GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Pertemuan Dengan Ariel


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Sepanjang perjalanan pulang kulihat Rangga tersenyum terus. Nampaknya ia begitu bahagia. Tapi berbeda denganku, menyimpan seribu tanda tanya.


Sampai di rumah kulihat Rangga masuk kamar duluan, sedangkan diriku duduk di sova santai. Tak berapa lama Rangga ke luar dan mengawasiku dari lantai atas.


"Kamu belum mau istirahat?"


Aku menggeleng. Rangga segera turun menemuiku dan ia duduk di sebelahku.


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa, kak."


"Ada yang kamu fikirkan, katakanlah jika aku bisa membantumu."


Aku menarik nafas dalam-dalam. Mengatur kesiapan diriku untuk memecahkan masalah yang aku dan dia hadapi.


"Kak, ingat tidak dengan kesepakatan kita dulu?"


"Kontrak itu ya?"


Aku mengangguk.


"Ada apa?" Rangga balik bertanya.


"Aku bingung dengan pilihan kita, karena keluargamu menginginkan cucu."


Rangga mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Jadi menurutmu?"


"Aku memikirkan mamaku."


"Tinggal kau temui saja maka semua akan baik-baik saja."


"Apa? jadi maksud kakak, aku harus jujur dengan mamaku?"


Rangga mengangguk.


"Tidak mungkin,kak."


"Kenapa tidak, jika anaknya bersikeras ingin menikah maka orangtua tak bisa menahannya dan mereka berdoa yang terbaik untuk anaknya."


"Tapi pernikahan kita ini kontrak dan kita akan berpisah, yang aku fikirkan anak."


"Jika itu masalahnya, aku akan membayar rahimmu jika kau hamil."


Mataku terbelalak dan mulutku menganga dibuat Rangga. Dia akan membayar rahimku jika hami anaknya.


"Maksud kakak?"


"Pernikahan kita hanya enam bulan, jika kau hamil otomatis akan diperpanjang dan aku akan membayar rahimmu."


"Lalu anaknya?"


"Ikut denganku."


"Dan aku?"


Rangga menatapku lalu ia bangun dan mengambil minuman birnya. Rangga tak lagi meneruskan pembicaraannya membuatku bingung.


'Aku tak mengerti maksud Rangga'

__ADS_1


Aku rebahan di kursi santai terus memikirkan pernikahan kami dan soal rahimku yang akan dibayar Rangga. Anakku miliknya.


Aku penasaran segera bangun dan mendekati Rangga sedang minum. Ia melihat kedatanganku dan ia menarik semua kaleng yang ada di atas meja.


"Kenapa kak?"


"Kamu jangan minum."


Aku menggeleng melihat sifat Rangga tak mengizinkanku minum bir, padahal aku ke sini bukan mau ikut minum.


"Kak, aku mau tanya soal anak."


"Anak siapa?"


"Anak pak Rt."


"Kenapa anaknya?"


"Aish ... kakak ini, aku mau tanya anak kita lah."


"Oh."


"Kak, jika anakku milikmu emmm siapa ibunya?"


Rangga menatap manikku. Dan ia menenggak birnya lalu ia menghela nafasnya.


"Jawab, kak."


"Aku tak tahu."


"Luna,ya?"


"Bisa jadi."


Gbrugh!


'Aw'


Aku terjatuh terpeleset tangga.


"Hahahaa makannya jangan asal lari." ledek Rangga.


Aku meringis kesakitan. Dan aku mengesot naik ke atas, kakiku memar.


"Kamu kenapa ngesot begitu?"


Aku tak menjawabnya dan terus naik ke atas. Terdengar derap langkah Rangga mendekatiku dan ia memeriksa keadaan kakiku. Melihat kakiku bengkak dengan sigap Rangga menggendongku menuju kamarku.


Di kamarku Rangga mengusap kakiku yang sakit dengan minyak kayu putih. Aku meringis kesakitan. Rangga terkadang mencolek minyak kayu putih ke hidungku, tapi aku tak meresponnya karena sedang menahan sakit.


Cukup lama Rangga menggosok mata kakiku sampai nyaman dan tak bengkak lagi. Kini Rangga mengecup keningku dan ia menutup pintu kamarku.


