GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Kebaikan Tak Terbalaskan


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Aku dibuat pusing oleh Rangga, soal makanan serba susah. Makanan dari mama dibuang begitu saja. Kini kami makan quaker oats, seperti orang diet. Meski itu baik untuk jantung tapi serba susah jika sehari-hari selalu makan nasi.


Ditambah lauk yang boleh di rumah ini susu murni, kentang, keju, dan buah pilihan sultan aneh. Aku gerah dengan keanehan Rangga.


"Sayang, hari ini aku akan ke luar kota dan kemungkinan aku akan menginap di sana. Jadi kuminta kamu jangan nakal ya."


"Iya, oh ya bagaimana soal makananmu?"


"Biar asistenku yang mengurus itu, kamu tenang saja."


Rangga mengecup keningku dan ia mengambil tasnya yang kubawa sampai di pintu utama.


"Kookie!"


"Iya."


Aku berlari mendekati Rangga yang sudah membuka pintu mobilnya.


"Bolehkah aku ke rumah sakit?"


Rangga menarik nafas yang panjang dan ia menggelengkan kepalanya, menolak permohonanku.


"Aku mohon hanya berkunjung siang saja."


Rangga melihat jam ditangannya.


"Nanti ada supirku ke sini, dia yang akan mengantarmu dan kamu tidak boleh pergi tanpa supir itu."


Aku mengangguk, Rangga membelai puncak rambutku dahulu sebelum ia memasuki mobilnya. Kini barulah ia meninggalkan rumah.


Aku melambaikan tangan untuk Rangga sampai mobilnya tak kelihatan lagi. Kini aku bersiap saja menunggu supir itu datang. Jika ada supir itu lumayan dari pada aku harus berjalan ratusan meter menuju jalan umum.


Ganti baju dulu. Buka lemari dan pilih baju santai saja. Aku suka warna tsirt pink muda dengan celana sampai di lutut berwarna ungu muda. Tas pilih warna putih. Sepatu kets juga putih. Sudah wow.


Ting Tong!


Aku menoleh ke pintu kamarku, siapa yang menekan bel jam seperti ini. Cepat sekali supir itu datang. Dia ke sini naik mobil atau jet pribadi Rangga.


Segera kuturuni anak tangga dan menuju pintu utama, pintu kubuka tak ada siapa-siapa. Mobil juga tidak ada di depan rumah. Begitu saat aku akan menutup pintu, pandanganku tertuju pada sebuah kotak pink ada di depan pintu.


Kuambil dan kulihat kartu ucapannya, dari pengagum rahasia. Kulihat isinya sama, cokelat mini berbentuk hati warna pink muda.

__ADS_1


Aku berjalan ke halaman dan sampai ke jalan depan rumah, mencari siapa pengirim paket ini. Aku penasaran dengan orang ini.


Diujung gang juga tidak ada. Siapa orangnya. Ya sudah aku masuk ke rumah saja. Ganti baju dan menikmati cokelat gratis ini.


Triiiiiiing!


Ponselku berdering. Kulihat Gebi meneleponku. Tumben calon mama muda ini meneleponku pagi-pagi sekali.


"Hallo, lo di mana?"


'Aku kaget mendengar Gebi ngegas, ada apa gerangan.'


"Aku di rumah."jawabku.


"Jam gue istirahat nanti, gue mau ketemu sama lo di kopi shop langganan kantor. Jika lo temen gue, lo harus dateng."


Tuuut!


Gebi mematikan telponnya, aku belum sempat bicara apa-apa. Aku bingung dengan Gebi ada hal apa dengannya. Apakah dia cekcok dengan Siska.


Kulihat jam mendekati jam istirahat, supir itu belum juga datang. Aku harus pergi ke rumah sakit dan akan menemui Gebi. Aku pergi sendiri saja, jika supir itu tau aku menuju kantor nanti takut dilapor pada sultan.


Selesai ganti baju aku segera berjalan menuju jalan umum, kubawa cokelat mini itu untuk cemilan. Pas ada taksi aku langsung naik. Ke rumah sakit dulu.


***


Dulu jemari hangat ini yang sering mengacak-acak rambutku. Kuingat juga jemari ini menyelipkan uang saku untukku selama ia pergi meninggalkanku.


