GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Nenek Ariel Kritis


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Kulihat hari semakin larut dan Rangga belum pulang. Dan kenapa aku malam ini tak bisa tidur. Menonton teve tak berminat malam ini.


Aku bangun dari kursi santai lalu membuka pintu. Duduk bersantai di ayunan taman saja. Di sini sepi jika berfikir buruk maka akan menyeramkan, apalagi baru pindah ke sini.


Ah! Naik ayunan malam-malam, angin begitu sepoi-sepoi. Triiing! ponselku berdering, kulihat Ariel meneleponku.


"Hallo, sayang." sapaku.


"Sayang, lagi ngapain ?"


"Lagi santai kalo sayang ?"


"Di rumah sakit yank, nenek drop."


"Ya Tuhan, bagaimana sekarang sayang ?"


"Nenek masuk icu, kondisi tumornya semakin parah dan fisik nenek semakin tak kuat."


"Nenek belum di operasi juga sayang ?"


"Kami sudah menjual rumah kami dan lakunya hanya seratus juta, tapi adikku kecelakaan membuat lawan tabrakannya tewas mengharuskan kami mengganti jiwanya dengan jumlah empat puluh juta."


"Ya Tuhan, sayang ujiannya begitu berat."


'Hiks hiks' terdengar deru tangis Ariel. Baru ini kudengar tangisan lelaki, kekasihku. Dia sudah kehilangan rumah dan kini operasi nenek pun tak bisa.


"Sayang berdoa terus ya, semoga semuanya cepat teratasi. Yang kuat sayang, gue gak bisa bantu apa-apa."


"Iya, sayang. Lo udah bantu hibur hati gue kok, gue bersyukur punya kekasih kayak lo selalu nenangin gue."


Kini air mataku pun tumpah.


"Makasi ya sayangku." Ucapku lirih.


"Iya, sayang baik-baik ya di sana jagalah cinta kita selama aku gak ada."


Air mataku semakin menjadi ketika Ariel memintaku setia, aku sudah menghianatinya. Aku tak bisa lari dari semua ini.


"Sayang kok diem ?" tanya Ariel.


"Gak apa-apa kok sayang, gue kangen sama lo yank."


"Gue juga kangen, doain nenek gue ya sayang."


"Pastinya, sayang."


Ariel pun pamit dan mengakhiri teleponnya.Aku berfikir bagaimana membantu Ariel. Apa aku bertanya soal mahar itu, tapi Rangga sedang marah aku takut kemarahannya dengan Al belum padam.


Tapi hanya itu salah satu jalannya jika memang ada jalan untuk Nenek Ariel. Tak berapa lama mobil Rangga datang, kuseka air mataku lalu membuka pagar untukknya.


Pas kedatangan Rangga ingin kubicarakan hal serius ini, tapi bagimana mengechek Rangga sudah membaik. Jika to the point sungguh tak mengenakkan. Aku coba ambil hati Rangga untuk mengechek emosinya.

__ADS_1


Rangga yang turun dari mobilnya kaget melihat kehadiranku, ia melirik jamnya lalu masuk lagi ke mobilnya. Dan segera masuk ke halaman. Dan kututup lagi pintu pagarnya. Rangga langsung mendekatiku.


"Kenapa belum tidur ?"


"Belum ngantuk."


Kuambil tas dan jas Rangga yang ia bawa, alisnya terpaut melihatku yang langsung berjalan masuk ke rumah ketika sudah mendapatkan baju dan tasnya.


"Kakak mau minum apa ?"


Rangga mengikutiku ke dapur dan ia segera mengechek suhu tubuhku.


"Kenapa kak ?"


"Kamu tidak sakit 'kan ?"


Aku menggeleng.


"Tumben kamu baik, biasanya saat aku pulang kerja kamu selalu menghindar."


"Perasaan kakak saja, kakak mandilah dulu aku mau bicara."


"Bicara di kamar saja."


"Jika di kamar kita tidak akan bicara."


Rangga tersenyum dan ia mendekatiku membuatku mundur, ia menghela nafasnya lalu segera naik ke atas. Kuikuti untuk mengantar tas dan jasnya setelah itu aku menunggunya di meja makan.


Tak berapa lama Rangga pun datang. Oh penampilannya Rangga hanya mengenakan celana pendek tanpa baju memperlihatkan lekuk menggugah roti sobeknya. Ini artinya emosi Rangga sudah melemah sedikit dan aku berhasil mengecheknya.


Rangga mau minum hard liquor itu artinya bisa memabukkan jika berlebihan, kurasa ini salah satu peluangku untuk membujuk Rangga. Aku takut dan tak berani mengatakannya tapi aku butuh. Jadi aku harus ikutan mabuk malam ini. Segera kuambilkan dan meletakkannya di meja.


"Banyak sekali!"