Aku masih memikirkan ibu dari anakku. Entah kenapa tapi tak rela jika anakku dimiliki wanita lain. Berusaha kutepis fikiran itu. Aku harus berfikir positif dan aku jangan hamil.


***


Keesokan harinya seperti biasa berangkat ke kantor bareng Rangga. Dan ia menuju ruangannya dan diriku ke ruang belakang tempat OB mneunggu tugasnya.


Kulihat banyak OB berlarian lewat belakang, ada apa ya. Kucoba mengikuti mereka dan dari samping terlihat ada keramaian di depan.


Banyak wartawan datang. Ada berita apa ya. Ketika ingin melangkah lebih dekat Rangga meneleponku, tak lain meminta dibuatkan kopi susu.


Aku mundur membuat kopi dulu nanti baru melihat wartawan lagi. Dan kini mengantarkan kopi untuk Rangga. Sampai di ruang Rangga saat akan membuka pintunya diriku dibuat terkejut luar biasa.


Pintu Rangga terbuka dan yang membukanya adalah Ariel. Ariel tersenyum melihatku yang terbelanga melihatnya.

__ADS_1


"Sayang, gue kangen." kata Ariel yang membuka tangannya ingin memelukku.


Terlihat tatapan Rangga dari dalam karena pintu ruangannya terbuka jelas.Segera aku mundur dan kutanngkis dengan tanganku pelukan dari Ariel.


"Lho kenapa, sayang?"


"Ada CEO tak enak." jawabku singkat.


Ariel langsung berbalik dan kaget melihat pintu ruang CEO masih terbuka. Ariel menunduk minta maaf pada Rangga dan sang CEO tidak memberikan reaksi apa-apa.


"Maaf, gue masuk dulu ya mau anter kopi."


Ariel belum bicara segera kutinggalkan Ariel dan kututup pintu Rangga dari dalam. Segera kuletakkan kopi untuk Rangga.


'Ekspresi wajah Rangga terlihat sangar pagi ini. Apa yang ia fikirkan'


"Kak, di luar banyak wartawan."


"Aku tahu."


"Wartawan itu mau ngapain, kak?"


"Duduk."


Aku segera menarik kursi dan duduk di seberang Rangga yang menatapku sinis.


"Saya tidak mau kamu ada hubungan dengan laki-laki itu."


Aku tersentak kaget mendengar pernyataan Rangga begitu mengejutkan.


"Kenapa,kak?"


"Saya terganggu di kantor ada hubungan kurang kerjaan."


Aku mengangguk.


"Jika kau tidak menuruti keinginanku maka aku akan memecat temanmu itu dan juga kamu."


"Apa? kakak akan memecatku juga?"


Rangga mengangguk. Akhirnya kuturuti permintaan Rangga untuk tidak menjalani hubungan dengan Ariel.


Kini aku kembali ke ruang OB. Kulihat Ariel sedang ngobrol dengan teman-teman, menceritakan asam manis perjuangannya mendampingi neneknya.


Ketika melihatku Ariel tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku. Terlihat Siska bangun dan menarikku.


"Tutupi masalahmu saat ini, suport teman kita." bisik Siska.


Aku mengangguk dan mengikuti Siska duduk bersama anak-anak namun kumenjauh dari Ariel, tidak seperti dulu. Semua terasa aneh.


'Mendengar kebahagiaan Ariel mendapatkan bantuan dari Rangga. Hatiku perih mendengarnya.Aku bingung harus bagaimana'


'Aku seakan menelan luka dalam hidupku. Segala kebahagiaan untuk Ariel membuatku tersiksa'


Kutatap dari jauh wajah Ariel yang tersenyum ceria menceritakan kesehariannya di kampung. Teman-teman juga ikut tertawa.


"Sekarang nenek sudah membaik dan kondisi tubuhnya sudah normal." ungkap Ariel.


"Terus rumah lo? tanya Dana.


"Udah punya rumah kecil karena dananya dari CEO Rangga, tadi sudah bertemu CEO dan mengucapkan terima kasih banyak." jawab Ariel.


Senyum Ariel membuatku ingin menangis. Ia di kampung tak tahu ketar-ketir kekasihnya ini. Dan aku tak tahu lagi bagaimana menyikapi semua ini. Saat rindu mengharuskanku menjauhinya demi masa depannya.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...

__ADS_1


💋💋💋


__ADS_2