GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
POV Rangga (2)


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Luna memesan wisky dan kuikuti menyamai Luna, karena dia akan protes saat selera tidak sama dan ini caraku menghibur hatinya. Pesanan pun datang, Luna langsung menenggak wisky di gelasnya.


"Kau tidak minum? Ngga." tanya Luna ketika melihatku duduk tenang di sebelanya.


"Nanti saja."


"Minuman sudah ada jangan dibiarkan, nanti tidak enak lagi."


Kembali Luna menenggak minumannya, aku diam melihatnya yang kini minta tambah pada bartender langganannya.


"Aku mau lagi."


Kutahan ketika Luna mengacungkan gelasnya lagi pada bartender.


"Kau kenapa? Ngga."


"Jangan terlalu banyak mimum." kataku pelan.


"Cuma wisky alkoholnya rendah."


"Kata siapa?"


"Kataku."


Airmata Luna menetes, dia sudah dipengaruhi minuman.


"Sudahlah kau tak perlu melarangku, hanya minuman yang kubisa sedangkan memiliki Al dan dirimu tak akan pernah bisa."


Aku menghela nafas dan kugeserkan tanganku, kembali Luna meminta dituangkan wisky ke dalam gelasnya. Mata Luna terus basah.


"Kau tahu berapa lama kusimpan perasaan ini pada Al, sudah sejak aku mengenalmu sejak itu kuselalu datang ke rumahmu hanya untuk bisa bermain bersama Al."


Luna minum satu tenggak dan melepas gelasnya di atas nakas lagi.


"Tapi pada akhirnya cerita pahit yang kurasakan, cintaku tak terbalaskan dan pahitnya yang mencintaiku adalah teman kecilku."


Luna terkekeh lalu ia memainkan jarinya mengitari ujung gelasnya.


"Aku bahagia saat kau menyatakan cintamu, tapi hatiku memilih Al yang begitu sakit kebaikannya hanya sebatas kakak dan adik."


Luna melihatku dan kuusap airmatanya, semakin deras. Meski ia tertawa luka dihati tak bisa ia tahan dan simpan. Kubiarkan ia larut dalam kesedihan yang meledak dalam hatinya. Mengurangi beban fikirannya.


"Aku kira aku bahagia bisa mencurahkan masalahku padamu yang masih mencintaiku, tapi takdir mengejutkan kau sudah menikah dengan wanita rahasia yang kau simpan rapi identitasnya."


Kini Luna minum lagi lalu ia meletakkan gelasnya kembali.


"Aku ingin bahagia, Ngga. Aku tak tahu bahagia dengan siapa."


"Aku akan membahagiakanmu, Na."


"Apa? kau lupa kau sudah punya istri."


Aku diam. Kulihat Luna menenggak habis minumannya dan kembali ia menangis. Kukatakan pada bartender jangan menuangkan minuman beralkohol lagi untuk Luna. Lalu segera kutenggak habis minumanku.


Luna yang sudah mabuk berat kubopong ke mobil. Sudah tengah malam kuantar Luna pulang ke rumahnya. Sampai rumahnya kugendong Luna dan kuantar ke kamarnya.


Kuselimuti Luna dan kuusap puncak rambutnya, matanya sudah terpejam. Saat aku ingin pergi, Luna menarik tanganku.


"Al, aku masih mencintaimu hidup bahagialah denganku."


Senyum Luna mengembang, ia mengigau. Kulepaskan tangan Luna. Kasihan dia sedang mabuk pun tetap hatinya memilih kakak.


Kubangun dan kutinggalkan Luna. Aku langsung pulang ke rumah. Sampai di rumah kulihat rumahnya gelap. Apakah Rara tidak pulang.

__ADS_1


Kulihat Rara tak ada di ayunan, kuintip lagi taman belakang ia sering bermain menggangguku saat sedang mengetik mengahadap taman. Tak ada Rara di sana.


Saat masuk kulihat rumahku berantakan, kumasuk ke kamar Rara juga sangat berantakan ku amuk tadi. Bila ia datang kasihan membersihkannya. Besok saja kubersihkan, mataku mengantuk.


***


Binar surya minyilaukan mataku. Kumenggeliat dan bangun. Kulihat di ujung tempat tidurku tak ada jas yang biasanya disiapkan Rara. Dia belum pulang.


Kusegera bangun. Kulihat kamar Rara berantakan ulahku sendiri. Akhirnya kubersihkan. Kubuka juga semua sarung bantal dan spreinya, kugantikan dengan yang baru dan kucuci semuanya.


Kamar mandi Rara pun kusikat biar kinclong. Alat make upnya juga kurapikan. Ada lipstik, iseng kucoret kacanya gambar smile dan satu kata curut. Dia mirip curut tikus kecil itu.