"Siapa tahu aku juga mau kak,"


Rangga tersenyum dan membuka satu kaleng untuknya. Begitu pun aku ikut minum, Rangga baru berapa tenggak sedangkan aku langsung menghabiskan satu kaleng. Dengan menahan rasa aneh dan aroma menyengat yang baru pertama kali kurasakan.


Aku berdebar dan takut penyataanku tidak disukai Rangga, tapi aku butuh bantuannya saat ini. Aku berharap maharku dulu untukku seutuhnya.


Rangga tak menghentikanku minum, ia mengacuhkanku. Ia tidak tahu aku sedang mengumpulkan keberanian untuk bicara serius.


Merasa belum berani aku segera minum ludes satu kaleng lagi. Sampai sini belum selesai, masih belum berani. Rangga bangun dan mengambil minuman botol di lemari minumannya.


Rangga menuangkan ke dalam gelas dengan warna begitu pekat lain seperti merah atau cokelat dan aroma begitu nikmat. Ia menyodorkan satu gelas full untukku, kutandas habis satu gelas karena rasanya nikmat. Aku tak tahu ini merk apa tapi membuat pandanganku berubah.


Dan ada rasa lain dalam diriku melihat Rangga. Membuatku ingin duduk dalam pelukannya. Ah! kutunda dulu itu. Kubangun dari dudukku dan hampir aku roboh tapi Rangga langsung bangun dan menahan tubuhku.


Kurasakan ia menggendongku dan kupejamkan mataku, dan irama kaki Rangga memantuk seperti menaiki anak tangga. Dan kurasakan sesuatu mendarat di bibirku. Aku tak mungkin menolaknya, mengasyikan bagiku.


Rangga menghempas tubuhku di atas kasur, kubuka mataku berada di kamar Rangga. Kulihat ia melepas celananya dan memperlihatkan sesuatu yang menggemaskan.


Kubuka bajuku juga dan kupeluk Rangga, suamiku sangat tampan. Sebelum memulai peperangan ku ajak Rangga rebahan dulu. Kuberbaring di atas dada bidangnya dengan meraba roti sobeknya.


"Kak, boleh gak aku tanya soal mahar dulu ?"

__ADS_1


"Boleh," jawab Rangga seraya meraba sekujur tubuhku.


"Apa ada hakku dalam mahar itu ?"


"Semua milikmu, memangnya kenapa ?"


"Boleh tidak aku jual sedikit ?"


"Jual buat apa ? kamu mau beli apartemen ?"


Aku menggeleng.


"Lalu ?"


"Aku mau bantu Ariel yang butuh biaya untuk operasi neneknya."


"Terus ?"


"Dia menjual rumahnya tapi adiknya terkena musibah membuat korbannya meninggal dunia jadi uang hasil jual rumah itu dibagi untuk korban jiwa yang ditabrak adiknya."


"Berapa duit ?"


"Dua ratus juta, untuk bantu biaya neneknya dan bantu Ariel biar bisa beli rumah lagi untuknya tinggal bersama keluarganya."


"Maunya kau dibohongi."


"Ariel tidak pernah bohong, kak. Dan ini untuk neneknya terkena tumor jadi harus operasi, jika tak percaya cek aja di rumah sakit Xx."


Rangga menggeleng, ia berat membantu Ariel yang sangat membutuhkan biaya.


"Kumohon kak."


"No."


"Kak."


"No."


"Oke kalau kakak tidak mau, aku juga males di sini sama kakak."


Kudorong tubuh Rangga lalu bergegas bangun tapi tubuhku terjatuh ke lantai. Mataku berkunang-kunang. Dan terasa Rangga menggendongku lagi.


Aku terus merengek bantuan Rangga tapi ia tetap bilang no. Aku tak tahu kenapa Rangga tidak mau membantu orang membutuhkan.


Apalagi kondisi nenek Ariel kritis. Kuteriak di telinga Rangga jawabannya sama, no. Kunaik di atas roti sobeknya tetap saja no. Kutiarap, salto, kayang, atau nungging tetap jawaban Rangga no.


Aku bisa gila jika ada uang tak bisa membantu Ariel, karena hakku seutuhnya mahar itu. Tapi bagaimana mau membantu Ariel jika ditahan begini.


Kini Rangga berdiri menatapku yang aktif di tempat tidurnya. Aku tak tahu mengapa tak bisa diam. Selalu saja aktif kaki dan tanganku.


Kini di bawah sinar lampu malam yang remang Rangga mendekatiku. Aku menunggunya cepatlah kemari pangeranku. Cepatlah bawa aku terbang ke langit luas sana.


Ingin kuteriak pada para pangeran di langit sana bahwa pangerankulah lebih gagah dan perkasa dari semuanya.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...

__ADS_1


💋💋💋


__ADS_2