GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Malam Pertama


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama ceo hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Aku masih duduk di ujung ranjang dan Rangga juga masih duduk di kursi. Kami berpandangan dari kejauhan. Senyum Rangga terlihat manis.


Semacam dalam pengaruh sesuatu membuatku begitu menyukai laki-laki halalku, kami terus beradu pandang.


Aku merasa kepanasan dan ada gejolak lain saat ini. CEO yang kini sudah menjadi suami resmiku tersenyum. Dia berjalan mendekatiku memperlihatkan betapa gagah tubuh suamiku ini.


Saat berdekatan Rangga jauh lebih tinggi dariku, ia tersenyum membelai puncak rambutku. Berulang kali Rangga membelai rambutku.


Lalu Rangga membungkukkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu di telingaku, dia mengajakku bercocok tanam.


Aku masih malu-malu kucing karena ini moment pertama seumur hidup dalam keadaan sadar berdua dengan lelaki.


Jika dulu paksaan tapi kini mau sama mau. Dan kuiyakan ajakan CEO Rangga. Kami pun mulai menyiapkan segalanya untuk bercocok tanam.


Rangga meninjau lokasinya dan ia tersenyum melihat tanah subur yang akan ia semai dengan bibit terbaiknya.


"Tanahnya mulus ya." bisik Rangga.


Aku tersenyum tersipu malu, karena memang tanah yang akan disemai ini sangat mulus tak ada sehelai pun rumput pengganggunya.


Rangga kemudian membuka bungkusan cangkulnya dan mulutku menganga melihat gagang cangkul itu. Sangat besar. Enak dipegang.


Dengan gemetar memegang cangkul pertama kali. Dan mulailah aksi berkebun kami. Rangga menyingkirkan segala yang menghalangi proses pembibitannya.


Akhirnya Rangga menujukan cangkul pada tanah dan mulailah mencangkul tanah. Rangga terlalu bersemangat membuat tanah itu pasti kesakitan.


Cukup lama proses itu sampai akhirnya Rangga menghamburkan banyaj bibit segar di dalam tanahnya. Dia tersenyum bangga melakukannya.


Setelah itu mengajakku membersihkan diri yang kotor dibanjiri peluh bukan main, aku berjalan susah karena terlalu bersemangat berkebun.


Begini ternyata rasa berkebun. Beda jika dipaksa berkebun dengan diajak mau seperti saat ini. Dan tak butuh waktu lama, selesai mandi kami duduk di kamar.


Rangga menelepon maidnya yang tak berapa lama datang mengantarkan makanan. Kami kelaparan sehabis berkebun. Aku dan Rangga makan begitu lahap.


Sehabis makan kami bersantai di kamar.

__ADS_1


"Kak, makasi ya udah bertanggung jawab!"


"Hmmm," deham Rangga, sambil ia memainkan ponselnya.


"Aku kira saat ini hanya jadi pemuas nafsu kakak."


"Tidak apa, semua wanita akan takut tersakiti jika ketakutannya itu terjadi. Dan aku tidak akan melakukan itu. Maaf malam itu aku tidak sengaja."


Aku mengangguk. Al tersenyum lalu ia bermain ponselnya lagi. Kuraih ponselku, kulihat nomor Ariel sedang aktif di aplikasi hijau.


'Aku chating dengan Ariel. Sebatas menanyakan kabarnya. Karena aku merasa apa yang aku lakukan ini dosa, hatiku masih mencintai Ariel.'


'Dan tanpa sengaja semua berubah malam ini membuatku melakukan dengan Rangga. Aku memuji ramuan dari kakeknya, ramuan rahasia pembangkit kenikmatan secara halal.' aku terus membatin.


Ketika berbalik menoleh ke arah Rangga mataku tertuju pada kissmark di lehernya, aku mengingat saking jiwa uji coba berkebun mendominasi hati dan fikiranku membuatku lupa kapan saat mengukir kissmark itu.


Itu masih baru karena memang sebelumnya terlihat bersih leher Rangga tidak ada apa-apa. Dia tidak menyadarinya.


