
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Al mengantarku pulang, sepanjang jalan ia hanya diam. Kami sama-sama tidak bicara sejak kejadian di apartemen tadi. Al memberhentikan mobilnya di halaman rumah.
Tetap ia turun untuk membuka pintu mobil dengan senyum manisnya. Aku turun dan berdiri mematung di depan Al.
"Ada apa?" tanya Al dengan tatapan menggemaskan.
"Kak, maafkan soal cium ...!" Al menutup mulutku dengan jari telunjuknya.
Al tersenyum,"Aku yang minta maaf sudah menodai bibirmu, adik kesayanganku!"
Bersama kami masuk ke rumah, kubuatkan lemon tea hangat dan kami duduk di taman belakang rumah.
"Kulihat kalian tidak memasang foto pengantin kalian!"
"Hah! em ya itu tidak ada gunanya kak."
"Bukankah kalian sudah menikah dan bahagia hidup bersama, ya diabadikan sebagai kenangan dalam foto itu."
"Kami tidak bahagia, kak. Dia masih memikirkan Luna."
"Kamu menyukai Rangga?"
Kutatap wajah damage, diantara kebingungan memgatakan yang sebenarnya.
"Jawablah!" desak Al yang mengalihkan pandangannya.
"Aku pernah ada rasa, mungkin karena setiap hari bersama tapi tak enak rasanya jika ia memilih terang-terangan dengan wanita lain."
"Jika dia memilih wanita lain, apakah kamu akan bertahan ?"
Kutatap manik Al, dahiku mengerut berada dalam kebingungan maksud pertanyaan Al.
"Maksud kakak?"
"Jika dia mencintai Luna, apakah kamu masih mencintainya?"
"Sudah pasti luka kak, kurasa aku akan mundur."
"Benarkah ?"
Aku mengangguk. Al kemudian menyeruput lemon tea hangatnya. Kami pun mengganti topik pembicaraan sampai pada akhirnya mobil Rangga tiba. Al pamit dan bertemu adiknya membuat keduanya dingin, tidak saling menanyakan keadaan atau apa pun itu.
Kuantar Al sampai depan pintu, lalu segera menemui Rangga. Lelaki bertubuh atletic ini mengambil minuman segar dan menandas habis tak tersisa. Kuambil jas Rangga yang terjatuh.
Kucium aroma jas Rangga, bukan farfum miliknya dan kuperhatikan tangan jas Rangga begitu kusut. Seperti habis diremas begitu kuat.
Nafasku memburu begitu kuat, ada pertanda tidak enak malam ini. Kubawa jas dan tas Rangga ke kamarnya, kemudian aku menuju kamarku.
"Kau mau ke mana?" teriak Rangga melihatku berjalan menuju kamarku.
"Aku ingin tidur sendiri malam ini, kuharap kau mengerti." jawabku singat dan langsung mengunci pintu kamarku.
***
Keesokan harinya aku sama sekali tidak ada keinginan untuk berbicara dengan Rangga. Sarapan dan segalanya tetap kusiapkan, hanya malas berbicara dengannya.
__ADS_1
Sampai ia berangkat kerja pun, malas mengantarnya seperti biasa. Kini diriku duduk di ayunan dan lagi lagi ada seorang juru paket datang, mengantar cokelat pink lagi.
"Cepatlah bertemu dengan orang ini, kujadikan selingkuhanku saja!" ocehku sendiri.
***
Di hari lain pun sama, aku tetap malas berbicara dengan Rangga. Ditambah malas melihatnya bermalam dengan wanita perebut laki orang itu.
Chiiiit!
Bunyi rem mobil Rangga, kulihat ia turun dan membuka pintu mobil satunya. Ada Luna. Hatiku tak nyaman, segera turun dari ayunan dan langsung masuk ke rumah tanpa memperdulikan mereka berdua mau selingkuhan siang bolong.
Kuintip dari pintu kamarku yang kubuka sedikit, melihat Rangga dan Luna mengobrol begitu mesra di dapur. Mereka duduk berhadapan dan tangan sampai pegangan, hatiku meradang.
Sampai Rangga mengantar Luna pulang diriku tetap dalam kamar, aku tak mengerti maksud Rangga berbuat gila membawa selingkuhan ke rumahnya sendiri.
***
Tok tok tok!
Rangga mengetuk pintu kamarku,"Bukalah sebelum aku marah!"
