Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 38 - Mata Air Kehidupan.


__ADS_3

Lynx berjalan mondar-mandir di depan portal transparan, terus saja mengusap dagu dengan dahi yang mengerut. Ia sedang berpikir keras. Sudah hampir setengah jam, tapi ia masih belum menemukan cara apa yang bisa membawa Hazel masuk ke sana.


“Apa kita menyerah saja? Aku akan kembali, kau masuk saja tanpa aku. Lihat tubuhmu, Lynx. Semuanya sudah berubah, kau persis seperti rubah raksasa,” ucap Hazel dengan tatapan putus asa, tubuhnya bersandar pada pohon.


Lynx dengan tegas menggelengkan kepala. “Jangan bicara seperti itu. Kita tidak boleh menyerah. Sudah sejauh ini, memangnya kau pikir mudah berjuang sampai di titik ini? Kita sudah merelakan semuanya, mengorbankan banyak hal. Jangan sampai malah mengubur harapan dan janji yang sudah kita buat.”


Hazel berdecak, matanya berputar kesal. Rasa putus asanya nyaris mematahkan segala angan-angan yang tertanam dalam pikiran. Di sini Hazel tidak mau egois, tidak mau juga membuang waktu, takut semuanya terlambat.


Jangan sampai berakhir Lynx hidup dengan kutukan yang mengikis setengah umurnya, karena Hazel akan menjadi orang yang paling menyesalinya.


“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Kau terlalu lama berpikir, dan hari akan segera berakhir. Kalau terus seperti ini, aku akan nekat pulang. Dan akan meninggalkanmu di sini,” putus Hazel, meski ragu ia mengatakannya.


Lynx mengambil nafas dalam-dalam, mengacak rambutnya sendiri karena frustasi, sesekali kakinya pun menendang angin.


“... Kita memang pernah bersatu, entah raga kita atau pun perasaan, tapi bukan berarti dunia akan merestui. Kau benar, Lynx. Kita terlalu---”


Lynx membulatkan matanya, jemarinya menjentik tiba-tiba dan berhasil menghentikan ucapan Hazel. Tubuhnya dengan cepat menghadap pada kekasihnya itu.


“Kau benar, Hazel. Itu jawabannya.” Ekspresi sedih Lynx berganti, dia malah membulatkan matanya penuh kebinaran.


Sedangkan Hazel yang tidak tahu apa maksudnya, langsung mengerenyitkan dahi. “Hah?”


“Kita hanya perlu bersatu. Bukan hanya berpegangan tangan, coba kita melakukan hal lain. Kita akan melewati portal ini bersama-sama, lebih tepatnya dengan langkah kaki dan tubuh kita mesti sejajar,” paparnya menjelaskan ide yang barusan terlintas dalam pikiran.


Entah itu berhasil atau tidak, tapi Hazel tidak masalah jika mencobanya. Kalau pun masih tidak bisa, mungkin satu-satunya pilihan hanya dengan cara dirinya kembali pulang dan membiarkan Lynx pergi sendiri tanpa ditemani.


“Apa kau yakin dengan rencana itu?”


“Kita coba saja dulu. Sekarang kau berdiri. Kemarilah,” panggil Lynx sambil menggunakan bahasa tubuh, melambai-lambai memintanya untuk mendekat.


Hazel berderap maju, memangkas jarak antara dirinya dan sang kekasih. Saat tubuh mereka sudah saling berhadapan dalam jarak dekat, telapak tangan keduanya ditempelkan.


Sela-sela jemari keduanya mulai terisi satu sama lain, mereka saling menggenggam. Kedua manik mereka pun mulai bersirobok, dan perlahan kepala keduanya dimiringkan.


Saat hembusan nafas yang hangat mulai menyapu paras masing-masing, kedua manik mereka perlahan terpejam. Desiran panas sudah merangkak naik ke atas pipi, menyeluruh hingga memunculkan rona merah.