Flash Off


Tut!


Nada pesan di ponselku dan buru-buru kubuka karna tiba di kantor tidak ada waktu untuk menyentuh ponsel. Walau tidak ada aturan demikian tapi berasa diawasi cctv dimana-mana.


Aku wajib sok baik di tempat kerja karena itu demi menyelamatkan hidupku bergaji. Tidak boleh merusak nama baikku bisa dipecat seberapa ruginya dengan nol-nol berapa biji mengiringi gajiku.


Kulihat pesan dari Ariel.


from Ariel


Sayangku gadis imutku hati-hati ya selama gue gak ada dideket lo. Dan yang gue kasih tadi semoga bermanfaat ya sayang. Emuach.


Kulihat dulu pemberian Ariel. Kumasukan tanganku ke saku bajuku dan mendapati ada kertas licin di dalamnya. Kutarik dan mengejutkan uang merah tiga lembar dia berikan. Sungguh mulia hatimu, Ril.


Kuterharu dibuatnya dan segera kubalas pesannya.Cukup ketik yang manis-manis saja.

__ADS_1


me


Sayangku makasi ya atas kebaikanmu. Gue akan jaga diri baik-baik di sini. Sayang di sana juga jaga kesehatan ya. Titip salam buat nenek di sana. I Love You, sayangku.


Klik langsung kirim. Dan pemberian Ariel ini bermanfaat sekali untukku. Maklum anak rantauan. Tapi terasa tak tega, dia pulang kampung tapi bukannya bawa duit buat jaga-jaga siapa tau ada perlu di jalan tapi malah memberikan uang saku untukku.


Tak tahu bagimana balas kebaikan Ariel. Tapi ini sangat membantuku dan Gebi. Dan kini memikirkan Gebi, dia di kosan ada tidak ya pegang uang buat makan. Semoga ada karena diriku menunggu pulang nanti baru bisa belanja makanan untuk Gebi. Yang kuat ya sobatku yang cantik.


Flash On


Mataku basah mengingat itu. Setelah itu baru sekarang kusentuh jemari ini, tapi Ariel tidak mengetahuinya. Aku tak tahu bagaimana membuat Ariel sadar.


"Aku masih mencintaimu, aku sudah jahat menduakanmu. Sadarlah, sayang. Izinkan aku membahagiakanku dulu, beri aku waktu Tuhan." lirihku begitu perih.


"Bu, jam besuknya sudah habis!" ucap seorang perawat yang menunggu ruang icu.


'Kuusap airmataku dan kukecup kening Ariel. Lalu dengan berat hati kumeninggalkannya. Semoga ia segera sadar dan bisa bersamaku sebentar saja. Karena aku juga berat meninggalkan Rangga.'


Aku langsung menuju kopi shop karena sudah jam istirahat. Kugunakan kacamata hitamku, kubiarkan bertengger di hidungku. Menutupi sembab mataku.


Tak butuh waktu lama aku sudah tiba di kopi shop.Kulihat jam seperti ini sangat ramai, kenapa Gebi memilih tempat ini. Aku berjalan masuk ke dalamnya.


"Aw!" jeritku bertabrakan dengan seseorang sampai kacamataku terjatuh.


Lelaki berjacket panjang itu mengambil kacamataku dan saat menyerahkan padaku, kami terdiam membeku seperti masuk dalam freezer. Mata kami sama-sama terbelalak.


"Bos, ada apa?" tanya seorang pelayan mencairkan ketegangan kami tak sengaja bertemu di sini.


"Hai, mba Ara!" sapa pelayan itu.


Aku diam merasa mulutku berat untuk bersuara. Dan Louise menyerahkan kacamataku, kuambil kacamata itu dan kusimpan dalam tas. Louise tersenyum melihatku.


"Kamu habis nangis?"


"Em, enggak!"


"Ada masalah dengan Rangga?"


"Enggak!"


"Wah, bos dan Mbak Ara saling kenal ya?" tanya pelayan itu.


"Ra, yuk masuk kita ngopi dulu." ajak Louise.


Aku mengangguk dan masuk bersama Louise ke kopi shop ini, sementara pelayan tadi kembali bertugas. Kulihat di semua meja tidak ada Gebi, jadi kupilih meja pilihan Louise.

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋


__ADS_2