GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Cantik


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Ceklek!


Pandangan kami tertuju pada pintu ruang OB, seorang OB datang dan berbincang dengan Ani kemudian Ani meninggalkan ruang OB. Sepertinya ia mendapat tugas.


Ratu ghibah tidak bisa menyaksikan ftv menegangkan saat ini, kala sahabat berseteru gara-gara rahim gratisan.


"Kita ke luar aja, yuk!" ajak Mas Odi pada ob lainnya.


Kulihat ob ikut ajakan Mas Odi, mereka menyadari permasalahan kami ini terlalu pribadi untuk dikonsumsi. Juga ingin disebar tak ada gunanya, karena tak ada yang mengenali kami di luar sana.


Kini tinggal kami berlima di ruang ob. Kulihat pandangan Deoza mengandung seribu pertanyaan, ia terus menatap Gebi.


Dan untuk Gebi, ia menatapku sadis. Sedangkan Siska menangis melihat lelaki yang hampir ia percayai itu terus menunduk.


"Setega ini lu sama gue, Dan. Gue bersyukur kita belum nikah, jika udah duluan nikah betapa rugi diri gue!"


"Gue hilaf, Sis." bela Dana membuatku tertawa terbahak-bahak.


"Lu bilang hilaf, Dan. Gila, jika semudah itu lu hilaf coba kasih tau dulu sama Siska biar dia hilaf juga sama lelaki kaya dulu." bentakku sinis.


"Udahlah, Ra jangan ikut campur!" bentak Gebi membuatku syok mendengarnya.


"Heh, lu siapa ikut-ikut ngomong." skak Siska.


"Panik gak lo, panik gak, paniklah kita udah gak kenal lo." semburku sadis.


Gebi menyungging bibirnya, seakan menahan sebuah makian pedas. Tapi aku tak lagi peduli.


"Udah, Ra dan Deo yuk kita pergi dari sini." ajak Siska.


Deoza langsung mengangguk dan ia menyenggol Gebi saat lewat untuk ke luar luar ob dahulu.


Brugh!


Siska mendorong Gebi hingga ia terbentur lemari, Siska langsung pergi dan disusul Dana. Saat kulihat di atas lemari ada sebuah kardus yang akan jatuh dari lemari yang dibentur Gebi.


Segera kutarik Gebi hingga kupeluk ia dihadapanku dan kardus itu segera jatuh. Semua isi kardus itu berantakan. Berisi aneka keramik dan bunga hias kantor yang belum terpakai, bunga pajangan untuk dinding.


Terbuat dari lukisan kramik dihiasi bunga plastik yang cantik. Beberapa keramik pun sampai pecah karena terlalu tinggi jarak jatuhnya.


Kini Gebi pucat ketakutan dengan kardus yang hampir mengenai kepalanya, entah apa yang terjadi saat benda itu mengenai kepalanya.

__ADS_1


"Gue masih ada rasa kasihan, walau gue enggak kenal dengan lo." Bisikku yang ikut gemetar melihay hsmpir saja ia terkena musibah.


Kulepas pelukanku dan berjalan meninggalkan Gebi begitu saja. Saat ke luar ruang ob semua ob melihatku dan mereka melihat ruang ob dengan pintu masih terbuka.


Kucari di mana Siska, Dana, dan Deo tapi tidak terlihat. Aku berjalan melewati ruang devisi, semua karyawan menyapa dan kujawab dengan senyuman saja. Tapi tak menemukan ketiga temanku.


"Hey, cantik!"


Aku menoleh ke belakang, ada CEO Andrew.


"Hey, Kak apa kabar?"


"Baik, kakak mau ketemu Rangga ya?"


"Iya, kita mau kerja sama lagi di proyek baru. Kamu mau ke ruang Rangga juga?"


"Em, tidak kak. Aku ada perlu dengan temanku di sini."


Andrew mengangguk, ia tidak pernah senyum waktu bertemu pertama. Manis dan lucu juga ternyata.


"Aku ke sana dulu ya, em nanti ada Louise dan Mark menyusul."


"Apa?" kejutku.


Akan ada Louise. Aku kenapa jadi gelisah, tapi sudahlah lupakan cerita pahit itu. Louise benar semua karena kepepet. Kita tidak sengaja dan tidak merencanakan semuanya.


