Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 19 - Takut Jatuh Cinta.


__ADS_3

Malam yang panjang sudah usai. Berganti dengan pagi baru yang menyejukkan. Mungkin karena gemericik hujan yang turun membasahi bumi, membuat udara pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya.


Hazel yang mulai mengerjap-ngerjap, perlahan bangun dari tidurnya. Tidak sadar kalau sepanjang malam dirinya terlelap dipojok ruangan dalam posisi bersandar. Pantas saja sekujur tubuhnya terasa kaku karena kedinginan, juga rasa pegal membuatnya sulit untuk bergerak banyak.


Saat menundukkan kepala, Hazel langsung disuguhi pemandangan menenangkan dari Lynx yang masih tertidur di atas pahanya. Pria yang sudah berganti wujud menjadi manusia itu begitu tampan dan meneduhkan jika sedang memejamkan mata.


Tapi Hazel tidak hanyut dalam pesonanya itu. Karena bayang-bayang tentang apa yang dilakukannya semalam langsung berputar jelas dalam ingatannya. Semua perkataan yang pria itu katakan terus terngiang-ngiang dalam benak.


Hazel mengingat semuanya. Mungkin karena terlalu banyak menangis, kepalanya sedikit pusing. Tapi gadis itu tidak melupakan satu hal pun yang terjadi waktu semalam. Seolah secara runtut satu per satu, isi kepalanya mengulang kembali tentang kejadian itu.


“Ah, sial.” Hazel mengumpat sambil memegangi kepalanya yang berdenyut pusing. Kembali mendaratkan pandangannya pada pria itu, Hazel baru sadar kalau tubuh Lynx yang sedang meringkuk tidak tertutup satu helai benang pun.


Mungkin karena sudah lebih dari sekali dirinya melihat pemandangan semacam ini, Hazel tidak terkejut lagi. Seolah sudah terbiasa, ya lebih tepatnya membiasakan diri. Sebab dirinya tahu, hal seperti ini pasti akan selalu ia temui.


Mengingat betapa minimnya rasa malu pria itu, jadi Hazel sudah mengerti bagaimana keadaannya. Hal yang saat ini dirinya lakukan adalah ingin segera beranjak pergi, berniat untuk membasuh wajah.


Tidak sekali pun sorot mata Hazel turun ke bawah, hanya fokus pada paras Lynx saja. Kepala pria itu sudah ia turunkan dari paha, kemudian berjalan perlahan meninggalkannya di sana sendirian.


Tidak tahu apa yang merasuki gadis itu, mendadak Hazel pergi ke kamar untuk mengambil selimut. Menaruhkannya pada tubuh polos Lynx agar tidak kedinginan. Karena jika memindahkannya ke tempat tidur atau sofa, Hazel tidak mungkin bisa melakukannya.


“Apa dia serius mengatakan semua hal itu?” Hazel kembali dibayang-bayangi oleh perkataan Lynx, sulit baginya untuk menepis ingatan tentang semalam.


Saat berdiri di depan cermin, Hazel melihat wajahnya sendiri yang terlihat mengerikan. Kedua matanya sangat sembab. Sedikit kemerahan, hidungnya pun sudah mirip seperti hidung badut.


“Memalukan. Bisa-bisanya aku menangis di depannya malam tadi,” gumamnya seraya mengelusi matanya yang bengkak, berharap segera kembali seperti semula.


Hazel terdiam setelah berjalan ke dapur, tubuhnya berhenti di depan meja makan yang kosong. Pandangannya fokus pada satu objek, tapi pikirannya sudah berkelana ke mana-mana.


Tidak sadar bibirnya terangkat untuk membuat senyum. Lagi dan lagi karena mengingat tingkah Lynx semalam. Hazel seolah berada di situasi tengah-tengah antara senang dan gelisah.

__ADS_1


Senang karena merasa lega bisa mencurahkan keresahan hatinya. Gelisah karena respon Lynx yang terasa tidak wajar. Dipikir berapa kali pun, perkataan manis dan memenangkan yang dikeluarkan Lynx selalu berhasil memunculkan debaran dalam dada Hazel.


Bahkan sekarang pipi gadis itu sudah terlihat kemerahan, rasa panas yang menjalari tubuh pun sudah merangkak dan menyeluruh pada wajahnya. Mengalahkan hawa dingin yang sempat mendera, Hazel merasa tubuhnya berada di tengah-tengah kobaran api.


“Ck. Kenapa aku memikirkan sampai sana? Itu tidak mungkin terjadi. Fokus dan sadarlah, Hazel.” Ia bermonolog sembari menepuk pipinya berkali-kali, semakin terlihat merahlah kulit putihnya itu.


“Memangnya apa yang sedang kau pikirkan? Hhoaam...” Bariton berat dan serak ini milik Lynx, pria yang sebelumnya sedang asik berada di alam mimpi ternyata sudah ada di ambang pintu.


Lynx hanya bertelanjang dada, selimut yang diberikan Hazel dipakai untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Sesekali ia mengucek matanya sambil terus menguap, menunjukan rasa kantuk yang belum hilang.


Sementara Hazel yang mendadak membeku di tempat, belum mau menoleh atau menggerakan tubuhnya untuk berbalik menghadap Lynx. Tubuh kecilnya merungkut, menundukan kepala sambil memejamkan matanya kuat. Entahlah, seolah ada rasa ketakutan yang muncul saat mendengar suara pria itu.


