
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
"Cepatlah ...!"
Teriak Rangga sedari tadi ingin mengajakku jogging di taman tempat kami bersantai sebelum menikah dulu. Sebenarnya aku masih mengantuk dan dihari libur ini ingin bermalas-malasan.
Tapi paksaan CEO mesum itu benar-benar menggangguku. Akhirnya aku ikut lari pagi dengannya. Dan tak tahu dia kesambet apa mengajakku pagi ini. Seingatku saat bangun dihari libur ia sudah tidak ada entah dimana.
Di mobil dia terlihat fresh dan bersemangat untuk olahraga, berbeda denganku masih mengantuk. Rangga melirikku rebahan di mobilnya dan terasa ia menggelitik perutku untuk membangunkanku.
"Kak, geli."
"Biasanya diraba kamu mendesah."
Bibirku monyong mendengarnya membuat Rangga semakin menggelitikku.
"Konsen nyetir aja kak, takut ada apa-apa di jalan."
Rangga tersenyum dan ia menghentikan aksi usilnya. Kini kami sudah masuk parkiran mobil dan langsung turun. Mulai berlari dengan Rangga.
Dia larinya begitu cepat, sungguh melelahkan. Dan sudah berapa putaran benar-benar ingin pingsan. Dan terlihat sepasang orang sedang berbincang di taman. Rangga pun berhenti saat sampai di dekat orang itu.
Rangga menoleh ke arahku lalu ia menatap gadis itu. Dan sepasang orang itu menoleh ke arahku. Ternyata Luna dan Al. Aku pun mendekati mereka.
"Jadi ini istrimu?" tanya Luna pada Rangga.
Rangga mengangguk.
"Perkenalkan aku, Luna teman Rangga."
"Aku, Rara."
"Seperti pernah bertemu ya."
Aku tersenyum.
"Senang bertemu denganmu."
"Ya sudah ayo kita lari lagi." ajak Rangga.
Dan kami berempat lari bersama.Terlihat Rangga asyik ngobrol dengan Luna dan Al. Diriku mengikuti mereka bertiga dari belakang.
Tiba-tiba Luna terjatuh dan pingsan. Rangga sigap langsung memangku kepala Luna dan menyadarkannya, kulihat ada daun kering tersangkut di rambut Luna. Kubersihkan saja.
'Aw'
Rangga mendorongku saat akan mengambil daun di rambut Luna membuatku terjatuh. Aku bangun dibantu Al. Terlihat Rangga mengusap minyak kayu putih rolling di hidung dan kepala Luna, tapi wanita itu tak sadar.
Dan Rangga menggendong tubuh Luna, saat akan membawanya pergi kaki Luna mengenai tubuhku membuatku terjatuh lagi. Aku diam ditinggal Rangga membawa Luna ke rumah sakit begitu saja.
Tinggal aku dan Al di taman ini. Tapi hasrat berlariku sirna. Aku diam dan duduk di bangku saja, Al mengikutiku.
'Aku merasa diasingkan saat ini melihat begitu pedulinya Rangga dengan Luna'
'Bahkan aku tak boleh menyentu Luna'
'Entah apa yang kurasa tapi benar-benar merasa diasingkan'
"Ra, kamu kenapa?"
"Ha, apa kak?"
"Kamu melamun,ya?"
__ADS_1
Aku tersenyum dan menggeleng.
"Kamu tunggu di sini,ya sebentar."
Aku menatap Al penuh keheranan, kakak iparku itu berlari kecil dan tak berapa lama ia kembali. Al menyerahkan sebuah es krim vanila untukku.
"Lho, kok es krim kak?"
"Buat mendinginkan hatimu."
Aku tersenyum dan mengambil es krim itu. Kami berdua menikmati es krim bersama sampai habis.
"Nanti kuantar pulang,ya!"
"Apa tidak merepotkan,kakak?"
"Tidak, aku ada waktu terus untukmu."
"Terima kasih,kak."
Dan kini Al langsung mengantarku pulang. Di mobil Al selalu mengajakku bicara, hal apa pun itu. Aktifitasku tidak penting di kantor pun dipertanyakan Al. Dan sudah sampai di rumah.
Kuajak Al masuk dahulu, mengajaknya minum teh sebagai ucapan terima kasih sudah mau diantar pulang.
Triiiing!
Ponselku berdering, kulihat Rangga meneleponku.
"Kau di mana?"
"Aku di rumah."
"Kau pulang dengan siapa?"
"Kak Al."
Rangga mematikan telponnya. Aku mengehela nafas. Aku kira dia lupa denganku ternyata dia ingat mempertanyakan keberadaanku.