Diriku terpaksa membukanya karena ia mengancam akan bertindak brutal. Dan Rangga menarik tanganku ke luar kamar.
"Kenapa kamu banyak diam akhir-akhir ini?"
"Tidak apa-apa!"
"Bahkan Luna datang ingin dekat denganmu pun kamu abaikan, apa yang terjadi?"
"Luna ingin bersamamu, jadi tidak perlu dekat denganku!"
"Aku sudah menutup pintu pertemanan, paham!"
Aku berbalik dan mengunci pintu kamarku.
"Hey, jika kamu berbuat aneh sebaiknya pergi dari rumahku!" teriak Rangga mengusirku, membuat hatiku semakin panas.
Ceklek!
Kubuka pintu kamarku,"Kau mau aku pergi dari sini, oke aku akan pergi."
"Em, tidak itu hanya peringatan saja. Ayo kita tidur bersama." ajak Rangga mengimutkan ekspresinya.
"Tidur saja dengan selingkuhanmu."
"Kau ini dibaikan malah tetap keras, jadi mau aku selingkuh? oke aku akan semakin gila dengan Luna."
"Aku tak perduli."
***
Aku membawa keperluanku saja, selainnya kutinggalkan karena aku tak mau membawa semua pemberian Rangga. Hari ini aku akan pergi dari rumah.
Baru saja ke luar rumah, ada lagi juru paket mengantar cokelat pink. Semakin membuatku penasaran karena setiap Rangga tak ada, pasti kedatangan paket ini. Apa ini perbuatan Rangga ingin membuatku baper.
Aku tak perduli. Aku berjalan ke jalan umum dan naik taksi, aku menenangkan diri dulu. Driiiiing! ponselku berdering, kulihat Al memanggilku.
"Hallo, kak!"
__ADS_1
"Hallo, juga cantik. Apa kamu tahu Rangga ke mana saat ini ?"
"Ke kantor."
"Aku akan menunjukkan kebenaran kepadamu, aku jemput sekarang ya."
Aku pun berhenti di tengah jalan menunggu jemputan Al, aku tak mengerti maksudnya. Tal berapa lama Al datang.
Kami menuju sebuah tempat yang aku tidak tahu ini di mana. Kami masuk dalam sebuah apartemen mewah. Al menggandengku menuju lantai atas.
"Kita sudah sampai, bukalah pintu itu." titah Al.
"Ini apartemen siapa kak?"
"Nanti kamu akan tahu, aku tidak mau kamu terus-terusan merasakan sakit."
Dalam kebingungan kubuka pintu apartemen itu, bersama dengan Al masuk ke dalamnya.
'Kenapa kau selalu menggodaku'
'Kau tampan dan menggairahkan'
'Oh ya'
'Aku menginginkannya'
'Sungguh'
'Iya'
'Aku akan memberikannya sekarang'
Alisku terpaut dan dahiku mengerut, suara itu seperti suara suamiku dan Luna. Tapi apakah ini benar.
"Bukalah, lihat kebenaran di dalamnya." bisik Al.
Kuberanikan diri menyentuh knop pintu kamar itu, dalam perasaan campur aduk aku membukanua. Mataku melek begitu besar melihat Rangga sedang berciuman dengan Luna dan mereka sedang saling berpelukan.
Melihatku membuat Rangga menarik bibirnya begitu pun Luna, keduanya nampak panik.
"Kamu ke sini dengan siapa?" tanya Rangga, tapi aku tak perduli.
Saat aku akan pergi Rangga menarik tanganku begitu kuat, tapi ia terkejut saat Al menarik tanganya. Rangga berusaha menahan cengkramannya tapi Al berhasil melepasnya.
Luna pun tak kalah panik melihat kedatangan Al, dengan airmata aku menyeret Al ke luar apartemen. Sudah di mobil aku terus menangis.
"Kenapa sih, kak sulit mencari orang setia?" tanyaku sesenggukan.
"Ada orang setia, dia akan kamu miliki nanti."
"Aku tak percaya lagi dengan laki-laki, semuanya bajingan."
"Apa aku juga bajingan?"
Kutatap Al dan ia terkekeh menggemaskan, dia tidak bajingan seperti adiknya. Kurasa Rangga itu bayi yang tertukar sampai sikapnya begitu menyakitkan.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋
__ADS_1