Jika hamster kasihan terlalu bagus untuknya, dia curut saja. Mulutnya jutek tahunya hanya bicara tidak jelas. Kini selesai. Kulihat sudah jam biasa aku berangkat.


Sebelum masuk kamar kuintip apakah Rara pulang, nihil. Mendengus kesal lalu aku pun mandi. Sarapan di luar saja karena tak sempat lagi untuk masak. Tak ada perempuan di rumah ini menyiksa.


'Kemana Al membawa curut itu'


Kulajukan mobilku sampai kantor. Segera kuberjalan menuju ruang OB, ketika kubuka pintu semua OB tengah santai langsung terkejut dan langsung merapikan posisinya.


"Pak,ada yang bisa kami bantu?" tanya Odi dengan bersikap berdiri disiplin.


Kulihat Rara berdiri paling belakang dan ia menunduk. Aku lega dia ada di sini. Itu artinya dia mengutamakan bekerja di kantor suaminya sendiri.


"Saya menunggu Rara di ruangan saya sekarang"


Semua OB melihat ke arah Rara. Aku tersenyum dan kembali ke ruanganku. Dan terkejut melihat ruanganku rapi, kubertanya pada Kirana katanya tetap Rara membersihkannya. Salut.


Kini kududuk menunggu Rara.Tak berapa lama ia datang. Kulihat wajahnya pucat pasi. Apakah sakitnya kemarin semakin parah.


"Kamu tidur di mana semalam ?"


Rara diam membuat emosiku meluap ketika ditanya malah diam. Aku harus mengontrol emosiku. Aku harus sabar agar dia luluh hatinya menjawab.


"Ra, kamu tidur di mana semalam ?"


"Bukan urusanmu."


Rara menatap tajam padaku, baru ini kulihat pandangan yang tak biasanya.


"Kau tak perlu lakukan itu." bentak Rara.


"Ra, kau boleh membenciku tapi jangan menghalangi pertolongan untuk nenek Ar, Ar, Ar ... ," aku lupa nama orang itu.


"Aku sudah kau usir."


"Saat itu aku emosi karena hampir kau menghilangkan databaseku lagi, aku harap kau mengerti."


Rara menunduk.


"Kapan mau diberikan pada temanmu itu ?"


"Dia pacarku."


"Itu namanya teman, hubungan tidak jelas mau diakui." ledekku begitu emosi mendengar membicarakan pacar saat bicara dengan atasan.


"Terserah."


"Ya sudah katakan saat sudah mau dikirim."


"Aku bosan dipermainkan."


Segera kukeluarkan koper hitamku dan kubuka, memperlihatkan dua ratus juta uang Rara yang akan ia sumbangkan untuk pemuda tidak jelas itu.


Mata Rara tetap sinis menatap uangnya lalu ia mengangguk.


"Baik, aku akan memberi kabar pada Ariel dulu baru aku kesini mengambil uangku."

__ADS_1


Aku mengangguk. Rara segera berbalik.


"Ra ... !" teriakku membuatnya berhenti.


"Apa ?"


Aku memikirkan perkataan yang akan aku lontarkan karena aku bingung, aku takut salah hicara.


"Cepatlah." desak Rara.


"Em, kau kapan pulang?"


"Pulang ke mana?"


'Apa dia stres tidak tahu mau pulang ke mana'


"Ya pulang ke rumah kita."


"Kita?"


Aku mengangguk. Rara diam tak menjawabnya membuatku jengkel melihat si pembuat rusuh itu pergi meninggalkan ruanganku.


'Bulshit'


Triiiiing!


Ponselku berdering, kuraih dan kulihat Luis meneleponku.


"Hallo CEO mesum."


"Aku punya nama, Luis. Kaulah CEO mesum itu."


"Hahaha ... ." tawa Luis.


"Kau di mana sekarang? Luis."


"Aku di Jakarta."


"Kapan kau datang ?"


"Sudah seminggu tapi biasa aku menjelajahi surga dunia dulu bersama Mark."


"What? Mark juga sudah datang."


"Hmmm, kini tinggal menunggu Andrew."


"Cepatlah ke kantorku sekarang, kusediakan brendi kesukaanmu."


"Aku lebih suka ladies indo, bro daripada brendi."


"Awas jika kau meminumnya kelak."


'Hahahahaaa' tawa kami bersama.


"Ngga, saat bertemu nanti aku ingin membayar taruhan waktu itu."


"Ya, karena kau curang berani taruhan tapi malah asyik di ranjang dan melupakan taruhannya."


"Nanti siang saat Andrew datang kami langsung ke kantormu."


"Brandi menunggumu."


"Beruntung sekali gadis itu jadi taruhan, apa kau candu dengannya?"


"Kita bicarakan nanti."


'Hahahahhaaa' kembali kami tertawa.

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋


__ADS_2