GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Perhatian CEO


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


"Ra ... !"


"Rara."


"Dara Samudera!"


"Ra!"


Terdengar panggilan Rangga membahana di rumah ini, hanya suaranya meramaikan rumah ini. Aku tak kuat berteriak menjawab sapaannya.


Bangun menyambut kedatangannya pun tidak bisa. Tubuhku menggigil, peluh membanjiri tubuhku tapi begitu dingin menusuk tulang yang kurasakan.


Lampu kamar pun tak bisa kunyalakan. Aku tak kuat merasakan dingin begitu dingin.Karena melihat kamarku begitu gelap bearti hari sudah malam.


'Rangga tolong aku, apakah kau mendengar suara hatiku' batinku mengharapkan kedatangannya.


CEKLEK! Rangga membuka pintu kamarku dan ia menyalakan lampunya, kusingkap sedikit selimut tebalku. Rangga masih mengenakan jas tadi pagi. Dia baru pulang ternyata.


Terasa Rangga menyingkap selimutku dan ia memegang pelipisku, mengechek suhu tubuhku.


"Kita ke dokter ya ?"


Aku menggeleng.


"Badanmu panas."


Aku diam dan menarik selimutku, kemudian Rangga langsung pergi, kulihat ia membawa tas dan jasnya.


Tak berapa lama ia kembali membawa baskom kecil, apa yang ia bawa. Rangga meletakkan baskom itu di lantai dan terdengar gemerincik air.


Kemudian Rangga menggulung kemejanya sampai di sikunya dan mulailah ia mengompres kepalaku. Berkali-kali ia lakukan itu. Kini ia ke luar, terdengar bunyi pantulan sandal santainya.


Sepertinya Rangga ke lantai bawah tapi kutak tahu ia kenapa ke sana. Dan kurasa cukup lama. Kini ia datang kulihat membawa mangkuk kecil.


"Ra, makan dulu ya."


Rangga mengaduk-aduk bubur yang masih panas.Aku menggeleng karena aku tidak nafsu makan. Saat ini merasa kedinginan cukup terasa. Tubuhku panas di luar tapi sangat dingin di dalamnya.


"Makan dulu, Ra. Sedikit saja sini aku suapin."


Rangga mengecup keningku dan mengusap ubun-ubunku. Ia masih membujukku makan tapi aku benar-benar tidak mau makan.


"Ra, makanlah kumohon."


Aku menggeleng.

__ADS_1


"Kalau kau tidak mau, aku akan minta jatah lagi lho." goda Rangga sambil menyodorkan satu sendok bubur nasi menjijikan bagiku sedang sakit.


Aku tak mengubris candaan Rangga, tetap saja aku tidak mau makan. Rangga meletakkan di atas nakas di sisi tempat tidurku semangkuk buburnya.


Ia terus memandangku. Kini kulihat Rangga menarik ponselnya, dan ia rebahan di sebelahku. Sempit. Rangga memaksakan tiduran di tempat tidurku.


Rangga terus menggeserkan posisiku karena ia ingin ikut rebahan, aku sebal karena tubuhku sedang sakit. Akhirnya aku menggeser sedikit memberi tempat untuk Rangga.


"Ra, makan yuk."


Aku terus diam.


"Begini kalau kamu mau makan aku cairkan dua ratus juta besok." ucap Rangga dengan menatapku terus terbaring.


Kutatap manik hitamnya apakah ini mimpi, semalam begitu susah kurayu dua ratus juta itu tapi sama sekali tidak dikabulkan Rangga. Dan kini ia akan mencairkan dana sebesar itu asalkan aku makan.


Aku mengangguk dengan senyum bahagia, Rangga segera duduk dan meraih mangkuk buburnya. Aku dengan kesusahan ikut bangun dan Rangga membantuku duduk.


Kini dengan raut wajah tak enak kumenyantap sendokan pertama.


'Uweaak'


Aku muntah di tangan Rangga yang sedang mengaduk buburnya. Wajah Rangga keget dan ia tak bisa lari. Aku mual lagi dengan jijik Rangga bertahan menjadi wadah muntahku mengenai baju dan celanaya.


Selesai muntah Rangga mengelap mulutku dengan tissu dan ia segera pergi menuju kamarnya. Tak berapa lama ia datang lagi kulihat ia sudah mandi. Rangga membawa segelas susu hangat dan ember kecil.