Kulihat Al tersenyum dan ia menyeruput teh hangatnya. Kami duduk di taman belakang di lantai rumah yang tinggi dan dibawahnya dipenuhi rumput hijau dan banyak bunga. Begitu menyenangkan bersantai di taman belakang.
"Kak, aku ambil kue dulu ya untuk menemani teh kita ini."
"Boleh juga."
Aku tersenyum dan segera bangun tapi sepatuku begitu licin di lantai terbuat dari kayu membuatku terjatuh, hampir aku terjerembab ke tanah tapi Al menyantapku.
Aku deg deg gan jika jatuh ke tanah entah bagaimana tubuhku tapi semua berkat Al. Aku masih ketakutan.
Seperti adegan pangeran berkuda menyelamatkan gadis desa, Al menyantapku begitu kuat. Kini manik kami beradu pandang, wajah Al memperlihatkan kekhawatirannya.
Terdengar nafas Al memburu begitu deras, sama dengan nafasku yang merasa panik luar biasa. Sebuah musibah yang tidak disengaja.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Al sembari mengusap rambutku yang menutupi wajahku.
Aku mengangguk.
Al tersenyum dan kulihat manik Al begitu dalam menatapku.
"Kak Al." sapa Rangga.
Kami bersama menoleh ke arah Rangga yang datang bersama Luna. Al perlahan menurunkanku karena kakiku sudah mengenai tanah namun tubuh mungilku tetap didekap Al.
Kini kurapikan pakaianku dan Al tetap tersenyum padaku dan kubalas senyum kakak iparku yang baik.
"Kalian sedang apa?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." jawab Al begitu saja.
"Em, aku tadi hampir jatuh dan Kak Al menolongku."
Rangga menatap kami tapi tidak dengan Luna, ia memandang ke lantai dan ekpresi wajahnya seperti tidak suka. Kurasa Luna masih tidak enak badan.
Rangga mengajak Luna duduk di dekat kami dan Al kembali duduk.
"Luna bagaimana kabarmu?" tanyaku.
"Aku baik-baik saja, hanya kelelahan. Oh ya, Ra maafkan aku merepotkan suamimu."
"Tidak apa-apa."
"Terima kasih banyak, Ra. Oh ya Kak Al sudah mau pulang belum?" tanya Luna pada Al.
Aku yang duduk diantara Luna dan Al menoleh ke arah Al.
"Memangnya kenapa?" tanya Al.
"Aku ikut denganmu saja karena aku tidak bawa mobil."
"Aku yang akan mengantarmu pulang." tukas Rangga yang berdiri di belakang kami.
"Aku juga belum mau pulang." ucap Al.
"Oh, Mama tadi ada meneleponku katanya ada perlu dengan Kakak." ungkap Rangga dengan memperlihatkan senyum absurdnya.
"Kenapa mama, tidak meneleponku saja."
"Em, entah tadi meneleponku."
Rangga langsung duduk di sebelah Al dan menepuk pundak Al, mereka dua bersaudara memiliki watak berbeda.
Aku diam saja melihat kekonyolan Rangga langsung ramah dengan Al. Dan sesekali aku dan Luna saling memberi senyuman.
Kini aku ditinggal sendiri di rumah karena semuanya pergi. Kuantar sampai di pintu utama.
"Ra, nanti aku akan berkunjung lagi ke sini menemuimu." teriak Luna yang sudah naik di mobil Rangga.
"Iya, aku tunggu ya." balasku.
Al masih berdiri di sisiku menatapku dan tersenyum.
"Terima kasih tehnya, kau terlihat semakin cantik." puji Al kemudian ia melangkah menuju mobilnya.
Aku tersenyum dan menggeleng dengan keusilan kakak iparku, bisa saja dia menghiburku. Al selalu membuatku tertawa saat bersamanya. Menyenangkan menjadi adik iparnya. Kini mereka pergi.
Ketika aku baru mau menutup pintu ada sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah dan menekan klaksonnya. Aku menoleh melihat kurir paket.
"Maaf bu, ini rumah Dara Samudera istri CEO Rangga Ryuga Winata ya?" tanya kurir itu.
Aku mengangguk.
"Ada paket untuk ibu." ucapnya lalu menyerahkan sebuah kotak berwarna pink.
Kuterima paket itu dan menandatangani tanda terima. Kurir itu pun pergi. Kupandangi kotak ini dan kulihat ada kartu ucapan berbentuk hati. Kubuka kartu itu.
Teruntukmu pujaanku, semoga kau menyukainya namun senyumanmu lebih manis dari semuanya.
pengagum rahasiamu.
Demikian isi kartu ucapan itu dan segera kubuka paketnya, kubuka bungkusannya dan di dalamnya berisi satu kotak cokelat kecil berwarna pink berbentuk hati. Siapa pengirim paket ini.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
__ADS_1
💋💋💋