"Ah, tidak ada apa-apa kok kak."


"Ya, sudah aku pergi dulu ya cantik. Senyummu menggodaku." ucap Andrew lalu langsung meninggalkanku.


Membuatku menganga akan ucapannya bahwa senyumku menggodanya. Kurasa senyumanku biasa saja.Pada siapa saja senyumku tidak ada yang berbeda, semua sama.


Aku menggeleng melihat Andrew. Dan aku berbalik menuju lobi kantor, siapa tahu bertemu tiga temanku.


Aku berjalan dengan santai. Tapi mataku terbelalak melihat dari jauh security membuka pintu kaca kantor untuk Louise. Dia mengenakan jas serba hitam.


Louise melihatku, ia mengedipkan satu matanya dan tersenyum dari jauh. Kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan, mengatur bertemu dengannya lagi.


Kini kami berhadapan, begitu dekat. Baik diriku dan Louise saling menatap, tidak ada yang mulai menyapa.


"Kita bertemu lagi, kamu semakin cantik!" puji Louise.


"Biasa aja, kak." elakku. Kurasa Louise melihat penampilanku mengenakan style dress Korea, biasanya selalu style ob atau stelan santai biasa.


Hanya dua kali Louise melihatku mengenakan dress, pertama di malam tragis di cafe Sultan. Kedua untuk pertemuan saat ini.

__ADS_1


"Em, aku ke luar dulu ya kak."


Louise tak menjawabku, ia menaikkan alisnya sebelah dan menyipitkan mata lawannya. Kuacuhkan saja, aku berjalan dan menoleh Louise tetap menatapku.


"Good morning, nyonya Rangga!"


Aku terkejut bertemu satu CEO lagi, Mark. Benar kata Andrew bahwa Louise dan Mark akan ikut bertemu Rangga.


Ketika kulihat Louise langsung meninggalkan tempat, ia berjalan begitu cepat menuju ruangan Rangga. Aku tak perduli itu.


"Hey, isteri Rangga kok diam?"


"Hah? em maaf kak."


Aku tersenyum saja karena tak ingin banyak bicara, membuang waktu Mark untuk bertemu orang ontime. Telat akan mendapat teguran sadis.


"Kakak langsung bertemu Rangga aja, nanti dia marah kalau kakak telat."


"Ya udah, aku pergi dulu ya cantik!"


Aku menepuk dahiku sendiri,heran karena mendapatkan kata cantik lagi. Aku rasa aku biasa saja. Menggeleng kepala berulang-ulang aku kembali melangkah.


Terus mencari tiga temanku tapi tak menemukannya, di mana mereka bertiga itu. Dressku berkibas mengikuti gerakan kakiku.


Sampai ke depan kantor sekali pun aku tidak menemukan ketiganya. Sampai aku lelah mencarinya. Kini aku menyerah mencari ketiganya.


'Aku bingung harus ke mana saat ini, karena kembali ke ruang Rangga kurasa tak mungkin mengganggu pertemuan di sana.'


'Menunggu di ruang lobi sendiri akan sangat membosankan.'


'Apa aku ke rumah sakit saja.'


Kuraih ponselku dalam slimbagku dan kuketik pesan singkat untuk Rangga, meminta izin ke rumah sakit. Sudah kukirim tapi Rangga belum membacanya, tanda ia masih sibuk.


Aku tak mungkin pergi sendiri tiba-tiba, akan membuat Rangga marah besar.Dalam kebingungan aku berjalan menuju ruang ob.


Sampai di ruang ob kulihat ob lainnya membantu Gebi membersihkan pecahan keramik hiasan dinding yang hampir saja menimpa kepalanya.


Melihat kedatanganku Mas Odi berlari dan ia datang membawa sebuah kursi. Meletakkan kursi di dekatku, "Terima kasih, mas."


Odi mengangguk dan kembali membantu Gebi. Sementara Gebi terus memungut pecahan keramik dan bunga plastik di lantai.


Aku terus diam dan duduk di kursi yang diambil Odi, dia menghormatiku meski teman dan bawahannya tapi kini statusku meningkat. Menjadi isteri bosnya.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...

__ADS_1


💋💋💋


__ADS_2