'Uweaaak'


Spontan Rangga mengangkat ember kecil itu dan aku muntah lagi padahal susu itu baru kuminum. Berkali-kali aku muntah kala menelan susu hangat itu membuat kepalaku pusing begitu pusing.


Rangga membuang muntahanku ke kamar mandiku dan entah apa yang ia lakukan karena begitu ramai bunyi air gemerincik di kamar mandi. Kini ia kembali kulihat membawa ember kecil itu sudah ia bersihkan.


Rangga menggosok kepalaku dengan minyak kayu putih dan memijatnya dengan jarinya, begitu nikmat bagiku dan aku pejamkan mataku merasa nikmat dipijat saat merasa sakit bukan main terutama pada ubun-ubunku.


***


Kumenggeliat dan kubuka mataku, mataku terkejut melihat Rangga memelukku. Dia tidur di kamarku dan kulihat masih ada baskom kecil di sisi tempat tidurku.


Aku sudah mendingan kubersihkan kamarku lalu menyiapkan jas untuk Rangga. Kucuci langsung bajunya yang kumuntahkan semalam. Kini kusiapkan menu sarapan pagi dulu.


Membuat nasi goreng bungkus telur dadar, menu sederhana yang kutahu. Selain itu aku tidak begitu faham soal menu masakan. Kuakui tidak bisa masak.


Selesai semua sudah standby di atas nakas, saatnya membangunkan Rangga karena ia akan berangkat kerja.


"Kak," kusapa Rangga dengan mengusap dada bidangnya.


Rangga menggeliat lalu ia bangun. Ia mengucek matanya lalu duduk. Rangga memegang pelipisku dan menciumku lalu ia meninggalkanku menuju kamarnya.


Aku pun langsung mandi dan ganti baju seragam OB-ku. Semua beres kini kumenuju meja makan. Kulihat Rangga turun begitu tampan mengenakan jas pilihanku.

__ADS_1


Kulihat Rangga menenteng dasinya dan menyerahkan dasi itu padaku, kumengerti itu sudah tugas sang istri. Aku bangun dan memasang dasi untuk Rangga. Kini saatnya makan.


Begitu menyuap sendokan pertama kembali aku mual 'uweaaak' aku berlari ke wastafel. Tak ada apa-apa tapi mual sungguh mual. Rangga segera mengusap tengkukku dengan minyak kayu putih.


Sudah membaik kembali ke meja makan. Rangga menghabiskan nasinya tapi tidak denganku, aku takut muntah lagi. Selesai makan kuikuti Rangga ke mobilnya.


"Kamu di rumah saja, istirahat."


Aku menggeleng.


"Ayolah, Ra jangan manja."


Aku tetap menggeleng, akhirnya Rangga mengizinkanku ikut bekerja. Segera kumeloncat ingin mengecup pipi Rangga yang tinggi itu, tapi berpas-pasan saat Rangga menoleh membuat bibirku melabuh di bibirnya.


Aku menunduk tersipu malu, Rangga mencubit hidungku dan menarikku ke mobilnya. Mobil pun melaju. Sepanjang jalan kulihat adakah orang jual makanan yang tidak membuatku muntah karena aku lapar tapi aku takut muntah.


Rangga menuruti keinginanku membeli makanan yang kumau tapi aku tidak makan di tempat karena takut muntah, kubawa sampai kantor.


"Awas kalau tidak habis."


"Abis kok kalau enggak muntah."


"punya sakit maag ?"


Aku mengangguk.


"Makanya jangan terlambat makannya jadinya begini."


"Ya kemarin aku sakit, kak."


"Sejak kapan kamu sakit ?"


"Abis mandi langsung menggigil."


"Terus kenapa tidak meneleponku, jangan ulangi kalau ada apa-apa langsung telpon."


Aku mengangguk.


"Kamu tidak usah di belakang, stay di ruangku saja."


Aku mengangguk lagi.


"Aku tidak mau nanti kamu disuruh kerja macam-macam lagi, apalagi kamu sedang sakit."


Aku diam melihat Rangga berbicara dengan tatapan tetap fokus ke depan. Dia lelaki menyebalkan, si CEO mesum ternyata bisa berbuat baik.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2