
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Aku terus menangis di apartemen Al, karena tadi di ajak ke resort aku sendiri menolaknya. Aku butuh kesepian saat ini.
Ditambah hatiku kesal saat belum selesai urusan dengan Gebi, semakin membuatku pusing tujuh keliling. Karena kulihat notif di ponselku Siska meminta saran banyak hal sedangkan Gebi ingin bertemu tapi kata-kata pesannya adem kurasa ia mulai melemah. Semoga saja itu benar.
Sampai akhirnya Al mendekatiku dan memberiku minuman jeruk peras dingin yang baru ia buat. Al bukan Rangga, dikit-dikit minum wine.
Aku kehausan menenggak habis tak tersisa dua gelas jeruk peras dingin, untung tidak satu teko kuminum habis. Karena dibakar emosi.
"Kamu sudah baikan?"
"Aku benci dengan Rangga, aku benci semudah itu dia hianati aku!" ocehku.
Al mengusap airmataku dengan tissu, sampai pipiku tak lagi sebasah tadi.
"Kukira dulu kalian akan berpisah." kata Al mengagetkanku.
"Dia sendiri menahanku, membatalkan semua kontrak tapi melihat kelakuannya membuatku tak lagi percaya dia. Semua laki-laki penipu!"
"Termasuk aku?"
Kuberhenti bicara dan kutatap wajah Al dengan senyum ia memancungkan hidung dan mulut menggodaku membuatku tertawa sambil sesenggukan.
"Oh,ya kak makasi udah membongkar kebusukan Rangga."
Brugh!
Kulepas kendali, kupeluk kakak iparku meresapi kehangatan dan keharuman tubuhnya. Al membalas pelukanku, ia mengusap rambutku dengan lembut.
"Aku menyesal melakukan ini, karena aku ingin menghentikan sakit hatimu tapi malah membuatmu lebih sakit. Maafkan aku, Ra!"
"Iya, tidak apa kak. Lebih baik sakit sekarang daripada nanti. Tuhan menunjukkan aku akan bahagia dengan yang lain, aku tak tahu siapa yang jelas bukan pecundang seperti dia."
Al mempererat pelukannya,"Izinkan aku membahagiakanmu,Ra!"
Kuberusaha melepas pelukan Al dan kudorong tubuh nya,"Makasi kak, kakak bahagiakan orang yang kakak cintai saja. Wanita itu lebih pantas daripada aku."
"Apa kau tidak bisa merasakan cintaku sejak kau kerja di perusahaan Elang?"
__ADS_1
Alisku terpaut menatap Al,"Maksud kakak?"
"Apa kau ingat saat pertama ikut test di aula umum milik perusahaan, saat kau menginjak kaki laki-laki berseragam olahraga?"
Aku menatap langi-langit apartemen Al, mengingat kejadian yang ia sebutkan. Memutar memori hampir setahun lalu. Mengenal sahabatku pun belum saat itu.
'Saat ikut antrian giliran test karena harus rapi memasuki aula, ada seorang laki-laki mengenakan stelan olahraga serba hitam mengenakan topi, sepatu putih dan masker.'
'Laki-laki itu mau menyelinap lewat tapi aku marah pada laki-laki yang menyelinap itu akhirnya kuinjakan kakinya sampai ia kesakitan dan sepatu olahraganya kotor.'
'Dan saat makan siang dapat nasi kotak gratis dari perusahaan, kulihat laki-laki berbaju olahraga itu hanya punya roti. Akhirnya kuberikan nasi kotak untuknya, karena aku bawa bekal dari rumah. Begitulah kejadian pertama menginjakkan kaki di perusahaan Elang.'
Kuuraikan semua yang kuingat pada Al,"Begitu kak kejadiannya, memangnya kenapa?"
"Apa kau tahu siapa yang kamu injak kakinya dan kamh bagikan nasi kotak dulu?" Al balik bertanya.
Aku menggeleng, karena sungguh tak mengetahuinya.
"Akulah orang itu, kamu menutupi jalan saat aku ingin melihat panitia karyawan di dalam. Setelah itu ada yang membuang roti sehingga kupungut untuk membuang ke tongsampah."
