GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Luka Ini Berdarah Lagi


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Rangga terus tersenyum melihatku membuatku tertawa. Suamiku sangat bahagia, ia terus menggendongku sampai membawaku ke mobil ia tetap menggendongku. Tapi kuingat kebahagiaan ini tak disambut Al,dia diam dan menjauhiku.


Aku ingat aku sempat dekat, tapi tak bisa ditebak semua ini terjadi. Kini di rahimku ada baby Winata, penerus perusahaan Elang.


"Sayang, mulai sekarang kita pakai asisten ya karena aku tak mau kamu lelah sedikit pun."


"Iya, sayang tapi jangan pekerjakan orang muda ya nanti aku jelous lho."


Rangga menarik pelan kepalaku dan menciumku sesaat lalu ia fokus menyetir lagi. Kusenang melihat Rangga, ia terus tertawa. Bahagia menyambut buah hati kami.


Diriku benar-benar tak menyangka, terlalu banyak masalah membuatku tak mengetahui kalau sudah empat bulan tidak datang tamu bulanan.


Kupegang perutku dan terus tersenyum bahagia. Dan kini kami sudah sampai di rumah. Rangga lagi menggendongku, dia benar-benar aneh.


Masih di halaman, Rangga menatap manikku dan ia mengedipkan matanya membuatku tertawa ingat tingkah usinya kini kumat.


Melihatku tertawa membuat Rangga terus menggodaku, ia mengedipkan matanya sampai hidung bangirnya menyenggol nakal hidungku. Kupeluk tubuh suamiku, tubuh yang sudah disentuh wanita sialan itu.


Segera aku berontak dan minta diturunkan Rangga, ia pun menurunkanku. Merasa kembali benci dengan Rangga membuatku berlalu meninggalkannya. Rangga pun mengejarku.


"Sayang, kamu kenapa sih? kok jadi ngambek gini?"


"Aku benci tiap inget kejadian kalian di apartemen itu!" bentakku berlalu pergi.


Sebelum membuka pintu kamarku, kulihat Rangga ia masih berdiri di depan pintu utama. Menjadi tak enak hati, tapi setiap ingatku seakan membuka perban luka yang belum sembuh.


Barrrr!


Kubanting pintu kamarku, aku wanita biasa tak bisa menahan luka ini. Sakit ulah Rangga selama ini sanggup kulalui, tapi mendua membuatku sakit sungguh sakit.


Serasa sia-sia kesetiaan dan pengabdian selama ini. Serasa terhina, terluka, merana akan perbuatan mendua.


Aku menangis, airmata yang kutahan pun tumpah. Aaaaaaa! aku berteriak sekencangnya. Selama ini kudiam menahan luka, luka, dan luka.


'Selama ini aku diam kala dia berjalan dengan orang lain, tapi aku tetap menjaga hatinya meski aku tak mencintainya'

__ADS_1


'Sampai cinta memulai komitmen ini menjadi serius, tapi ia tak bisa meninggalkan orang itu. Hingga semua berada dalam dusta, semua menahan rasa sampai berakhir begitu perih'


'Kala rasa ini tidak dihargai, lebih menghargai dia. Aku tak tahu siapa orang ketiga, dia bagian hidupnya tapi diriku teman hidupnya'


'Dan dia dihadapkan pilihan yang rumit antara aku atau dia, Luna mencintainya dan aku pun mencintai. Aku tak ingin egoisku melukai hati orang lain, tapi aku pun tak kuat disakiti lagi.Aku ingin bahagia bersama dia'


'Aku tak tega memberi harapan pada Al sebagai pelarian, dia terlalu tulus bukan dia jalan melupakan Rangga bila akhir ia bersama Luna'


'Hatiku perih ingat peristiwa menyakitkan itu, sakit, sakit, sakit ini tak bisa digambarkan membuatku ingin mengakhiri hidup. Luka didua sungguh teramat perih, sulit dilupa. Kini berawal karena cinta, biarlah cinta yang mengakhiri cerita ini bagaimana yang terbaik'


Kupegang perutku membuat airmataku semakin deras, jika dia tak ada kurasa tak kan terjadi peristiwa penyelamatan semalam. Kurasa lebih baik gila dengan Louise, biar mendua dibalas mendua secara impas.


