
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Kupegang terus cokelat ini, warna dan bentuknya lucu. Aromanya juga begitu menggugah, wangi sekali. Kucicipi rasanya begitu enak, manis.
Aku tersenyum menikmati cokelat ini sampai di kamarku masih tersisa sedikit, kubuka saja tirai kamarku biar lebih terang.
Sleeeekkkk!
Kugeser tiraiku sambil tetap memegang cokelat pink ini. Mataku menatap diujung gang rumah dekat dari jejeran bogenfile besar.
Seorang lelaki berjacket panjang mengenakan masker menatap ke arahku dan laki-laki itu melambaikan tangannya.
'Ah, mungkin diriku salah faham'
'Tapi laki-laki itu masih melihat ke arah kamarku di mana posisi kamarku menghadap ujung gang jadi tirai di buka akan melihat ujung gang'
Aku penasaran, apa aku datangi saja orang itu. Ya harus demi membuktikan orang itu melambai siapa. Saat berlari terasa getar di saku celanaku. Ada panggilan tapi tak kugubris.
Kuberlari menuju gang dan sampai di sana aku tak menemukan laki-laki itu. Aku berjalan mencari orang itu tapi tidak ada. Apakah diriku sedang halu. Aku penasaran siapa orang itu. Apa dia pengirim cokelat itu. Siapa dia.
Aku menggeleng kepalaku pusing dengan paket dan orang tadi. Kini kuraih ponselku, kulihat Gebi meneleponku. Dan Gebi mengirim pesan memintaku pulang. Ada apa dengan anak itu.
Baru sampai halaman mobil Rangga tiba, kulihat ia segera ke luar dari mobilnya dan berlari masuk ke rumah. Aku menyusulnya masuk ke rumah.
"Kak, kok buru-buru sih?"
Rangga yang sudah sampai lantai atas melihatku.
"Aku mau jumpa pers sebentar."
'Jumpa pers' batinku.
Aku segera menyiapkan menu sarapan pagi nasi putih dan sup iga yang kubisa karena Rangga dan teman-temannya memuji masakanku kemarin.
Kini saatnya memanggil Rangga, baru aku mau menaiki anak tangga Rangga sudah duluan turun.
"Kak, sarapan dulu yuk." ajakku.
Rangga tersenyum dan mengangguk. Kami makan dengan khidmat. Usai makan segera Rangga minum susu hangatnya.
"Kak, makan siang nanti mau di masak apa?"
"Aku makan di rumah Luna."
"Rumah Luna?"
"Iya, dia masih sakit jadi aku harus menjaganya."
Aku diam tak tahu akan menjawab apa. Kulihat Rangga segera pergi meninggalkan rumah. Aku bersyukur dia makan di rumah Luna, sehingga aku tidak perlu masak.
Lebih baik aku pulang ke kosku saja. Aku rindu suasana di sana. Dan juga saat ini Gebi membutuhkanku. Aku tak perduli dengan Rangga.
__ADS_1
Aku langsung mandi dan siap naik taxi ke kosanku. Aku berjalan dulu menuju jalan umum karena tidak mungkin taxi masuk gang cari penumpang.
Chiiit!
Mobil warna hitam berhenti di hadapanku. Pintu mobil itu langsung terbuka saat kuintip Luis dengan kaca mata hitamnya tersenyum melihatku. Anggukan kepala Luis mengajakku masuk.
"Maaf kak, aku mau ke kosanku jadi naik taxi aja."
"Biar kuantar."
Akhirnya aku naik di mobil Luis. Kupandangi Luis yang berkelahi dengan Rangga di club Sultan dulu.
"Rangga mana?"
"Dia mau jumpa pers katanya dan nanti mau ke rumah Luna."
"Siapa?"
"Luna."
Luis mengangguk.
"Ra, maafkan diriku kemarin ya."
"Aku yang minta maaf sama kakak, karena diriku membuat kakak berkelahi dengan Rangga."
"Aku yang salah, aku tidak tahu cara mendapatkan wanita yang aku sukai. Fikiranku kotor malah mengajakmu yang tidak-tidak."
"Kakak mau ke mana?"
"Aku pas lewat karena mau ke rumah teman tapi melihatmu jadi aku berhenti."