"Apa? Ya Tuhan maafkan aku kak sudah jahat sama kakak." rengekku membuat Al tertawa.
"Sejak itu aku jatuh cinta padamu dan aku menjaga hatiku untukmu, tapi adikku mendahuluinya."
Ia tersenyum dan jari Al mengatup mulutku membuatku jadi salah tingkah, ia mengusap puncak rambutku.
"Beri aku kesempatan, Ra."
Aku jadi salah tingkah, aku jadi malu melihat Al. Kepalaku mengikuti pandangan netraku menjelajah tanpa batas.
"Ra, izinkan aku membahagiakanmu!"
"Aku, aku bingung kak."
"Biarkan aku menyembuhkan lukamu, biarkan aku menjagamu separuh nafasku."
"Aku tak menyangka jika aku wanita itu."
"Apa kamu mau hidup denganku?"
"Aku akui kagum dengan kakak tapi apakah aku bisa bahagiakan kakak? membahagiakan Rangga pun aku tak bisa."
__ADS_1
"Selama ini kamu sudah membahagiakanku, tapi terbatas pada perhatianku tak sepenuhnya untukmu karena kamu milik Rangga. Biarkan aku membuatmu bahagia dan melupakan dia."
Aku terdiam dalam sebuah kebingungan akan pilihan. Kutatap Al dan wajahnya baru kali ini tidak tersenyum melihatku. Ia begitu serius.
"Beri aku waktu, kak."
"Aku takut kamu akan mengulanginya lagi, membina bahtera penuh luka. Lakukan hal baru dalam hidupmu, Ra."
"Aku memang masih labil, kak. Aku sering kali ceroboh mengambil keputusan, aku ingin melupakan Rangga."
"Aku memcintaimu, aku ingin membahagiakan milikku."
Aku diam dalam kebingungan dahsyat saat ini, tapi kuingat Al menyukaiku dari pertama bertemu dulu sedangkan Rangga saat bersama baru ia merasa cinta. Dan Al selalu baik padaku selama ini. Apa yang harus kupilih.
"Ra!"
"Hah, em iya kak. Maaf aku berfikir dan aku merubah keputusanku, aku akan membalas cinta kakak sebagai kakak dan kekasihku."
"Kamu jangan main-main, Ra!"
"Kakak menyukaiku sejak lama hanya saja aku tak menyadari itu, aku salah dalam mencinta. Kini aku akan memperjuangkan kebahagiaan bersama lelaki terbaik. Kamu!"
Al tersenyum dan ia memelukku. Aku tersenyum dan airmataku jatuh begitu saja. Merasakan luka itu terasa tapi kehadiran Al yang akan mengikisnya dalam hatiku.
Al mengusap airmataku lagi dan ia mengecup dahiku, baru kali ini Al menyentuhku. Selama ini ia selalu menjaga jarak. Ia benar-benar lelaki terbaik.
Usai tangis-tangisan Al mengajakku makan masakannya, kuingat pertama kali ia membuat sup iga dan bersama kami membuat itu.
Beda kini jarak tak lagi ada di antara kami, Al memelukku dari belakang dan memberiku kerjaan ringan saja. Selebihnya ia melakukan sendiri.
Saat makan Al membuatku salah tingkah, ia terus menatapku. Aku makan sambil menunduk.
"Kakak jangan liet aku terus, aku malu." protesku.
Al mencubit hidungku,"Baiklah aku tak akan melihat bidadariku, ayo habiskan nasinya!"
Kuangkat wajahku dan kulihat Al melihat makanan di piringnya saja. Membuatku berani makan lagi, aku makan karena emosi membuat porsiku nambah nasi satu piring lagi.
Al tertawa tapi kuabaikan dan makan dengan semangat. Saat manikku berpas-pasan dengan Al, ia segera mengalihkan pandangannya dengan mulutnya menahan tawa.
Aku merasa lucu, ia takut aku merajuk lagi. Menggemaskan melihat acara dinner seperti saat ini, makan tapi tak boleh memandang teman dinnernya.
__ADS_1
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