Hidung mancung mereka juga sudah bersentuhan, tak lama disusul dengan bibir mereka yang menyatu. Hazel hanya mengikuti permainan Lynx, membiarkan pria itu melakukan apa yang diinginkan.


Dalam hati, Lynx komat-kamit merapalkan harapan. Pada sosok yang ia percayai, ia berdoa sepenuh hati. Meminta agar semuanya dipermudah.

__ADS_1


Sambil bergerak menyamping menuju portal, harapan itu tak pernah padam di hatinya. Begitu pun dengan Hazel, dia ikut berdoa sesuai dengan kepercayaannya.


“Melalui ini, tolong buktikan bahwa kekuatan cinta itu benar adanya,” gumam Hazel dalam hati, setetes air mata menuruni pipi.


Tanpa mereka sadari, setengah badan mereka berhasil masuk. Sebuah sinar berwarna merah menyala berkobar-kobar layaknya sebuah api, muncul dan mengelilingi tubuh mereka berdua. Seperti ada penolakan yang muncul.


Tapi ternyata melalui rasa percaya yang tumbuh di hati masing-masing, juga diiringi dengan rasa cinta yang luar biasa, mereka berhasil melewati portal itu secara bersama-sama.


Merasakan angin dingin yang berbeda, begitu sejuk dan menyegarkan. Saat keduanya sama-sama membuka mata, mereka menyadari kalau tempat sudah berubah. Bukan lagi hutan yang hampir gelap karena hari mulai berakhir.


Melainkan saat ini mereka sedang berada di kaki bukit. Tampak sedikit gelap, tapi ketika melihat ke atas cahaya begitu bersinar terang. Di detik itu juga mereka berjingkrak senang sambil menangis terharu.


“Kita berhasil, Hazel!” Lynx membawa tubuh Hazel berputar-putar.


“Eum!” Hazel mengangguk senang.


Jika saja dirinya lebih dulu menyerah, mungkin Hazel tidak akan pernah bisa sampai di sini. Sekali lagi ia menyadari, bahwa kehadiran Lynx sangatlah berarti.


“Mata air kehidupan ada di bawah kaki bukit ini, kita perlu menuruni bukit untuk sampai ke sana. Karena pasti melelahkan, lebih baik kau kugendong saja,” cakap Lynx, sudah menyimpan kedua tangannya pada tubuh Hazel.


Kali ini pria itu menggendong kekasihnya ala bridal style. Persis seperti pengantin baru. Hazel tidak menolak. Dia dengan senang hati menerima perhatian yang diberikan Lynx.


“Mata air kehidupan?” Hazel bertanya, jemarinya mengusap pelipis Lynx, menghapus beberapa bulir keringat yang bersarang di antara bulu-bulu oranye yang tumbuh.


Hazel angguk-angguk paham.


Cukup menguras tenaga untuk mendaki bukit yang tinggi, akhirnya Lynx berhasil melakukannya. Nafasnya memburu, terengah-engah hingga dadanya kembang kempis tak beraturan.


“Kita sudah sampai di atas bukit ini, Hazel.” Lynx menurunkannya dari gendongan secara perlahan.


Mereka beristirahat sebentar sebelum akhirnya nanti bergerak untuk menuruni bukit. Dari atas sini, terlihat sekali istana yang terbangun megah. Begitu besar dengan pilar-pilar yang tinggi.


Dari kejauhan saja sudah terlihat betapa kokoh dan indahnya bangunan yang ditempati para bangsawan di sana. Hazel masih belum percaya, kalau kekasihnya adalah pangeran dari Kerajaan tersebut.


“Wow.” Hazel berdecak kagum, melihat dengan mata telanjang sebuah kerajaan yang biasanya ia lihat melalui lukisan dan mendengarkan ceritanya dari mulut ke mulut orang lain.


“Itu indah dan sangat besar. Pepohonan di sini juga terlihat lebih asri, sangat terasa dari udaranya yang bersih dan menyejukkan. Aku ingin berjalan dan berkeliling dalam istana itu. Melihat dan meraba sendiri bagaimana bentuk bangunan megah tersebut,” ungkap Hazel, matanya berbinar-binar.


