GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
CEO MESUM


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama ceo hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Aku tak tahu kenapa pak Rangga ketakutan saat disebutkan ada papa dan Luna tadi. Karena kami tidak berbuat mesum di sana jadi kurasa dia tidak perlu merasa takut. Dia seharusnya bersikap biasa saja.


Apakah CEO takut bahwa dia membuat OB cidera, jika ini alasannya sungguh mempermalukan dirinya sendiri. Malu mengakui perbuatannya. Dia ingin selalu dinilai perfect. Apalagi di hadapan belahan jiwanya, Nona Luna.


Berlebihan perbuatannya dan bagaimana bila dia lupa aku disekap di sini. Di tempat gelap dalam puncak yang tinggi. Juga bila cuaca malam ini berubah menjadi hujan lebat sungguh tempat berteduh tidaklah luas, hanya sedikit lainnya lapang tak berdinding dan tak beratap. Mati kedinginan.


CEO jika kamu tidak datang maka aku akan buat laporan di kantor polisi. Selesai secara hukum jadi aku cari kasus apa buat perlindunganku.


Benar-benar apes nasibku hari ini. Sudah bokong sakit gara-gara pak Rangga sekarang hidung sakit dan disuruh menunggu di puncak gedung. Nanti ada awewe gombel terbang tamatlah aku.


Ah! Aku telpon Ariel saja sembari menunggu pak Rangga. Kuraba saku kiriku, tapi tak ada. Saku kananku, ah! syukurlah ada. Baiklah saatnya menghubungi sayangku, hani, bunny, sweetyku.


...


...


Tapi kenapa di aplikasi si hijau memanggil terus, tulisannya hanya terbaca memanggil tidak berubah menjadi tulisan dibaca berdering. Karna jika hanya kata memanggil belum muncul tulisan berdering bearti yang di sini apa di sana belum terhubung. Sinyalnya lelet macam siput.


Lalu aku lihat puncak tepi atas layar ponselku, oh my God tidak punya sinyal satu batang pun. Tulisan ERROR pun tak ada. Jadi di sini benar-benar tak ada sinyalnya.


'Huaaaaa!' Teriakku, pak Rangga jangan sampai kamu tidak menempati janjimu. Tidak menyangka mataku basah lagi karena merasa hidung sakit, ponsel tak bersinyal, ditambah posisi di atap gedung tak ada alas dan atap sebagai pelindung. Ya Rabb' bagaimana nasibku malam ini.


Aku memang OB di sini tapi OB juga manusia bukan boneka seenaknya dilukai seperti ini dan ditinggal di mana-mana. Aku kerja di sini cari gaji bukan mencari hari apes.


Mataku sudah basah samapi membasahi baju depanku yang kugunakan untuk menyapu airmataku. Aku cuma bisa menatap langit berbintang. Bintang banyak sekali cuma kalian bintang temanku malam ini.


Dan malam semakin dingin ini bearti sekarang sudah tengah malem. Aku takut pak Rangga bawa aku pulang. Siska, Gebi, Dana, Deodoran apa kalian tak ingat aku malam ini. Aku di atap gedung bisa mati jika sampai kapan tak ada yang menjemputku di sini. Merana sekali nasibku malam ini.

__ADS_1


Kalian pasti sedang tidur nyenyak malam ini. Berselimut tebal beralaskan begitu empuk nan nikmat. Dan pasti Siska menemani Gebi karena anak lebay itu paling tidak berani tidur sendirian di kos, suka halu dengan mokmok anak itu. Mengenang halu Gebi soal mokmok apakah halu itu nyata dan di sini ada aslinya.


Itu arwah yang meninggal tidak wajar pasti seram sekali. Apalagi ada berita viral wanita belia mati di atap gedung pas ulang tahunnya sendiri karena bermain ponsel saat cuaca sedang extrem kilat di mana-di mana, aku jadi tidak tenang.


"Hiks hiks! pak Rangga ... hiks hiks hiks! Pak Rangga ... Hiks hiks hiks! Pak Rangga !" Lirihku sembari mengusap airmataku.


"Rara," teriak pak Rangga.


Aku menoleh ke arah suara pak Rangga, benar pak Rangga. Dia setengah berlari menghampiriku dan BASSSSSSS! Aku menghambur memeluk pak Rangga karna aku ketakutan.


"Ra, saya minta maaf saya lupa ninggalin kamu di sini. Saya minta maaf," ucap pak Rangga dengan kedua tangannya menangkup wajahku.


Kulihat dia begitu tampan mengenakan warna jaz cokelat tua, celana senada dengan jaznya, kemeja putih, mengenakan dasi kupu-kupu dan rambut ia tata model mengangkat blonde kebelakang sungguh mempesona penampilannya benar-benar tebar pesona.


