
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
"Rangga cepat ceraikan, Rara." gertak Al.
"Kenapa memangnya, kak?" tanyaku ingin tahu maksud Al memintaku menceraikan gadis ingusan itu.
"Kau sudah tidak menyukainya bukan?" Al bertanya balik.
"Iya, aku hanya mencintai Luna." tegasku.
"Cepat ceraikan sekarang." desak Al.
"Kakak tidak perlu mengurus rumah tanggaku, nanti kuceraikan gadis miskin itu." kemantapan keputusanku, aku tidak suka diatur.
"Aku butuh kepastianmu segera, karena aku akan meminangnya." ucap Alfarendra dengan lantang.
Membuatku tercengang apakah aku salah dengar, seorang Alfarendra ingin meminang anak ingusan itu. Konyol sekali. Tapi apakah itu benar.
Al segera membantu si kecil itu berjalan. Bulshit. Aku dipermainkan bocah kecil itu. Dia memikat hati kakakku. Aku tak habis fikir.
Dari segi apa Al menyukai bocah sering membuat kerusuhan itu. Setiap detik menit selalu membuat masalah. 'Ah! aku bisa gila'
Hampir saja dia menghilangkan semua data yang kuketik karena sebentar lagi akan ada rapat laporan hasil kerja para devisi.
'Ah, menjengkelkan gadis kecil itu' batinku.
"Rangga, kamu kenapa?"
"Luna, sejak kapan kamu datang?"
Aku syok melihat wanitaku sudah datang tiba-tiba berdiri di hadapanku. Aku butuh mengatur nafas dulu. Aku benar-benar stres diulah bocah itu.
"Rangga, ini cincin siapa?"
Kulihat Luna memegang cincin Rara, segera kuraih cincin itu dan kumasukan dalam saku celanaku. Aku takut Luna mengetahui statusku. Aku serba susah.
Luna menarik tanganku dan ia melihat cincin di jari manisku.
"Rangga, kau sudah menikah ?"
Aku menarik nafas panjang.
"Jelaskan, Rangga." desak Luna.
"Ini demi perusahaanku, Na."
"Jahat kamu, Ngga. Jahat. Al menolakku dan kamu juga meninggalkanku begitu cepat. Aku benci kamu, Ngga."
Luna berlari meninggalkanku.
"Aaaaaa Bulshit!" teriakku sekencangnya di ruanganku.
'Aku gila benar-benar gila. Aku gila'
Kuhempas dan kugeserkan semua benda di atas nakas kerjaku, semuanya berhamburan di mana-mana.
'Aaaaaaa'
Teriakku lagi sekencangnya.
Tok!
Tok!
"Pak, rapat sudah mau dimulai." sapa Kirana dari luar.
Ceklek!
Kubuka pintu ruang kerjaku.
"Batalkan semuanya."
__ADS_1
Hanya mengatakan itu pada Kirana, diriku langsung meninggalkan kantor. Kutancap gas sekencang-kencangnya. Tak butuh waktu lama aku sampai di rumah.
Segera aku masuk kutendang apa yang menghalangi jalan cepatku menuju kamar bocah tengil itu. Sampai kamar Rara kuhamburkan semua isi kamarnya termasuk semua isi bajunya.
Priiiiing!
Bunyi pecahan kaca. Kulihat foto dalam bingkai kaca yang pecah tadi dan kuambil, foto sepasang orang masih muda tapi foto ini sepertinya sudah usang. Dan ada foto perempuan itu menggendong bayi kecilnya.
Kubalikkan foto itu adakah keterangan dalam foto ini. Ada tulisan -mendiang papa Gilang Pradipta-. Ternyata foto orangtua Rara.
Aku menarik nafas panjang dan kududuk di lantai mengatur emosiku. Kuatur nafasku sampai kurasa membaik. Kutarik laci lemari Rara dan terlihat apa yang ia simpan.
Sebuah celengan dan kugoyangkan isinya kertas semua. Dan ada kalender dan buku, kuambil dan kulihat. Rara menuliskan saat tanggal ia mendapatkan uang dan ia masukan dalam celengan ini. Uang setelah kami menikah.
Sisa uang recehan di saku celanaku juga ditulis Rara.
Flashback On.
"Kak, ini uang recehannya maaf kecuci."
Rara menyerahkan uang receh yang sudah berbentuk aneh karena ia cuci.
"Ambil saja untukmu."
"Serius, kak?"
"Hmmmm."
Dan di kesempatan lain.
"Kak, ini kembalian dari tukang kue itu."
"Ambil saja buatmu."