Tapi Tuhan tak mengizinkan, karena ingin Daddynya tahu kehadirannya di rahim momi Dara Samudera.


Kulihat coretan lipstik masih ada di cermin riasku, kudekati cermin itu. Kuusap coretan usil Rangga saat kukabur waktu itu.Hatiku sayang dengan dia, tapi luka ini belum sembuh.


Kuusap airmataku dan segera ganti baju, aku pilih istirahat saja. Aku belum siap bertemu Rangga, hatiku masih perih.


***


Triiiiing! ponselku berdering, kulihat Mas Odi meneleponku. Kamarku sangat gelap, ternyata sudah malam. Kunyalakan lampu tidur dulu dan kuangkat telepon Mas Odi.


"Hallo, maaf bu jika ganggu."


"Jangan panggil ibu dong Mas, kita 'kan teman!"


"Ya tidak enak bu, nelepon istri bos besar."


"Terserah, ada apa Mas?"


"Maaf, maaf, maaf bener bu tapi saya jalankan amanah yang ibu berikan untuk mengabari kondisi Ariel."


"Ariel kenapa Mas?"


"Ariel kritis bu, ini sampai orangtuanya di jemput dari Yogya. Minta doanya bu untuk Ariel."


Segera kumatikan panggilannya dan segera kuganti baju. Segera kutarik slimbagku dan langsung berlari ke bawah, Rangga duduk di kursi santai.


"Kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Rumah sakit, kak. Ariel kritis."


"Aku antar, tunggu!"


Rangga berlari ke kamarnya. Selama menunggu Rangga kulihat ia menyajikan sesuatu di meja makan. Kudekati meja makan, Rangga membuat menu nasi putih dengan lauk ayam goreng, nugget goreng, dan saos sambal.


Dia menyiapkan dua piring masih kosong, dia pasti menungguku. Jahatnya aku sejak siang tadi mengabaikannya.


Kini Rangga sudah turun, ia menyerahkan switer hitamnya untukku karena buru-buru membuatku asal pilih baju. Baju lengan pendek. Kuraih switer itu dan kukenakan.


'Kriiiiuuuuuk'


Tiba-tiba perut Rangga berbunyi,aku jadi tak tega. Sebenarnya ingin segera ke rumah sakit, tapi tak tega suamiku lapar.


"Kak, sehabis makan baru kita berangkat!"


Rangga tersenyum dan mengangguk, akhirnya kami makan dulu. Kusendok nasi ke piring Rangga beserta launya ayam dan beberapa nugget.


Selanjutnya baru untukku, kami pun makan dengan lahap. Rangga makan sama sekali tak melihatku, ia terus menatap nasinya. Sampai makan selesai pun ia diam, aku segera membersih piring dahulu.


Kini kumendekati Rangga yang duduk di kursi depan, melihat kedatanganku Rangga langsung bangun dan berjalan menuju mobilnya.


Hap! kutarik tangan Rangga mengehentikan langkahnya, ia tak berbalik menatapku. Apa Rangga membenciku.


"Kookie, kenapa kamu diam?"


"Ayo kita berangkat, temanmu membutuhkanmu saat ini."


Rangga hendak melangkah tapi aku tetap menahannya,"Kookie, apa kamu membenciku?"


Kulihat Kookiku tetap diam, ia berbalik menatap manikku. Aku mencoba mengerti tapi tak bisa membaca makna yang tersirat dalam kilau manik hitamnya.


"Kookie!"


"Aku sadar aku salah,aku takkan mampu melawanmu. Aku ikhlas menerima amarahmu, dalam hatiku aku hanya mencintai dirimu!"


Kupeluk Rangga lagi, awalnya ia diam. Tapi akhirnya Rangga memelukku, aku salah faham merasa ia membenciku. Ternyata ia rela menerima segudang kemarahanku, karena ia orang yang bertanggung jawab. Kembali aku lemah, aku menangis lagi. Orang yang kupeluk ini suamiku. Sah.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...

__ADS_1


💋💋💋


__ADS_2