***


Keesokan harinya diriku bangun lebih dulu dan kulihat Rangga masih tidur dengan tangan terus mendekapku. Aku bahagia mendapati ini.


Sehabis mandi Rangga menunjukkan ruang tempatnya meletakkan semua baju dan terlihat lemari besar untukku, aku menarik tangan CEO itu. Ketika Rangga melihatku kulambaikan tanganku seperti mengajak berbisik, dia membungkuk dan aku meloncat untuk membisikan sesuatu. Tapi yang ada tak sengaja bibirku mendarat di pipi lelaki sahku. Rangga tersenyum.


"Masih mau ?"


"Sakit,pak."


"Jangan panggil saya bapak lagi."


"Siapa ?"


"Kakak, seperti saya memanggil Kak Al."


Aku tersenyum dan memeluk pinggang suamiku. Cinta dadakan ceritanya. Kini bersama kami ganti baju. Dengan warna senada sama-sama biru muda dan Rangga mengenakan celana pendek warna putih dan diriku rok tutu putih, dan dia menggandengku menuruni anak tangga.


Kami akan sarapan bersama. Dan di meja makan semua keluarga sudah tersenyum dan bisik-bisik melihat kedatangan kami, kecuali Al.


Al sekali melihat kedatangan kami langsung menunduk dan langsung menyantap sarapannya. Sampai di meja makan para maid menarik kursi untukku dan Rangga.

__ADS_1


Para maid pun meletakkan nasi goreng seafood untukku dan Rangga juga menuangkan gelas kami dengan juz jeruk dan susu. Saatnya sarapan.


Semua hening tak ada yang bersuara. Aku malu merasa seperti ini. Karena di kosan saat makan selalu saja aku dan Gebi ngobrol tapi di sini tidak ada suara selain suara sendok berpantulan dengan piring.


Selesai sarapan kami duduk di taman belakang. Rangga sepertinya mengerti dengan diriku masih pemalu, ia terus menggandengku dan duduk di dekatku.


"Bagaimana Ngga apakah lancar ?" tanya Kakek.


"Berapa jam ?" tanya Papa mertua lagi.


"Aku ke dalam dulu ada pekerjaan." Izin Al yang lalu pergi meninggalkan kami.


"Duh, Kak Al cepat sekali perginya." kata Rangga.


"Kayak tidak kenal kakakmu saja." timbal Mama mertuaku pada Rangga.


"Eh, Ngga gimana semalem gempa gak?" tanya kakek pada Rangga.


Aku melihat Al berjalan begitu derasnya, sepertinya pekerjaan Al sangat penting. Kini diriku ikut menyimak obrolan Rangga dengan papa dan kakek yang tak kumengerti membahas apa.


"Sakit tidak, sayang ?" Tanya Mama sembari menatapku.


Aku menoleh ke arah suamiku karena kebingungan pertanyaan mama untuk siapa. Semua yang hadir ikut tersenyum dan semua mentapku.


"Sepertinya manjur, karena sama-sama itu." Sindir Kakek seraya menujuk ke arah leher kami.


Aku dan Rangga saling pandang. Dia melihat leherku dan kulihat lehernya karena sama-sama ada kissmark membuat kami menunduk tersipu malu. Rangga menggaruk kepala jadinya entah ia merasa gatal atau bagaimana.


"Kamu kok tidak ngomong ada kissmark di leherku."


"Kakak juga gak bilang kalau di leherku juga ada."


Aku dan Rangga berbisik membuat semua keluarga tertawa. Aku sungguh malu jadinya, jika sudah seusia ini merasa sangat malu ditemuka ada kissmark walau yang memberikannya itu sudah halal.


Kami terus bersantai di taman menikmati aneka biskuit renyah dan nikmat dipadu teh hijau hangat. Kuciumi dulu aroma tehnya karena ramuan yang diberikan kakek semala berwarna hijau juga.


Takut sama, jika sama maka kuyakin nanti Rangga akan mengajakku bercocok tanam lagi. Berkebun kedua kalinya.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...

__ADS_1


💋💋💋


__ADS_2