GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Pov Rangga -Rumit-


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Pagi-pagi bahagia pulang ke rumah tidak mendapati kehadiran Luna. Dan setelah melewati rutinitas melihat kamar Rara, barulah kuturun ke bawah. Menyiapkan sarapan sendiri, hanya ditemani kerinduan yang tak akan terbalaskan. Usai makan bergegas menuju kantor.


Kini aku sudah tiba di kantor, aku harap tidak ada Luna mendatangiku. Sebelum memasuki ruanganku, Kirana selalu menyambutku dengan senyumannya.


Sampai di ruang kerja ponselku terus berdering, kulihat Luna meneleponku. Kusilentkan nada dering ponselku, dan kulihat ia mengirim pesan.


Berisi minta tanggung jawab atas kehamilannya, membuat kepalaku seakan mau pecah. Cepat sekali ia hamil, baru berhubungan dua kali dalam kurun waktu tiga hari sudah hamil. Hebat.


Bersama Rara hampir enam bulan juga belum hamil, biarkan saja Luna mau bilang apa. Aku mau ketenangan hari ini. Kugunakan telpon kantor, memerintahkan semua security melarang Luna memasuki area perkantoran.


Tok tok tok!


"Masuk!"


Ceklek!


Kulihat Kirana datang menghampiriku, ia terus menunduk seperti menyimpan sesuatu.


"Ada apa?"


"Saya mau meminta izin dengan bapak."


"Kamu bicara dengan saya atau sepatumu?"


Kirana tersenyum dan mengangkat wajahnya.


"Maaf,pak. Saya mau minta izin satu minggu boleh tidak?"


"Kamu sakit?"


"Tidak,pak. Saya mau menikah jika bapak izinkan, jika tidak maka saya akan menunda pernikahan sampai mendapat izin dari bapak."


Aku menyimak permintaan izin dari Kirana,dan mengingatkanku dengan Luna yang minta dinikah dengan cepat.


"Duduk dulu, ada yang mau saya bicarakan."


Kirana menarik kursi di depanku, ia duduk dan mengamatiku.


"Em, maaf kamu nikah ini murni atau karena MBA?"


"Hah! astaga, saya orang baik-baik pak."

__ADS_1


"Maaf, em saya bingung bagaimana mengatakan denganmu karena ada hal yang jadi beban fikiran saya saat ini."


"Bapak memikirkan apa saat ini? jika saya boleh tahu."


"Em, teman dekat saya mau menikah tapi dia aduh tolong jangan kamu bocorkan dengan siapa pun ya."


"Baik,pak!"


"Teman saya ini sedang di luar negeri tapi sebelum pergi ia sempat tidur dengan teman kantornya, ya tidak sengaja. Dan teman wanita itu mengaku ia hamil jadi minta teman saya segera pulang ke indonesia dan menikahinya, padahal baru tiga hari. Apakah sudah hamil?"


"Kakak saya yang lebih mengerti pak, dia seorang bidan. Kalau saya hanya sedikit ilmunya soal kehamilan karena sering dengar cerita kakak saya, bagi saya belum tentu hamil. Kecuali dia menjebak teman bapak, dia hamil dengan lelaki lain dan minta tanggung jawab dengan teman bapak."


"Oh, jadi kapan kita bertemu kakakmu?"


"Terserah bapak."


"Oke, kita berangkat sekarang!"


Aku dan Kirana berangkat menuju kediaman kakaknya yang merupakan seorang kebidanan di rumah sakit umum daerah. Memakan waktu dua jam akhirnya sampai.


Kami langsung bertemu kakak Kirana di mana hari ini ia kebagian jam kerja sift malam, jadi jam seperti ini iya santai.


"Silahkan, pak ceritakan permasalahannya." tukas kakak kandung Kirana.


"Teman dekat saya dipaksa menikah, bu. Dikatakan teman wanitanya sudah hamil, mereka baru berhubungan tiga hari yang lalu. Teman saya baru saja tiba di Australi." tipu daya sebisaku.


Bidan itu mengangguk,"Terlalu cepat dalam waktu secepat itu sudah terbaca kondisi rahimnya,pak. Karena kondisi janin itu bisa terbaca setelah dua minggu kemudian, tidak bisa terbaca kadarnya dalam urine dalam kurun waktu secepat itu." jelasnya.