Kemudian belum sempat aku menjawabnya, lebih dulu pak Rangga membuka jaznya dan memakaikan ke tubuhku lalu dia mengambil sapu tangan di saku jaznya untuk mengelap air mataku. Dan ia lakukan itu pelan, beda dari perlakuan jahilnya tadi di ruang kerja.


"Yuk, saya antar kamu pulang." Ajak pak Rangga seraya menuntunku penuh kasih sayang sangat pelan.


KLEK KLEK


KLEK KLEK


KLEK KLEK


"Setan nih kenapa pintunya kekunci dari dalem, siapa lagi yang ngunci !" Geram pak Rangga dengan nafas tenang menjadi ngos-ngosan gara-gara pintu di atap gedung ini terkunci dari dalam.


Pak Rangga meninggalkan aku lalu berlalu ke arah pintu satu lagi tapi sama TERKUNCI. Mataku basah lagi karena ini tanda tak bisa pulang.


"Ariiiiiiiiiel sayang gue kecebak di atap, huaaaaaaa !" teriakku antara ketakutan dan kesakitan kencang-kencang.


Pak Rangga memejamkan matanya lalu bersender ke dinding sedikit di atap gedung ini, tepat awal jika dari dalam sana. Kulihat pak Rangga menekuk satu kakinya dan menonjolkan lututnya lalu meremas rambutnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Dari jauh nampak jelas kekesalan di wajah pak Rangga. Semua tak menyangka baik aku dan dia, CEO tampan itu tak menyangka akan terkunci di atap gedung malam ini.


"Siaaal, siaaallll nasibku sial malem ini haaaaaaah !" teriak pak Rangga dengan nafas beradu memburu keluar, dada pak Rangga maju mundur begitu deras.


"Haaaaa," teriak pak Rangga lagi lalu membenturkan kepala belakangnya berulang ke dinding.


Ya Tuhan apakah maksud pak Rangga, ia sial malam ini terjebak di atap gedung bersama dengan OB-nya. Lalu kutatap dari jauh pak Rangga mencari sesuatu, ia meraba semua saku celananya tapi tak ada.


Dan mata pak Rangga samar-samar dari jauh seperti menatapku. Dan Pak Rangga bangun dari duduknya dan terlihat lidahnya keluar bermain dengan bibir merah alaminya berulang-ulang. Klek! Terdengar bunyiku menelan ludah. Dan dia mendekatiku aku pun segera mundur, aku menjadi takut dan kebingungan maksud kedatangannya.


Tadi melihat dia berteriak saja perasaaanku sudah gemetar apalagi melihat ia menghantam kepalanya ke dinding. Dia mendekatiku pasti mau membunuhku karna pasti dia gengsi dekat dengan bawahannya, cuma seorang OB.


Atau dia mau memperkosaku di sini dengan begitu suasana dan tempat sangat mendukung apalagi gedung ini milik dia. Aku masih perawan, apakah CEO tampan, tajir melintir itu yang akan merenggut kesucianku.


Sesekali aku melihat ke belakang, ya Tuhan semakin dekat posisiku dengan tepian atap. Aku menelan ludah.


Semakin dekat. Aku malam ini akan di bunuh apa bunuh diri atau akan ternoda. Aku takut pak Rangga membunuhku,juga aku takut bila ia memperkosaku karena rasa itu sakit untuk perawan dari cerita teman-teman yang tertangkap telingaku,meski diam-diam kupuji pesonanya.


Aku mohon jangan akhiri hidupku dengan cara yang sadis.Dan jangan merenggut tanpa kompromi akan kesucianku.


Aku masih punya mama di kampung dan mama tak tahu kalau aku kerja di sini jadi OB perusahaan besar jadi kalau aku hilang kabar pasti menyimpan seribu tanda tanya. Aku masih mau hidup.


Pak Rangga jalannya santai lagi dengan nafas terus memburu dari hidung mancungnya dan aku mundur selangkah demi selangkah. Dan terus CEO itu mendekatiku.Melihat keringat membasahi wajahnya dan ia menggigit sedikit ujung bibir bawahnya, terlihat menggoda.


Aku masih mau hidup. Aku masih perawan. Aku mau lihat masa depanku. Aku mau bahagia bersama mama, mau menikah dengan Ariel kalau jodoh tapi harus jodoh karena lelah pacaran tapi tidak nikah-nikah.


Dan aku ini ingin kelak punya anak bersama Ariel, tapi bila anak CEO bagaimana masa depannya. Nanti bapak CEO akan kuundang ke acara pernikahanku. Semoga nasib baik berpihak padaku malam ini.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2