
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Aku takut dipukul Rangga,walau ia tak pernah melakukan itu tapi melihat kemarahan laki-laki aku sungguh takut. Rangga membuka sepatunya dan menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Rangga menoleh ke arahku yang duduk mengerut memeluk kakiku sendiri. Baru kali ini Rangga berduaan di kamar tidak birahi sama sekali.
Biasanya banyak hal ia lakukan untuk menggodaku sampai ia mendapatkan sesuatu yang ia mau. Tapi tidak dengan malam ini.
Dan terlihat ia membicarakan hal penting dengan bawahannya untuk diantarkan malam itu juga dan selesaikan semua prosesnya. Usai menelepon Rangga melirikku.
"Anak buahku sudah di rumah sakit memberi bantuan untuk temanmu itu dan memantau sampai selesai operasi neneknya." tutur Rangga lembut.
Aku menganga tak menyangka bahwa sedang emosi seperti saat ini, Rangga tetap melakukan hal yang luar biasa untuk Ariel.
"Makasi, kak sudah membantu pacarku."
Brugh!
Rangga melemparku dengan bantal, tapi lemparan ini lembut karena Rangga melemparnya tidak kuat.
"Jangan pernah katakan itu, aku benci mendengarnya!" atensi Rangga menyilangkan kedua tangan menekan kepalanya yang tidak berbantal lagi.
Segera kuambil bantal yang dilempar Rangga tadi dan kuangkat kepala Rangga membuatnya kaget dan ia menatap gunung kembarku. Selama kumeletakkan bantal untuk Rangga, matanya turun naik melihat wajahku dan gunung kembarku.
"Semalam kau tidur di mana?"
"Di apartemen, Kak Al."
Rangga miring menghadap ke arahku.
"Kau dan Al ... !"
Rangga melakukan gerakan kedua tangannya membentuk burung saling mematuk. Dan kemengerti maksud Rangga.
"Tidak, dia tidur di mansion mama."
Segera Rangga meraih ponselnya lagi dan ia tak melihat jam, ia menelepon mamanya. Lalu ia tersenyum dan menutup panggilannya.
"Kenapa?" tanyaku ingin tahu hal yang membuat Rangga tersenyum.
"Mama menyatakan semalam, Al menginap di sana dan mama mengundang kita besok ke rumah."
Aku mengangguk. Dan Rangga melihatku lalu ia tertawa, ada hal yang membuat hatinya geli. Kuperhatikan bajuku apakah ada kesalahan atau bagaimana sampai Rangga tertawa.
"Kenapa, kak?"
"Oh, tidak marah lagi ya sudah memanggilku kakak."
Kumonyongkan bibirku dan Rangga kembali tertawa lalu ia mencubit hidungku. Aku merasa emosi membalas cubitan Rangga. Kami terus saling membalas cubitan sampai tak terasa jarakku dan Rangga kembali sedekat ini.
__ADS_1
Rangga meraba bibirku dan ia mendekatkan wajahnya, kuakui kumerindukan moment seperti ini. Kubalas maju mendekati bibir Rangga.
Tersentak kaget kudorong tubuh Rangga. Membuat Rangga kaget. Aku bangun dan langsung menuju pintu kamar Rangga.
"Kau mau ke mana?"
"Aku tidur di kamarku saja."
"Memangnya kenapa ?"
"Masa gadis miskin dan bodoh melayani orang hebat, tak mungkin bukan."
Ceklek!
Kubuka dan kututup kembali pintu Rangga, aku mendadak ingat akan perkataannya. Membuatku merasa benci dia saat ingat perkataan itu.
Cekkek!
Kubuka kamarku dan aku kaget bukan main, kamarku beda. Semua baru dan harum dan kulihat ada gambar smile di kaca riasku, tetap saja dia memanggilku curut. Aku tersenyum dan merasa aneh dengan semua ini.
Ceklek!
Rangga membuka pintu kamarku. Aku tak tega melihat wajah Rangga memelas begitu. Laki-laki susah jika keinginannya tak tersampaikan. Aku bingung harus bagaimana. Dikatakan rindu iya, dikatakan benci iya.
Triiiiing!
Rangga menoleh ke arah kamarnya lalu pergi mengangkat telponnya. Tak berapa lama terdengar bunyi sepatu Rangga memantul di anak tangga. Dia mau kemana.