"Jadi bagaimana, bu?"


"Bawa wanita itu langsung ke dokter kandungan, chek kondisi rahimnya. Jika sudah nampak lewat usg, kemungkinan besar itu bukan anak teman bapak tapi itu siasat tipu wanita itu."


"Oh, baiklah terima kasih ya bu."


Bidan itu tersenyum dan kuselipkan amplop cokelat untuknya berisikan puluhan lembar uang kertas merah sebagai ucapan terima kasihku.


Fikiranku sangat lega mendengar penjelasan itu, kini sebaiknya kuajak Luna ke dokter kandungan. Aku ingin mengetahui akal bulus wanita seperti dia.


Usai mengantar Kirana ke kantor, diriku langsung menuju rumah Luna. Kulihat mobilnya ada. Aku tak perlu basa-basi tapi langsung masuk mencari keberadaan Luna.


Terdengar samar-samar suara Luna dari arah dapur, kudekati secara diam-diam. Terlihat ia sedang berbicara via telepon.


"Aku sudah memberinya perangsang, tapi cara itu tidak mudah. Aku tidak mau kamu main-main, aku harus mendapat bagian dari resort barumu itu seutuhnya."


Aku terbelanga memdengar pembicaraan Luna, dengan siapa ia bicara sampai membawa nama resort baru. Setahuku resort baru ini ada dalam proyek baruku bersama Al, dan ketiga sahabatku.

__ADS_1


Saat Luna berbalik ia terkejut bukan main mendapatiku berdiri di belakannya. Wajah Luna pucat pasi.


"Perangsang apa yang kamu bicarakan itu?"


"Em, em, em, mmmmm perangsang bunga iya perangsang tumbuhan supaya cepat berbunga." jawab Luna gugup.


"Sejak kapan kau suka bunga?"


"Em, ah sayang kok kamu datang tidak bilang-bilang."


"Jawab pertanyaanku!"


"Sudah kujawab tadi, oh ya sayang kita jalan-jalan yuk."


"Aku tidak mau."


"Em, gini aja kita bahas pernikahan kita saja. Kapan kamu menceraikan Rara dan menikahiku."


"Aku akan menceraikan Rara dan menikahimu jika kamu hamil."


Kulihat raut wajah Luna berubah panik, ia nampak gelisah. Pandangan matanya terlihat kosong.


"Aku sudah hamil kok, sudah kamu tiduri aku dua kali."


Aku tersenyum sinis,"Ganti baju, aku akan membawamu ke sebuah tempat yang tidak akan kamu lupakan seumur hidupmu. Tempat impian semua wanita!"


Luna masih kebingungan, tapi ia memaksakan tersenyum dan segera ia mengganti busananya. Aku akan membawanya ke dokter kandungan. Biar jelas apa yang terjadi.


Dan aku penasaran dengan pembicaraan Luna tadi mengatakan bahwa ia sudah memberi perangsang. Perangsang apa yang ia berikan, membuatku ingin tahu.


Mengejutkan lagi imbalannya sebuah saham resort besar, siapa teman bicara Luna. Sungguh semua ini terasa begitu mengejutkan.


Jujur diriku menyesal berbuat baik dengan Luna jika begitu licik tingkah lakunya. Diriku pun teramat menyesal menyentuhnya di bawah alam sadarku.


Membuatku kehilangan kepercayaan wanita yang amat kucintai. Kulihat jarum menit jam tanganku, belum juga Luna muncul.


Aku berjalan ke dapurnya, kubuka lemari pendinginya, kulihat banyak minuman kaleng rasa jeruk seperti minuman yang ia sodorkan dulu denganku sebelum kunodai dia lagi.


Kuambil satu kaleng dan kuminum sembari menunggu Luna, jika kita sangat membutuhkan kehadiran seseorang itu serasa amat lama proses ia sampai di depan kita.


Kulihat pintu kamar Luna masih tertutup, aku merasa jengkel menunggu wanita gila itu. Dia sedang ganti baju atau sedang membuat sebuah baju, sangat lama.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2