Bukan takut akan sesuatu hal yang buruk. Mungkin lebih tepatnya perasaan malu? Ya seperti itu. Hazel hanya belum bisa menerima ingatannya tentang malam tadi. Mendengar dan merasakan perasaan mendebarkan yang Lynx lakukan untuk membuatnya merasa tenang, Hazel jadi salah tingkah.


“Huh? Kenapa kau malah diam? Ada apa, Hazel?” Lynx yang penasaran, lantas bergerak maju pada Hazel. Tubuh tingginya kini sudah ada dihadapan gadis itu, namun kemana pun arah tubuhnya menghadap, Hazel dengan cepat menghindarinya.


Sehingga Lynx yang sudah mulai geram karena melihat Hazel yang bergerak kesana kemari untuk menjauhinya, mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu gadis berambut oranye itu. Mencengkramnya agar Hazel tak bergerak lagi.


Dia menghembuskan nafas berat, punggungnya lebih membungkuk ke depan. Melihat dengan jelas kalau wajah Hazel memerah. Menghadirkan pertanyaan dan dugaan dalam pikirannya.


Untuk memastikan dugaannya, Lynx mendekatkan wajahnya pada dahi Hazel. Menempelkan dahinya juga padanya. Ingin memeriksa suhu tubuh gadis tersebut.


Namun Hazel yang sudah berpikir hal tidak-tidak, dan menyangka kalau Lynx sedang menciumnya, seketika langsung menanggahkan kepala. Menatapnya dengan pupil yang membesar.


“Kau menciumku?!”


Lynx memiringkan kepalanya seraya terkekeh. “Tidak. Aku hanya Menempelkan dahiku pada dahimu. Melihat wajahmu yang memerah, aku berpikir kalau kau sedang demam. Dan ternyata kau lumayan panas. Maaf karena membiarkanmu tidur semalaman di atas lantai.”


Hazel menggeleng pelan, ingin menyanggah ucapan pria itu. “Tidak, aku tidak demam. Aku baik-baik saja. Hari ini lebih dingin, di luar juga masih hujan. Jadi mungkin suhu tubuhku belum beradaptasi sepenuhnya.”

__ADS_1


“Benarkah? Kalau begitu kau tidak perlu mandi hari ini. Ganti bajumu saja. Aku akan membuatkan sarapan. Walau pun hujan, kita harus tetap pergi bekerja,” kata Lynx seraya berlalu pergi.


Hazel pun hanya mengangguk singkat. Saat tubuhnya hendak berbalik, mendadak niatnya urung karena Lynx kembali bersuara.


“Soal malam tadi, kau ... Tidak melupakannya, kan?” Lynx sedikit kesulitan saat menanyakannya, tapi dirinya ingin memastikan kalau gadis itu tidak melupakan apa yang sudah dirinya katakan.


“Bagaimana bisa aku melupakannya? Aku menangis sampai mataku sembab seperti ini. Tentu aku dengan jelas mengingat semuanya. Tapi karena mengingatnya, aku jadi---”


Bruk.


Lynx membungkam ucapan Hazel yang belum usai dengan sebuah pelukan yang ia lakukan dari belakang. Merengkuh tubuh kecil milik gadis itu dengan kedua lengan besarnya. Menyembunyikan wajahnya dibelakang leher Hazel, terlihat seperti bocah yang ingin dimanja.


Hazel yang terkejut bukan main, hanya bisa bengong dengan mulut yang terbuka sedikit. Sekujur tubuhnya mendadak membatu, hanya jantungnya saja yang berdegup tak karuan.


Ingin menyuruh pria itu untuk melepaskan pelukannya, tapi di satu sisi Hazel begitu menikmati kehangatan yang membungkus tubuhnya ini. Seolah-olah kehangatan yang diberikan Lynx bisa menenangkan segala kerisauan yang selama ini menyiksanya.


Tapi kembali pada sebuah kenyataan, Hazel sadar sekat yang menjulang tinggi antara dirinya dengan pria itu begitu kokoh dan tidak mudah untuk diruntuhkan. Sekali lagi, Hazel harus mengingat kalau Lynx bukanlah manusia.


Hazel menghirup nafas, lalu menahannya sebentar sebelum mengeluarkannya kembali. Matanya ikut terpejam, memikirkan suatu hal yang akan dirinya katakan pada pria itu.


“Lynx, kau tidak ada niat untuk kembali ke tempat asalmu? Rasanya ... Tidak mungkin bukan jika kau terus tinggal bersamaku di sini?” Saat mengatakan ini, Hazel berusaha mengurai pelukan, membuat tubuhnya terlepas dari kungkungan pria itu.


Lynx yang tidak tahu kenapa tiba-tiba Hazel mempertanyakan hal itu, membuat kedua alisnya menyatu karena bingung. “Apa kau tidak senang aku ada di sini untuk bersamamu? Kau bilang, kau ingat tentang apa yang kukatakan malam tadi. Tapi kenapa...”


“Bukan itu masalahnya, Lynx,” sanggah Hazel dengan cepat. Tubuhnya berjalan maju, semakin menjauh dari pria di belakangnya.


“Lalu apa?”


Entah sudah berapa kali Hazel mengembuskan nafas. Ia tampak begitu cemas. “Aku hanya takut---”

__ADS_1


“Takut kalau kita berdua berakhir dengan saling jatuh cinta?” sosor Lynx, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Hazel.


***


__ADS_2