'Aw' jeritku tiba-tiba ada ular jatuh di leherku membuatku geli.
Cup!
Tak sengaja bibir Luis menempel di bibirku karena ia berusaha menangkap ular itu. Segera kuusap bibirku dan Luis mengulum bibirnya.
"Maaf, Ra ini mainan."
"Kok ada di mobil sih kak."
"Aku ajak keponakan kecilku jalan-jalan dan dia sering bawa mainan."
Aku mengangguk dengan bulu kudukku masih merinding. Dan berkali-kali kuusap bibirku karena sungguh aku tak menyangka akan terjadi ciuman tak sengaja itu dengan Luis.
Kini sampai di kosanku, segera Luis menepikan mobilnya.
"Ra, maaf yang tadi ya." kata Luis saat baru saja diriku ke luar dari mobilnya.
Aku mengangguk. Luis segera tancap gas. Aku bukan berciuman dan itu kecelakaan. Membuatku ketakutan, karena jika dengan Rangga bila terjadi hal seperti itu maka ia akan melanjutkannya.
Aku takut jika Luis nafsu, aku tak mau diperkosa. Aku takut. Dalam keadaan sadar aku tak ingin mendua dari suami sementaraku.
__ADS_1
Kini sudah sampai kosan kubuang fikiran soal ciuman dengan Luis tadi, segera kubuka pintu kosan yang tidak dikunci Gebi. Kulihat Gebi rebahan di kamar dengan mendengarkan musik lewat headsetnya.
"Woooiiiii." teriakku sambil menimpuk paha Gebi dengan guling.
Gebi terperanjat kaget dan langsung menghambur memelukku, Gebi langsung menangis. Kuusap rambut Gebi yang mulai sesenggukan.
"Ada apa sih, Geb?"
"Ra ... gue hamil."
Aku tercengang dengan mulut menganga menerima kenyataan begitu mengejutkan dari Gebi.
"Lo hamil anak siapa,Geb?"
"Dana."
"Gila lo buet gituan dengan Dana, hah jahat lo ya ambil pacar temen."
Kutoyor kepala Gebi berulang-ulang, hatiku dibuat panas. Aku berusaha menahan amarahku sejak melihat Dana dan Gebi mesum waktu itu. Akhirnya kemarahan ini tumpah.
Aku bangun dan kutonjok kaca rias di kamar kami membuat tanganku berdarah. Hatiku sakit menerima Gebi mengambil pacar sahabat sendiri.
"Maafin gue, Ra."
"Lo gak pantas dimaafin, Geb."
"Maafin gue,Ra! please."
"Coba lo fikir berapa besar jasa Siska buat lo dengan mudah lo rebut pacar dia, mereka belum lama jadian. Hah, gue pengen bunuh elo, Geb." ocehku asal-asalan.
Darah terus menetes dari tanganku, melihat tanganku berusaha Gebi mengelap tanganku tapi kutepis karena hatiku benci sungguh benci dengannya.
Gebi terus menangis sampai malam. Aku terus diam duduk di dapur meratapi nasib Siska tak tahu bagaimana nanti. Bagaimana mengatakan kenyataan ini pada Siska.
Kulihat wajah Gebi pucat pasi. Kudatangi Gebi dan kuchek suhu tubunya panas bukan main. Gebi sakit dan ia terus menangis.
"Geb, lo istirahat."
Gebi masih duduk di sova dan kutarik ia ke kamar dan kupaksa Gebi untuk berbaring. Kuselimuti tubuh Gebi dan kugosok dahinya dengan minyak kayu putih.
"Ra, ma ... ma ... maafin gue." pinta Gebi serak-serak suaranya menghilang.
"Iya, gue udah maafin lo."
'Hati ini sakit bertemu teman berhianat tapi hatiku iba menghadapi keadaan Gebi saat ini'
Aku beranjak menuju dapur melihat kotak obat di atas kulkas, mencari obat penurun panas. Kupilih paracetamol.
Kusodorkan obat dan air minum untuk Gebi. Dengan kesusahan Gebi bangun dan segera minum obatnya. Kuusap puncak rambut Gebi sampai ia terlelap faktor dari obat tadi. Aku menghela nafas, Gebi sudah tertidur aku duduk di kursi di depan kos saja karena mataku belum mengantuk.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋
__ADS_1