyudahi aktivitasnya yang sedang asik quality time dengan Hazel.
Lynx pun segera melangkahkan kaki untuk menuju ke depan istana, karena suara bising ia dengar dari sana. Dan benar saja didekat gerbang istana sudah dipenuhi oleh gerombolan para siluman dari berbagai Kerajaan, mereka pasukan inti yang akan ikut berperang.
Entah apa yang mereka kerubungi, Lynx jadi semakin penasaran. Dan ketika tubuhnya bergerak untuk membelah kerumunan, Lynx melihat salah seorang siluman dari Kerajaan Foxion sudah terbujur bersimbah darah dan dipastikan tidak bernyawa lagi.
Sedikit terkejut, Lynx berusaha untuk tetap tenang. Tubuhnya berjongkok, melihat anak panah yang masih menancap tepat di dada siluman rubah yang sudah mati secara mengenaskan tersebut.
“Kami sedang menyiapkan formasi untuk perang nanti, tapi mendadak ada satu anak panah yang melesat menembus gerbang dan mengenainya, Pangeran,” lapornya untuk mewakili apa yang sudah terjadi.
Pandangan Lynx fokus pada ujung anak panah itu, melihat kalau ada yang berbeda dengan anak panah biasanya. “Ada yang mengirim sinyal pada kita,” ujarnya sambil mencabut paksa anak panah tersebut dari sana.
Benar dugaan Lynx, setelah ia raba-raba anak panah itu ternyata ujungnya digulung oleh kertas kasar. Setelah dibuka untuk melihat apa isinya, Lynx menyimpulkan kalau ini kiriman dari Kerajaan Maggie.
Untuk memastikan, Lynx mengendus-endus kertas tersebut. “Dari baunya, tak salah lagi ini adalah ulah para siluman anjing. Setelah aku amati isi dari kertas ini, mereka sudah memberi sinyal mengenai perang yang terjadi. Siap atau tidak siap, mereka akan menyerang kita.”
“Perang sudah semakin dekat. Sementara persiapan kita belum maksimal. Bagaimana ini?” sahut salah satu dari mereka.
Banyak dari mereka yang saling melempar pandangan, terlihat dari sorot mata mereka yang memancarkan kegelisahan dan kecemasan.
“Betul. Aku merasa kalau perjuangan kita akan sia-sia. Meski tiga Kerajaan sudah digabungkan dalam satu pasukan, tetap saja kita kalah jumlah!” Mereka yang lain ikut menimpali.
Karena ucapan-ucapan tersebut, suasana di sini semakin menegang. Seolah mendoktrin yang lain agar pesimis. Lynx sedikit kewalahan untuk membuat mereka tenang kembali.
“Strategi kita juga masih acak-acakan. Bukannya aku berusaha memperumit keadaan. Tapi faktanya itu benar, 'kan? Masih teringat jelas betapa sadisnya Kerajaan Maggie melakukan pembataian pada Kerajaan kita saat dulu, menghilangkan banyak populasi siluman rubah sampai tersisa hanya beberapa gelintir saja!”
Bisikan demi bisikan mulai terdengar, mereka mengkhawatirkan situasi buruk yang mungkin akan terjadi. Takut akan kekalahan, kehilangan nyawa, dan berakhir dengan kepunahan.
Padahal sebelumnya mereka sudah mulai mau percaya, bisa diajak kompromi dalam peperangan ini, tapi baru diberi peringatan kecil dari Kerajaan Maggie saja mereka sudah luluh lantak tak berdaya seperti ini.
“Diam!” teriak seseorang, bukan Lynx. Melainkan Jack. Entah kapan dia ada di sini.
Sesudah keadaan menjadi hening tanpa ada yang berbicara lagi, Jack pun mulai muncul ke tengah-tengah perkumpulan. Menunjukan diri pada semua siluman, dan mendekat pada Lynx.
“Kita punya Pangeran rubah yang hebat di sini. Kenapa kalian malah pesimis dan berpikir untuk menyerah sebelum dimulai? Percayalah, dengan usaha Lynx dan dibantu oleh kalian semua, kita bisa menang!” ujar Jack penuh keyakinan.
Lynx tersenyum tipis. “Ibu?” Hatinya yang gundah, mendadak hangat kembali setelah melihat kehadirannya.
Jack selalu datang di waktu yang tepat. Itu sebabnya Lynx menganggap pria itu sangatlah berjasa lebih dari sekedar sosok Ibu, dia adalah malaikat tak bersayap sesungguhnya.
Sambil menepuk pelan pundak Lynx, Jack kembali berucap, “Aku percaya, Lynx dapat mengatasi ini. Kalau kalian terus pesimis dan enggan menyumbang kepercayaan, kalian sendiri yang akan rugi.”
“... Kalian hanya fokus berlatih, biar urusan strategi dan lainnya kami yang akan memikirkannya. Kemungkinan dua sampai tiga hari ke depan Kerajaan Maggie akan mengirim pasukan, jadi sebelum itu kita harus menggiring mereka ke suatu tempat agar tidak membahayakan tempat ini.”
***
__ADS_1