"Serius, kak?"
"Hmmm,"
"Yeee dapet duit, sering-sering ya kak begini."
Flashback Off.
Banyak sekali moment ia dapat recehan itu dan ia tulis semuanya lalu ia masukan dalam celengannya. Aku tak menyangka dia begini.
Dia menabung dan selama menjadi istriku ia tidak pernah minta sesuatu. Bahkan laporan dua bodyguard kala itu membuatku tertawa, Rara memilih baju diskon dan murahan. Dia menggemaskan.
'Astaga kenapa aku memikirkan wanita gila itu'
'Dan membuatku bingung Al menyukainya'
'Apa yang dia lakukan sampai bisa membuat kakakku yang tak pernah dekat dengan wanita itu jatuh cinta'
'Tapi aku merasa tak tega mengusirnya'
'Meski sering membuat ulah aku gemash dengan dirinya dan dialah orang yang'
'Ah sudahlah jangan difikirkan itu'
Aku segera ke lantai bawah mengambil berapa kaleng hard liquor dan meminumnya di ayunan bocah kecil itu berayun tengah malam.
'Membuatku tersenyum mengingatnya berbuat manis demi dua ratus juta. Dan kuingat dia minum sampai mabuk'
'Saat itu dia berubah menjadi liar dan begitu gesit bercinta dengannya'
'Aku paling tak tega saat bercinta melihat wajahnya kesakitan tapi bilang ah ah ah'
Kuambil cincin dalam saku celanaku. Cincin milik perawanku. Milik Nyonya Rangga Ryuga Winata.
'Kini dia di mana'
'Apa jangan-jangan dia diajak Al begituan'
'Bulshit Al tidak boleh menyentuh Rara'
__ADS_1
Aku menenggak habis minumanku dan segera kulajukan mobilku menuju apartemen Al. Tapi kurem paksa mobilku.
'Bagaimana meminta Rara kembali pulang'
'Aku tak tahu bagaimana dan aku tak mau ia di sentuh Al'
Aku diam dan berfikir dengan kupandang terus cincin Rara. Aku menarik nafas panjang. Aku harus menunggunya. Karena Rara pasti kembali.
'Aku baru ingat Rara meminta uang dua ratus juta jadi sudah pasti ia akan kembali meminta uangnya'
Kuputar mobilku menuju rumah Luna saja. Juga meminta maaf padanya. Dalam keadaan sedikit pusing selalu kulajukan mobilku dengan cepat. Sudah sampai.
Ting tung!
Ting tung!
Ceklek! Luna membuka pintunya kala ia melihatku ia berusaha untuk menutup pintunya, tapi aku tahan dan menerobos masuk.
"Kenapa kamu kesini?"
Luna menghempas tubuh di kursinya.
"Aku minta maaf, Na"
"Minta maaf untuk apa?"
"Pernikahan ini demi perusahaanku, Na bukan karena cinta. Aku tetap mencintaimu."
"Bohong, jika kamu cinta kamu akan bersamaku terus tapi sekarang tidak. Kamu jahat Rangga."
Tangis Luna pecah dan kupeluk ia untuk menenangkannya.
"Aku bersamamu terus, Na. Hanya di atas kertas aku bersama dia."
"Siapa wanita yang merebutmu dari hidupku?"
Aku diam memikirkan apa yang harus kujelaskan pada Luna. Aku tak ingin dia tahu siapa istriku, karena aku tak mau dia mentertawakanku. Seorang CEO menikah dengan office girl.
"Jawab,Rangga!"
"Nanti kau akan tahu sendiri."
"Kamu jahat."
Kembali kupeluk Luna. Aku mengutamakan menenangkannya. Dan aku berhenti memikirkan Rara, aku lebih memikirkan Luna karena aku tak mau Luna merasakan sakit hati.
'Cukup Al menyakiti Luna'
'Dan kini Al berusaha mendapatkan istriku'
"Rangga."
Aku tersadar tengah melamun. Aku menatap manik Luna, dia terus bersender di dada bidangku yang sering diusap wanitaku.
'Oh No'
'Kenapa aku memikirkan dia lagi'
"Ada apa, Na?" tanyaku segera pada Luna menepis haluku pada istriku.
"Kita ke luar yuk." ajak Luna.
"Mau ke mana?"
"Ke Bar."
"Kau jangan minum terus, Na. Itu tidak baik."
"Aku stres saat ini dan aku butuh minuman."
Luna mencubit daguku dan ia masuk ke kamarnya, tak berapa lama Luna turun dan ia menarik tanganku.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
__ADS_1
💋💋💋