"Mau ke mana?"
"Luna meneleponku, aku harus menemuinya."
Mataku terbelalak, dia berubah kala wanita itu meneleponnya membuatku geram.
"Aku juga mau ke luar."
Rangga menoleh melihatku dan langkahnya terhenti saat ingin membuka pintu.
"Kau mau ke mana?"
"Haus butuh lelaki uwaw." jawabku asal-asalan.
Rangga tetap ke luar lalu mengunci pintu dari luar. Aku tersenyum dan ku lewat pintu taman belakang membuat Rangga terkaget saat baru ke luar pagar ia melihatku sudah berjalan menuju jalan umum.
Terdengar bunyi mobil Rangga mundur dan kulihat berpura-pura tak melihatnya, hanya mengintip mobil Rangga sudah di halaman.
Rangga berlari mengejarku. Aku belum sempat tertawa Rangga menggendongku dan setengah berlari membawaku ke rumah. Aku tersenyum saat Rangga membawaku menuju kamarnya.
Rangga duduk di tepi ranjangnya, terlihat wajahnya dalam kebingungan. Triiiing! kembali ponsel Rangga berdering.
"Hey, Rangga! Kau lama sekali cepatlah kita minum di bar."
__ADS_1
"Maaf, Na. Aku tidak bisa menemanimu."
"Kenapa, Ngga. Apa kau baik-baik saja?"
"Istriku membutuhkanku saat ini."
"Oh,iya aku bersalah mengajak suami orang ke bar."
Sedikit terdengar pembicaraan Rangga dan Luna. Aku tersenyum malam ini sama-sama batal jalan dengan orang yang diinginkan. Rangga menoyor kepalaku setelah ia melihatku senyum-senyum sendiri.
Rangga meletakkan ponselnya di atas nakas di sisi tempat tidurnya lalu ia menuju kamar mandi. Terdengar guyuran air, sepertinya Rangga kepanasan.
"Ra,tolong ambilkan handuk."
Alisku terpaut. Rangga minta diambilkan handuk, biasanya handuk ada terus di kamar mandi. Aku tak merespon dan lagi Rangga berteriak meminta handuk.
Akhirnya aku bangun dan berjalan menuju kamar mandi dan aku berusaha menutup mataku, melihat Rangga mandi tanpa sehelai benang.
Hap!
Rangga menarik tubuhku dan ikutan basah bersamanya. Dengan cepat Rangga memeluk tubuh mungilku dan ia mengajak lidahku menari liar lagi.
Aku yang sudah merasa candu membalas setiap gerakan Rangga, dan desahan ke luar begitu saja semakin membuat Rangga menggila. Walau seingatku Luis mengaku akan gila, tapi Rangga yang mendapatkannya.
Dibawah guyuran air Rangga mengangkat tubuh mungilku seperti malam pertama dulu dan ia mengarahkan adiknya. Kami tetap berciuman begitu liar.
Terasa gila saat bercinta dalam keadaan rindu, entah rindu atau candu. Aku mulai menyukainya dan hanya bersama Rangga kulabuhkan rasa yang bergejolak itu.
Rintihan tetap ada karena ukuran adik kecil Rangga benar-benar besar. Dan tak tahu berapa gaya diulah Rangga membuatku selalu mengerang enak dan kesakitan.
Kini sudah selesai kami melanjutkan ciuman di atas ranjang. Terasa tidak lelah sedikit pun kunaiki tubuh kekar Rangga dan kubelajar memasukkan adiknya.
Rangga tersenyum dan kembali kubelajar melakukan sendiri, tapi tidak segila Rangga. Sampai barulah tubuh ini lelah. Mata pun terasa berat.
Rangga memelukku dan tersenyum, aku diam menatap manik berkilaunya. Berkali-kali ia membelai bibirku dan aku belajar membelai bibir ranumnya juga.
"Kamu jangan nakal lagi,ya." bisik Rangga.
"Kakak, juga ya."
"Aku tidak nakal."
Bibirku langsung monyong dan dibuat kesal dengan jawaban Rangga.
"Iya, iya aku tidak akan nakal."
Aku tersenyum dan Rangga pun tersenyum lalu membelai puncak rambutku. Dia takut diriku merajuk kurasa, tapi entahlah itu cuma perasaanku saja.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋
__ADS_1