“Aku akan mewujudkannya sebentar lagi.” Lynx tersenyum yakin.

__ADS_1


Tangannya ia ulurkan pada Hazel, mengajaknya untuk berpegangan. “Ayo kita turun perlahan. Kau lihat di bawah sana? Air terjun itu yang kumaksud sebagai mata air kehidupan. Kita harus mengunjunginya.”


“Apa aku boleh berendam juga di sana?” tanya Hazel, dengan hati-hati kakinya menuruni bukit sambil terus dipegangi oleh Lynx.


“Tentu saja. Nanti aku akan bicara pada Ang.”


“Ang? Siapa itu?” Dahi Hazel tampak berlipat.


“Dia rubah yang ditugasi untuk menjaga mata air itu. Dari generasi ke generasi, mata air kehidupan harus ada yang menjaga. Ceritanya panjang, nanti pelan-pelan kau akan mengerti.”


Setelah beberapa menit menuruni bukit, mereka akhirnya berjalan menuju mata air itu dengan tergesa. Dari kejauhan, sosok Ang yang dimaksud Lynx sebelumnya sudah kelihatan.


Karena ini siang hari, wujud Ang sedang dalam mode manusia. Dia tampak sibuk, membersihkan sisi-sisi tempat air yang mengalir tersebut. Belum menyadari kalau ada dua orang yang mendekat padanya.


Penampilan Ang seperti bocah belasan tahun. Tubuhnya kecil dan wajahnya terlihat imut. Hazel jadi bingung, Ang ini sebenarnya laki-laki atau perempuan?


Dilihat dari pakaiannya, Ang mengenakan pakaian laki-laki. Mungkin karena postur tubuh dan bentuk muka, ia terlihat seperti perempuan.


“Halo. Boleh aku berendam di sini?” Lynx mencoba menyapa.


Ang menghentikan aktivitasnya, perlahan mendongakan kepala. Tapi baru beberapa detik matanya bertemu dengan Lynx, ia sudah kelabakan. Tubuhnya bahkan tersungkur ke belakang saking terkejutnya.


“K-kau?!” Dia gemetaran, mungkin merasa takut dengan sosok Lynx yang terlihat menakutkan.


“Lynx Darellyn. Kau pasti mengenalku, 'kan?” Lynx menarik sebelah sudut bibirnya.


Buru-buru Ang merubah posisinya, ia berdiri. Menghadap Lynx sambil membungkukkan tubuhnya. “Maafkan saya Pangeran!”


“Angkat kepalamu. Aku bertanya, apa boleh aku berendam di sini? Seperti yang kau tahu, liontinku hampir kehilangan sihir dan membuat tubuhku jadi seperti ini.”


“Te-tentu, Pangeran. Silakan. Kau bisa menggunakan mata air kehidupan ini untuk memulihkan tubuhmu,” jawabnya masih dengan kepala menunduk.


“Baik. Tapi aku tidak akan sendirian. Kekasihku ingin ikut berendam juga.” Lynx memperkenalkan Hazel padanya.


Sejak tadi Hazel bersembunyi di belakang tubuh Lynx, tidak terlalu menunjukan diri. Masih takut-takut untuk bertemu dengan mahluk di dunia ini. Meski pun wujud Ang tidak ada yang aneh, tapi rasa takut tetap saja menyelimuti.


Ang perlahan mengangkat pandangan, sebelumnya belum melihat secara jelas bagaimana rupa wanita yang bersama Lynx. Selain itu, dirinya cukup shock mendengar kata ‘kekasih’ dari mulut Lynx.


“Ke-kekasih Pangeran?” Ang menyadari sesuatu, melihat kalau wanita itu tidak menggunakan liontin. “Bukankah dia seorang manusia? Bagaimana mungkin...”

__ADS_1


Lynx langsung menyahut, “Lalu, kenapa jika dia manusia? Apa itu penting sekarang?”


***


__ADS_2